Hedo, Naura dan Ridwan berdiri tidak jauh dari tempat Ozan dan Asha sedang duduk setelah mengucap akad tadi. Semua tamu yang seharusnya hadir menjadi tamu undangan pernikahan Asha dan Hedo, kini berganti menjadi tamu undangan pernikahan Ozan dan Asha.
"Selamat, sekarang Pak Ozan sudah sah menjadi suami Nak Asha," ujar penghulu tersebut. Ozan mengangguk dia mengarahkan tangannya ke Asha yang membuat Asha menyalaminya.
Satu persatu tamu meninggalkan tempat itu setelah acara tersebut selesai, menyisakan Hedo, Naura, Ridwan beserta Ozan dan Asha disana.
"Aku minta dua ratus juta sebagai ganti wanita yang kamu nikahi itu Mas, dan aku minta uangnya ada dalam waktu dekat ini," jelas Naura menghampiri Ozan.
Asha mengangkat alisnya. "Tapi Bu, bukankah mahar yang diberikan oleh Kak Hedo, tidak sampai segitu?"
Naura mendelik. "Diam kamu! Kamu pikir hanya itu saja kerugian yang diderita anak saya, kamu gak mikirin malu keluarga kami."
"T-Tapi-" Asha tidak melanjutkan kalimatnya, ia menghentikannya dikarenakan Ozan memegang pundaknya dan menggelengkan kepalanya.
"Saya akan membayarnya, Naura, saya tidak akan melupakan janji saya, tapi setelah ini saya harap kalian tidak mengganggu Asha lagi," jelas Ozan kepada Naura. "Dan kamu Ridwan-"
"Tataplah Gadis ini, dia anak kandungmu, saya harap suatu saat nanti, matamu akan terbuka bahwa sejauh apapun jarak diantara kalian, darah lebih kental daripada air!" lanjut Ozan menatap Ridwan. Asha menunduk.
Naura menarik tangan Ridwan. "Gak usah dengerin dia Mas, Asha itu cuma anak diluar nikah kamu!" Ridwan tidak menjawab. Dia hanya mengikuti Naura pergi meninggalkan tempat itu disusul oleh Hedo.
Sesampainya di parkiran mobil, Naura dan Ridwan masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Hedo. Didalam mobil tersebut Ridwan menarik napas sejenak. "Kenapa kamu malah membeberkan bahwa Asha adalah anakku dengan Naila, didepan umum."
Naura melipat kedua tangannya. "Andaikan kamu nurut sama aku buat gak setujuin keinginan Hedo untuk menikahi Asha, mungkin rahasia ini akan tetap rapat Mas, aku tidak ingin anak itu masuk ke dalam keluarga kita."
"Atau ini akal-akalan kamu biar kamu bisa dekat dengan anak kandung kamu itu?" sambung Naura menatap Ridwan. Ridwan hanya menggeleng pelan. "Aku hanya kasian kepada Asha, dia baru saja ditinggal meninggal dengan ibunya dan aku rasa menikahkannya dengan Hedo adalah jalan lain agar dia bisa menemukan tempat pulang lain."
BRAK! Naura memukul dashboard mobil. "Dengar yah Mas, meskipun Gadis itu sudah mengetahui bahwa kamu ayah biologisnya, sampai matipun, hubungan kalian harus terputus! Dia itu cuma anak haram!"
"Kenapa kamu sangat membencinya Naura, ibunya yaitu Naila adalah sahabatmu."
"Dan Naila jugalah yang merebutmu dariku saat aku harus dijodohkan dengan Ozan, sampai-sampai kalian melakukan hubungan terlarang dan anak sialan itu hadir! Sekarang kamu sudah di genggamanku, Mas, sampai matipun aku tidak akan ikhlas kamu berhubungan lagi dengan anak yang mengalir darah Naila didalamnya!"
Ridwan menghentikan ucapannya, dia tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Naura dikarenakan dia tahu bahwa istrinya itu tidak akan selesai dengan satu jawaban dan tidak akan puas dengan apapun yang dilontarkan untuk menghentikan alibinya, Naura adalah tipe orang yang ingin menang dengan segala standar ambigu yang dia miliki.
Ridwan kemudian menyalakan mobil dan menjalankan mobil tersebut meninggalkan area akad nikah tersebut. Ozan dan Asha yang tersisa disana masih diam dalam keheningan.
"Asha."
"I-iya, Om?" Asha mengangkat kepala dan menatap Ozan ragu dan takut. Ozan tersenyum dia meraih dagu Asha dan mengarahkan wajah istri kecilnya itu menatap wajahnya. "Jangan takut, saya suami kamu."
Tangan Ozan beralih mengusap pipi Asha dan menghapus titik air mata yang jatuh di area pipinya. "Saya janji, tidak akan ada air mata lagi, Sha."
"Ayo kita pulang." Ozan menggandeng tangan Asha keluar dari tempat akad itu menuju parkiran dimana ada motor Ozan disana. "Kamu pulang ke rumah saya yah, nanti barang-barang kamu bisa diambil belakangan." lanjut Ozan memakaikan helm cadangan yang dia simpan kepada Asha, kemudian lanjut memakai helm-nya sendiri.
"Naik," ujar Ozan. Asha akhirnya naik ke atas motor dengan ragu. Ozan menyalakan mesin motor dan siap menjalankan motor itu, tapi Ozan langsung menarik tangan Asha agar melingkar di pinggangnya sebelum menjalankan motor itu.
—
"Kamu istirahat saja dulu." Ozan melepaskan jaketnya dan menatap Asha yang beranjak duduk di tepi ranjang yang berada di kamar. Ozan meletakkan tas berisi pakaian dari Asha yang sudah dia ambil tadi saat mereka pulang dari lokasi akad. "Saya mau mandi dulu," ujar Ozan kembali sembari melepaskan kemejanya di hadapan Asha yang membuat Asha reflek menundukkan kepala saat melihat pria dewasa itu tak mengenakan baju apapun.
Ozan hanya tersenyum kemudian meraih handuk yang ada di lemari dan berjalan keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk segera mandi. Sementara Asha hanya menghela napas sejenak kemudian meraih tasnya melihat beberapa baju didalamnya. "Ya Allah, apakah ini Takdir yang engkau tuliskan untukku?"
"Kuatkanlah batinku Ya Allah, kuatkanlah nuraniku, agar apapun yang terjadi, aku tidak akan membohongi hati nurani," jelas Asha kembali sembari menatap wajah di cermin yang ada di kamar Ozan.
Tidak dia sangka cintanya dengan Hedo, harus berakhir begitu mengenaskannya, rasanya baru kemarin Asha berpikir akan menjalani rumah tangga bahagia dengan Hedo, tapi semuanya hanyalah angan belaka. Asha melepaskan jilbab yang dia kenakan dan mencari handuk di dalam tasnya bersiap membersihkan diri setelah Ozan selesai.
Tapi saat ia sedang mencari handuk, tiba-tiba Ozan masuk ke dalam kamar dengan keadaan sudah selesai mandi, dia hanya memakai kaos oblong biasa dan handuk melilit di pinggangnya sedangkan rambutnya tampak masih lembab, Ozan menyugar rambutnya kemudian berjalan mendekati Asha.
"O-Om." Asha reflek menunduk kembali. Ozan duduk disamping Asha. "Tidak perlu takut Asha, saya ini sudah suami kamu, tidak perlu malu."
Asha mengangkat kepalanya pelan, kemudian menatap Ozan yang masih duduk disampingnya. Pria dewasa dengan wajah ditumbuhi bulu tipis, warna mata coklat itu tersenyum diusianya yang sudah hampir kepala empat tidak ada aura penuaan disana.
"Kamu tidak perlu malu menunjukkan indahnya rambutmu kepada suami kamu sendiri, tapi simpanlah dia rapat-rapat bagi orang lain," jelas Ozan mengusap rambut Asha. Asha diam perlahan dia menangis sesenggukan dengan keadaan menunduk.
Ozan mengangkat alisnya. Dia meraih kepala Asha dan menaruh kepala gadis itu di bahunya yang kokoh serta kembali mengelus rambutnya. "Kasian kamu Asha, padahal kamu masih memiliki seorang ayah bahkan warisan untukmu juga masih ada hanya saja kini sedang di kuasai oleh, Naura, istri ayah kandungmu." batin Ozan merasa miris dengan nasib Asha.
"Kenapa Om, mau menikahi Asha, Gadis yang tidak memiliki nasab, Om."
Ozan menggeleng dia tersenyum. "Takdir itu Rahasia Allah, Sha, bahkan Jodoh, Cinta dan Hati, semua itu hanya memiliki dua jawaban, Lauhul Mahfudz yang menjadi penentunya dan kematian lah saingannya, jangan menangisi Takdir yang Allah sisipkan untukmu, karena jauh sebelum engkau di lahir kan, Allah sudah menafsirkan itu untukmu." Asha masih menangis sesenggukan di pelukan Ozan. "Apa yang kamu bebankan dalam pikiranmu?"
"Setelah rasa sakit yang aku jalani, manakah yang harus ku lakukan Om, memaafkan diriku sendiri atau berdamai dengan keadaan?"
Ozan melepas pelukannya, Asha duduk menatap wajah Ozan sementara Ozan meraih tangan Asha dan mengusapnya. "Berdamailah dengan keadaan, karena jika dirimu memilih berdamai, sudah pasti kamu memaafkan dirimu sendiri," jelas Ozan, membuat Asha menunduk. "Tapi bagaimana Asha, bisa berdamai jika tidak ada yang menginginkan Asha, Oma," jawab Asha.
"Tidak satupun manusia yang diberikan takdir jika dirinya tidak diciptakan untuk suatu hal, Allah itu yang paling adil Asha," Ozan mengangkat tangan Asha dan mengecupnya pelan. "Lagipula kenapa kamu memikirkan itu, kalau saya bisa menjadi apapun yang kamu, inginkan."
Asha menatap Ozan penuh pertanyaan, Ozan sendiri hanya mengambil handuk dari dalam tas Asha kemudian kembali menatap Asha. "Saya bisa menjadi sosok Ibu, sosok Ayah, dan juga suami bagi kamu, jadi kamu tidak perlu takut, anggap saja saya ini adalah orang yang Allah pilih untuk mengisi kekosongan peran di hidup kamu," jelas Ozan memberikan Asha handuk. "Yasudah sana mandi."
Asha hanya mengangguk, dia tersenyum kemudian berdiri dan berjalan keluar dari kamar menuju kamar mandi, sementara Ozan dia sendiri di tepi ranjang dan menatap kepergian Asha.
"Kasian kamu Sha, saya janji, saya akan membantu kamu mendapat keadilan, Allah itu adil tapi kita harus menjemput keadilan itu sendiri," ujar Ozan pelan.