CHAPTER: 1

786 Words
Arsa memijit pelipisnya dengan lembut, saat melihat masih banyak tumpukan kertas di depannya yang menjerit untuk diperiksa hari ini juga. Arsa menatap jarum jam tangannya, yang menunjukkan pukul 12.00 dan berarti sekarang adalah waktu makan siang tapi ia harus menghabiskan waktu makan siangnya di ruang kerja dengan kertas yang bertumpuk ini. "Kapan aku selesai memeriksa berkas-berkas ini?" tanya Arsa pada dirinya sendiri, suara dering teleponnya yang menandakan ada panggilan masuk membuat Arsa langsung menerima panggilan itu tanpa melihat namanya. "Aku ada di depan pintu ruang kerjamu." Mata Arsa melotot sempurna saat mendengar suara berat dan basah yang sangat khas milik seorang pria yang pernah mengisi hatinya, dan pergi begitu saja tanpa memberitahunya setelah hari kelulusan sekolah. Arsa langsung melihat nama di panggilan itu dan benar bahwa yang meneleponnya adalah Angga Putra Wijaya, mana mungkin Arsa bisa melupakan suara itu. "Angga... Tanpa Arsa sadari, hatinya menjerit kesenangan saat tahu Angga menemuinya setelah dua belas tahun berlalu, Arsa langsung berjalan ke arah pintu lalu berdiam dulu sebentar di depan pintu, berusaha mengubah tatapan dan raut wajahnya menjadi datar, kemudian membuka pintu tersebut. Tatapan Arsa terkunci pada manik mata berwarna hitam legam yang memiliki tatapan tajam setajam elang. Pria di depannya sudah berubah banyak, dulu Angga adalah siswa nakal di sekolah yang selalu berpakaian berantakan dan ugal-ugalan, namun Angga yang berada di depannya sekarang berubah menjadi pengusaha kaya yang berpakaian rapi dan sangat tampan. Namun satu yang Arsa tak suka dari perubahan Angga yaitu mata Angga yang dulu selalu menatapnya dengan binar penuh cinta berubah menjadi tatapan tajam dan dingin. "Boleh aku masuk?" "Silahkan." Arsa dan Angga duduk berhadapan yang terpisah oleh meja kerja tersebut, Arsa berusaha menetralkan detak jantungnya yang menggila saat berhadapan dengan Angga. Arsa tak boleh terbawa perasaan, tiba-tiba suara sekretarisnya yang memberitahu jadwalnya terngiang-ngiang di otaknya. "Saat jam makan siang, pemilik sekaligus CEO dari m Wijaya Group akan datang menemui Bu Arsa, tentang tanah Panti Asuhan Queenera Children." "Pasti sekretaris Anda telah memberitahu maksud dan tujuan saya datang ke perusahaan Queen Corp." Arsa memejamkan matanya sejenak sebelum menatap tajam Angga dengan tangan terkepal di bawah meja, Arsa seharusnya mengerti dan sadar bahwa hubungan mereka sudah berakhir sejak pria itu meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Iya, saya tahu itu dan saya tetap pada pendirian bahwa Panti Asuhan Queenera Children tak akan digusur hanya demi proyek Restoran yang sudah kita rencanakan." "Tapi tempat itu strategis dan juga padat penduduk, proyek restoran kita akan terkenal dan banyak peminat jika kita membangunnya di atas panti asuhan itu." Senyum miring yang cenderung mengejek terbit di bibir Arsa, ternyata Angga memang sudah berubah. Dulu Angga memang nakal dan selalu tak peduli dengan pekerjaan sekolah tapi Angga yang dulu adalah Angga yang baik hati dan sangat peduli dengan orang di sekitarnya. "Kalau memang Anda masih menginginkan tanah itu untuk proyek restoran ini, maka maaf saya tidak bisa melanjutkan proyek kita." Arsa terlonjak kaget saat Angga dengan tiba-tiba menggebrak meja di antara mereka, terlihat sekali bahwa Angga sangat marah setelah mendengar ucapan yang keluar Dari mulutnya, namun Arsa tak peduli dan tetap dengan tatapan tajam dan membunuhnya. "Jangan campurkan masa lalu kita dengan proyek ini!" "Saya tidak pernah mencampurkan masalah pribadi dengan masalah kantor! Dan satu lagi saya sudah melupakan bahwa kita pernah memiliki hubungan dulu jadi kamu jangan besar kepala dan menganggap saya masih ada rasa sama kamu!" Nafas Arsa memburu karena amarah dalam dirinya apalagi setelah mendengar ucapan Angga. Keduanya saling menatap penuh kebencian, tatapan yang sangat berbeda jauh dengan tatapan saat mereka Sma. "Kalau kamu engga ada rasa sama saya, kenapa kamu belum menikah sampai detik ini, kamu pasti tahu bahwa saya sudah menikah dengan wanita yang saya cinta." "Bukan urusan Anda, sekarang Anda keluar dari ruangan saya!" Arsa berjalan ke arah pintu lalu membuka lebar-lebar pintu tersebut, mempersilahkan Angga keluar dari ruangannya karena ia sudah muak bersama dengan Angga di satu ruangan yang sama. Angga pun akhirnya memilih pergi dari ruangan ini karena ia merasa sesak jika harus bersama dengan Arsa di satu ruangan yang sama, namun sebelum pergi ia berhenti sejenak dan menatap Arsa dengan tatapan datarnya. "Apa kamu engga mau tahu alasan saya pergi dari kamu?" "Saya tidak peduli dan tidak mau tahu alasan kamu pergi." Meskipun Arsa sudah mengatakan tak ingin tahu tapi Angga tetap melanjutkan ucapannya, membuat Arsa memutar mata jengah namun menjadi diam mematung setelah mendengar ucapan Angga. Arsa menatap mata Angga yang juga menatapnya, ia berusaha mencari kebohongan di mata Angga namun nihil yang ia temukan adalah kejujuran dan rasa sakit lewat tatapan Angga. "Karena seseorang telah menyadarkan saya, bahwa kamu adalah langit dan saya adalah bumi. Kamu cahaya dan saya kegelapan, kamu ratu dan saya hanya b***k. Kita tidak bisa bersama karena kasta kita berbeda." [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD