BAB 12

1411 Words
Kembali ke masa sekarang . . . Kota Terassen Rumah kediaman keluarga Pandora Pulau Velenna * * * * * "Nona Rosa!" panggil Veza sembari meninggikan nada suaranya agar terdengar oleh Rosa yang hendak naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Gaun tidur berwarna biru muda tampak sudah mengisyaratkan jika Rosa sudah siap untuk tidur setelah selesai meminum susunya sebagai rutinitasnya sebelum ia pergi tidur setiap malam. Rosa menoleh ke arah sumber suara dan melihat Veza yang berlari ke arahnya. "Ya, ada apa Veza?" tanya Rosa. Veza tersenyum di hadapan Rosa kemudian memberikan sesuatu kepada Rosa. Sebuah kotak berwarna keemasan dengan logo Twyla di atasnya. Mata Rosa membulat melihat benda itu di hadapannya, "Apa ini?" tanya Rosa. "Nona Ivelle mengirimkan ini untuk Nona. Baru saja tiba beberapa saat yang lalu," jawab Veza. Rosa mengulurkan tangannya dan bisa merasakan bagaimana kotak besi itu masih hangat. Tangan Rosa pun membuka penutup kotak itu dan melihat isinya. "Kue madu?" gumam Rosa. "Sepertinya Nona Nikita baru saja selesai membuat kue madu, dan teringat dengan Nona Rosa jadi mengirimkannya kepada Nona barusan," balas Veza. "Begitu ya. Kau mau?" tanya Rosa sembari menyodorkan kotak yang terbuka itu kepada Veza. "Apa boleh, Nona?" "Tentu saja. Ayo ambilah sebanyak yang kau inginkan." Veza pun mengulurkan tangannya dan mengambil kue madu dari dalam kotak sebanyak 2 buah dan menyembunyikan di dalam lengan bajunya. "Terima kasih Nona," ujar Veza sembari tersenyum senang karena memang mereka berdua sangat menyukai kue madu buatan Nikita. Rasa kue madu itu manis namun tidak membuat kepala pusing dan gigi sakit. Wajar saja jika menjadi kesukaan Rosa dan juga Veza. Setelah memberikan kue madu kepada Veza, Rosa kembali menutup kotak itu dan menyembunyikan kotak itu ke balik gaun tidurnya. "Ya sudah, kalau begitu aku tidur dulu ya," ujar Rosa. "Baik, Nona," balas Veza. Rosa pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan pergi menuju kamarnya. Sudah beberapa hari ini memang Rosa dan Veza sering mendapatkan kiriman barang dari Ivelle yang dikirimkan dengan kekuatan teleportasinya. Baik Asha maupun kedua orang tua Veza, tak ada yang tahu jika anak gadis mereka berteman dengan putri Kerajaan Twyla yang tak lain adalah anak hebat yang memiliki darah vampire, noblesse dan manusia di dalam tubuhnya. Bahkan banyak orang percaya dalam tubuh Ivelle juga mengalir kekuatan Aerosworn yang kuat. Ckleekkk ! ! ! Rosa menutup pintu kamarnya dan mengunci kamarnya seperti biasa. Kemudian meletakkan kotak berisikan kue madu di atas meja di samping tempat tidurnya dan membukanya. Satu tangan Rosa mengambil potongan kue madu dari dalam kotak dan memakannya perlahan. Senyuman manis terukir dari wajah Rosa saat merasakan tekstur kue yang renyah di luar dan lembut di dalam. "Ah rasanya aku mau memakan ini setiap hari," gumam Rosa kemudian memasukan suapan terakhir kue madu ke dalam mulutnya. Rosa kembali menutup kotak itu dan menyembunyikan di dalam lemarinya, "Aku akan memakanmu lagi besok pagi bersama s**u hangat," ujar Rosa. Meski usianya sudah 25 tahun di tahun ini, namun Rosa masih memiliki sisi kekanakan. Bagaimana tidak, dia dibesarkan dan dimanjakan selama hidupnya. Bahkan tak pernah sekali pun Rosa memikirkan untuk mencari pria lain. Sekali pun ia jatuh cinta, kriteria kekasihnya haruslah seperti kedua Ayahnya yang lembut dan menyayanginya dalam keadaan apapun. Setelah meletakkan kotak itu di dalam lemari, Rosa naik ke atas tempat tidur dan memposisikan dirinya dengan nyaman. Satu tangannya menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai sebatas d**a. Matanya yang masih terbuka melihat langit - langit kamar dan membayangkan sesuatu. Siapa lagi kalau bukan sosok pria misterius dengan rambut putih dan wajah tampannya. "Sudah 2 kesempatan aku lewatkan padahal terkadang aku yakin kau adalah pria dari dalam mimpiku," ujar Rosa. Satu tangannya menyelinap ke balik bantalnya dan mengambil sebuah bulu perak yang sama sekali tidak lembut dan halus. Ia membayangkan pria yang sama setiap harinya. Sudah 2 tahun Rosa memimpikan pria itu, tetapi Rosa selalu melupakan wajahnya. Berapapun usaha Rosa untuk melihat wajahnya, semuanya akan terlupakan olehnya ketika ia terbangun dan kembali sadar ke dunia nyata. Rasa kantuk pun mulai menyelimuti Rosa. Rosa kembali meletakkan bulu perak ke balik bantalnya dan berharap memimpikan sosok pria itu lagi. Sampai akhirnya semuanya terasa gelap, deruan napas Rosa pun telah kembali normal dan stabil. Akhirnya Rosa mulai terlelap dan tertidur di malam hari yang dipenuhi dengan bintang di langit dan sinar cahaya rembulan yang masuk ke kamarnya. Malam semakin larut, suasana Kota Terassen semakin sepi. Semua orang sudah tenggelam dalam mimpi indahnya namun tidak untuk 1 orang yang sedang mencari mangsanya yang tak lain adalah sosok wanita yang kini terus berharap untuk bertemu dengannya. Dia, Evander Cassiopeia, kembali masuk ke dalam kamar Rosa melalui jendelanya kemudian berjalan mendekati Rosa perlahan. "Kau mudah sekali tertidur," ujar Evander sembari melihat wajah Rosa yang terlelap. Evander mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan Rosa, berusaha memasuki mimpi Rosa untuk menyerap energi Rosa secara perlahan demi bertahan hidup. Deggg ! ! Tiba - tiba saja sebuah tangan menahan tangan Evander yang sedang menyentuh tangan Rosa yang terlelap. Evander yang semula sedang memejamkan mata dan berusaha fokus untuk masuk ke dalam mimpi Rosa kembali membuka matanya. Kali ini, matanya membulat. Sosok wanita yang tak lain adalah Rosa yang menjadi targetnya justru menatapnya dengan penuh kesadaran dan tangan yang memegangi lengannya. "Kau, pria itu kan?" tanya Rosa. Evander membulatkan matanya dan menarik lengannya paksa. "Bukankah kau sudah tertidur?" tanya Evander. Rosa membulatkan matanya. Suara sosok pria yang duduk di sampingnya sama persis dengan suara pria yang ia temui di dalam mimpinya. "Kau - siapa kau?" tanya Rosa terbata - bata. Rosa berusaha duduk namun dengan cepat Evander menahan Rosa dan membuatnya tak bisa duduk dari posisinya. Evander menghela napasnya dan menatap Rosa, "Sepertinya aku akan akhiri sekarang," ujar Evander. Evander mendekatkan wajahnya ke arah Rosa, namun Rosa justru memejamkan matanya. Setelah dalam jarak yang cukup dekat, Rosa bisa merasakan bagaimana napas hangat yang keluar dari hidung Evander. "Buka matamu," pinta Evander. Rosa membuka matanya perlahan. Matanya membulat saat melihat sosok yang berbeda dari yang sebelumnya. Pria tampan dengan rambut putih justru berubah menjadi rupa naga dalam tubuh manusia. Bahkan kuku tajamnya terasa menancap pada bahu Rosa sampai Rosa meringis kesakitan. "Akh!" pekik Rosa meringis kesakitan. Evander menarik tangannya dan menatap Rosa. Ia dengan semangat akan menerima energi ketakutan dari Rosa setelah melihat wujud aslinya. Namun Evander tak kunjung merasakan energi itu, membuat dirinya kembali berubah seperti sedia kala. Menjadi pria tampan yang didambakan setiap wanita. "Kau tidak takut kepadaku?" tanya Evander. Rosa menatap wajah Evander yang perlahan berubah kembali menjadi manusia, "Aku? Kenapa aku harus takut?" "Wujudku," jawab Evander. "Tidak. Aku bertemu banyak bangsa dan aku tidak takut. Jadi kau seekor naga? Atau bagaimana?" tanya Rosa. Evander berusaha mencari sumber rasa ketakutan Rosa namun ia tak menemukannya, rupanya Rosa benar - benar tak takut kepadanya. Merasa kecewa karena salah sasaran, Evander pun beranjak dan menatap Rosa. Rosa akhirnya bisa duduk dan menatap Evander. "Aku membuang - buang waktuku," ujar Evander. Evander berbalik dan hendak meninggalkan kamar Rosa melalui jendela kamarnya namun tiba - tiba saja dua buah tangan melingkar dari balik tubuhnya dan menuju pinggangnya. Jantung Evander berdegup kencang saat ia meyakini jika itu adalah tangan Rosa yang menahannya. "Jangan pergi," pinta Rosa. Seketika Evander merasakan ada energi lain yang terpancar dari Rosa namun lebih kuat. Evander berbalik dan menatap wajah Rosa yang berubah menjadi kemerahan. "Perasaan apa ini?" gumam Evander. Rosa menaikkan sebelah alisnya, "Ya?" Srekk ! ! ! Evander melepaskan tangan Rosa dari pinggangnya. "Lepaskan," ujar Evander ketus. Evander kembali berbalik dan naik ke atas jendela Rosa, namun Rosa berlari mendekat. "Aku menyukaimu," ujar Rosa. Evander kembali berhenti namun ia justru tak menghiraukan ucapan Rosa. Sebaliknya Evander langsung melompat dan lagi - lagi meninggalkan sehelai bulu perak di lantai kamar Rosa. Setelah kepergian Evander, Rosa berusaha mencari jejaknya. Namun seperti tertiup oleh angin malam, Evander menghilang begitu saja setelah melompat dari jendela kamarnya. Perasaan kecewa menyelimuti Rosa. Namun tak hanya itu saja, Rosa justru sekarang penasaran mengenai sosok asli Rosa. "Apa dia terkena kutukan?" gumam Rosa saat membayangkan wajah naga dan sisik putih yang menyelimuti seluruh tubuh Evander. "Ah sayang sekali aku tidak tahu siapa namanya," tambah Rosa yang semakin kecewa karena tak tahu nama dari sosok pria misterius itu. Padahal ia sudah susah payah menjaga tidurnya agar tidak begitu terlelap dan berhasil bertemu dengan Evander secara langsung. Tapi sekarang Rosa justru kehilangan Evander begitu saja. Rosa pun kembali ke arah tempat tidurnya dan duduk di tepi tempat tidurnya sembari membayangkan wajah Evander dari dekat. Senyuman manis dan salah tingkah timbul di wajah Rosa, "Dia tampan," gumam Rosa saat terbayangkan wajah Evander yang tampan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD