"Tentang penawaran kamu untuk membeli rumah saya ini, apakah masih berlaku Dam?" tanya Ozan kepada Adam, keponakannya yang sedang duduk di hadapannya bersama dengan istrinya Dikta.
"Mau sih Om, untuk tabungan aset juga, tapi bukannya Om gak mau jual rumah ini karena ini satu-satunya peninggalan, orang tua Om Ozan?" tanya Adam kepada Ozan.
Ozan terdiam, memang benar, rumah yang dia tempati ini adalah satu-satunya peninggalan orang tuanya, dia hanya berdua bersaudara dengan Reni, Ibu angkat dari Dikta.
"Yah mau bagaimana lagi Dam, Om butuh uang itu, Om juga sedang bicara dengan Mbak Reni, dan dia setuju, kamu tahu kan tentang apa yang sedang menimpa Om, sekarang?" Ozan menunduk menghela napas. Dikta dan Adam saling melempar tatapan.
"Om Ozan, kalau butuh bantuan dana, Dikta bisa pinjamkan kok, gak perlu jual rumah ini," jelas Dikta kepada adik dari Ibu angkatnya itu. Ozan reflek menggeleng. "Tidak perlu, saya cuma butuh uang itu dan saya ingin menjual rumah ini."
"Memangnya setelah ini, Om Ozan mau tinggal dimana sama istri Om nanti?" tanya Dikta menatap dalam Ozan.
Ozan tersenyum. "Biarlah Allah yang menunjukkan kemana jalannya nanti Ta, untuk sekarang saya ingin membebaskan istri saya dulu dari tanggungannya."
Adam menghela napas. "Om mau jual berapa?" tanya Adam kembali. "Dua ratus juta aja Dam, tapi kalau berat di kamu, kamu bisa nentuin harganya sendiri tapi saya butuhnya segitu sekarang."k
"Gak perlu Om, Adam akan membeli rumah ini untuk Om, besok akan Adam bawakan uangnya yah, kalau begitu Adam dan Dikta pamit dulu, salam sama istri Om," jelas Adam bangkit.
"Terimakasih Dam, Dikta, saya gak tahu harus ngomong apalagi sama kalian," jawab Ozan. Dikta tersenyum. "Om juga kan keluarga kami, Dikta juga sudah banyak dibantu sama Om dari dulu. Kalau anak Dikta lahir nanti, mau aku kasih nama Fauzan biar sifatnya setegar dan sebaik Om Ozan," jelas Dikta mengusap perutnya.
Ozan tersenyum. "Saya tersanjung, Dikta."
"Kalau begitu kami permisi dulu yah, Om, Assalamualaikum," ujar Adam dan Dikta berjalan keluar dari rumah itu meninggalkan Ozan yang menatap kepergian mereka di pintu.
Setelah kepergian Dikta dan Adam, Ozan memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur dia melihat sekeliling rumah ini, banyak kenangan dengan orang tuanya disini, tapi apalah daya ini sudah menjadi pilihannya. Ozan meraih gelas air dan menuangkan air ke dalamnya kemudian meminumnya.
"Om Ozan?" Ozan membalikkan badan dan dibelakangnya sudah ada Asha yang menatapnya sendu. "Om Ozan mau jual rumah ini, buat bayar ke Tante Naura yah?" Ozan tidak menjawab. Air mata jatuh di sudut mata Asha.
Ozan menghampiri Asha dan mengusap air matanya. "Maafkan saya yah, saya bukanlah orang berkecukupan secara finansial, tapi saya akan berusaha untuk yang terbaik bagi kamu."
"Harusnya Asha yang minta maaf, karena Asha, rumah ini harus dijual, Om gausah jual rumah ini yah, jual aja rumah Ibu Asha, Asha juga punya emas peninggalan dari Ibu, Om gak harus jual-" Asha belum selesai berbicara tapi Ozan sudah menaruh jarinya di bibir Asha.
Pria dewasa itu menggeleng, dia menatap binar mata istri kecilnya, membuat Asha harus menahan tatapan dari bola mata coklat yang terang dari Ozan. "Saya ini suami kamu, apapun tentang kamu saya akan usahakan. Selagi saya masih bernapas, Insha Allah, Sha."
"T-Tapi-"
"Simpanlah Rumah itu dan Harta peninggalan Ibu kamu untuk kamu sendiri, barangkali suatu saat kamu memerlukan hal itu," ujar Ozan kepada Asha. "Saya mau ke kamar dulu, belum sholat isya." Ozan berjalan meninggalkan Asha tapi baru beberapa langkah ia sudah merasakan sebuah tangan memeluknya erat dari belakang.
Ozan melirik ke arah punggungnya, dimana Asha sedang memeluknya erat. "Maafin Asha, Om."
"Untuk apa?"
"Membebani Om."
"Kamu istri saya Sha, dan sebagai suami saya tidak pernah merasa terbebani apapun, saya menikahi kamu karena Allah, tidak ada alasan untuk saya merasa terbebani."
-
Setelah sholat Isya bersama, Asha memilih untuk melipat baju-bajunya dan memasukkannya kembali ke dalam Tas, sedangkan Ozan memilih membereskan ruang tamu rumah dikarenakan besok mereka sudah harus keluar dari rumah itu.
Tok.
