Good news

1606 Words
"Halo?" Suara wanita di seberang sana kembali menyadarkan Zizi. "Eh, iya?" "Apakah Anda mengenal Cruise?" ulang wanita itu. "Cruise ...?" Tanpa sadar Zizi mengulangi ucapan wanita di seberang sana. Keliatannya wanita inilah yang ditelpon Cruise semalam dan kini wanita ini menelpon balik. Zizi jadi khawatir mereka akan bertengkar lagi. "Iya, ia menggunakan nomor ini semalam untuk menelponku." Suara wanita itu terdengar ragu. "Siapa, Zi?" Mendengar namanya disebut, Cruise jadi ingin tau. "Eh, entahlah ...." Zizi reflek menoleh ke arah Cruise sambil menggelengkan kepalanya. "Maaf, ini dari siapa?" tanya Zizi lagi. "Aku Selena, adiknya," jawab Selena. "Oh ... Selena?" Zizi menatap Cruise lagi. Ternyata mereka adalah kakak beradik. Wow! Luar biasa juga mereka kakak beradik bisa bertengkar hingga sehebat itu, pikir Zizi. "Selena?" Wajah Cruise nampak bersemangat. Zizi menawarkan ponselnya ke Cruise. Dan Cruise mengiyakan. Zizi jadi mengerutkan keningnya. Ia pikir Cruise akan memasang wajah sedih atau marah, ternyata tidak. Ia jadi tidak bisa menebak masalah apa yang semalam sudah membuat Cruise jadi depresi. "Baik, tunggu sebentar, Selena ...." Zizi lalu menyerahkan ponselnya ke Cruise. "Halo, Sel?" sapa Cruise. "Hey, bagaimana kabarmu, brother?" ucap Selena penuh kerinduan di seberang sana. "Nyalakan video callmu," perintah Cruise. Mereka pun akhirnya saling menyalakan video call. "Hm, kau tampak kurus, brother!" ucap Selena dengan nada sedih. "Aku sedang sakit, wajar jika orang sakit itu badannya kurus," dalih Cruise tanpa mau terbawa perasaan. Zizi sedikit menyingkir tapi ia tetap berusaha mendengarkan percakapan kakak beradik itu dari jarak yang agak jauh demi berjaga-jaga siapa tau Cruise tiba-tiba depresi lagi. Dan, ia cukup senang mengetahui bahwa ternyata Cruise dan keluarganya tidak memiliki masalah berat seperti yang ia pikirkan selama ini. Ia bisa melihat Cruise dan Selena saling menggoda dan berbicara sesukanya layaknya saudara yang lama tidak bertemu. Kalau begitu, apa yang membuat Cruise uring-uringan semalam? "Cruise, mom and dad akan segera menjemputmu. Mereka sangat senang ketika aku memberitahukan kabar bahwa kau selamat dari kecelakaan pesawat, mom bahkan langsung menangis mendengar berita tentangmu," ujar Selena. "Katakan pada mom and dad, tidak perlu mencemaskanku, aku sedang dirawat di rumah sakit sekarang," jawab Cruise. "Ya bagaimanapun mereka tetap ingin bertemu denganmu, Cruise! Siapa orang tua yang tidak panik mendengar kabar kecelakaan anaknya. Aku pun sangat ingin bertemu denganmu jika saja kau tidak melarangku!" sungut Selena. Cruise terkekeh mendengarnya. "Aku tidak menyangka bahwa kau begitu merindukanku," sahut Cruise dengan usilnya. "Huh! Bicara apa kau ini? Sama sekali tidak lucu! Menurutmu, kenapa aku menelponmu jika aku tidak merindukanmu?" sungut Selena lagi. Cruise nampak tersenyum, ia lalu mengaitkan bibirnya dan sedikit menarik nafas. "Sel ... bagaimana kabarnya?" tanya Cruise lirih. Hening ... Selena terdiam dan hanya menatap kakaknya dengan wajah yang rumit. "Kau tidak rela dia bersama dengan Reyes, 'kan?" "Hey! Di sini aku yang bertanya, Sel! Kenapa kau tidak menjawab dan malah melemparkan pertanyaan baru padaku?" Ekspresi Cruise terlihat protes. "Apa gunanya aku menjawab pertanyaanmu jika kau bisa menanyakan hal itu sendiri kepadanya?" tanya Selena balik. Cruise terdiam. Tatapannya nampak frustrasi. "Yah, semoga dia baik-baik saja," jawab Cruise akhirnya. Ia merasa jadi pria yang labil sekarang. Kadang ingin merelakan kadang ingin mengambil kembali. "Dia tidak baik-baik saja, jika itu yang ingin kau tau, Cruise! Dia masih berharap padamu dan selalu yakin bahwa kau masih hidup. Terutama peristiwa ketika kau menelponnya! Dia selalu membahas itu dan aku kini tidak bisa lagi berpura-pura bahwa aku tidak tau kalau kau masih hidup! Oh, c'mon brother!! She needs you!!!" Suara Selena terdengar frustrasi jadinya. Cruise tanpa sadar menggelengkan kepalanya. "Dia akan terbiasa nantinya, Sel," ucap Cruise lirih, hatinya terasa pedih ketika mengatakan hal itu. "Kau sungguh pria yang tidak masuk akal, Cruise!! Kau begitu egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri!" Selena makin kesal mendengar jawaban Cruise. Cruise hanya diam saja ketika mendengar Selena terus memakinya. Dalam hati, ia merasa yang dikatakan Selena adalah benar! Ia takut Jillian kasihan padanya, ia takut Jillian menangis dan sibuk merawat dirinya, ia takut Jillian menderita ketika hidup bersamanya. Dan, ia tidak bisa menerima hal itu! Namun, untuk melepaskan Jillian ia juga merasa berat. Ia sangat mencintai kekasihnya itu dan ingin membahagiakannya tapi kondisinya ... tidak memungkinkan. "Telpon dia dan katakan sesuatu, Cruise!! Atau kau mau aku yang mengatakannya?" kejar Selena dengan nada gemas. Ia merasa kesulitan untuk menyimpan sebuah rahasia sebesar ini! Jillian akan marah padanya jika sampai tau bahwa selama ini ia membohonginya. "Jangan, Sel!! Aku tidak bisa menemuinya saat ini ...." Cruise dengan cepat menjawab. "Hhh! Ingin rasanya aku menyeretnya padamu! Tidak mungkin kau tidak memeluk dan menciumnya ketika kalian bertemu!" umpat Selena dengan nada kesal. Cruise tanpa sadar memejamkan matanya membayangkan hal itu. Hatinya seketika menghangat dengan hanya membayangkan Jillian memeluknya. "Ah, sudah! Kau ini bawel sekali ternyata! Bahkan ketika aku sedang sakit, kau masih saja tega mengomeliku! Dasar adik tak berperasaan!" Cruise dengan cepat menghapus bayangan Jillian di otaknya. Selena menggelengkan kepalanya melihat Cruise terus saja mencoba berdalih. "Mom and dad menanyakan alamatmu! Kali ini kau tidak bisa berdalih mereka tidak boleh datang, Cruise!! Mereka itu orang tua kita!" Nada Selena sudah mengandung ancaman. "Soal itu kau tanyakan saja ke Zizi, aku tidak tau wilayah sini," jawab Cruise. "Hhh! Ya baiklah, biar aku bicara dengannya," ucap Selena. "Zi, Selena ingin bicara denganmu." Cruise mengembalikan ponsel Zizi. "Halo?" sahut Zizi sambil menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Hai, Zizi. Apakah kau bisa memberitahukan alamatmu padaku? Orang tuaku ingin bertemu dengan Cruise," ujar Selena di seberang sana. "Ya, tentu saja. Cruise saat ini sedang dirawat di Fishermen's Memorial hospital di kota Lunenburg," jelas Zizi. "Baik, terimakasih atas semua bantuan yang sudah kau berikan ke Cruise selama ini, Zi. Keluarga kami, berhutang budi banyak ke keluargamu," ucap Selena tulus. Wajah Zizi merona mendengar ucapan Selena. "Tidak masalah, kami sudah biasa membantu orang, Selena," sahut Zizi. "Terima kasih sekali lagi ... maaf jika ke depannya nanti aku jadi sering mengganggumu," ucap Selena. "Eh, tidak masalah. Tidak perlu sungkan, Selena," sahut Zizi cepat. "Baiklah kalau begitu, sampai nanti," tutup Selena. Zizi menatap ke arah Cruise, ia sedikit banyak jadi mengerti apa yang membuat Cruise marah dan frustrasi semalam. Kekasih Cruise yang entah siapa namanya dan juga pria bernama Reyes, keliatannya dua hal itu yang membuat emosi Cruise labil dan meledak-ledak. "Cruise ... apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Zizi hati-hati. "Soal apa?" "Emm ... kekasihmu ... apakah kau tidak ingin menelponnya?" tanya Zizi. Cruise mengerutkan keningnya. "Kau menguping pembicaraanku?" tanya Cruise. "Eh, tidak! Bukan begitu maksudku ... kau menggunakan video call dan jelas aku bisa mendengar suara kalian," ucap Zizi berusaha berdalih. Lagipula yang dikatakannya benar, tanpa menguping pun, ia bisa mendengar semua percakapan antara Selena dan juga Cruise. Ia bisa mendengar bahwa Cruise berusaha menghindar dari kekasihnya. "Lupakan semua yang barusan kau dengar! Aku tidak ingin membahasnya," ucap Cruise lalu ia pun memejamkan matanya, menutup akses komunikasi dengan Zizi. Zizi menarik nafas dan ia pun memutuskan untuk keluar kamar. Ia bisa merasakan cinta Cruise kepada kekasihnya dan pria itu memilih untuk mengorbankan perasaannya. Yah, lumpuh yang dialaminya menjadi penghalang kebahagiaan antara dia dan kekasihnya. Itu benar-benar sangat menyedihkan! Zizi jadi iba pada Cruise jika sudah begini. Ia yang tadinya merasa cemburu dan takut kehilangan, kini perasaannya perlahan berubah. Ia mulai rela jika Cruise kembali kepada kekasihnya. Wanita itu berhak mendapatkan balasan atas keyakinan dan penantiannya. Zizi berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit sebelum akhirnya ia kembali masuk ke dalam kamar perawatan Cruise. Nampak pria itu sudah tertidur pulas dan Zizi memutuskan untuk duduk di kursi sambil menanti hasil rontgen keluar. Matanya yang mulai berat membuat ia membaringkan kepalanya di tepi ranjang Cruise, hingga ia tidak tau sudah berapa lama ia terlelap. "Selamat sore ...." Sebuah suara membuat Zizi dan Cruise terjaga secara bersamaan. "Sore, Nurse ," balas Zizi sambil dengan sigap berdiri. "Apakah Anda Nona Zizi Yu?" tanya perawat tersebut. "Iya." Zizi mengangguk. "Anda diminta untuk datang ke ruangan dokter. Hasil rontgen Tuan Cruise Benedict sudah keluar dan dokter ingin berbicara dengan Anda," jelas perawat itu lagi. "Oh, baik!" Zizi lalu menatap Cruise. "Aku pergi dulu, Cruise," pamit Zizi. Cruise mengangguk. Zizi mengikuti langkah suster yang menuju ke ruangan dokter. "Selamat sore, Nona Zizi, silahkan duduk," ujar dokter tersebut. Zizi dengan patuh duduk di hadapan dokter yang terlihat sibuk dengan kertas dan pulpennya. Sebuah foto hasil rontgen berwarna hitam putih bergambar tulang di tempelkan ke papan yang ada lampu putih di baliknya. Zizi memperhatikan gambar itu, tetapi ia sama sekali tidak mengerti. "Baik, jadi begini ...." Dokter yang sudah selesai urusannya segera berdiri dan menunjuk foto itu. "Kedua tulang kaki Tuan Cruise masih bisa dilakukan operasi. Kemungkinan sembuhnya sangat besar," ujar dokter. Wajah Zizi nampak berseri-seri mendengarnya. "Sungguh, Dok?" tanyanya sekali lagi. "Iya, jika Anda setuju kami akan segera menjadwalkannya," jelas dokter. Zizi Yu tanpa berpikir langsung mengangguk. "Setelahnya, beliau harus benar-benar dijaga dan tidak boleh kemana-mana sampai kakinya pulih," tegas dokter itu lagi. "Saya mengerti ...." sahut Zizi. "Jadi, kapan akan dilakukan operasi  Dok?' tanya Zizi dengan nada tidak sabar. "Silahkan Anda menandatangani surat ini terlebih dahulu. Paling cepat, kami akan menjadwalkannya besok," jawab dokter sambil menyodorkan sebuah berkas berisi persetujuan prosedur operasi. Zizi Yu membacanya lalu menandatangani suratmya. "Baiklah, kami akan memberi kabar besok ketika persiapan operasi telah dilakukan," sahut dokter. Zizi mengangguk lalu berpamitan. Hatinya begitu senang, Cruise pasti bahagia mendengar kabar ini. Cruise menunggu kedatangan Zizi dengan perasaan cemas. "Bagaimana, Zi?" tanya Cruise begitu ia melihat Zizi masuk ke kamarnya. Nampak wajah Zizi yang tersenyum senang. "Aku sudah menandatangani surat persetujuan operasi. Besok kedua kakimu akan dioperasi dan kau harus bedrest sampai kakimu pulih!" ucap Zizi dengan semangat. "Benarkah?" Cruise menatap Zizi dengan tatapan tak percaya. Zizi mengangguk sambil tersenyum mengiyakan dan jantungnya seketika berhenti berdetak ketika tangan Cruise dengan tiba-tiba meraih tubuhnya dan langsung memeluknya erat!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD