Pagi itu, Zizi terlihat lelah karena semalam ia tidak tidur dan memutuskan untuk menunggu Cruise semalaman di depan kamarnya. Ia sangat khawatir jika Cruise tiba-tiba butuh bantuan dan ia tidak bisa mendengarnya.
Namun, ternyata sampai pagi menjelang, Cruise sama sekali tidak memanggilnya.
Fajar sudah menyingsing, Zizi segera bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk Cruise sebelum ia nanti akan pergi ke Halifax.
"Cruise, apakah tidak masalah jika aku meninggalkanmu sendiri di sini? Aku harus pergi untuk membeli rempah-rempah, aku akan kembali agak siang," ucap Zizi sambil meletakkan sarapan untuk Cruise di nakas dekat tempat tidur.
Wajah Cruise terlihat tanpa ekspresi. Ia hanya diam dan sama sekali tidak merespon. Terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya menunjukkan bahwa semalam ia juga kurang tidur.
Zizi menarik nafas. Sejak semalam setelah ia meminjamkan ponselnya, ia sama sekali tidak berani menanyakan apapun ke Cruise. Pria itu berteriak dan menangis dengan frustrasi membuat Zizi sedikit takut untuk mendekat.
"Cruise, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Zizi hati-hati.
Ia jadi tidak berani pergi jika kondisi Cruise masih seperti ini.
Cruise menatap Zizi sekilas.
"Pergilah!" Ia lalu kembali memalingkan wajahnya menatap jendela.
Kini Zizi yang terdiam. Mana mungkin ia meninggalkan Cruise dalam kondisi seperti ini?
"Ehm, sebaiknya kau makan dulu baru aku pergi ...." dalih Zizi.
"Aku tidak akan makan ... jangan memaksaku!" tegas Cruise tanpa menoleh.
Hmm ... Zizi menggelengkan kepalanya. Dua kali ia meminjamkan ponselnya ke Cruise dan dua kali pula pria itu tidak mau makan setelahnya.
"Kau tidak akan bisa sembuh jika kau tidak makan, Cruise. Dan itu artinya, kau juga akan semakin lama bertemu dengan kekasihmu nanti." Zizi berusaha membangkitkan semangat Cruise.
Nampak senyum sinis di wajah Cruise mendengar ucapan Zizi. Ia seperti tau bahwa Zizi berusaha memberinya harapan palsu. Tulang retaknya tidak mungkin bisa sembuh dengan cepat! Dan Jillian ... gadis itu sudah menemukan pria yang mungkin lebih bisa membahagiakannya dibanding dirinya yang lumpuh seperti ini.
Butiran bening kembali turun di sudut mata Cruise, tapi ia dengan cepat menghapusnya.
Zizi yang melihat itu jadi ikut sedih. Ia tidak tau apa masalah yang sedang dihadapi oleh Cruise, tapi ia bisa melihat bahwa apapun itu, sangat membuat pria itu terpukul.
"Cruise, apakah keluargamu tidak bisa menjemputmu? Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengantarmu nanti ...." hibur Zizi.
Cruise menatap Zizi.
"Terimakasih atas kebaikan hatimu, Zi, kau sebaiknya pergi dan selesaikan urusanmu," ucap Cruise dengan nada datar dan setelahnya ia menatap ke arah jendela lagi.
Zizi jadi ketularan frustrasi melihat sikap Cruise. Ia lalu bangkit berdiri dan keluar kamar. Niatnya untuk pergi ia urungkan. Ia memilih untuk kembali duduk di ruang tengah sambil menunggu perkembangan Cruise selanjutnya.
Cuaca di luar mulai mendung dan udara jadi sejuk, membuat mata Zizi jadi berat, ditambah semalam ia tidak tidur.
Dengan cepat, ia pun terlelap di sofa ruang tengah.
Hujan mulai turun dari rintik rintik sampai lebat! Suara petir menggelegar membuat Zizi terkejut!
Ia segera terjaga dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Cruise merangkak keluar dari kamar mandi dengan ekspresi kesakitan dan pakaian yang basah.
"Cruise!!! Apa yang kau lakukan?" Zizi segera bangun dan mencoba untuk membantu Cruise.
"Lepaskan, Zi!! Aku bisa melakukannya sendiri!" Cruise menepis tangan Zizi yang berusaha membantunya.
"Tidak, Cruise! Bukan itu masalahnya! Kau ... tidak boleh turun dari tempat tidur dan merangkak seperti ini!!"
Cruise langsung menatap tajam ke arah Zizi.
"Kenapa? Apakah karena retak di tulang kakiku ini? Yang tidak tau kapan akan sembuh? Dengar, Zi!! Aku bahkan tidak berharap untuk sembuh lagi!!!" ucapnya tegas.
Zizi mengerjapkan matanya mendengar ucapan Cruise, tapi dari sorot mata yang dipancarkan oleh pria itu, nampak sekali luka yang sedang dialaminya.
"Kau bisa sembuh, Cruise. Jangan berputus asa terlebih dahulu ...." Suara Zizi lebih terdengar seperti sebuah permohonan dibanding menguatkan.
"Aku sudah tidak peduli lagi sekarang!" tegas Cruise dan ia pun melanjutkan merangkak ke dalam kamar.
Zizi mengikutinya dan ia bisa melihat bagaimana Cruise berusaha untuk naik kembali ke atas tempat tidur.
"Pakaianmu basah, Cruise .... ijinkan aku mengganti pakaianmu agar kau tidak sakit nantinya ...." mohon Zizi.
"Tidak perlu!" jawab Cruise.
Zizi melihat sarapan yang ia sediakan sama sekali tidak disentuh oleh Cruise.
"Cruise, kau belum sarapan. Makanlah terlebih dahulu ...." Zizi mulai menuangkan makanan ke dalam mangkuk kecil.
Cruise sama sekali tidak menggubrisnya. Ia benar-benar berharap ajal segera menjemput dan urusannya selesai di dunia ini.
Dengan kondisinya yang seperti ini, bagaimana ia bisa menjanjikan sebuah masa depan bagi Jilliannya, sementara ia sendiri tidak yakin akan masa depan yang ia miliki? Jangankan untuk membahagiakan Jillian, hidupnya sendiri sangat jauh dari kata bahagia ... ia benar-benar tidak memiliki tujuan hidup sekarang.
"Cruise ... aku harap kau mau makan ya? Sesuap nasi pun tak masalah," ucap Zizi.
"Bisakah kau tidak menggangguku?" Cruise menatap tajam ke arah Zizi.
"Cruise, aku di sini untuk merawatmu, tolong jangan seperti ini ... aku ingin kau segera pulih ...."
"Pulih?! Kau tidak membawaku ke rumah sakit dan hanya memintaku untuk makan, lalu bagaimana aku bisa pulih, hah? Katakan!" Ucapan Cruise terdengar keras dan Zizi jadi terkejut mendengarnya.
"Kau memberiku harapan palsu, 'kan? Kau tau kakiku ini butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh dan kau bilang dengan makan saja, aku bisa pulih? Apakah kau sedang membohongiku, Zi?" Cruise menatap Zizi dengan tajam.
Manik hitam Zizi seketika berkaca-kaca mendengarnya. Bukan begitu maksud sebenarnya ketika ia menyuruh Cruise untuk makan. Namun, pria ini kelihatannya salah sangka dengan maksud baiknya.
Zizi dengan cepat menghapus air yang baru saja turun dari matanya. Ia tidak sanggup mengatakan apapun lagi dan hanya menatap Cruise sambil menahan sesak di dadanya.
Tangan putih Zizi berkali-kali mengusap pipi putihnya dan Cruise masih saja menatapnya seperti itu.
"Ak-aku minta maaf ...." Ucapan itu tiba-tiba keluar dari bibir Zizi dengan suara yang bergetar.
Cruise seperti menyadari sesuatu ketika melihat wajah Zizi yang memerah seperti menahan tangis.
Astaga! Ia keliatannya berucap terlalu kasar kepada gadis ini!
Nampak tangan Zizi gemetar sementara wajahnya terlihat kaku sambil terus menatapnya dengan tatapan bersalah dan juga takut.
"Aku ... minta maaf ...." ucap Cruise akhirnya.
Ia lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia sungguh tidak tau apa yang sebenarnya ia inginkan sekarang. Satu hal yang jelas adalah, ia benci kepada dirinya sendiri! Cacat di tubuhnya ini!! Ia sangat tidak bisa menerimanya.
Zizi dengan perlahan meletakkan mangkuk berisi makanan itu di atas meja dan tanpa banyak kata, ia keluar sambil membawa ponsel yang ia pinjamkan ke Cruise semalam.
Zizi lalu pergi ke kamar dan kembali menangis di sana sepuasnya sampai perasaannya lega. Ucapan Cruise tadi benar-benar membuatnya sedikit tersinggung. Niatnya tadi adalah ingin membujuk Cruise untuk makan agar tidak makin jatuh sakit, tetapi yang terjadi adalah dia malah dituduh berbohong dan memberi harapan palsu.
Sesudah selesai dengan perasaan sedihnya, ia lalu mengambil ponsel dan memencet nomor di sana guna menelpon seseorang ....
"Halo? Apakah saya bisa memesan ambulance? Saya tinggal di Bluenose Dr 578," ucap Zizi.
" ..... "
"Saya dengan Zizi Yu."
" .... "
"Baik, saya tunggu," ucap Zizi.
Ia lalu membuka lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak dari sana.
Ia duduk di tepian ranjang sambil mengusap kotak kecil itu dengan rasa sayang.
"Ma, maafkan Zizi, Zizi harus menjual sebagian emas peninggalan mama untuk membayar biaya pengobatan Cruise. Zizi harap mama tidak keberatan." Zizi berkata sambil mengusap butiran bening di pipinya.
Emas itu adalah warisan turun menurun dari nenek moyang keluarga Nyonya Jesselyn Lai sang mendiang ibu Zizi yang diberikan kepada Zizi sebagai putri tunggalnya.
Sebenarnya, sangat disayangkan jika emas itu harus dijual begitu saja, karena menurut pesan mendiang ibunya, emas dan sebagian warisan peninggalannya itu bisa digunakan ketika mereka sedang mengalami kesulitan ekonomi suatu saat nanti.
Zizi lalu mengambil sebagian emas batangan itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Bentuk emas batangan yang dimiliki Zizi bermacam-macam, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Semua potongannya sangat tidak rapi seperti batu-batu berwarna kuning yang berkilau.
Zizi memasukkan tiga buah emas dengan potongan kecil ke dalam tasnya, ia pikir tiga bongkahan emas kecil ini pasti akan cukup untuk menjawab masalahnya nanti.
Zizi lalu kembali ke dalam kamar Cruise, nampak pria itu masih menatap jendela dengan tatapan kosong dan frustrasi.
"Cruise ... sebaiknya biarkan aku mengganti pakaianmu sebelum kita pergi ke rumah sakit," ucap Zizi.
Cruise lagi-lagi tak bergeming. Rumah sakit? Ia tidak percaya Zizi akan membawanya ke rumah sakit.
"Sebentar lagi ambulance datang dan bajumu basah ... biarkan aku membantumu, ya?" pinta Zizi sekali lagi.
Zizi lalu keluar dan ia mengambil handuk kecil, kain beserta dengan air hangat untuk membersihkan tubuh Cruise.
Ia kembali masuk dan ketika tangannya baru saja menyentuh pakaian Cruise, tangan pria itu mencekalnya kuat.
"A-ada apa? Ap-apakah aku melakukan sebuah kesalahan lagi?" tanya Zizi dengan ekspresi takut.
"Aku tidak ingin berganti pakaian!" tegas Cruise.
"Tapi ini harus, Cruise! Ambulance akan datang. Pakaianmu basah total! Kau harus mengganti semuanya ... Please ...." ucap Zizi penuh permohonan.
Cruise mengerutkan keningnya. Apakah Zizi benar-benar memanggil ambulance?
"Baik! Aku bisa melakukannya sendiri!" ucap Cruise setelah ia melihat keseriusan di wajah gadis itu.
Cruise lalu berusaha duduk dan ia menepis tangan Zizi yang sudah bersiap untuk membantunya.
"Sudah kukatakan aku akan melakukannya sendiri," ucap Cruise.
Perasaan Zizi hancur lebur hari itu. Entah kenapa ia merasa Cruise sungguh berbeda. Ia merasa Cruise berubah dibanding kemarin dan ia tidak paham sebabnya.
Cruise melepas pakaiannya dan nampak tubuh eksotis pria itu, persis seperti malam ketika ia diselamatkan, membuat jantung Zizi berdebar dengan hebatnya.
Perasaan kacaunya tadi perlahan sirna digantikan dengan harapan baru untuk bersama. Cruise benar-benar terlihat tampan jika sudah begini, tidak peduli sekalipun wajahnya terlihat marah atau apapun lah namanya.
Zizi masih terpaku membuat Cruise memandang gadis itu dengan tatapan aneh.
"Hey! Kau sedang melamun apa?" tanya Cruise sambil menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Zizi.
Gadis itu jadi tersentak kaget dan wajahnya memerah karena malu, seolah ia merasa Cruise bisa membaca pikiran kotornya.
"Eh, biar aku bersihkan dulu tubuhmu dengan air hangat!" Zizi lalu menunduk dan tangannya dengan terampil membersihkan tubuh Cruise bagian atas lalu ... masalah berikutnya timbul ....
Celana Cruise juga basah karena ia tadi merangkak ke kamar mandi lalu ... bagaimana ia akan membersihkan tubuh Cruise bagian bawah?
Akankah Cruise mengijinkan? Lalu jika iya, apakah ia tidak akan pingsan nantinya?
******
*Hayoo looo!