Ozan berjalan ke arah pintu, dan membukanya membuat matanya menatap dalam pada sosok di ambang pintunya.
"Saya yakin kamu bisa membantu saya, Zan, kamu sampaikan hal ini kepada Asha dan kita bisa membantunya mendapatkan hak-nya."
Ozan hanya terdiam dan mengangguk atas ucapan itu, Pria itu memberikan amplop coklat kemudian berbalik meninggalkan Ozan. Tapi sebelum pria itu cukup jauh, Ozan berucap pelan.
"Ridwan dengarlah, dirimu tidak gagal, akan ada saatnya kalian bisa saling menerima tanpa harus sembunyi-sembunyi," ujar Ozan. Ridwan menatap Ozan dan tersenyum. "Insha Allah, Zan."
—
"Ini ada sesuatu buat kamu." Ozan berjalan ke arah Asha dan memberikan amplop coklat yang diberikan Ridwan tadi. Asha mendelik dan menatap amplop itu. "Dari siapa, Om?" tanya Asha balas.
Ozan hanya mengangkat bahu dan menggeleng. "Saya gak tahu, tadi cuma ada orang yang mengirim," jelas Ozan berbohong kepada Asha.
Asha membuka amplop tersebut dan melihat secarik kertas didalamnya dan membacanya, mata Asha berbinar seketika. "Ini panggilan interview kerja Om, waktu itu aku pernah nyebar lamaran pekerjaan di l****din awalnya aku gak mau lanjutin sih, tapi ngeliat kondisi kita, kayaknya aku butuh pekerjaan ini."
Ozan menautkan kedua alisnya sejenak. "Kamu serius mau kerja?" tanya Ozan lagi. Asha mengangguk antusias. "Aku mau bantuin Om Ozan, aku gak mau membebani Om Ozan terus menerus." Ozan menggeleng dia meraih tangan Asha dan mengelusnya. "Sebenarnya saya gak mau mengizinkan kamu bekerja juga, tapi jika itu pilihan kamu, saya izinkan."
Pada dasarnya Ozan benar-benar tidak ingin Asha bekerja, tapi dia sudah memiliki rencana bersama Ridwan, dan inilah salah satunya. Ini demi keadilan hidup Asha.
"Besok kita pindah kemana, Om?" tanya Asha menaruh amplop itu di nakas kemudian menatap Ozan sejenak. Ozan menghela napas panjang. "Saya sudah sewa kontrakan yah cukuplah buat kita berdua, saya juga masih ada sisa tabungan," jawab Ozan. "Tapi Sha, kamu gak malu?" tanya Ozan balik.
"Malu kenapa?" tanya Asha lagi. Ozan menunduk sekilas ia menatap binar mata istrinya itu. "Saya ini sudah hampir kepala empat sedangkan kamu dua puluh saja belum, apa kamu tidak malu memiliki suami yang usianya jauh diatas kamu, lebih-lebih saya ini awalnya calon mertua kamu."
Asha tersenyum. "Khadijah dan Rasulullah juga berbeda jauh usianya, tapi yang namanya Takdir tidak ada yang tahu Om, Om sendiri yang bilang jangan pernah mengingkari Takdir yang diberikan untuk kita, seperti Rasulullah menerima Khadijah sebagai istrinya, Insha Allah, aku bisa menerima Om Ozan sebagai suami aku." Ozan balas tersenyum.
Ia meraih kepala Asha dan mengecup keningnya pelan. Asha terdiam mematung sentuhan intens itu membuat Asha tidak bereaksi apa-apa. "Terima kasih, Sha."
Asha berusaha mengontrol dirinya kemudian menghela napas sejenak. "Lagipula Om gak keliatan tuanya kok. Aku udah mau dua puluh tahun yah, besok kan ulang tahun aku."
"Oh iya, kamu mau kado apa dari saya?" Asha menggeleng. "Kado yang terbaik sudah Om berikan, menyelamatkan kehormatanku sebagai seorang wanita, itu adalah hal yang paling aku hargai."
Ozan mengusap puncak kepala Asha yang ditutupi dengan hijab, Asha merona memerah pipinya kemudian menunduk perlahan. "Kebahagiaan saya cuma satu saat ini Sha." Asha mengangkat kepala menatap Ozan. "Melihat kamu tersenyum melawan kerasnya hidup, itu adalah hal yang paling saya usahakan," lanjut Ozan.
"Insha Allah, Om udah beres-beres diruang tamu? Jadi tinggal kamar ini aja yang belum diberesin, aku bantuin Om packing baju yah," ujar Asha. Ozan mengangguk.
Asha bangkit dari duduknya berjalan ke lemari Ozan dan mengambil beberapa baju Ozan untuk masukkan ke koper yang sudah disiapkan Ozan, tapi saat Asha meraih lipatan baju, sebuah foto terbalik menotice pandangan Asha.
Asha mengambil foto itu dan menatapnya, sebuah foto usang yang membuat Asha mengangkat alis kanannya. "Ini kan Bunda? Sama ... Om Ozan?" Foto yang memperlihatkan Bunda Asha ketika muda bersama dengan Ozan. Dan tampaknya mereka bahagia.
Ozan bangkit dan berjalan ke arah Asha. "Ada apa Sha?" Asha tidak menjawab dia hanya memberikan foto itu dan diam menatap Ozan. Ozan menatap foto dan beralih menatap Asha.