Zizi lalu mengambil pakaian Zach untuk diberikan ke Cruise, ia tidak berani memaksa menggantikan pakaiannya karena pria itu selalu saja menolak ketika ingin dibantu.
Ia lalu memperhatikan celana pendek Cruise yang basah. Hal itu sangat mengganggu penglihatannya.
"Ada apa?" tanya Cruise.
"Cruise ... emm ... celanamu juga harus diganti, itu ... sangat basah, kau pasti tidak nyaman ketika memakainya, bukan?" Zizi berkata dengan wajah memerah.
Ia merasa sangat mencampuri bagian pribadi Cruise. Namun, mau bagaimana lagi? Cruise sedang sakit dan mengenakan pakaian basah jelas sebuah hal yang tidak disarankan apalagi pria itu sama sekali tidak makan sejak semalam. Zizi khawatir, Cruise akan demam nantinya.
"Ini juga harus diganti?" tanya Cruise dengan ekspresi keberatan.
Ia tidak bisa mengangkat tubuh bagian bawahnya tanpa bertopang pada kedua kakinya. Sementara, kakinya sendiri juga sangat sakit ketika dipaksa untuk menahan beban sedikit saja.
"Iya, Cruise ... itu demi kebaikanmu." Zizi mengangguk.
Ketika dulu Zizi merawat mendiang ibunya, ia sangat terampil dan sama sekali tidak sungkan ketika harus mengganti baju ibunya.
Namun, kondisinya sangat berbeda dengan sekarang ketika ia harus merawat pria asing yang tampan seperti ini. Apalagi jika sampai harus menggantikan celananya. Wah! Itu benar-benar acara horor yang menggetarkan jiwa dan raga bagi gadis polos seperti Zizi.
Yah, sebenarnya menggantikan celana bukanlah masalah yang berat bagi Zizi, tapi ... masalahnya adalah Cruise terlalu tampan untuk membuat perasaan seorang Zizi tetap netral. Usaha untuk berpikir secara professional dan mengabaikan perasaannya tidak semudah itu bisa ia lakukan.
Merawat Cruise seperti ini sungguh dibutuhkan mental dan jantung yang sehat sama seperti ketika membaca "The Bitter of Love".
Yang ga kuat bisa pingsan sewaktu-waktu. #Eh!
Cruise menarik nafas panjang, ia tau kali ini ia membutuhkan bantuan Zizi untuk melakukannya. Dan ... jujur saja, Cruise juga merasa tidak nyaman.
"Tidak usah diganti saja," putus Cruise akhirnya.
"Kau bisa sakit dan di rumah sakit nanti, celanamu tetap akan dilepas," sahut Zizi.
"Lalu menurutmu, bagaimana aku harus menggantinya?" Cruise bertanya balik.
"Ohh ... ak-aku bisa membantumu jika kau mengijinkan," jawab Zizi dengan ekspresi gugup kali ini.
"Kau ... membantuku?" Cruise mengerutkan keningnya dengan tidak yakin.
Apakah Zizi benar-benar berani melakukannya? Gadis ini terlihat sangat polos dan tidak mengerti apapun, apakah dia tidak malu mengganti celana seorang pria dewasa sepertinya?
"Eh, iy-iya! Ak-aku bisa melakukannya ...." jawab Zizi terbata.
"Okay, cobalah!" kata Cruise dengan nada sedikit menantang.
Ia jadi penasaran dengan kemampuan dan keberanian Zizi.
Zizi langsung menggigit bibirnya mendengar ucapan Cruise. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat dari biasanya, ia tidak menyangka bahwa Cruise akan mengijinkan ia melakukan hal yang memicu adrenalin seperti itu. Padahal untuk mengganti bajunya saja, Cruise menolak untuk ditolong dan kini, ia malah diperbolehkan mengganti celananya yang mengandung unsur 'itu'.
"Ba-baiklah!" Zizi lalu meluruskan kaki Cruise.
Tangan putihnya yang kecil mulai menarik celana Cruise ke bawah dan ia dengan reflek menutup matanya.
Cruise tanpa sadar tersenyum melihat tingkah Zizi yang seperti itu. Nampak sekali bahwa gadis ini memang lugu dan polos total. Ia jadi menyesal, kenapa ia harus memarahinya tadi?
Emosinya sedang tidak stabil dan ia marah bukan karena Zizi bersalah, ia marah karena ia membenci dirinya sendiri yang caacat.
"Cruise ... apakah aku boleh mengangkat tubuhmu sedikit? Celana ini nyangkut!" Zizi berkata tanpa berani membuka matanya.
Memang celana itu nyangkut tepat di pantatt Cruise.
"Lakukan apapun yang kau mau, Zi ...." ucap Cruise sambil menahan senyum.
"Ap-apapun?" Zizi mengerutkan keningnya.
"Iya, apapun," jawab Cruise dengan nada serius tapi dengan wajah menahan senyum.
"Oh, ba-baiklah! Ak-aku minta maaf sebelumnya ... ak-aku tid-tidak bermaksud ... Ahhhhhh!!! Apa itu??" Zizi seketika menjerit ketika tangan Cruise mengarahkannya ke sesuatu yang dingin di tubuh pria itu.
"Itu adalah tulang pangkal pahaku, kau harus mengangkatku sedikit dan aku akan melepas celanaku sendiri," ujar Cruise.
"Ohhh! Begitu ... ya ya baiklah! Aku mengerti!" Zizi dengan gugup menganggukkan kepalanya dengan mata yang terus tertutup.
Jujur saja, ia sama sekali tidak mengerti Cruise bicara apa barusan. Pokoknya ia hanya mengiyakan saja.
"Ja-jadi aku harus bagaimana?" tanya Zizi lagi.
Cruise kembali menahan senyumnya.
"Angkat tubuhku, Zizi ... di bagian ini," ujar Cruise sambil menempelkan kedua tangan Zizi ke tulang pangkal pahanya.
Ok! Zizi sudah memerah wajahnya dan ia merasa hampir pingsan merasakan tangan Cruise yang menekan kedua tangannya. Ini adalah pertama kalinya ia bersentuhan dengan pria sedekat ini, apalagi menyentuh bagian yang menurutnya cukup sensitif.
Zizi dengan sedikit gemetar membungkuk di atas tubuh Cruise dan karena tubuh Cruise cukup berat, ia tidak bisa mengangkatnya dari sisi samping.
"Masih kesulitan?" tanya Cruise lagi ketika melihat tubuhnya sama sekali tak bergerak.
"Eh, iy-iya!" Zizi jadi merasa sungkan karena tidak becus memberikan bantuan.
"Baiklah, kau harus berdiri di atas tubuhku dan mengangkatnya dari atas, itu akan jauh lebih mudah," saran Cruise.
"Ap-apa? Ba-bagaimana?" Zizi takut salah mendengar dan salah paham.
Berdiri di atas tubuh Cruise itu seperti apa maksudnya?
"Buka matamu!" perintah Cruise.
"Hah? Bu-buka mata? Tap-tapi ...." Zizi menggigit bibirnya! Ini benar-benar mendebarkan! Ia akan melihat apa sebentar lagi?
Wajah Zizi semakin terbakar hanya dengan membayangkan yang bukan-bukan. Dan itu membuat Cruise jadi ingin tertawa.
"Celanaku belum terlepas, apa yang kau pikirkan, hah?" Cruise seolah menyapu bersih pikiran kotor yang mulai bersarang di otak Zizi.
"Eh, iy-iya! Kau benar!!" Zizi seketika membuka matanya dan menatap Cruise yang kini sudah terlihat serius.
Senyum Cruise sudah hilang entah kemana dan ia menatap Zizi dengan tatapan tajam.
"Sekarang kau harus berdiri diantara tubuhku, letakkan satu kakimu di sini dan satu kakimu di sini," perintah Cruise.
"Oh, ya baiklah!" Zizi berdiri di atas tempat tidur dan ketika ia hendak melangkah ia kembali terlihat ragu.
