BAB 4

1148 Words
Kota Terassen, Pulau Vilenna Wilayah baru tempat tinggal bangsa elf * * * * * Setelah perayaan penyambutan melalui acara White Festival yang diadakan di tengah Kota Terassen beberapa hari yang lalu, akhirnya satu per satu dari bangsa elf mulai menempati Kota Terassen. Meski tidak semuanya, namun sekitar 30 persen di antaranya memang berpindah. Tak hanya bangsa elf saja, melainkan juga bangsa Ogre dan juga bangsa dwarf yang ingin menempati kota modern di Lacoste itu. Pusat dari pemerintahan Kerajaan Tessitura sendiri masih berada di Pulau Amadea dengan dikelilingi 4 kota besar lainnya yang dengan kekuatan luar biasa. Tak hanya itu saja, bangsa elf kini semakin luas dan bertambah banyak. Hari ini, Rosa beserta Veza hendak pergi ke pusat Kota Terassen untuk berbelanja. Seperti biasa, hobi Rosa yang gemar berbelanja tak akan pernah hilang begitu saja. Rosa pun bangun pagi untuk bisa berbelanja beberapa pernak pernik kerajinan tangan bangsa elf, dwarf dan juga Ogre. Tok ! Tok ! Tok ! "Nona Rosa, apakah anda sudah selesai bersiap - siap?" tanya Veza sembari mengetuk pintu kamar Rosa. Ckreeekk ! ! ! ! Pintu kamar Rosa pun terbuka. Wanita itu tampil cantik dengan balutan gaun berwarna oranye lengkap dengan tas selempang berwarna senada pada bahunya. "Wah, Nona Rosa terlihat sangat cantik sekali," puji Veza saat melihat Rosa. Rosa tersenyum sembari berjalan keluar dari kamarnya. "Ayo kita berangkat sekarang," ajak Rosa. Rosa dan juga Veza kemudian turun dari lantai 2 dan turun menuju ke lantai 1. "Bu, aku pergi dengan Veza ke pusat Kota Terassen ya," pamit Rosa kepada Asha yang tampak sedang asik mengurus tanaman hias miliknya di depan rumah. Asha menoleh ke arah Rosa kemudian tersenyum menatap anaknya yang tampak cantik, "Hati - hati di jalan ya," ujar Asha. Setelah selesai berpamitan dengan Asha, Rosa dan juga Veza pergi ke Kota Terassen dengan menggunakan Styx. Selama perjalanan pun mereka dilihat beberapa kali oleh bangsa elf yang terpana dengan kendaraan modern di Pulau Velenna itu. Styx memang hanya ada di Pulau Velenna saja dan memang beberapa orang yang memutuskan untuk pindah ke Pulau Velenna adalah mereka yang jatuh cinta dengan perkembangan teknologi di pulau itu. Beberapa menit setelah perjalanan, akhirnya kedua wanita itu tiba di pusat Kota Terassen. Kota itu berubah seketika. Kota yang dulu tampak sepi di masa pemerintahan Raja Matthew, Kerajaan Odor, kini justru terasa ramai dan hangat dengan kehadiran bangsa elf, ogre dan dwarf yang meramaikan Kota Terassen. "Nona lihatlah di sebelah sana, mereka menjual beberapa benda khas bangsa elf," ujar Veza sembari menunjuk ke arah yang dimaksud. Rosa pun menoleh dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Veza. "Ayo kita ke sana," ajak Rosa. Mereka pun menghampiri salah satu penjual yakni seorang elf yang menjual syal cantik. "Selamat datang Nona," sapa sang elf yang berjualan itu. "Halo. Wah ini cantik sekali," ujar Rosa saat melihat syal dengan aksen bunga - bunga. "Ini adalah bunga yang tumbuh di Hutan Avalon. Itu adalah hutan dimana energi sihir suci mengalir. Biasanya hutan itu digunakan untuk mengadakan White festival khusus bangsa elf," ujar sang elf. Rosa terpana melihatnya. Ia menoleh ke sisi lainnya dan melihat syal lain dengan ukiran unik. Baru saja Rosa hendak mengambil syal itu, tiba - tiba saja sebuah tangan mengambilnya terlebih dahulu dan merebutnya dari Rosa. "Hei!" pekik Rosa kemudian menoleh ke arah wanita yang mengambil syal yang ia ambil barusan. "Aku menyentuhnya lebih dulu,"ujar wanita itu. Rosa menaikkan sebelah alisnya saat melihat seorang wanita dengan jubah dan wajah yang ditutupi oleh penutup kepala. "Apa ada lagi yang lain yang seperti ini?" tanya Veza. "Sayang sekali, kami hanya membuat 1 buah untuk yang ini," ujar sang penjual. "Aku akan membayarnya sekarang," ujar Rosa kemudian mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan uangnya. "Tapi aku menyentuhnya lebih dulu," ujar orang asing itu. "Aku melihatnya lebih dulu," balas Rosa. Sang penjual tampak pusing mendengarnya. Rosa tak terima syal yang ia suka direbut, begitu juga dengan orang itu. "Berikan padaku!" peki Rosa dan mulai mengambilnya. Orang asing itu tak terima dan kembali merebutnya, "Aku akan membelinya!" pekiknya. Hingga terjadilah aksi rebut merebut syal itu dan akhirnya . . . . Brekkkk ! ! ! ! Syal yang dipegang oleh Rosa dan orang asing itu robek seketika. Rosa membulatkan matanya begitu juga dengan Veza. Sedangkan sang penjual justru menatap kedua orang di depannya bergantian. "Kalian merusak syal - ku!" pekik sang penjual. Rosa langsung memberikan kepada orang asing, "Kau yang merobeknya jadi kau harus membayarnya!" ujar Rosa. Orang itu menatap Rosa dengan tatapan tak percaya. Kesal karena tak terima dijelekkan, orang itu pun berusaha merogoh sakunya dan mencari kantung uangnya. Namun matanya membulat seketika saat ia menyadari benda yang ia cari tak ada di tangannya. "Daisy," gumam orang itu. Orang itu tampak menatap Rosa dan sang pedangan bergantian. Kemudian . . . Bruuukkk ! ! ! Orang itu meletakkan kembali syal yang ia pegang dan lari. Melihat orang asing dengan jubah tadi berlari, Veza juga ikut menarik lengan Rosa dan lari dari sana. "Akkhh!" pekik Rosa. "Ayo lari Nona, supaya kau tidak perlu membayar syal yang robek itu," ujar Veza. Sang pedagang berteriak namun kedua orang yang merusak syalnya sudah pergi jauh. Meski ia memiliki sihir untuk menahan keduanya, namun atas perintah Maverick dan perjanjian, majin tidak akan menggunakan kekuatan sihir mereka kecuali atas seizin Maverick dan ketika di waktu mendesak. Ia pun akhirnya hanya bisa berkacak pinggang dan melihat orang yang merusak syalnya kabur begitu saja. Rosa dan Veza berlarian ke arah g**g dan tiba - tiba langkahan kaki mereka terhenti saat melihat orang yang tadi merebut syal dan merusak syal itu berhenti di depan mereka dengan napas terengah - engah sambil menundukan kepalanya dan dengan penutup wajahnya yang terbuka. "Bukankah itu orang yang tadi?" tanya Rosa sembari berbisik ke Veza. "Benar, Nona," jawab Rosa. Belum sempat Rosa dan Veza melangkahkan kakinya, tiba - tiba datang seorang wanita dengan pakaian Kerajaan Istana Twyla berwarna putih dengan garis biru lengkap dengan lambang Twyla di d**a kirinya yang berlarian ke arah wanita itu. "Nona Ivelle!" pekik wanita itu sembari berlari dengan wajah paniknya ke arah wanita asing tadi yang rupanya bernama Ivelle. Ivelle menoleh dan tersenyum menatap wanita yang baru saja datang. "Aku baru ingat aku menitipkan kantong uang kepadamu, Daisy," balas Ivelle. Daisy menoleh ke arah Rosa dan Veza yang melihat ke arah mereka, kedua wanita itu juga mematung menatap Daisy dan juga Ivelle. Ivelle menoleh ke arah Rosa dan Veza. "Ivelle? Ivelle Talfaern Khrysaor?" ujar Rosa yang baru menyadari jika wanita dengan rambut panjang berwarna putih dengan ujung rambutnya yang kemerahan, wajah cantik, hidung mancung dan mata indah berwarna biru itu adalah Ivelle, anak dari pasangan Gerhard dan juga Nikita yang selama ini disembunyikan. Ivelle berjalan ke arah Rosa kemudian mengulurkan tangannya, "Aku Ivelle, senang bertemu dengan kalian. Seperti yang sudah kau tebak, aku anak dari Gerhard dan juga Nikita," ujar Ivelle. Veza membulatkan matanya, begitu juga dengan Rosa. Mereka tak menyangka bertemu dengan sosok Ivelle yang selama ini disembunyikan di pasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD