Evander keluar dari mimpi Rosa lebih dulu sebelum wanita itu bangun. Pria itu segera kembali ke dasar palung untuk menemui Meira. Dalam sekejap Evander langsung berpindah tempat dari kediaman keluarga pandora menuju ke laut Elara.
"Meira," panggil Evander tepat setelah pria itu tiba di dasar laut.
Selang beberapa menit kemudian, Meira muncul bersamaan dengan kawanan siren yang lain.
"Ada apa Tuan? Apa anda memanggil saya?" tanya Meira.
"Ya. Ada yang mau aku bicarakan padamu sekaligus memastikan sesuatu," jawab Evander.
"Apa itu Tuan?" tanya Meira.
Meira bisa melihat bagaimana nada bicara Evander yang berubah dan terdengar lebih serius dari biasanya. Para siren lain pun terdiam mendengar suara Evander yang menggema dan masuk ke telinga mereka.
"Aku sehabis kembali dari memasuki mimpi seseorang," ujar Evander.
"Mimpi? Apa anda sudah menemukan wanita lain ada mengunjungi wanita yang saya rekomendasikan?" tanya Meira.
"Tidak. Aku mendatangi Rosa. Aku belum mengunjungi wanita yang kau rekomendasikan kepadaku."
Meira menganggukan kepalanya mengerti sedangkan para siren yang lain tersentak karena Evander yang menolak mentah - mentah untuk bertemu lagi dengan Rosa.
"Mimpi apa yang anda temukan, Tuan?" tanya Meira.
"Suatu tempat yang terasa tidak asing. Sepertinya aku akan memastikannya. Apa kau bisa menemaniku? Aku ingin bertemu dengan Cleo," jawab Evander.
Meira terdiam sejenak, mengingat nama Cleo yang diutarakan oleh Evander barusan.
"Cleo? Apa maksudmu Ratu Nephthys dari bangsa vampire?" tanya Meira.
"Iya. Dia. Kau mengenalnya bukan?"
"Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Tapi selalu dalam pengaruhku," ujar Meria yang merasa bersalah.
Evander tahu jika siren memang memiliki kemampuan untuk menghipnotis siapapun. Bahkan orang yang mereka temua sejauh ini didominasi oleh orang - orang yang mereka kelabui dan mereka hipnotis.
Seperti halnya Ratu siren sebelumnya yang menghipnotis manusia untuk menikah dan memiliki anak, sehingga Meira lahir dan menjadi penerusnya.
"Kalau begitu kita akan bertemu sekarang. Aku harap kau ikut," ujar Evander.
Mendengar hal itu, tentu saja Meira tidak bisa menolaknya, ia pun hanya menganggukan kepalanya, "Baik, Tuan."
"Oke kita pergi sekarang."
"Sekarang."
"Iya sekarang."
Meira membulatkan matanya, "Ba - baik."
Evander pun memejamkan matanya dan memindahkan sebagian jiwanya ke daratan untuk menemui Cleo. Sedangkan Meira berenang ke arah daratan untuk naik dan pergi ke Eyelwe.
"Tuan Evander sudah berangkat. Kalau begitu, aku titipkan lautan kepada kalian semua," ujar Meira sebelum berenang ke permukaan.
"Baik, Ratu," jawab para siren bersamaan.
Wajah cantik Meira pun muncul di permukaan. Wanita itu secara perlahan menyeret tubuhnya ke daratan dan merubah ekornya menjadi sepasang kaki yang indah.
"Tidak ada manusia yang melihat kan?" gumam Meira sambil mengedarkan pandangannya dan tak mendapati seorang pun.
Meira pun berjalan meninggalkan tempatnya dan pergi menuju ke Eyelwe. Di saat kepergian Meira, seorang pria muncul dari balik pohon dengan wajah pucat dan pupil matanya yang mengecil.
"Apa yang baru saja aku lihat? Ikan itu berubah menjadi manusia dan memiliki kaki?" gumam pria itu.
Pria itu menghampiri tempat Meira barusan berada dan berjongkok, melihat sebuah sisik ikan yang cukup besar.
"Ini berita besar, aku harus beritahu kepada orang - orang di Adarlan!" ujarnya kemudian berlari sembari membawa sisik ikan yang besar ke arah Kota Adarlan.
* * * * *
Kota Eyelwe, Pulau Velenna
Kerajaan Nephthys
* * * * *
Evander dan Meira akhirnya tiba di depan Istana Kerjaan Nephthys yang saat ini dipimpin oleh Cleo sebagai Ratunya. Baru saja mereka tiba, sepertinya Cleo langsung merasakan kehadiran sosok Evander dan juga Meira yang berdiri di depan Istana kekuasaannya.
Whoooshh ! ! ! !
Cleo berdiri di depan Evander dan juga Meira sembari melemparkan senyumannya, "Sudah kuduga anda akan datang kemari setelah saya merasakan energi yang tidak biasa. Selamat datang di Kota Eyelwe, Tuan Evander," sapa Cleo kepada Evander.
Cleo memang sudah beberapa kali bertemu dengan Evander, terutama pada saat kebangkitan Nikita, kelahiran Ivelle dan hari pernikahan Gerhard dengan Nikita.
"Kau masih mengingatku rupanya," ujar Evander.
Meira menundukan kepalanya, dan Cleo pun melihatnya, "Dan kau pasti, Meira bukan?"
"Hah?" Meira tersentak saat Cleo mengingatnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Meira.
"Aku ingat, meski kau menggunakan pengaruh sihirmu kepadaku. Sepertinya tidak terlalu begitu berlaku kepada majin," ujar Cleo.
Meira menganggukan kepalanya, "Ah begitu ya. Maaf sudah menipumu."
Cleo tertawa mendengarnya, "Tidak apa. Wajar saja kau merahasiakan identitasmu sebagai siren, karena memnag bangsa siren tidak pernah dan jarang naik ke permukaan selain atas perintah Tuan Evander kan?"
"Sebenarnya tidak juga, aku membebaskan mereka naik. Tapi mereka tidak mau dan lebih nyaman berada di lautan yang luas," sahut Evander.
"Benar. Kami lebih nyaman dengan lautan yang dingin dan gelap," ujar Meira.
Cleo menatap Evander dan Meira bergantian, "Jadi ada tujuan apa kalian kemari?" tanya Cleo.
"Sebenarnya begini. Ribuan tahun yang lalu, Ibuku Dakota meninggal di Hutan Maylea. Meski telah banyak berubah sejak berdirinya Kerajaan Nephthys, tapi aku yakin aku mengingat tempatnya," ujar Evander.
"Hutan Maylea? Oh ya, aku mengingatnya. Beberapa waktu lalu sejak aku masih menempati Kerajaan Nephthys, aku merasakan ada sesuatu yang berharga dari Hutan Maylea, tapi sepertinya menghilang 25 tahun yang lalu," ujar Cleo.
"Sesuatu yang berharga? Apa itu?" tanya Evander.
Cleo menggidikan bahunya, "Aku tidak tahu. Aku tak pernah menemukannya. Tapi sepertinya bukan Oriel dan majin. Jadi aku menjaga Hutan Maylea agar tidak dimasuki oleh sembarang orang," ujar Cleo.
"Begitu ya. Apa boleh kita menghampiri tempat yang kau maksud itu?" pinta Evander.
"Tentu saja, ayo kita ke Maylea," ajak Cleo.
Cleo, Evander dan juga Meira pun berjalan ke arah Hutan Maylea. Berbeda seperti 20 tahun lalu ketika kursi pemimpin Kerajaan Nephthys masih kosong, kini Kota Eyelwe jauh lebih tertata dan lebih rapi.
Jalanan yang semula berserakan daun kering sudah kembali bersih seperti sedia kala. Rumah - rumah kosong dan berdebu sudah ditempati dan beberapa dari mereka adalah pindahan dari Desa Caspian, yang merupakan bangsa elf.
Tak hanya bangsa elf dan hanya vampire, ada juga bangsa manusia yang menyukai ketenangan tinggal di daerah tempat tinggal bangsa vampire. Mereka saling membantu satu sama lain untuk membuat Kota Eyelwe lebih baik lagi dan tidak lagi dikenal sebagai kota mati.
"Selamat siang Nona Cleo," sapa salah satu manusia yang melihat Cleo beserta Evander dan Meira yang melintas di depan mereka.
Cleo mengangguk, "Siang. Wah sepertinya akan ada perayaan di rumahmu," ujar Cleo sembari memperlambat langkahan kakinya untuk menyapa salah satu rakyatnya.
"Iya, keluargaku dari Wendlyn akan datang," ujarnya.
"Begitu ya. Salam untuk seluruh keluargamu," balas Cleo dan kembali melanjutkan langkahan kakinya menuju ke Hutan Maylea.
Setibanya di depan gerbang Hutan Maylea, Cleo berdiam sejenak dan melihat ke arah Evander dan Meira.
"Selamat datang di Hutan Maylea," ujar Cleo lalu membuka gerbang yang mengarah ke Hutan Maylea. Sekitar Hutan Maylea memang kini sudah dipagar dan ditembok, agar Hutan Maylea memiliki batas asli dan tidak samar.