4

1358 Words
            “Bagaimana keadaan ibu?” ucap Kevin tidak menggubris tatapan heran Navyla, ya sudah lah kalau memang ternyata Navyla adalah putri kesayangan Wanda, dunia ini memang sempit bukan?             “Ibu sudah mendingan, tadi kata dokter ibu cuma kecapean aja,” balas Wanda lemas.             Kevin tersenyum miris sebentar lalu membawa tangan Wanda ke dalam dekapan kedua tangan nya.             “Ibu cepat sembuh ya, sebisa mungkin Kevin akan cari dokter yang terbaik untuk ibu,” balas Kevin dengan wajah yang teramat tulus.             Baru kali ini Navyla dapat melihat ekspresi yang seperti ini dari wajah dosen killer itu, biasa nya yang ia lihat hanyalah ekspresi jutek dan dingin dari Kevin. Sejak kapan dia memiliki sisi lembut seperti ini?             “Ibu, perkenal kan ini Mila, salah satu asisten Kevin di rumah, mulai hari ini Milla akan merawat ibu sampai kedepan nya, kalau ibu perlu apa apa ibu bisa bilang ke Mila atau langsung telepon Kevin aja ya bu,”             “Terima kasih anak baik,” ucap Wanda sambil tersenyum bahagia.             “Kevin ke rumah ibu dulu ya, beres beres,”             “Iya nak, hati hati ya,” balas Wanda.             Kevin beranjak dari tempat duduk nya lalu berjalan ke hadapan Navyla yang masih termenung di kursi nya.             “Ayo, apa yang kau tunggu?”             “Eh?” gumam Navyla yang terlihat seperti orang bodoh di mata Kevin.             “Ayo pulang ke rumah mu, kau harus membantu ku memberes kan barang barang ibu,” ujar Kevin yang terdengar lebih seperti perintah.             “Oh, baik pak.” Navyla pun mulai bangkit dari tempat duduk nya.             “Eh? Tapi siapa yang akan menjaga ibu?” tanya Navyla baru sadar saat mereka berdua sudah berdiri di depan pintu ruang rawat Wanda.             “Kamu gak liat ada Mila tadi di dalam?” tanya Kevin lagi sambil menahan emosi nya.             “Mila?”             “Dia akan merawat ibu mu selama kita tidak ada di samping nya,”             “Ada ya pak?”             “Maka nya pake matamu,” ujar Kevin yang terkesan kasar bagi Navyla.             Navyla memutus kan untuk tak bersuara lagi lalu mengikuti Kevin menuju rumah nya, Navyla menatap Kevin bingung, kenapa dia bisa tau lokasi kediaman Navyla dan ibu nya tanpa melihat map atau bertanya dengan Navyla.             “Bapak kok tau rumah saya?”             “Saya pernah kesini sekali, waktu itu kamu lagi kerja dan meninggal kan ibumu sendirian di rumah,” jawab Kevin terdengar sedikit marah.             Lagi lagi Navyla menyesal telah bertanya hal hal yang tidak penting pada Kevin, seharus nya dia ingat kalau ibu nya pernah bercerita tentang Kevin yang membantu sang ibu untuk memasak kan makan malam di hari ulang tahun Navyla.             “Kamu gak turun?” tanya Kevin dengan nada di ngin dan wajah datar yang melambang kan sebenar nya Kevin tidak suka Navyla berada di sisi nya.             “Tu turun pak,” jawab Navyla gugup.             “Ya sudah, ayo cepat, saya tidak mau membuang buang waktu cuma untuk nungguin kamu melamun,”             “Maaf pak,”ujar Navyla ketakutan.             Navyla turun dari mobil mewah milik Kevin, saat perempuan itu melihat ke sekeliling nya, matanya di sambut dengan tatapan tatapan penasaran dari tetangga, wajar saja, mana ada mobil mewah apalagi sekelas Ferarri yang masuk kedalam perumahan kumuh di dalam gang sempit seperti ini.             Navyla yakin kalau mulai dari hari ini, kedatangn nya dan Kevin akan menjadi gosip terpanas di sepanjang gang.             “Vy,” Kevin menarik nafas nya dalam dalam, lagi lagi ia mendapati Navyla termenung sendiri. Sebenar nya sebanyak apa permasalahan yang ada di dalam kepala nya itu?             “Ah, iya pak,” ucap Navyla gelagapan dan langsung membukakan pintu rumah nya.             “Kamu pilih kan barang barang kesayangan ibu lalu bawa ke sini,” ucap Kevin lalu duduk di sofa.             “Baik pak, sebentar saya lipat kan baju baju ibu yang ada di dalam lemari ke dalam koper,”             “Baju seperti apa?”             “Baju..., ya baju ibu?” jawab Navyla bingung, memang  nya baju seperti apa lagi.             “Kalau tidak memiliki kenangan menyenang kan jangan di bawa, biar kan aja di sini, nanti akan ku suruh anak buahku untuk membuang nya,”             “Apa?”             “Kenapa di buang?” tanya Navyla heran.             “Aku tidak mau ibu memakai barang barang dengan kualitas yang buruk,”             Sok sekali, a*u!             “Hehehe iya pak akan saya kumpul kan sebentar,”             “Ha nya barang barang yang penting,”             “Baik pak. Ha nya barang barang penting,” balas Navyla lagi berusaha untuk tetap tersenyum.             “Padahal katanya mau bantu beres beres, tapi kerjaan nya cuma main handphone aja, dasar penjilat,” desis Navyla sambil mengumpul kan barang barang kesayangan ibu nya kedalam sebuah kotak.             Tangan nya berusaha membuka sebuah laci yang di kunci oleh Wanda. Walaupun hubungan Wanda dan Navyla sangatlah dekat tapi Navyla sangat jarang masuk ke dalam kamar Wanda, apalagi mengecek laci laci kamar ibu nya.             Kenapa di kunci ya?             “Kenapa lama sekali?” tanya Kevin yang berdiri di depan pintu tepat saat Navyla hendak menelepon pak Gibran untuk menanyakan kunci laci pada Wanda.             “Mau ngapain?” tanya Kevin sambil melihat telepon genggam di tangan Navyla.             “Mau telepon ibu pak, saya mau nanyain soal kunci laci,” jawab Navyla.             “Jangan, biar kan ibumu beristirahat, gimana sih Vy, kamu tau ibumu sakit, tapi masih saja kamu ganggu,” omel nya lagi, Navyla terus bertanya tanya darimana Kevin mendapat kan tenaga unlimited khusus untuk mengomel saja.             Kevin mengambil penjepit lidi dari atas meja rias Wanda lalu berusaha membuka laci tersebut dengan benda kecil itu.             Mata Navyla berbinar saat melihat Kevin berhasil membuka laci itu tanpa merusak nya.             “Terima kasih pak,”             Navyla menatap ke dalam laci tersebut, tidak ada apa apa di sana, ha nya sebuah album dan sebuah kotak cincin berwarna merah. Perempuan itu mengambil album di depan nya dan membawa album itu ke atas tempat tidur.             Mata Kevin tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna merah dengan sebuah surat di bawah nya. Lelaki itu mengambil kotak cincin dan surat itu lalu pergi ke ruang tamu untuk membaca isi dari surat tersebut.             Teruntuk Navyla anak ibu.             Cincin ini sengaja ibu simpan untuk Navyla, dari dulu ayahmu selalu memaksa ibu untuk menjual cincin peninggalan nenekmu ini untuk di jadi kan modal nya bermain judi.             Cincin ini juga menjadi alasan kenapa ibu sering di pukuli oleh ayahmu dulu. Maaf kan ibu kamu harus melihat kejadian itu di umur mu yang masih sangat kecil             Ibu tau ibu bu kan ibu yang baik, ibu tidak bisa memberi kan kamu baju yang bagus setiap tahun nya, sepatu yang kuat di saat sepatu lama mu sudah usang dan berlubang, makanan yang enak dan bergizi untuk pertumbuhanmu, dan masih banyak lagi hal hal yang kamu ingin  kan tapi ibu tidak mampu untuk membeli nya.             Ibu harap cincin ini dapat menjadi satu satu nya benda berharga yang dapat ibu beri kan padamu sebelum ibu meninggalkanmu nanti.             Ibu juga berharap semoga cincin ini dapat melingkar di jari manismu di saat kamu menikah nanti. Semoga cincin ini membawa kebahagiaan di rumah tanggamu nanti nya nak.             Semoga kamu mendapat kan pasangan yang mencintaimu dengan sepenuh hati dan memberikanmu kebahagiaan dari pernikahan kalian.             Tidak seperti pernikahan ibu yang ha nya membawa kisah pilu bagi kita berdua.             Sebenar nya ibu ingin memberi kan cincin ini secepat nya untuk kamu, tapi seperti nya lebih baik kalau ibu memberi kan nya saat kamu sudah menikah nanti.             Ah ibu pasti akan sangat bahagia saat melihatmu berdiri dengan gaun putih nan indah di samping pasanganmu.             Kevin lekas menutup surat itu lalu memasuk kan nya ke dalam saku celana saat mendengar langkah kaki Navyla yang mulai mendekat ke ruang tamu.             “Ini bapak ya?” tanya Navyla sambil menunjuk kan sebuah potret di ri Kevin dan Wanda di depan gerobak ubi bakar Wanda dulu.             Kevin mengangguk pelan, ingin sekali ia meminta foto tersebut namun rasa segan menghalangi nya.             “Bapak kok bisa dekat sama ibu sih? Perasaan dulu saya gak pernah liat bapak sama ibu?” tanya Navyla heran.             Bu kan nya menjawab pertanyaan Navyla, Kevin malah melontar kan kalimat yang bah kan tidak pernah terlintas sedikitpun oleh Navyla sebelum nya.             “Navyla, ayo kita menikah,” ujar Kevin tanpa ada keraguan sedikitpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD