5

1639 Words
Dua puluh tahun yang lalu             Sambil memeluk tubuh nya yang kedinginan, Kevin duduk di depan sebuah ruko terbengkalai sambil menahan rasa lapar di perut nya, matanya menatap kearah koran koran basah di tangan nya. Apa yang harus di katakan nya pada ibu dan ayah angkat nya saat mereka tau semua koran ini sudah rusak karena air hujan.             “Mana belum ada laku lagi,” ujar Kevin sambil menangis sejenak.             Jangan kan di beri makan, kalau Kevin pulang dengan keadaan seperti ini, sudah pasti ia akan langsung di pukuli oleh kedua orang tua angkat nya.             Lebih baik aku mati kedinginan di sini batin Kevin.             Kevin mengangkat kepala nya saat melihat seorang perempuan yang sudah basah kuyup ikut berteduh di samping nya. Perempuan itu tampak lelah mendorong gerobak ubi bakar di depan nya. Perlahan dia meletak kan gerobak itu di samping mereka agar tidak ikut terkena hujan.             “Kamu udah makan?” tanya perempuan itu tiba tiba.             Kevin langsung menatap perempuan itu dengan mata yang berbinar binar. Ia sudah menahan lapar nya sedari tadi. Sejak pagi dia tidak memakan apapun karena tidak pu nya uang.             “Belum,” jawab Kevin singkat dan terdengar seperti tidak sopan. Namun hal itu tidak membuat Wanda jadi enggan untuk membantu anak ini, tangan nya mengambil sebuah ubi bakar dari dalam gerobak nya lalu memberi kan nya pada Kevin.             Anak laki laki itu memakan ubi panas itu dengan cepat sampai melukai bibir nya.             “Eh pelan pelan nak makan nya. Kamu bisa melukai bibirmu,” ujar Wanda khawatir, Kevin ha nya tersenyum lalu memperlambat kecepatan nya saat makan.             Selama ia hidup, Kevin terbiasa untuk makan dengan cepat, bu kan karena takut di marahi, tapi karena takut anak anak lain akan meminta makanan nya yang bah kan untuk di ri nya sendiri saja tidak cukup.             Ha nya memakan waktu lima menit saja bagi Kevin untuk dapat menghabisi seluruh ubi panas yang tadi di beri kan oleh Wanda.             “Enak?” tanya Wanda sambil tersenyum lembut pada Kevin, baru kali ini ada seseorang yang menanyakan apakah makanan itu terasa enak menurut pendapat nya. Selama ini Kevin ha nya bisa menerima apa yang bisa di beri kan untuk nya tidak ada penolakan ataupun komentar terhadap makanan yang dia makan. Masih bisa makan saja dia sangat bersyukur.             “Aku tidak tau harus menjawab apa,” balas Kevin.             “Tidak enak ya?”             “Bukan, enak sekali, apakah salah jika aku menjawab enak?”             “Tentu saja tidak haha, terima kasih, kamu sudah membuat ibu merasa senang hari ini,”             “Jadi kalau di tanya enak atau tidak harus jawab enak ya bu?” tanya Kevin penasaran.             “Semua nya tergantung pendapatmu, kalau kamu tidak suka makanan nya kamu boleh bilang tidak enak,”             “Tidak ada yang pernah menanyakan ku tentang hal hal seperti itu,” ucap Kevin dengan santai seolah perlaku kan seperti itu adalah perlakuan yang biasa untuk anak kecil seusia nya.             “Kamu tinggal di mana? Malam malam begini kok masih di luar? Kenapa gak pulang, orang tuamu nanti khawatir loh,” tanya Wanda bertubi tubi.             “Aku tidak mau pulang bu, aku bisa di pukuli sampai mati kalau mereka tau koran koranku basah kena hujan,”             “Mereka siapa?”             “Ayah dan ibuku,”             “Mereka memukulimu?” tanya Wanda dengan tatapan sendu.             “Ya, kalau aku tidak menghasil kan uang atau ngga mencapai target penghasilan mereka dalam satu hari juga aku tidak di beri makan,” jawab Kevin jujur namun masih dengan wajah yang tanpa ekspresi.             Wanda bertanya ta nya, iblis macam apa yang sudah membesar kan anak semanis ini? Gara gara mereka lah Kevin berubah menjadi anak yang pendiam dan sangat di ngin seperti ini.             “Nama kamu siapa?” tanya Wanda lembut seraya mengambil sebuah ubi bakar lagi untuk di beri kan nya pada Kevin.             Anak lelaki itu tersenyum sambil mengambil ubi bakar pemberian Wanda dari tangan perempuan itu.             “Kevin bu,” jawab Kevin lalu mulai memakan ubi bakar tersebut. Kali ini Kevin memakan nya dengan perlahan, ia baru sadar kalau di sini ha nya ada dia dan Wanda, tidak ada anak anak lain yang akan merebut ubi bakar itu dari nya.             “Terima kasih,” gumam Kevin ragu ragu.             “Sama sama nak, habisin ubi nya,” ucap Wanda sambil mengelus helayan rambut coklat Kevin.             Spontan anak laki laki itu langsung menghindari tangan Wanda lalu menatap nya dengan manik mata yang ketakutan.             “Ibu marah denganku?” tanya Kevin panik.             “Marah?” balas Wanda kebingungan.             “Jangan pukul aku,” ucap Kevin dengan suara bergetar ketakutan.             Wanda menatap Kevin dengan penuh rasa bersalah, rasa nya ingin sekali Wanda membawa Kevin pulang untuk tinggal bersama nya. Selama ini dia selalu mengingin kan seorang anak laki laki untuk menemani hidup nya.             Namun apa daya, Wanda bukanlah seorang ibu yang di hidup di dalam keluarga yang berkecukupan, bisa membeli kan s**u untuk bayi perempuan nya saja sudah membuat Wanda sangat bersyukur.             Ia tidak akan sanggup jika harus membawa Kevin tinggal di rumah nya. Beras di rumah nya tidak akan sanggup untuk membiayai satu orang lagi.             “Maaf kan ibu ya, ibu tidak bermaksud untuk memukulmu, ibu ha nya ingin mengusap kepala Kevin,”             “Seperti ini,” dengan lembut Wanda mulai mengelus bagian belakang kepala Kevin, tubuh Kevin terdiam, hati nya berdesir, baru kali ini Kevin merasakan kenyamanan seperti ini. Apakah ini rasa nya kasih sayang seorang ibu?             “Aku suka di usap,” ucap Kevin pelan.             “Hahah ibu juga senang bisa duduk di sini cerita cerita sama Kevin,”             “Cuma ibu yang pernah bilang kaya gitu ke aku,”             “Oh iya? Memang nya ibu Kevin gak pernah cerita cerita sama Kevin kaya gini?” tanya Wanda penasaran sebenar nya bagaimana iblis itu membesar kan anak nya.             “Sebenar nya dia bu kan ibu kandungku, ibuku sudah meninggal saat aku masih bayi, bah kan aku sendiri pun tidak mengingat wajah nya,”             “Dari kecil aku selalu di ajarin untuk cari uang, mau itu ngamen, ngemis, atau jual koran semua harus aku kerjakan sendirian, kalau sudah sore nanti aku pulang dan harus nyetor uang ke mereka,”             “Dalam sehari Kevin harus nyetor berapa?”             “Paling sedikit lima puluh ribu,”             “Kalau tidak sampai lima puluh ribu, mereka tidak memberi kan Kevin makan?” tanya Wanda yang langsung di balas Kevin dengan anggukan.             “Kasihan nya kamu nak, jadi sekarang kamu gak pulang karena takut gak di kasih makan?”             “Bukan,”             “Aku tidak pulang karena takut di pukulin, aku membasahi semua koran koran ini, mereka pasti marah karena aku merusak barang dagangan mereka,”             “Oh bagaimana kalau begini saja, ibu yang beli semua koran ini, biar Kevin bisa pulang terus tidur di rumah, di sini  kan di ngin, hujan juga, Kevin bisa sakit kalau tidur di sini,” ucap Wanda penuh perhatian.             “Baru kali ini aku ketemu dengan orang sebaik ibu,”             “Hahaha, memang setiap orang harus berlaku baik nak, kamu ha nya hidup di lingkungan yang salah,”             “Ibu tidak perlu membeli koran koran ini, aku tidak apa tidur di sini, lagi pula mereka pasti akan mencari ku besok, karena aku adalah sumber pendapatan mereka, kalau tidak ada aku, penghasilan mereka akan jadi berkurang,”             “Aku sudah sangat beruntung bisa kenyang malam ini karena ubi bakar pemberian ibu,” ujar Kevin.             “Ya sudah, hujan sudah mulai reda, kamu ikut ibu ke rumah ibu dulu mau? Tidur di rumah ibu pasti akan lebih hangat di banding kan dengan tidur di sini,”             “Bagaimana kalau nanti mereka menemu kan ku di sana? Mereka bisa mengira ibu ingin mencuriku lalu meminta bayaran lebih agar tidak membawa permasalahan ini ke polisi. Mereka sangat licik, membawa ku ke rumah ibu sama saja memberi kan kesempatan pada mereka untuk mendapat kan uang,” jelas Kevin panjang lebar.             “Ibu tidak peduli yang penting Kevin tidak kedinginan di sini, ayo nak, kita pulang,” ucap Wanda.             Lagi lagi Kevin merasakan rasa hangat dari dalam hati nya, Wanda benar benar wanita yang baik, seandai nya Kevin memiliki ibu yang sebaik ini. Pasti hidup nya akan sangat bahagia.             Wanda berdiri dari tempat duduk nya dan mulai berjalan pulang bersama Kevin. Tangan nya tak pernah lepas dari genggaman tangan Kevin, ia takut kalau anak kecil itu tersandung dan jatuh mengingat jalan yang mereka lalu penuh dengan lubang yang tertutup dengan genangan air.             “Kevin kelas berapa sekarang?”             “Aku tidak sekolah bu, seharus nya saat ini aku masuk ke kelas tiga SD,”             “Ibu mu tidak mengizin kan kamu sekolah ya?”             “Iya, ibu selalu bilang kalau pendidi kan itu tidak penting,”             “Tapi aku selalu penasaran bagaimana rasa nya duduk di bangku sekolah, memakai baju sekolah, mengerjakan PR, mengikuti ujian,” sambung Kevin.             “Ya sudah nanti kamu ibu saja yang ajarin ya, setiap sore kalau kamu ada waktu, datang saja ke tempat ibu berjualan ubi bakar, ibu akan mengajarimu hal hal yang ibu tau,” ucap Wanda yang memberi kan senyuman lebar di bibir Kevin.             “Ayo masuk nak, maaf ya rumah ibu sederhana,” ucap Wanda seraya melihat ke arah lantai di depan pintu rumah nya.             Tidak ada sendal milik Yudi, suami nya, berarti laki laki itu sudah pergi dari rumah ini untuk minum atau pun berjudi, syukurlah, ia tidak perlu mendengar omelan Yudi karena telah membawa orang asing seperti Kevin ke dalam rumah.             Kevin merentang kan tangan nya lalu memeluk Wanda dengan erat, tak kuasa lagi menahan haru di hati nya, akhir nya Kevin pun menangis di dalam pelu kan Wanda.             “Terima kasih sudah memperlaku kan ku dengan sangat baik seperti ini bu,” ucap Kevin tulus.             “Kamu bisa menganggap ibu sebagai ibumu sendiri nak,” ucap Wanda dengan penuh kasih sayang.             Dan mulai dari hati itu lah Wanda menganggap Kevin sebagai anak kandung nya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD