“Nikah?” tanya Navyla memastikan, mana tau dia tadi salah dengar.
Namun ternyata tidak, yang di dengar kan nya itu benar ada nya, Kevin mengangguk kan kepala nya lalu menatap Navyla lekat lekat. Sebenar nya apa isi kepala lelaki di depan nya ini, padahal baru saja Kevin membentak di ri nya pagi tadi, sekarang dosen galak ini malah melamar nya tiba tiba.
“Ga—“ Navyla berdeham membenar kan suara nya agar tidak terdengar kasar.
“Maaf pak, tapi saya belum mau menikah sebelum saya wisuda, lagipula saya belum sepenuh nya mengenal bapak, saya tidak mungkin menerima bapak sebagai suami saya begitu saja,” ujar Navyla berusaha untuk tidak menampol jidat Kevin.
Navyla menatap Kevin sambil memendam emosi nya, emang nya karena Kevin adalah dosen pembimbing nya, Kevin jadi bebas berkuasa pada Navyla?
“Saya tidak menerima penolakan, saya ha nya ingin membuat ibumu senang, minggu depan kita akan menikah di hadapan ibu, kalau setelah ibu pergi kamu ingin bercerai, terserah kamu,”
“Apa?” ujar Navyla tidak percaya.
“Apa maksud bapak? Bapak mendoakan ibu saya meninggal?”
“Bu kan begitu, saya tidak ingin terlambat mewujud kan mimpi ibumu,”
“Aku tidak mau! Bapak tidak bisa mengaturku seenak nya ha nya karena bapak sudah membantu ibu dan keluarga saya, saya tidak pernah meminta bapak untuk menolong kami, saya juga tidak peduli dengan masa lalu bapak dengan ibu, dia itu ibu saya. Membuat nya bahagia adalah tanggung jawab saya, bu kan bapak!” amuk Navyla sudah tidak tertahan kan lagi.
“Kalau bapak memang mau membahagiakan seorang ibu, bahagiakan saja ibu bapak sendiri! Jangan ganggu keluarga saya apalagi seenak nya meminta saya untuk menikah dengan bapak seperti ini,”
“Saya tidak peduli Navyla! Kamu harus menikah dengan saya!”
“Apaan sih! Makin kesini bapak makin aneh tau, bapak ini kenapa? Bapak suka sama saya? Ingat umur pak!”
“Kenapa memang umur saya? Kita ha nya berbeda delapan tahun,”
“Ya emang delapan tahun itu gak jauh apa?”
“Saya tidak menganggap serius pernikahan ini Vy, saya ha nya ingin mewujud kan impian ibumu, kamu senang juga kan kalau ibu mu bahagia. Kamu gak merasa bersalah sudah membebani nya selama ini? Mewujud kan salah satu mimpi nya bah kan tidak mampu membalas jasa nya untukmu,”
“Aku tidak mau menikah dengan bapak,”
“Aku tidak meminta pendapatmu,”
“Lah? Jadi maksud bapak pernikahan itu ha nya di atur oleh satu pihak?”
“Ini ha nya pernikahan sementara Vy, bu kan serius, saya juga gak mau pu nya istri yang tidak berbobot seperti kamu, saya ha nya ingin membahagiakan ibu,”
“Jadi untuk apa menikah kalau bapak sendiri tidak mau pu nya istri yang tidak berbobot seperti saya?”
“Harus berapa kali saya bilang, saya ha nya ingin membahagiakan ibu,”
“Omong kosong,”
“Sudah, ayo kita pulang, aku akan membicarakan soal pernikahan kita setelah ibu keluar dari rumah sakit,”
Navyla terdiam menatap Kevin mengangkat kotak yang berisi barang barang berharga milik ibu, sesekali mata Kevin melirik ke arah Navyla yang lagi lagi termenung.
Kenapa perempuan ini hobi sekali melamun?
“Hei,” panggil Kevin setelah ia meletak kan kotak tersebut di bagasi milik nya.
Navyla mengangkat kepala nya lalu melihat ke arah Kevin. Perempuan itu memandangi kemeja putih dengan lengan yang sedikit terlipat keatas, sekali lagi Navyla akui, rupa Kevin memang hampir mendekati sempurna, untuk masalah finansial dan pendidi kan juga Kevin sangat baik.
Bagaimana lelaki seperti ini belum menikah sampai sekarang, sudah pasti Navyla akan di jadi kan istri ke dua.
Tapi apa maksud nya ingin mewujud kan cita cita ibu? Apa ibu segitu ingin nya melihat Navyla menikah sebelum di ri nya pergi? Navyla memang tau kondisi ibu nya saat ini sedang tidak baik baik saja. Tapi Navyla tidak pernah memikir kan suatu saat ibu nya akan meninggal dan membiar kan nya sendiri hidup di dunia ini.
Aku benar benar tidak ingin ibu pergi
“Vy, saya mau ke rumah, kamu ikut?”
Navyla menggeleng kan kepala nya, lalu beranjak masuk ke dalam kamar milik nya.
“Tidak, saya ingin memberes kan barang barang saya lebih dulu,”
“Apakah barang penting?”
“Semua barang saya itu penting,”
“Berarti semua nya tidak penting,” balas Kevin.
“Ayo ikut dengan saya, saya akan membeli kan barang barang baru kebutuhanmu setelah kamu dan ibu pindah ke rumah saya,”
“Saya tidak perlu di bantu oleh bapak, kalau bapak ingin membahagiakan ibu, silah kan penuhi kebutuhan nya saja,” ucap Navyla begitu di ngin seraya melepas kan jam tangan pemberian Kevin dari tangan nya.
“Saya juga tidak mau menerima jam tangan ini, benda ini terlalu mewah untuk orang orang rendahan seperti saya,” ucap Navyla, entah kenapa saat di sanding kan dengan Kevin, Navyla merasa kalau di ri nya bukanlah apa apa. di tambah lagi dengan sikap Kevin yang kerap merendah kan di ri nya, Navyla jadi berpikir kalau di ri nya tidak akan bisa bersanding dengan orang sehebat Kevin.
“Saya juga tidak mau menerima barang yang sudah saya hadiah kan pada orang lain, kalau kamu tidak suka jam itu kamu bisa membuang nya atau memberi kan nya pada orang lain yang lebih menghargai pemberian orang lain,” ucap Kevin dengan rasa sakit yang tiba tiba hinggap di hati nya, entah karena ia tersinggung atau karena ia sedih Navyla tidak mau menerima hadiah nya, Kevin sendiri pun tidak tau.
“Apa?” balas Navyla yang membuat Kevin semakin kesal.
Kedua tangan pria itu menangkup wajah nya lalu mengusap nya kasar, kenapa Navyla selalu saja mengatakan kata ‘apa?’ ‘eh?’ dan melamun, Kevin paling tidak suka melihat hal seperti itu.
“Sudah, ayo pergi, aku akan memberitahu kamar mu dan kamar ibu di rumah nanti, saya tidak pu nya waktu banyak, saya harus mengurus kantor lagi masih—“
“Ya sudah, bapak urus saja urusan bapak yang lebih penting dulu, baru nanti bapak boleh mengurus kami, saya tidak mau keadaan saya dan ibu menjadi alasan bapak untuk kesulitan bekerja,” ujar Navyla dengan pelan namun tegas.
Kevin menatap bola mata perempuan di depan nya itu, Navyla terlihat benar benar serius dengan ucapan nya, kalau kata orang orang yang sering di temui nya, saat ini Kevin sedang berhadapan dengan seorang Alpha Female. Tidak ada seorang perempuan pun yang berani menatap Kevin setajam ini.
Baru Navyla, untuk sampai saat ini.
“Terus setelah beres beres kamu kemana?” tanya Kevin.
“Ke rumah sakit menjaga ibu,”
“Urusan kamu di kampus masih ada?”
“Tidak, saya ke kampus ha nya untuk menemui bapak tadi,”
“Siapa laki la—“ ucap Kevin bermaksud untuk menanyakan tentang Adi yang tadi duduk di samping Navyla, namun pertanyaan nya itu berhenti setelah menyadari kalau pertanyaan itu sudah masuk kedalam ranah privasi Navyla, Kevin tidak perlu tau apapun yang terjadi dalam kehidupan perempuan di depan nya ini, terkecuali kalau Navyla yang memang ingin menceritakan hal itu pada nya.
“Apa?” tanya Navyla tidak mengerti.
“Bu kan apa apa, saya pamit.” Kevin pun berlalu dan pergi menggunakan mobil nya tanpa melihat ke arah Navyla sedikitpun.
Entah kenapa Kevin merasa heran dengan di ri nya sendiri, ia sadar ia tidak menyukai Navyla, tapi kenapa ia tidak pernah bisa berhenti memikir kan perempuan itu?
Apa ini karena rasa hutang budi nya dengan Wanda? Tapi bagaimana mungkin?
Apa aku menyukai Navyla?
Itu lebih tidak mungkin.
Navyla masuk ke dalam kamar nya, memandangi setiap foto di dalam album yang tadi di simpan ibu di dalam laci kamar nya.
Ternyata masih ada potret keluarga nya yang lengkap dan bahagia bersama Yudi, seandai nya lelaki itu tidak mengkhianati Wanda, Navyla pasti tidak akan jadi takut menjalin hubungan seperti saat ini.
Sedari dulu Navyla memang terkenal dengan kecantikan nya, tak jarang juga laki laki yang kenal dengan Navyla memberani kan di ri untuk mengajak Navyla berpacaran dengan mereka, namun karen Yudi sampai sekarang pun Navyla tidak mampu membuka hati nya untuk siapapun.
Cinta ha nya akan membawa penderitaan bagi nya.