BAB 13

1313 Words
Evander kembali ke tempat asalnya dan membuka matnaya perlahan. Seperti biasa, setiap kali ia membuka mata hanya ada ruangan gelap, air dan juga rantai yang masih mengikat seluruh tubuhnya dalam waktu yang cukup lama. "Perasaan aneh apa ini?" gumam Evander saat kembali teringat dengan perasaan aneh yang menusuk dalam jantungnya ketika ia mendengar kalimat pernayataan yang diungkapkan oleh Rosa kepadanya. Untuk pertama kalinya, Evander gagal dalam menjalankan misinya. Bahkan Rosa secara langsung melihatnya tanpa melalui mimpi. Evander pun menundukan kepalanya dan menyesali perbuatan yang telah ia lakukan. "Kau sangat ceroboh, Evander," gumam Evander. Beberapa saat kemudian, seorang siren berenang ke arahnya, yang tak lain adalah Meira, sang Ratu Siren. "Kau sudah kembali rupanya, padahal ini masih larut," ujar Meira sembari terus berenang ke arah Evander. Evander tak menjawab, ia justru menundukan kepalanya dan terdiam sembari berpikir. Meira berenang mendekati Evander dan melihat wajah Evander, "Apa terjadi sesuatu kepadamu, Tuan?" tanya Meira. Evander menggelengkan kepalanya namun beberapa detik kemudian mengangguk dan membuat Meira hanya menaikan sebelah alisnya. "Apa yang terjadi?" tanya Meira. "Rosa melihatku secara langsung," jawab Evander. Kini mata Meira yang membulat, ia kemudian berenang lebih dekat dan menatap Evander. "Apa?! Tapi, bagaimana bisa?" tanya Meira yang penasaran bagaimana Evander bisa bertemu dengan Rosa di dunia nyata, bukan melalui dunia mimpi dan alam bawah sadar Rosa. Meira sendiri tahu siapa Rosa, karena memang setiap wanita yang akan dikorbankan untuk Evander akan dipilih oleh Meira. Dan mereka semua adalah wanita dengan energi bagus untuk menghidupkan sosok Evander yang dikurung di dasar laut. "Aku sendiri tidak tahu, Meira. Tiba - tiba saja dia terbangun dan anehnya dia tidak takut kepadaku," jawab Rosa. Kini Meira ikut terheran dengan jawaban Evander. "Memang jika di antara wanita yang lain, dia memiliki energi lembut yang bahkan berbeda dari wanita kebanyakan. Aku bisa merasakan energi manis dan kuat di dalam tubuhnya," ujar Meira. Evander mendongakan kepalanya dan menatap Meira yang berenang di depan wajahnya. "Kuat? Maksudmu Rosa berbeda?" tanya Evander. "Kurang lebih seperti itu, Tuan. Aku sendiri belum begitu yakin, karena sejauh ini aku baru bertemu 2 kali dengannya. Itu pun hanya sebatas curi situasi, bukan bertemu dan bertatap muka secara langsung dan berbincang bersama." "Apa kau tidak mau mencoba naik ke daratan?" "Apa? Ke daratan lagi hanya untuk itu? Tidak terima kasih Tuan," balas Meira kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Daratan sudah banyak berubah tetapi aku masih dikurung disini. Menyedihkan sekali," gumam Evander. Perasaan Evander untuk keluar dan lepas dari kurungannya setiap hari akan terus bertambah. Ia senang bertemu bangsa lainnya yang bahkan membuat Evander tidak seharusnya memilih kata menyerah. Tapi apa daya, kekuatan Evander sudah tiada. Bahkan Aerosworn yang ia tinggalkan pun kini menjadi milik dari sosok Maverick yang tak lain adalah Raja Kerajaan Tessitura, bangsa elf. Kemudian 7 kristal yang ia tinggalkan memilih tuan baru mereka yang tak lain adalah sang Noblesse, Gerhard Khrysaor. "Sepertinya sebentar lagi aku akan mati," ujar Evander. Meira membulatkan matanya, "Tidak mungkin. Sudah cukup anda bertahan puluhan ribu tahun di sini, Tuan. Mana bisa anda menyerah begitu saja?" protes Meira. "Aku sudah terlalu lama disini, Meira. Energi manusia tidak akan cukup," ujar Evander. Meira mengangguk. Satu - satunya energi yang bisa diambil sedikit demi sedikit adalah milik manusia. Evander sudah mencoba menyerap energi milik siren, namun tidak membuahkan hasil. "Tentang Aerosworn, apa Tuan sudah mencoba menyerapnya lagi dari Maverick?" tanya Meira hati - hati karena takut menyakiti perasaan Evander. Walau Evander bukan tipikal yang mudah marah, namun Meira sangat hati - hati ketika berbicara dengan Evander. Takut menyinggung perasaan Evander. "Sudah. Dengan kristal pun sudah," jawab Evander. "Hasilnya?" "Mereka menolakku." Meira sedih mendengarnya. "Kalau begitu dengan Rosa hasilnya bagaimana?" tanya Meira yang mengalihkan topik kembali kepada Rosa. "Rosa tidak takut denganku, tapi anehnya aku mendapatkan energi yang 3 kali lipat lebih besar," jawab Evander. "3 kali? Bagaimana bisa?" "Dia menahan lenganku tepat sebelum aku pergi. Lalu mengatakan sesuatu." "Sesuatu? Apa itu?" Evander berusaha mengingat ucapan Rosa kemudian teringat kembali, "Dia menyukaiku," ujar Evander. Bbbbllluukkk ! ! ! Tubuh Meira yang semula mengambang langsung tenggelam ke dasar lautan dan buru - buru kembali berenang dan menghampiri Evander. "Apa?!" pekik Meira. Evander menutup matanya karena suara Meira yang didengarnya begitu keras dan menganggu indera pendengarannya. "Memang aneh ya?" tanya Evander. "Sama sekali tidak, Tuan. Mungkin jika dia mencintai Tuan, anda bisa memanfaatkan perasaannya." "Perasaannya?" "Iya. Wanita terutama manusia memang mudah jatuh cinta. Tuan bisa memanfaatkan situasi ini." Evander terdiam sembari berpikir. Tak ada salahnya untuk mencoba saran yang diberikan oleh Meira. "Baiklah aku akan mencobanya," balas Evander. * * * * * Keesokan harinya . . . . Taman belakang rumah keluarga Pandora Kota Terassen, Pulau Velenna * * * * * Sesuai dengan saran yang diberikan oleh Meira, Evander pun kembali ke daratan dalam wujud manusia dan menghampiri Rosa. Namun bukan di malam hari dan bukan juga untuk masuk ke dalam mimpi Rosa, melainkan dengan diam - diam mengamati Rosa di siang hari melalui pohon - pohon yang terhubung langsung dengan taman belakang kediaman rumah keluarga Pandora. "Aku tunggu disini saja mungkin," gumam Evander dan bersembunyi di balik pohon besar. Tiba - tiba ada seorang wanita dengan rambut hitam panjang dengan baju gaun putih yang sederhana namun terlihat sedikit lebih tua. Evander menaikkan sebelah alisnya, ia yakin Rosa tidak akan bertambah tua hanya dalam waktu 1 malam saja. "Ibu!" pekik seorang wanita lainnya yang tak lain adalah Rosa. Rosa berlarian ke arah wanita yang mirip dengannya dan dipanggil Ibu olehnya. "Oh jadi itu Ibunya?" gumam Evander yang masih setia mengamati gerak - gerik Rosa dari balik pohon. Rosa tampak semangat membawa beberapa pohon dan membantu memindahkan pohon - pohon kecil itu ke dalam pot yang lebih besar. Ibu Rosa beranjak dan mengatakan sesuatu kepada Rosa, sedangkan Rosa hanya mengangguk mengerti dan Ibu Rosa pun pergi dari sana. Kini tinggal tersisa Rosa seorang diri. Namun senyuman dari wajah Rosa tidak menghilang sedikit pun. Dengan giat, Rosa memindahkan tanaman itu ke setiap pot. Sebagai seorang penjual tanaman hias, Asha memang banyak melakukan semuanya sendirian. Bahkan tak mengizinkan karyawan lainnya untuk ikut mengerjakannya. Karena Asha memiliki teknik dan seni yang tinggi dan untung saja hal seperti itu menurun ke anaknya. Jadi tidak heran jika Asha cukup mempercayakan Rosa kepada pekerjaannya. "Akh!" tiba - tiba saja Rosa memekik dan memegangi tangannya. Evander melihat tangannya yang berdarah sehabis terkena duri dari salah satu tanaman. Kaki Evander hendak menghampiri Rosa secara otomatis, namun dengan cepat Evander tersadar dan kembali bersembunyi. "Kenapa aku malah mau menghampirinya?" gumam Evander. Beberapa saat kemudian Asha kembali keluar dengan 2 pot lainnya, dan langsung berlari saat melihat Rosa yang terluka. Rosa pun diajak ke dalam rumah. "Sepertinya dia akan diobati," gumam Evander. Evander masih terus berdiri di sana untuk waktu yang lama. Bahkan sampai Rosa kembali lagi dengan tangan yang diplester dan kembali membantu Asha untuk menyusun tanaman hias yang lain. Setelah matahari semakin sore, Rosa dan Asha membereskan semua tanaman itu karena akan segera dikirim ke toko tanaman hias milik Asha yang ada di tengah Kota Terassen. Evander tak sadar jika dia memperhatikan Rosa dalam waktu yang sangat lama. Bahkan kakinya terasa kaku, begitu juga dengan pundaknya. "Jika dilihat - lihat dia cantik dan baik," ujar Evander. Untuk pertama kalinya Evander memperhatikan wanita tanpa memiliki niat apapun. Padahal selama ini, seringkali Evander mengambil langkah tertenu untuk mengelabui wanita yang menjadi sasarannya. Namun untuk Rosa tidak. Evander benar - benar senang memperhatikan Rosa meski dalam jarak yang cukup jauh. Setelah Rosa kembali masuk ke dalam, Evander pun meninggalkan tempat itu dan berteleportasi ke dasar palung untuk beristirahat. Tepat setelah Evander pergi, Rosa kembali keluar untuk mengambil gunting tanaman yang tertinggal. Rosa menoleh ke arah tempat dimana Evander berdiri. "Aneh. Kenapa sedari tadi aku merasa diperhatikan oleh seseorang ya? Tapi tidak mungkin ada orang dari sana kan?" gumam Rosa. Rosa pun kembali masuk ke dalam dan mengunci pintu yang menuju ke taman belakang rumahnya karena hari semakin gelap dan matahari bersiap untuk turun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD