Bab 04. Bukan Anaknya Yang Haram

1255 Words
Sembilan Belas Tahun Lalu. "Saya, mau kok bertanggung jawab atas kehamilan kamu itu, saya mau jadi ayah dari anak kamu, lantas masalahnya dimana?" jelas Ozan menatap wajah Naila saat itu. Naila melepas genggaman tangan Ozan kemudian berjalan mundur perlahan. "Kamu sadar gak sih Mas, ini semua salah kamu, andaikan kamu gak milih dijodohkan dengan Naura, mungkin hari itu Mas Ridwan gak akan ngambil kesempatan saat aku lagi terpuruk," jelas Naila menggeleng menatap Ozan. Ozan menunduk. "Saya minta maaf, saya seharusnya memperjuangkan kamu dulu Naila, harusnya saya lebih tegas pada diri saya, tapi sekarang saya sudah cerai dengan Naura, saya tidak masalah jika anak dalam kandungan kamu itu, bukan anak saya," jelas Ozan kembali. Naila kembali menggeleng, ia membalikkan badannya. "Kamu sudah punya anak dari Naura, Mas, kasian anak kamu kalau kamu nikah lagi, dia masih membutuhkan sosok seorang ayah." "Naura akan menikah lagi dengan Ridwan, Nai, dia tidak akan kembali lagi dengan saya, saya ingin memperbaiki hubungan kita saja," ujar Ozan penuh keyakinan. "Aku tahu Mas, itulah alasan kenapa Mas Ridwan gak mau bertanggung jawab, karena dia sudah berpaling hati kepada Naura," jawab Naila. "Pertama kamu, kedua Mas Ridwan, semuanya direbut dari aku Mas, aku rasa aku belum bisa kembali menjalin hubungan dengan kamu, anak dalam kandunganku ini biarlah menjadi dosaku dan dosa Mas Ridwan, kamu tidak perlu terlibat." Naila berjalan pergi meninggalkan Ozan. Ozan berusaha mengejar Naila tapi Naila tidak mempedulikannya. Ozan berkedip frustrasi kemudian menghantamkan tangannya di bangku yang ada di sampingnya. - "Om Ozan, pernah punya hubungan apa sama Bunda?" tanya Asha kepada Ozan. Ozan menggeleng dia mengambil foto itu dan memasukkannya ke dalam saku celana. "Bukan apa-apa, tidak perlu di bahas," jawab Ozan kembali memasukkan bajunya ke dalam koper. Asha masih berdiri tidak bergerak, Ozan berusaha mengabaikan hal itu tapi Asha masih terus menatapnya membuat Ozan mengangkat kepala menatap Asha. "Tidak penting Sha, itu cuma kejadian di masa lalu." "Aku berhak tahu Om." "Untuk apa?" "Karena aku istri Om Ozan." Jawaban Asha kali ini membuat Ozan terdiam frustrasi. Dia tidak bisa mengelak, Asha persis sekali sifatnya dengan Naila, berpendirian tinggi dan keras kepala. "Kenapa Om gamau cerita?" Ozan menghela napas panjang. "Sebelum menikah dengan Naura, saya pernah menjalin hubungan dengan Naila, ibu kamu, tapi karena saya dijodohkan dengan Naura, saya harus meninggalkan ibu kamu, tapi selama menjadi suami Naura, rasa cinta saya ke Naila tidak pernah pudar." Asha terdiam. "Setelah Hedo lahir, saya bercerai dengan Naura, dan memilih kembali ke ibu kamu tapi ibu kamu menolak karena dia sudah hamil yah hamil kamu, dan dia hamil di luar nikah oleh Ridwan, Ridwan tidak bisa bertanggung jawab karena dia akan menikah dengan Naura waktu itu." Asha kembali terdiam. "Om Ozan masih cinta sama Bunda?" tanya Asha kembali. Ozan melirik dengan ekor matanya ke arah Asha. "Bunda kamu orang baik, cuma satu kesalahannya dia terlalu jauh dengan Ridwan, siapapun akan menyukainya," jawab Ozan. Asha berjalan ke arah Ozan dan menatap mata laki-laki dewasa itu. "Om Ozan masih cinta sama Bunda?" Ozan menghela napas panjang dan menganggukkan kepala lemah, membuat Asha reflek merubah ekspresi wajahnya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. "Om Ozan jatuh cinta hanya sekali, dan itu bukan dengan aku, Om hanya melanjutkan hidup?" Ozan menggeleng. "Tidak begitu, Sha." Asha dia mendengarkan. "Saya menikahi kamu tulus bukan untuk melanjutkan hidup. Hidup memang pasti berlanjut, tapi ini tentang masa lalu dan masa depan." "Om masih berkutat dengan apa sekarang, masa lalu atau masa depan?" Ozan kembali diam. "Saya tidak bisa menjawab itu Sha." Asha mengangguk dia meremas ujung bajunya kemudian duduk di ujung ranjang memasukkan kembali baju-baju mereka ke dalam koper. Meninggalkan Ozan untuk menebak isi pikiran Asha. - Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, semua kegiatan beres-beres yang dilakukan oleh Ozan dan Asha akhirnya selesai. Tapi sejak tadi Asha tidak banyak mengobrol dan bicara seadanya saja dengan Ozan. "Sha, kamu sudah tidur?" Tidak ada jawaban dari Asha, Ozan hanya menghela napas dikarenakan Asha kini tengah tidur menyamping membelakanginya. Ini adalah malam pertama pernikahan mereka, tapi Ozan tidak mungkin akan melakukan hak-nya sebagai suami sekarang, dia hanya menghela napas panjang kembali dan meraih bantal. Ia mengerti bahwa Asha kini tengah ada di fase mungkin krisis kepercayaan kepadanya, apalagi setelah dia menemukan foto Ozan dengan Naila. Ceklek. Ozan menekan saklar lampu kamar kemudian berjalan keluar kamar membawa bantal, dia memilih untuk tidur di ruang tamu daripada harus membuat suasana semakin canggung di kamar itu. "Saya cuma mau bilang, saya gak seperti yang kamu pikirin Sha, saya bukan orang yang mencari alasan untuk sebatas pelarian, Tapi itu terserah kamu saja," ujar Ozan menutup pintu kamar. Asha membuka matanya setelah mengetahui di kamar itu sekarang tinggal dirinya sendiri saja, ia mengusap air mata yang jatuh di sudut pipinya. Ia belum siap menerima kenyataan bahwa dia menikah dengan mantan kekasih Ibunya, fakta bahwa Ozan adalah Ayah kandung calon suaminya saja sudah sangat berat bagi Asha. Ozan sendiri yang sudah berada di ruang tamu, merebahkan tubuhnya di sofa kemudian mengeluarkan foto tadi dari saku celananya, dia menatap foto itu dan meremasnya kuat, sebelum memejamkan matanya sendiri, karena lelah dengan kejadian hari ini. Sementara itu di kediaman Ridwan. Ridwan baru saja selesai memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya kemudian keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Darimana saja kamu, Mas?" tanya Naura yang duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Hedo di sampingnya. Ridwan melepas kacamatanya kemudian melirik Naura. "Ada urusan tadi," jawab Ridwan seadanya. Naura bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah Ridwan. "Kamu gak bohong sama aku kan, kamu gak ketemu sama anak haram kamu itu kan?" Ridwan mendecih pelan. "Kamu ngomongin apa sih Naura, kenapa kamu selalu bahas Asha sekarang." "Kamu aku lihat-lihat mulai berubah Mas, kamu kayak peduli banget sama anak haram itu, kamu lupa yah sama apa yang kamu nikmati sekarang?" jelas Naura. "Seluruh aset rumah ini, bahkan aset dan warisan untuk Asha sudah atas nama aku, dan kamu sendiri yang setuju waktu itu! Kamu jangan coba-coba buat balik ke anak itu yah, atau aku bakal buang kamu Mas. Dan kamu akan hidup miskin diluaran sana." Ridwan menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu tuh gila, yah? Kamu tuh seolah-olah obsesi banget sama Asha, salah apasih anak itu sama kamu? Harusnya kamu tuh mikir kamu udah nyakitin dia berkali-kali lipat, sekarang lihat anak kamu, Hedo! Dia yang membawa Asha dari rumahnya ke pelaminan tapi dia juga yang meninggalkan." "Kenapa Papa bawa-bawa aku sekarang?" ujar Hedo bangkit dan berjalan ke arah Ridwan. "Apa jangan-jangan karena dia anak haram Papa, harusnya Papa seneng, Hedo batalin ini biar nama keluarga kita gak jatuh, ada anak haram! Apalagi itu anak haram dari suami kedua Mama!" Ridwan hanya menunduk sekilas. "Kalian berdua sama saja, nurani kalian sudah mati, saya tidak akan dekat-dekat Asha, tapi asal kalian tahu, air mata orang yang terzolimi itu adalah sebuah doa yang dia langitkan!" "Kamu merasa suci Mas! Yang menyebabkan anak haram itu lahir tanpa nasab adalah kamu! Karena kegilaan kamu sama wanita sialan itu, Naila!" jelas Naura. "CUKUP! CUKUP! Mau bagaimanapun dia anakku, darah dagingku, jika kalian tidak menginginkan saya dekat-dekat Asha yasudah, tapi jangan mengatakan dia anak haram, dia anak yang lahir suci dia lahir bukan karena keinginannya!" Ridwan berjalan meninggalkan Naura dan Hedo setelah mengucapkan itu, ia benar-benar frustrasi harus melawan berdebat dengan ibu dan anak itu. Naura mendesah kesal. Dia menatap Hedo putranya. "Papa tiri kamu itu udah mulai peduli sama anak haram-nya! Kalau begini terus dia bisa cari celah buat balikin warisan anak itu, kamu mau kita hidup miskin?" "Terus?" "Kita harus cari cara gimana caranya Asha gak bisa dekat-dekat dengan Papa kamu, kalau bisa bikin dia pergi dari kota ini!" -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD