“Woi Vivy!” sahut Juni sambil tersenyum lalu berlari menuju tempat duduk Navyla. Meskipun mereka saat ini sedang menyusun skripsi, Navyla dan Juni juga bertekad untuk memperbaiki nilai mereka yang masih belum memuaskan.
“Apaan?” tanya Navyla malas, sejak hari di mana Kevin mengajak nya untuk menikah, Navyla tidak pernah bisa tidur dengan tenang.
Bah kan meskipun barang barang nya sudah di letak kan di rumah Kevin yang entah di mana itu. Navyla tidak pernah sekalipun menginjak rumah tersebut.
“Gue ada gosip panas!”
“Apaan?”
“Lo tau, bu Jumirah kan sakit, terus di rawat di RS,”
“Eh iya? Jadi sekarang gak masuk dong?” ujar Navyla hendak memberes kan buku nya kembali ke dalam tas.
“Masuk!” sahut Juni menghenti kan kegiatan Navyla.
“Tapi tadi katanya sakit, gimana sih?”
“Iya, bu Jumirah memang sakit, tapi ada dosen yang ngegantiin dia untuk sementara,”
“Siapa?”
“Selamat pagi semua nya,” ujar seorang laki laki dengan kaca mata yang menggantung di hidung mancung nya saat ia berjalan memasuki ruangan tempat Juni dan Navyla baru saja berbicara tentang nya.
“Pak Kevin! Gila seneng banget gue tiap pagi dapat pemandangan indah kaya gini,”
“Kok jadi dia sih yang gantiin bu Jumirah! Buat kesel aja,” sahut Navyla yang tanpa sadar terdengar oleh Kevin yang berdiri di bawah sana.
“Kalau tidak senang dengan kelas saya, kamu bisa keluar dari ruangan ini,” ucap Kevin tanpa melihat ke arah Navyla. Suara nya benar benar terdengar berbeda dari yang kemarin Navyla dengar saat mereka sedang memberes kan barang barang milik Navyla dan Wanda di rumah.
“Navyla,” sambung Kevin lalu menatap Navyla dengan tajam.
Navyla menggigit bibir bawah nya karena gugup, kenapa Kevin berubah jadi semenyeram kan ini? Bu kan nya kemarin mereka sudah memiliki hubungan yang lebih dari sekedar dosen dan mahasiswa? Bah kan Kevin sampai mengajak Navyla menikah. Apa memang benar maksud Kevin ingin menikahi Navyla ha nya karena ingin membahagiakan sang Ibu?
“Maaf kan saya pak,” ucap Navyla begitu pelan sambil menunduk malu.
“Sebagai orang orang yang berpendidi kan seharus nya kita bisa lebih kritis lagi dalam memilah perkataan yang ingin kita lontarkan,” ucap Kevin sambil menggenggam sebuah buku tebal di tangan nya.
“Bu kan langsung melontar kan cacian ha nya karena tidak suka atau langsung membela ha nya karena suka,” Kevin kembali menatap Navyla dengan begitu tajam.
“Dan yang paling penting adalah, perhati kan siapa lawan bicaramu,” ucap nya seolah ingin mengatakan hal tersebut ha nya kepada Navyla.
“Maaf,” ucap Navyla lagi dengan suara yang semakin kecil hingga tak ada seorang pun yang mampu mendengar nya.
Kevin ha nya menghela nafas nya, berusaha untuk menghilang kan rasa jengkel yang mengganggu pikiran Kevin ha nya karena perkataan Navyla barusan, dalam benak nya, Kevin bertanya ta nya, kenapa Navyla bisa segitu membenci nya, ia sudah membantu untuk pengobatan ibu nya, Kevin juga sudah menawar kan Navyla untuk tinggal bersama nya dan mencukupi segala kebutuhan mereka kelak.
Tapi kenapa tingkah Navyla masih saja seperti itu?
“Buka halaman 156,” ujar Kevin.
“Pasti kalian sudah mempelajari materi ini saat bersama bu Jumirah kan?”
“Apa ada yang bisa menjelas kan tentang maksud dari teori keadilan menurut Aristoteles?”
“Anjir gue kok gak tau ya bu Jumirah ada ngebahas ini? Ngarang nih pak Kevin,” ucap Juni panik.
“Kalau sampai saya tunjuk dan tidak bisa menjawab. Boleh keluar dari kelas,”
“What?!” ujar Navyla kesal namun tidak terdengar.
“Navyla, bisa kamu jelaskan?”
“Um...”
“Kenapa?” tanya Kevin yang mulai kesal dengan kebiasaan berdeham Navyla.
“Tidak bisa menjawab?” tanya Kevin lagi dengan gaya sarkastik.
Navyla melihat ke sekitar nya, memandangi setiap pasang mata yang sedang memperhati kan nya saat ini. Rasa nya benar benar sesak, seolah seluruh tatapan itu mene kan di ri nya di dalam sebuah peti mati.
“Maaf pak,” ujar Navyla sambil menunduk malu, ia memang tidak mengikuti kelas bu Jumirah, saat itu kondisi Wanda sedang tidak baik, dan Navyla memutus kan untuk membolos dan merawat ibu nya.
“Sudah mengulang mata kuliah saja masih tidak bisa menjawab,” sindir Kevin yang terdengar begitu menyakit kan bagi Navyla.
“Ada yang bisa menjawab?” tanya Kevin.
Seorang perempuan berambut pendek langsung mengacung kan tangan nya, matanya menatap Kevin dengan tatapan penuh kagum, sudah dari awal masuk kampus ini dia sangan menyukai Kevin. Sudah tampan, pintar, kaya lagi. Kevin benar benar tipe cowo idaman nya.
“Ya silahkan,” ujar Kevin mempersilah kan perempuan itu menjawab.
“Menurut Aristoteles keadilah di bedakan menjadi beberapa yaitu keadilan di stributif dan keadilan komutatif, keadilan di stributif tercapai apabila setiap pihak mendapat kan hak nya secara proporsional dan sama rata, sedang kan keadilan komutatif akan tercapai apabila berbagai pihak mendapat kan hak atapun sanksi yang adil dengan tidak melihat jasa jasa yang telah di lakukan nya,”
“Terima kasih,” ujar Kevin dengan wajah datar.
“Bagaimana Navyla? Sudah mengerti?” ucap Kevin sambil menatap sinis pada Navyla.
Navyla mengangguk sambil menahan air mata milik nya yang sudah hampir keluar sebentar lagi. Ia tau Kevin sudah terkenal sebagai dosen galak yang tidak memiliki hati, tapi ia tidak menyangka kalau Kevin akan mempermalu kan nya seperti ini.
Apa memperlaku kan Navyla sekasar ini membawa kepuasan tersendiri bagi Kevin?
“Sudah pak,” ujar Navyla dengan suara bergetar.
Spontan Juni langsung mengusap usap punggung sahabat nya bermaksud untuk menyemangati perempuan itu, Juni tau saat ini Navyla pasti sudah benar benar malu, di hina dan di sindir di hadapan adik adik kelas pasti membuat harga di ri Navyla tercoreng.
“Lain kali jangan biar kan adik kelasmu terlihat lebih pintar dari kamu,” ujar Kevin. Lagi lagi Navyla kembali menunduk kan kepala nya.
“Sekarang kamu bisa keluar,” ucap Kevin.
“Apa?” ucap Navyla sambil menatap mata pria yang beberapa hari lalu melamar di ri nya.
“Iya keluar, saya tidak ingin ada anak pembangkang plus pemalas ada di kelas saya,”
Navyla terdiam dan menatap Kevin tidak percaya. Lelaki itu memang tidak main main saat ingin memperlaku kan nya seperti sekarang.
“Keterlaluan,” gumam Juni tidak terima.
Juni sudah sangat tidak suka dengan perlakuan Kevin pada sahabat nya itu. Jujur saja ia benar benar ingin mengacak acak wajah Kevin saat ini juga. Tapi tidak mungkin dia melaku kan hal itu. Bisa bisa nilai nya hancur jika dia menyakiti dosen, malah lebih parah lagi, mungkin saja dia akan di keluar kan dari kampus nya.
Navyla bangkit dari tempat duduk nya lalu mengemas buku nya ke dalam tas. Sambil menahan malu Navyla berjalan menuruni tangga lalu keluar dari ruangan tersebut. Langkah nya bergerak menuju atap, perasaan nya benar benar kalut saat ini, sedih bercampur dengan marah membuat di ri nya sangat ingin berteriak dan memaki Kevin tepat di depan wajah nya.
“KEVIN JAHAT!!!!!” jerit Navyla saat di ri nya baru saja sampai di atap.
“Vivy?” tanya Daffa yang terkejut karena suara teriakan Navyla.
“Eh?? Gue kira gak ada orang, lo ngapain di sini Dap?”
“Hahaha, habisin ini bentar,” ucap Daffa sambil menunjuk kan sebatang rokok di sela jari nya.
“Kenapa harus jauh jauh kesini kalau mau ngerokok doang?” tanya Navyla.
Daffa menghisap rokok tersebut lalu menumpu kan tangan nya di atas di nding, matanya menatap Navyla sejenak lalu tersenyum manis.
“Di usir pak Kevin ya?” sindir nya lalu tertawa puas.
“Bisa di am gak?” ujar Navyla kesal.
“Hahahaha, iya iya,sorry Vy,” ucap Daffa lalu tersenyum.
“Lo mau?” tanya Daffa sambil memberi kan bungkus rokok milik nya ke Navyla.
“Um.. gue gak ngerokok Dap,”
“Hm, okay,”
“Lo mau ngapain jadinya?” Daffa melihat ke arah jalanan yang begitu ramai.
“Gue juga gak tau, mungkin duduk duduk di sini aja, main hp,”
“Boring!” sahut Daffa lalu menginjak rokok nya yang sudah di jatuh kan ke lantai.
“Gue bawa motor nih, lo mau roadtrip bareng gue gak?”
“Kemana?”
“Gak jauh jauh, keliling kota doang, makan, ngopi, seneng seneng deh pokok nya,”
“Kenapa?”
“Kenapa ajak gue? Maksud gue, kita kan gak pernah ngomong di kelas,”
“Oh jadi lo gak mau pergi sama orang asing kaya gue?”
“Eh bu kan gitu! Gue mau ta—“
“Ya udah ayok,” ujar Daffa lalu berjalan meninggal kan Navyla menuju lantai bawah.
Navyla berjalan mengikuti Daffa, langkah nya sempat berhenti saat sebuah dering notifikasi mengalih kan perhatian nya.
Pak Kevin Doping
Online
Kamu di mana?
Saya ingin bicara.
Navyla menarik nafas nya dalam dalam, memutus kan untuk tidak membalas pesan dari orang paling mengesal kan di hidup nya tersebut. Lebih baik hari ini dia habis kan untuk bersenang senang dengan Daffa, menanggapi Kevin hanya akan membuat nya menderita.