Sehingga masyarakat yang tinggal di Kota Eyelwe atau pun pengunjung Kota Eyelwe tahu batasan pinggir Hutan Maylea.
Ckreeekkk ! ! ! ! !
Gerbang Hutan Maylea pun terbuka dengan bantuan sihir Cleo. Ketiga orang itu pun masuk ke dalam Hutan Maylea.
Evander langsung bernostalgia bagaimana ia merasa merindukan Ibu dan juga Zander di dalam hutan itu. Hutan yang mereka tempati pertama kali dan menciptakan majin pertama kalinya.
Di tempat itu juga, Dakota memutuskan pergi dan berubah menjadi bunga.
"Apa di dekat sini ada sungai?" tanya Evander sembari melangkahkan kakinya.
"Ada. Sungai Leomord, sungai yang mengaliri air mata Hydra," jawab Cleo.
Evander pun mengangguk sembari mengingat - ingat kejadian di masa lampau yang perlahan sudah memudar dari ingatannya.
Evander mempertajam indera pendengarnya dan bisa mendengar suara air sungai mengalir, ia pun memejamkan matanya berusaha mengingat sekeliling yang ia lihat di mimpi Rosa.
Seketika Evander terhubung dengan mimpi Rosa dan pria itu membuka matanya, "Lewat sini," ajak Evander sambil melangkahkan kakinya ke arah yang akan ia tuju.
Cleo dan Meira sama - sama bingung dan saling melempar tatapan satu sama lain kemudian saling menggidikan bahu.
Evander terus berjalan sampai langkahan kakinya berhenti pada sebuah tempat yang terasa familiar baginya. Pria itu mengedarkan pandangannya seolah memastikan jika ia benar - benar ada di tempat yang sama.
"Benar, ini tempatnya. Tapi aneh, disini tidak ada bekas galian tanah," ujar Evander sambil melihat ke arah tanah yang tertutup oleh daun - daun kering dan tidak ada tanda - tanda bekas cabutan tanaman dari sana.
Cleo mengedarkan pandangannya kemudian teringat akan sesuatu, "Sepertinya aku tahu sesuatu," ujar Cleo.
Cleo kemudian menghampiri salah satu tempat dan berjongkok di depannya, lalu menempelkan telapak tangannya pada permukaan tanah untuk merasakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Evander.
Sreeett ! ! ! !
Seketika Cleo membulatkan matanya dan berdiri, "Disini. Ini adalah tempat mawar hitam itu berada," ujar Cleo.
"Mawar hitam?" tanya Meira.
Sedangkan Evander justru terdiam, "Apa maksudmu bunga dengan kelopak berwarna hitam dengan sedikit hiasan emas pada bagian tepi kelopak dan juga tangkainya?" tanya Evander.
Cleo menganggukan kepalanya, "Benar. Bagaimana Tuan bisa tahu?" tanya Cleo.
"Tempat ini adalah tempat terakhir dimana Ibuku dan Zander berpisah. Sejak saat itu Ibuku menghilang dan seingatku, dia berubah menjadi bunga dengan warna senada dengan sisiknya," ujar Evander.
"Maksudnya? Nona Dakota..." ujar Meira yang berusaha menerka maksud ucapan Evander.
"Iya, Ibuku mati disini dan menjadi bunga itu," jawab Evander.
"Tapi bunga itu sudah hilang," balas Meira.
Cleo berjalan mendekati Meira dan Evander, "Bunga itu memang tidak pernah ada yang tahu kegunaannya. Tetapi Raja Nephthys sebelumnya, Tuan Krys pernah berkata ada bunga hitam yang bisa menyelamatkan istrinya. Istrinya sendiri waktu itu sekarat, tapi memilih mati setelah melahirkan Nikita," ujar Cleo.
"Ya, kekuatannya memang luar biasa. Karena itu dia memilih menjadi bunga dan memberikan kekuatan bagi mereka yang membutuhkan," jawab Evander.
"Sekarang aku mengerti kenapa bunga itu sempat menjadi incaran banyak orang dan bahkan warnanya berbeda, padahal kekuatannya luar biasa. Ibu anda berubah menjadi inti kekuatan dan berubah menjadi bunga yang cantik," ujar Cleo.
"Dan sekarang bunga itu sudah tidak ada," ujar Meira sambil melihat sekelilingnya dan tak menemukan sebatang bunga berwarna hitam.
Evander terdiam seolah mengetahui sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang mengusik anda, Tuan?" tanya Cleo.
Meira pun melirik ke arah Evander.
"Sepertinya aku tahu siapa yang mengambilnya dan untuk apa itu digunakan," ujar Evander.
Meira membulatkan matanya, "Benarkah? Siapa?"
Evander menatap Meira, "Sepertinya kau tahu hanya saja aku tidak bisa memberitahukannya sekarang karena ada sesuatu yang harus aku pastikan terlebih dahulu. Apa ada orang lain yang tinggal disini sejak 25 tahun yang lalu?" tanya Evander kepada Cleo.
Cleo berusaha mengingat kemudian menggelengkan kepalanya.
"25 tahun hanya ada aku seorang diri. Tidak ada orang lain di Eyelwe," ujar Cleo.
Evander menghela napasnya, kepada siapa ia harus bertanya dan memastikan hal itu, "Baiklah aku akan coba mencarinya sampai dapat. Terima kasih sudah membawa kami kemari, Cleo," ujar Evander.
"Tentu saja dengan segenap hati saya, Tuan," balas Cleo.
"Kalau begitu saya dan Meira akan pergi ke arah Sungai Leomord. Sepertinya Meira belum pernah kesana," ujar Evander.
Meira tersentak, "Saya?"
"Iya. Jangan berenang di lautan saja, sesekali cobalah air tawar yang tidak asin, siapa tahu kau akan menyukainya," ujar Evander.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi," pamit Cleo.
Evander mengangguk, kemudian Cleo pun pergi meninggalkan Meira dan juga Cleo.
Setelah kepergian Cleo, kedua orang itu pergi ke arah Sungai Leomord.
"Tuan, apa anda tahu sesuatu tentang Maylea, bunga hitam dan manusia di 25 tahun yang lalu?" tanya Meira sambil melangkahkan kakinya mengikuti Evander.
Evander meletakkan kedua tangannya di belakang dan menatap jalan lurus ke depan, "Aku harus memastikan terlebih dahulu. Tidak bisa berkata omong kosong begitu saja."
"Tapi, apa yang membuat Tuan sampai rela datang kemari. Padahal Eyelwe cukup jauh dan gelap. Bukankah anda tidak terlalu menyukai tempat gelap karena terlalu lama berada di dasar palung?"
"Iya aku memang tidak menyukainya tapi Sungai Leomord memiliki pemandangan indah. Tidak semua bagian di Eyelwe buruk, Meira."
Lagi - lagi Meira hanya menganggukan kepalanya, "Lalu apa alasan anda kemari?"
"Aku masuk ke dalam mimpi Rosa lagi, sudah kubilang juga sepertinya. Di mimpi itu, aku melihat tempat ini tapi sepertinya saat itu waktunya adalah 25 tahun yang lalu. Jika dari situ, aku bisa sedikit menyimpulkan bunga itu diperuntukan kepada Rosa," ujar Evander.
Meira membulatkan matanya dan menoleh ke arah Evander, "Apa itu yang membuat Nona Rosa memiliki energi yang luar biasa?"
"Bisa jadi saja. Tapi kembali lagi, bisa jadi saja itu hanya ilusi alam bawah sadarnya karena aku belum memastikan hal itu dengan jelas," jawab Evander.
"Jika Tuan membutuhkan sesuatu, aaya siap membantu Tuan," ujar Meira.
Evander tersenyum, "Bangsa siren memang luar biasa," ujar Evander.
Langkahan kaki mereka terhenti di depan sebuah sungai yang indah. Sungai Leomord. Bahkan mata Meira sampai berbinar melihat airnya yang jernih dan percikan air yang menyegarkan.
"Wah, indah sekali," gumam Meira sambil menatap aliran air Sungai Leomord di depannya.
"Air ini dialiri oleh air mata gunung yang murni dan melewati tubuh Hydra sehingga mengandung sedikit kekuatan magis yang fungsinya sama dengan serbuk pixie di Hutan Avalon milik bangsa elf," ujar Evander.
"Apa saya boleh berenang disini?" tanya Meira.
"Tentu saja-"
Byuuurr ! ! ! !
Belum sempat Evander menyelesaikan kalimatnya, Meira langsung melompat dan kembali berubah menjadi siren.
"Tuan benar, air ini sangat terasa segar dan berbeda dengan laut. Sepertinya saya harus mengajak siren yang lain kemari," ujar Meira.
"Jika kau berenang lurus ke arah sana, kau bisa menemukan laut," ujar Evander sambil menunjuk ke sisi baratnya.
"Benarkah?"
Evander mengangguk.
"Kalau begitu sampai jumpa di Elara, Tuan!"
Blukkk ! ! ! !
Meira langsung menghilang begitu saja. Evander bisa melihat Meira yang berenang dengan cepat meninggalkannya ke arah barat untuk melihat jalur Sungai Leomord yang bertemu dengan air laut.
Evander duduk di tepi sungai dan menatap air sungai berwarna biru yang jernih sampai bisa terlihat dasarnya. Evander pun teringat dengan mimpi Rosa yang sedang merajut sesuatu di mimpinya.
"Apa benar dia memiliki inti kekuatan Ibu? Jika iya, Rosa bisa melepaskanku dari kurungan di dasar palung Elara," gumam Evander.
Evander menatap ke langit dan mengulurkan tangannya ke belakang untuk bersandar. Tangannya tiba - tiba saja menyentuh sesuatu dan terasa sakit bahkan sampai Evander meringis kesakitan.
"Akh!"
Evander melihat benda yang menyakiti tangannya dan mengambilnya, "Apa ini?" tanya Evander saat melihat sebuah pin berwarna perak dengan sebuah tulisan.
"Bukankah ini logo Kerajaan Odor?" gumam Evander.
Evander kembali memicingkan matanya dan melihat dengan jelas tulisan yang ada di sana.
"Pan - do - ra?" gumam Evander.
"Pandora?"
Evander berusaha mengingat, kemudian matanya membulat. Ia kembali menatap pin itu dan melihat tahun yang tertera.
"25 tahun yang lalu? Keluarga Pandora? Apakah ini milik orang tua Rosa? Rosamund Pandora?" gumam Evander kemudian tersenyum seolah berhasil menemukan titik terang.
Evander pun memasukan pin itu ke dalam sakunya, "Aku akan mencari tahu sisanya. Semoga benar dan aku bisa cepat keluar dari dasar palung," ujar Evander.
Evander melempar pandangannya ke arah Gunung Maylea yang menjadi tempat bersandar dan tempat tinggal bagi bangsa Hydra.
"Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi semoga semuanya akan lebih baik nantinya. Zander, aku pastikan kau akan menyesali perbuatanmu," gumam Evander.
* * * * *
Sementara itu di sisi lain . . .
Desa Solandis, Kota Adarlan
* * * * * *
Seorang pria dengan pakaian lusuh, kumuh, kotor berlarian menghampiri salah satu temannya yang merupakan seorang pekerja di tempat penambangan Gunung Allegra.
"Aku rasa aku gila! Aku melihat seekor ikan berubah menjadi manusia!" pekiknya.
Beberapa orang mengabaikannya namun ada juga yang berbalik dan mengerenyitkan dahi.
"Apa dia gila? Bagaimana bisa seekor ikan menjadi manusia?" gumam salah satu lainnya.
Seolah tak mau dianggap pembohong, pria itu mengangkat sisik ke udara dan menunjukannya, "Lihatlah. Apa yang aku katakan benar. Seekor ikan menjadi manusia!" ujarnya lagi.
Sontak saja beberapa orang langsung menghampirinya dan melihat benda yang ditunjukan oleh pria itu.
"Wah, besar sekali!" pekik mereka.
"Ikan terbesar saja di laut tak akan memiliki sisik sekuat, setajam dan sebesar ini," ujar yang lainnya.
William yang kebetulan sedang berada di area pertambangan mengerenyitkan dahinya dan menghampiri kerumunan pekerja.
"Apa yang kalian lakukan? Bukankah seharusnya kalian bekerja?" tanya William.
Pria yang membawa sisik itu menghampiri William dan menunjukan kepadanya, "Lihatlah Tuan, seekor ikan yang besar! Bagaimana jika kita menangkap dan menyantapnya!" ujar pria itu.
Salah satu pria yang lain memukul kepalanya hingga berbunyi dengan keras.
"Bukankah kau bilang dia cantik? Kenapa kita menyantapnya?" ujar pria itu.
Pria yang dipukul barusan berbalik dan memegangi kepalanya, "Benar juga. Dia berubah menjadi manusia dan cantik. Kita harus mencari mereka. Aku melihatnya di dekat Istana Twyla."
"Benarkah?"
"Sepertinya benar?"
"Dia membawa buktinya."
William terdiam. Sebagai seorang Ayah yang memiliki anak bangsa Noblesse dan reinkarnasi dari orang hebat, William tak percaya begitu saja, ia justru berbalik dan meninggalkan kerumunan pekerja.
"Ada sesuatu yang harus aku tanyakan kepada Gerhard," gumam William sambil menyeka keringatnya yang menetes membasahi pelipisnya.
Grrrrrrgghh ! ! ! !
Sebuah gemuruh terdengar dari puncak gunung. Matanya kembali terbuka dan sebuah senyuman terukir di wajahnya.
"Siren ya?" gumam Zander.