"Ak-aku permisi, ya?" ucapnya sungkan.
"Permisi untuk apa?" tanya Cruise.
"Ak-aku akan melangkahi tubuhmu," jawab Zizi.
Cruise menarik nafas panjang sambil memutar bola matanya mendengar jawaban Zizi.
"Bukankah aku yang memintamu? Jadi lakukan saja!" perintahnya.
"Oh, okay!" jawab Zizi dan ia pun berdiri di antara tubuh Cruise.
"Kemarikan tanganmu," perintah Cruise lagi.
Zizi mengulurkan tangannya dan Cruise memegang kedua telapak tangan Zizi membuat gadis itu mau pingsan rasanya.
"Membungkuklah," ucap Cruise sambil menarik kedua tangan Zizi.
Ah! Sudahlah! Nafas Zizi sudah sangat memburu ketika Cruise menarik kedua tangannya dan ia jadi semakin membungkuk sementara manik abu-abu Cruise mengunci manik hitamnya.
Wajah mereka jadi sangat berdekatan dan Zizi merasa kiamat akan segera datang. Ia merasa sesak nafas apalagi ketika kedua tangannya di selipkan oleh Cruise ke dalam celana yang ia pakai sehingga tanpa sadar, Zizi menggigit bibirnya dengan kuat.
"Cruise ...." Pikiran Zizi sudah sangat berdebu dan ia benar-benar gugup.
"Kau ... harus mengangkatku dari sini ... Zizi Yu ...." ucap Cruise setengah berbisik sementara kedua tangannya dengan erat menempelkan telapak tangan Zizi di tulang pahanya.
Zizi jadi merasa di ujung jurang sekarang. Wajah mereka begitu dekat dan tatapan Cruise seperti Medusa yang membuatnya hilang akal.
"Kau mengerti?" tanya Cruise sambil menatap manik hitam Zizi Yu.
Zizi nampak diam saja dan hanya menatap manik Cruise seperti orang terkena hipnotis.
"Zi ... apakah kau mendengarku?" ulang Cruise sekali lagi.
Namun, Zizi masih tak bergeming, ia seperti hidup di dunianya sendiri. Sampai Cruise jadi gemas dan ...
Fuhhhh!!!
Ia meniup wajah Zizi membuat gadis itu tersentak dan mengerjapkan matanya ...
"Hey!! Kau mendengarku tidak?" tanya Cruise dengan ekspresi gemas yang tertahan.
"Eh, iya, ap-apa, Cruise?" Zizi mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kau ... harus mengangkatku dari sisi sebelah sini, Zizi ...." Cruise menekan tangan Zizi yang menempel di bagian luar tulang pahanya.
Zizi seketika mendelik, ia seperti kembali sadar bahwa tangannya dari tadi ternyata menyentuh daging Cruise di dalam sana. Dan, wajahnya nampak seperti terbakar dengan mata yang melotot.
"Kenapa? Kau ... tidak siap melakukannya?" tanya Cruise sambil menatap lekat manik hitam Zizi.
"Eh ... ak-aku siap!" Zizi berusaha menetralkan perasaannya.
"Kalau begitu lakukan!" perintah Cruise.
Zizi menarik nafas dan ia pun dengan kuat mengangkat bagian 'itu' dan Cruise dengan sigap menurunkan celananya.
Zizi sama sekali tidak berani melihat ke arah bawah dan wajahnya benar-benar tegang. Ia terus mengangkat tubuh Cruise dengan wajah yang semakin lama semakin memerah karena merasa berat.
"Zizi ... apakah aku harus melepas celanaku semuanya?" tanya Cruise lagi.
"Mmphhh ... jika kau juga mau menggantinya ... mmmphh ... segera lepaskan! Tubuhmu sangat berat, Cruise ... mmmphh!" Zizi sudah tak mampu berpikir lagi dan Cruise pun tersenyum melihat Zizi begitu serius menanggapinya.
"Sudah, aku sudah selesai ...." ucap Cruise.
Zizi dengan perlahan meletakkan tubuh Cruise ke ranjang secara perlahan. Dan, nafasnya terengah-engah seperti orang yang habis lari marathon 100 meter!
*Hah? Lari marathon kok 100 meter??
Zizi memejamkan matanya sambil menarik nafas, ia lalu berdiri dan meregangkan pinggangnya yang terasa penat, sementara ia masih berada di atas tubuh Cruise ... membuat pria di bawah sana menatap Zizi seperti seorang yang sedang mengagumi keindahan patung Liberty!
"Ah! Leganya," ucap Zizi sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri seperti orang sedang berolah raga ringan.
"Sudah selesai, Nona?" Cruise yang merasa diperlakukan seperti matras jadi keberatan.
"Eh, astaga! Cruise ... Maaf!" Zizi segera turun dari ranjang dan ...
"Aaahhhhh!!! Apa itu????" Ia seketika menjerit ketika melihat sesuatu yang begitu menonjol hampir menembus kain penutup orrgan intim milik Cruise.
Yah! Bagaimana Cruise tidak tegang melihat Zizi dengan santainya berada di atas tubuhnya sambil bergerak-gerak dengan sangat elok dan sedikit eröttis. Walaupun dia tidak mencintai Zizi, tapi urusan tegang menegang, seorang pria tidak begitu mempedulikan urusan hati!
*Kalo nggak percaya, tanya aja ama pak Haji!
"Hey! Kenapa kau berteriak? Bukankah kau yang menyuruhku untuk melepas semuanya? Untung aku tidak melakukannya!" Ekspresi Cruise nampak kesal.
Dia yang dibuat tegang, kenapa malah Zizi yang menjerit? Playing victim sekali Zizi ini!
"Oh, iya! Maaf, ak-aku lupa!" Zizi menepuk dahinya sendiri.
Ia lalu menarik nafas dan menarik lepas celana pendek Cruise sambil memejamkan matanya. Menara Piza itu, ia tidak ingin melihatnya. Itu sangat tabu untuk dilihat oleh seorang wanita. Bentuknya terlihat biasa tapi entah kenapa ia begitu berdebar ketika melihatnya! Apakah dia yang memang norak?
Zizi lalu membalikkan badannya membelakangi Cruise. Lalu mulai memasangkan celana milik Zach sampai ke batas paha. Sesudahnya ... ia kembali menutup mata menghadap Cruise.
"Aku akan mengangkat tubuhmu sekali lagi dan kita lakukan seperti yang tadi, ya?" ujar Zizi.
"Baik." Cruise menyanggupi.
Zizi lalu sedikit memajukan duduknya dan ia membuka matanya lalu kembali berdiri di atas Cruise. Mereka pun mengulangi lagi hal seperti tadi.
Semuanya berjalan dengan baik, Zizi lalu mengambil beberapa baju Zach untuk ia bawa ke rumah sakit sebagai pengganti pakaian Cruise.
Ukuran tubuh Zach dan Cruise memang mirip dan seukuran. Tinggi tubuh mereka juga hampir sama.
Bunyi sirine ambulance membuat Zizi bergegas keluar. Ia menyambut para tenaga medis dan mengantar mereka semua ke kamar Cruise.
Tubuh Cruise ditandu dan dibawa ke dalam mobil. Zizi ikut masuk dan menemani sampai Cruise tiba di Fisherman's Memorial Hospital. Cruise dengan sigap ditangani oleh tim medis. Zizi menjelaskan semuanya tentang kondisi Cruise ke dokter dan dokter mulai melakukan pemeriksaan sementara Zizi diminta untuk menunggu di luar.
"Keluarga dari Tuan Cruise?" Suara seorang dokter membuat Zizi bergegas datang.
"Saya, Dok ...."
"Mari ikut saya ...." Dokter itu mengajak Zizi untuk masuk ke ruangannya.
Zizi duduk di hadapan dokter tersebut.
"Kondisi Tuan Cruise seperti yang Anda sampaikan tadi, kakinya mengalami patah tulang dan harus di rontgen untuk mengetahui detailnya," ucap dokter wanita tersebut.
Zizi mengangguk paham.
"Lalu, berapa biayanya, Dok?" tanya Zizi kemudian.
"Anda bisa menghubungi pihak administrasi rumah sakit untuk mengetahui biaya dan juga pembayaran melalui kartu asuransi jika ada," ucap dokter.
"Oh, baik," jawab Zizi.
"Setelah hasil rontgen keluar, baru kita bisa memutuskan apakah mungkin jika dilakukan operasi dalam waktu dekat," lanjut dokter tersebut.
Lagi-lagi Zizi mengangguk.
Setelah dokter menceritakan analisa singkat dan segala kemungkinannya tentang kondisi Cruise, Zizi pun keluar dan pergi ke bagian administrasi untuk menanyakan perihal biayanya.
Pihak administrasi menelpon bagian terkait dan mengetik sesuatu sambil menatap layar komputer.
"Apa benar nama pasien ini Cruise Benedict?" tanya bagian administrasi.
"Iya, benar," jawab Zizi.
"Dari data yang Anda berikan kepada pihak rumah sakit, Anda bilang bahwa pria ini mengalami kecelakaan pesawat beberapa waktu yang lalu dan untuk itu kami sedang mencocokkan datanya dengan pihak terkait di Manhattan dan juga maskapai penerbangan yang bersangkutan" jelas petugas administrasi tersebut.
"Jika ternyata data dirinya cocok, maka tidak ada biaya untuk kasus ini karena semuanya akan ditanggung oleh pemerintah Kanada dan itu juga masuk dalam pertanggungan asuransi," lanjut petugas itu lagi.
Zizi mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar penjelasan bagian administrasi. Itu artinya, ia tidak perlu menjual emas warisan sang ibu dan Cruise pun bisa berobat dan mendapatkan perawatan yang layak.
"Jadi, saya tidak perlu membayar?" tanya Zizi masih tidak yakin.
"Jika data kami terkonfirmasi, maka tidak ada biaya yang akan timbul pada kasus Tuan Cruise Benedict," jelas petugas itu lagi.
Wajah Zizi nampak berseri-seri. Ia dengan senyum lebar berkali-kali mengucapkan terima kasih dan ia pun kembali ke tempat Cruise berada.
"Bagaimana, Zi? Kenapa kau tampak bahagia sekali?" tanya Cruise dengan tatapan aneh.
"Tidak apa-apa. Apakah kau sudah di rontgen?" tanya Zizi.
Cruise mengangguk.
"Baiklah, jika nanti hasilnya sudah keluar, aku akan diberi tahu apakah memungkinkan untuk dilakukan operasi atau tidak," jelas Zizi.
"Oh, benarkah? Itu sungguh berita bagus." Wajah Cruise nampak berseri-seri.
"Iya, kita berdoa saja. Dan, sebaiknya kau istirahat. Wajahmu nampak lelah dan kurang tidur," ucap Zizi.
"Kau juga, sebaiknya kau pulang dan istirahat ... tadi aku lihat kau tertidur di sofa, kau pasti sangat mengantuk, bukan?" balas Cruise.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku," jawab Zizi sambil tersenyum.
Hatinya cukup senang melihat Cruise sudah tidak lagi marah dan sedih seperti tadi. Sekarang ia hanya ingin melihat pria ini sembuh dan bersemangat lagi ...
Ponsel Zizi berbunyi dan Zizi dengan cepat mengangkatnya.
"Wei?" sapa Zizi.
"Halo?" Terdengar suara seorang wanita di sana.
"Ya, halo?" ulang Zizi.
Hening beberapa saat lamanya sebelum terdengar sebuah suara lagi ...
"Maaf ... Semalam nomor ini menelpon saya ... emm ... apakah Anda kenal dengan seseorang yang bernama ... Cruise?" Suara wanita itu terdengar ragu.
Zizi seketika menoleh ke arah Cruise. Ia bisa menduga bahwa ini pasti dari keluarganya. Hati Zizi seketika cemas, apakah ia harus memberikan ponsel ini kepada Cruise. Akankah ini menjadi masalah baru nantinya?