PROLOG

707 Words
Kalau cinta dapat membuatmu gila dan tak mempunyai akal sehat lagi, maka dendam mampu mematikanmu seketika ~Artesha Christy Panggalila~ Arsa duduk di pinggir kasur sambil menatap jarum jam dinding yang menunjukkan jam 2 pagi. Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya, saat mengingat sahabatnya belum kunjung pulang padahal sudah dini hari. Tadi Arsa menunggu sahabatnya datang, sambil memeriksa data kantor yang ia bawa ke apartemen namun lama-kelamaan ia ketiduran dan terbangun kembali, dan Arsa tahu sahabatnya belum pulang juga karena sisi sebelah kasurnya kosong. "Lavanya kemana sih, sudah jam segini belum pulang juga, katanya cuma mau cari angin segar tapi kok belum pulang." Tangan Arsa saling bertautan karena gelisah, khawatir, dan takut akan kondisi sahabatnya. Lavanya Darmianta Sevana, sosok wanita yang sudah menjadi sahabat Arsa sejak masih kecil. Nasib Lava tak jauh beda dengan Arsa, ibu Lava meninggal dunia saat Lava berusia lima belas tahun, dan Lava tak pernah mengenal sosok ayah sejak ia dilahirkan. Sejak saat itu, Arsa mengajak Lava tinggal bersamanya, bukan di mansion peninggalan orang tuanya. Sejak Tere, ibu Arsa meninggal karena menyelamatkan Arsa dan Arya, ayah Arsa lebih memilih untuk terus bersama Tere dalam kematian dan memutuskan bunuh diri detik itu juga, sejak saat itu Arsa tak pernah lagi menginjakkan kakinya di mansion itu. Mansion itu selalu membuat Arsa terbayang-bayang akan kematian orang tuanya dan juga membuat Arsa sedih dan menangis terus-menerus. Tatapan Arsa tertuju pada bingkai foto pernikahan orang tuanya yang berada di atas meja, Arsa pun mengambil foto itu dan mengusap lembut foto itu dengan ibu jarinya. Setiap mengingat kejadian delapan belas tahun lalu, entah kenapa Arsa masih saja menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. TOKK TOKKK. Suara ketukan pintu yang cukup kasar, membuat Arsa langsung meletakkan bingkai foto orang tuanya lalu menghapus air matanya dengan cepat, mungkin saja itu Lava dan Arsa tak mau Lava melihat ia menangis. Arsa langsung berjalan ke arah pintu, dan membuka pintu tersebut. Tubuh Arsa diam mematung saat melihat Lava yang berdiri di depannya dengan keadaan sangat kacau. Baju yang robek dimana-mana, rambut yang berantakan, mata memerah dan sembap, tepi bibir yang berdarah, pipi yang membiru, dan bekas cupang di leher Lava. Lava langsung memeluk Arsa dengan erat, bahkan sangat erat sampai Arsa kesulitan bernafas namun Arsa tidak mengatakannya dan membalas pelukan Lava dengan lembut. "Ada apa? Siapa yang melakukan ini Lava? Katakan sama aku, siapa yang menyakiti kamu?" tanya Arsa dengan nada parau, rasanya Arsa ingin menangis sekarang juga saat melihat bekas cupang yang sangat terlihat jelas di leher Lava saat ia memeluk Lava. Lava hanya menggeleng lemah tak ingin mengatakan apa pun pada Arsa saat ini, mungkin selamanya Lava tak akan mengatakan apa yang terjadi malam ini, karena bagi Lava malam ini adalah sebuah aib besar dalam dirinya. Lavanya Darmianta Sevana menjadi korban pemerkosaan pria b******n yang menyandang gelar pengusaha tersukses tahun ini di Asia Tenggara. "Lava katakan, jangan takut ada aku di sini, aku berjanji akan menghukum bahkan membunuh siapa pun orang yang melakukan tindakan keji ini padamu." Arsa menekan lembut kedua pipi Lava, melihat air mata dan tatapan penuh kesakitan di mata Lava membuat hati dan jiwa Arsa ikut menjerit kesakitan. Arsa tak terima bahwa sahabatnya sudah diperlakukan dengan keji oleh b******n tak berperasaan. "Tutup mulutmu, kalau sampai ada satu orang saja tahu kejadian malam ini, maka bersiaplah melihat kematian orang itu dan kematianmu!" "Aku tidak tahu siapa orang itu Arsa, saat itu gelap dan dia membekap mulutku hingga aku pingsan... Hiks hiks, dan tak sadarkan diri." Sebisa mungkin Lava tidak menatap mata sahabatnya, Lava hanya menunduk dan tangisannya makin pecah setelah ia berbohong pada seseorang yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Tangan Arsa mengepal kuat saat melihat Lava yang tak berani menatap matanya, hal itu cukup membuktikan bahwa Lava berbohong padanya, Lava tahu siapa pria b******n itu! Namun Arsa tak mau terus memaksa Lava mengatakan yang sejujurnya sehingga ia hanya diam, dan menggenggam tangan Lava dengan erat dan lembut lalu mengatakan hal yang membuat Lava menatap matanya dengan tatapan sendu. "Aku tahu kau berbohong, kita sudah bersama bukan satu atau dua tahun, tapi sudah bertahun-tahun jadi aku adalah orang yang paling mengenalmu melebihi kau mengenal dirimu sendiri, kalau kau tak mau mengatakannya maka aku sendiri yang akan mencari dan membunuh orang itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD