BAB 3

1209 Words
Merasa kecewa karena tak berhasil bertemu dengan pria misterius yang selalu mendatangi mimpinya, Rosa bersama dengan pelayan pribadinya yaitu Veza kembali pulang sebelum acara berakhir. Jika kebanyakan orang datang ke acara White Festival untuk bertemu dengan para bangsa majin lainnya yang hadir, namun berbeda dengan Rosa. Wanita itu justru berniat untuk bertemu dengan sosok pria misterius yang selalu datang dalam setiap mimpi indahnya. "Nona, apa anda masih merasa sedih karena kehilangan pria itu?" tanya Veza sembari melirik sesekali ke arah Rosa yang berjalan di sisi kirinya. Rosa menoleh ke arah Veza dan menghela napasnya perlahan. "Jika saja aku tidak menabrak orang lain, pasti aku sudah mendapatkan pria itu dan melihat wajahnya dengan jelas secara langsung," jawab Rosa. Veza menepuk bahu Rosa perlahan, "Kita pasti akan bertemu dengannya lagi, Nona Rosa," balas Veza. Setelah beberapa menit berjalan dari acara White Festival yang terletak di tengah pusat Kota Terassen atau tepatnya bekas dari Istana Terassen, akhirnya Rosa dan Veza tiba di rumah. Rosa segera masuk ke dalam kamar, namun belum sempat naik ke lantai 2, tiba - tiba Ibu Rosa - Asha Pandora, datang. Asha Pandora, istri dari Matteo Pandora yang merupakan seorang wanita dengan garis keturunan bangsawan dari Kerajaan Odor. Bangsawan yang dimaksud adalah mereka yang pernah menikah dengan keluarga kerajaan dan memiliki hubungan secara langsung dengan para orang - orang yang pernah bekerja di Istana Odor dengan jabatan tertinggi. Orang tua Asha Pandora atau keluarga Pandora salah satunya. Setelah Matteo Pandora meninggal yang tak lain adalah Ayah kandung dari Rosamund Pandora, Asha pun kembali menikah dengan seorang lelaki bangsawan lainnya yaitu Jasver Dareen. "Baru pulang?" tanya Asha. Rosa menoleh ke arah Asha, "Iya. Aku sangat lelah. Aku mau tidur sesaat," jawab Rosa. Tiba - tiba saja Ayah tiri Rosa muncul dari balik pintu dengan pakaian lengkap dengan jas dan sebuah tas di tangan kirinya. Saat mendengar suara pintu tertutup, Rosa dan Asha sama - sama menoleh ke arah sumber suara. "Sudah mau berangkat?" tanya Asha. "Iya, ternyata Ciro nya datang lebih cepat untuk jadwal hari ini," jawab Jasver. Rosa ikut menatap Jasver yang tampak rapi dengan pakaian lengkap. "Ayah mau kemana?" tanya Rosa kepada Ayah tirinya. Meski Rosa dan Jasver tak memiliki hubungan darah, namun Jasver dan Rosa sangat akrab satu sama lain bahkan kedua Ayah dan Anak itu sering berjalan berdua bersama dan menghabiskan waktu bersama. "Ayah mau ke Wendlyn untuk urusan pekerjaan. Apa kau mau menitip sesuatu saat aku pulang nanti?" tanya Jasver. Rosa langsung berlarian ke arah Jasver dan memeluk tangan Jasver. Seketika senyuman cerah langsung terlihat jelas di wajah Rosa. "Apa aku boleh meminta baju gaun baru? Aku belum punya yang warna biru laut. Aku rasa gaun - gaun di Wendlyn sangat indah," ujar Rosa. Jasver tersenyum dan mengusap kepala Rosa perlahan sambil tersenyum. Melihat kedekatan anak kandungnya dan juga suaminya, Asha pun merasa senang. "Tentu saja. Apa sih yang tidak akan kuberikan untuk putriku yang cantik ini?" ujar Jasver. "Terima kasih, Ayah," ujar Rosa. Rosa yang berusia 25 tahun sangat menikmati kehidupannya sebagai putri tunggal keluarga Pandora. Jasver dan Asha juga tampak menghargai keinginan Rosa yang memang tak menginginkan kehadiran saudari baru. Bagi Rosa, kehadiran Veza saja sudah cukup untuknya. "Ya sudah kalau begitu aku berangkat dahulu. Jangan lupa makan teratur dan selalu membantu Ibumu, Rosa," ujar Jasver. "Siap, kapten!" seru Rosa. Setelah berpamitan dengan Rosa, Jasver pun menghampiri Asha dan mencium kening istrinya kemudian pergi keluar rumah dan meniki Styx miliknya untuk pergi ke halte Ciro terdekat di Kota Terassen agar bisa segera pergi menuju ke Wendlyn. Kini tinggal tersisa Rosa dan juga Asha serta Veza. "Kau sudah makan?" tanya Asha. Rosa menggelengkan kepalanya. "Ayo kita makan dulu. Ayo Veza," ajak Asha. Bisa dibilang keluarga Pandora adalah keluarga bangsawan terbaik dan paling menghargai pelayan mereka. Bahkan Veza sudah sering ikut makan bersama keluarga Pandora di atas meja yang sama dengan hidangan yang sama. Ketiga wanita itu pun pergi menuju ke ruang makan. Beberapa hidangan juga sudah disediakan di atas meja dengan rapi. Di ujung meja, kedua orang Veza berdiri menunggu kehadiran Rosa dan juga Asha. "Apakah Tuan Jasver sudah berangkat, Nona?" tanya Meridia, Ibu Veza. Asha berjalan menghampiri Meridia dan duduk di atas kursi yang ditarik oleh Meridia untuknya, "Sudah. Baru saja berangkat. Jadwal Ciro lebih cepat dari jadwal seharusnya. Sepertinya dia akan makan siang di jalan," jawab Asha. Rosa pun ikut duduk di samping Asha, begitu juga dengan Veza yang duduk di seberang Rosa. "Meridia, Arto, ayo kita makan siang bersama," ajak Asha. Ketika Asha meminta setiap pelayan untuk makan bersamanya, tak ada alasan untuk menolaknya. Akhirnya Meridia dan juga Arto - Ayah Veza ikut duduk di meja yang sama dan makan siang bersama. Menu makan siang hari ini adalah ayam panggang yang dibuat oleh Arto. Arto sendiri adalah juru masak andalan keluarga Pandora. Begitu juga dengan Meridia yang sangat ahli dalam membereskan sesuatu dan hal - hal kebersihan di rumah keluarga Pandora. "Oh ya, bagaimana tadi dengan White Festival?" tanya Asha. Rosa yang sedang mengunyah daging ayam di dalam mulutnya kemudian berusaha menelannya dan menatap Ibunya. "Sangat ramai. Mungkin karena acara ini banyak majin lain jadi banyak juga bangsa manusia yang penasaran dengan bangsa majin," jawab Rosa. "Benar Nona. Aku bahkan bertemu dengan dwarf dan bahkan Ogre yang terlihat seram tapi mereka semua baik," sahut Veza. Meridia menatap Veza hingga Veza menunduk namun Asha justru tersenyum, "Tidak apa - apa. Veza sudah kuanggap seperti anakku juga," balas Asha. "Maaf atas sikap lancang anakku, Nona," ujar Arto. "Lalu kalian gimana di sana? Apakah menyenangkan? Sudah bertemu dengan Tuan Gerhard dan Nona Nikita?" tanya Asha. Rosa mengangguk lagi, "Sudah. Mereka terlihat tampan dan juga cantik. Aku dengar anak mereka juga cantik," jawab Rosa. "Apa anak mereka tidak datang?" tanya Meridia. "Tidak, sepertinya masih dirahasiakan sosoknya. Kita jadi penasaran," ujar Veza. "Sepertinya begitu. Meski sudah 20 tahun berlalu sejak meninggalnya Matthew dan Ginerva, anak mereka seharusnya sudah remaja sekarang," ujar Asha. Memang benar, 20 tahun yang lalu Matthew dan Ginerva serta Kerajaan Odor berhasil ditaklukan oleh bangsa elf dan bangsa Noblesse serta bantuan bangsa vampire. Di samping itu, Nikita sempat terjebak dalam kematian semu yang berhasil ditolong oleh Maverick dengan kekuatan Aerosworn. Dari sejak saat itu, Nikita menikah dengan Gerhard dan memiliki seorang anak yang memiliki 3 darah sekaligus yaitu noblesse, manusia dan vampire. Konon kecantikan dari putri pasangan Gerhard Khrysaor dan Nikita Talfaern bak dewi. Siapapun yang melihatnya akan terpana. Dan sampai detik ini, tak ada yang tahu bagaimana rupa dari anak pasangan itu. "Aku dengar sepertinya bangsa elf sudah banyak yang menempati Kota Terassen," sahut Arto. Rosa mengangguk kepalanya semangat, "Aku juga melihat elf tadi. Mereka sangat ramah. Mata hijau mereka sangat indah," jawab Rosa. "Sepertinya aku harus datang ke White Festival lain kali," ujar Asha. "Bukankah White Festival diadakan jika ada hal penting saja?" tanya Veza. "Iya betul. White Festival pertama adalah atas kebangkitan Noblesse dan juga sang Mongrel. Dan kini atas bersatunya bangsa elf sang majin yang masuk hidup berdampingan dengan manusia di Kota Terassen," balas Asha. Veza dan Rosa mengangguk kepalanya bersamaan. Makan siang mereka pun berakhir. Setelah selesai makan siang, Arto dan juga Meridia membereskan sisa makanan mereka barusan. Sedangkan Asha kembali ke taman belakang untuk memindahkan beberapa tanaman hias ke dalam pot baru. Sedangkan Veza ikut bersama dengan Rosa ke kamar Rosa yang berada di lantai 2.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD