BAB 21

1043 Words
Pegunungan Allegra Lokasi penambangan batu bara Desa Solandis, Kota Adarlan Pulau Velenna, Lacoste * * * * * Dguduuukk ! ! ! Brruugggghhh ! ! ! ! ! Gruudduukk ! ! ! ! ! Guncangan hebat di tanah membuat beberapa pekerja yang semula sedang sibuk menggali tanah - tanah dan mengumpulkan batu bara yang mereka gali langsung menoleh. "Apa yang terjadi?!" pekik salah satu karyawan. William yang merupakan kepala di pertambangan Gunung Allegra pun ikut merasakan hal yang sama. Rasanya ia baru pertama kali merasakan guncangan yang sedahsyat ini. "Apa ada batu yang jatuh dari gunung atau bagaimana? Ada apa ini?" tanya William. Salah satu pekerja berlari menghampiri William dengan wajah terkejut, panik dan pupil matanya yang mengecil, "Pak, lihatlah kemari!" ajak sang pekerja itu. William bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya kemudian mengikuti pria yang baru saja menjemputnya barusan. Pekerja tadi mengajak William ke area pertambangan yang lokasinya benar - benar di bawah kaki gunung. Kemudian berhenti dan menunjuk ke arah puncak gunung. "Lihatlah ke sana, Pak. Mereka yakin pergerakan guncangan dan gemuruh tadi berasal dari atas sana," ujar pria itu. "Kau yakin dari sana?" tanya William sambil menatap ke puncak gunung yang sulit terlihat karena terutupi oleh awan sebagian dan juga sinar matahari yang terik dan membuat William tidak mampu membuka matanya lebih lama. Ini adalah kejadian ke 2 kalinya sejak kejadian beberapa waktu lalu dimana William juga mendengar seperti suara gemuruh dari atas sana seolah ada petir yang akan menyambar. Gara - gara kejadian itu juga, William memutuskan membubarkan para pekerja dan memulangkan mereka lebih cepat dari yang seharusnya. "Apa sebaiknya kita periksa ke sana, Pak William?" tanya pekerja lainnya yang penasaran. Getaran di tanah semakin hebat bahkan William yang sudah tua hampir kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Untung saja pekerja yang lain dengan cepat menahan tubuh William agar pria itu tetap berdiri tegak. "Aku akan coba bicarakan dengan Tuan Gerhard dulu. Bagaimana pun, jika ingin melihat ke atas, tidak bisa dengan hanya berjalan kaki. Kita butuh sesuatu dan hanya bangsa majin yang bisa," jawab William. Tidak banyak yang tahu jika Gerhard Khrysaor adalah darah daging William dan Sagira. Justru mereka hanya t**i jika Gerhard Alastair adalah salah satu korban dari tragedi Kerajaan Odor saat penangkapan Ginevra. Jadi wajar saja jika William memilih memanggil Tuan pada anaknya sendiri, meski Gerhard sudah bersiker menolak panggilan Tuan dari orang terdekatnya termasuk kedua orang tuanya yang telah membesarkannya sewaktu ingatan Gerhard belum pulih sepenuhnya. Guncangan dan suara tadi perlahan menghilang dan seketika semuanya kembali normal. Sinar terik matahari masih bersinar meski tadi awan gelap sempat muncul. "Apa kami tetap melanjutkan pekerjaan kami, Pak? Sepertinya tidak akan jadi turun hujan," ujar para pekerja di pertambangan batu bara itu. "Iya, Pak. Kami bekerja saja. Lumayan uang harian untuk menunjang hidup kami sehari - hari," sahut yang lainnya. Memang, para pekerja di sana dibayar setiap hari dan dalam hitung harian. Jika mereka tidak bekerja maka tidak akan ada bayaran dan pemasukan ke kantong mereka. "Tetap bekerja seperti biasa saja. Namun jika turun hujan silakan berteduh dan jika terjadi guncangan lagi, sebaiknya berhenti karena aku takut ada batu yang jatuh dari atas sana," ujar William. "Baik, Pak," balas mereka bersamaan. William pun pergi dari sana dan kembali menuju kantornya. Ia harus segera memberitahukan berita itu kepada Gerhard. Sesampainya William di ruangan kerjanya, William mengambil buku dan juga tas miliknya dan keluar dari sana. "Aku pergi dulu. Jika kalian sudah selesai, cepat pulang dan jangan mencoba naik ke atas. Untuk urusan tadi, biar aku yang urus dengan bangsa majin," ujar William. "Baik, Pak!" jawab mereka. William pun pergi meninggalkan area pertambangan dan pergi menuju rumahnya lebih dulu untuk membersihkan dirinya dari sisa debu, kotoran dan keringat yang menempel di tubuhnya. Tok ! Tok ! Tok ! "Aku pulang," pekik William saat masuk ke dalam rumah. William melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan menemukan Sagira yang ada di tengah rumah. "Kamu mau kemana?" tanya William saat melihat Sagira dengan pakaian rapinya dan hendak pergi keluar. "Aku mau menyusulmu. Aku terkejut merasakan guncangan barusan," ujar Sagira. "Jadi kamu merasakannya juga?" tanya William. "Iya, sangat jelas. Lalu seperti ada suara gemuruh samar - samar. Apa itu dari pegunungan?" tanya Sagira. "Sepertinya begitu, dari atas gunung. Aku mau mandi dan menemui Gerhard dan meminta bantuan untuk melihat ke atas sana. Tapi sepertinya tidak bisa sekarang, pasti anak itu sedang sibuk." "Apa sebaiknya kita beritahu dulu saja? Sekaligus mengunjunginya?" "Kau sudah merindukannya lagi?" "Aku selalu merindukan putraku, William. Aku hanya bisa menemuinya sesekali sekarang," balas Sagira dengan raut wajah sedihnya. William mengusap pipi Sagira dan memeluk wanita itu, "Baiklah, kalau begitu kita akan pergi ke sana sekarang. Aku mandi lebih dulu." Sagira tersenyum dan langsung melepaskan pelukan William, "Kamu tidak bekerja lagi memang?" "Aku pulang lebih cepat. Aku juga sudah sampaikan kepada para pekerja jika sudah selesai bisa segera pulang. Ada karyawan lain yang bisa memberikan bayaran mereka, tenang saja," jawab William. Senyuman Sagira semakin lebar, "Baiklah. Kalau gitu aku siapkan pakaianmu dan kita pergi ke Twyla." William menganggukan kepalanya. Pria itu bermaksud melewati Sagira dan hendak menuju ke kamar untuk meletakkan tas dan menyiapkan pakaiannya. "Aku saja yang siapkan pakaianmu," ujar Sagira sambil menahan lengan William. Suaminya menoleh, "Baiklah." "Apa sebaiknya kita menginap juga?" tanya Sagira. Sebenarnya Gerhard sering mengajak kedua orang tuanya menginap, terlebih ketika Gerhard sudah memiliki anak jadi tidak bisa meninggalkan anak dan istrinya sendirian di Istana Twyla yang sangat luas itu. "Kau mau?" tanya William. Sagira menganggukan kepalanya cepat. "Ya sudah, kita menginap 1 malam. Sesekali kita harus bertemu dengan Ivelle juga." "Oke," balas Sagira lalu berjalan melewati William lebih dulu dan menuju kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh William dan juga pakaian yang akan mereka bawa menuju ke Twyla. Sejak Gerhard menjadi Raja Twyla, pria itu memberikan banyak sekali barang kepada kedua orang tuanya. Mulai dari pakaian sampai dengan perabotan barang - barang di rumahnya. Beberapa kali juga Gerhard hendak membangun rumah baru yang lebih layak dari pada hanya sebuah rumah dengan kayu, tapi William dan Sagira menolak. Mereka lebih suka seperti sedia kala dan akan berpakaian layak ketika ke Twyla. Sementara itu di sisi lain, seorang pria dengan rambut hitam, mata hitam dan pakaian hitamnya turun menghampiri para pekerja di Pegunungan Allegra. Pria itu tersenyum licik dan menyunggingkan senyumannya, "Waktunya bermain," gumam pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD