Aku ingin menyentuh makanan, tapi tidak jadi karena seseorang memanggil namaku dengan lantang, dia adalah Zidan, bersama para koloni tampan di sekolah yang berkumpul di kelasku.
"Widih, makan di kelas sendiri, kenapa gak manggil gue?"
"Gak butuh, sekarang pergi! Gue mau sendiri," jawabku kemudian mengusirnya.
"Temen lo?" Cowok berbadan tinggi, tegap, dan ideal itu bertanya pada Zidan, Zidan menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab, "Pacar, bro."
"Hoax," sanggahku.
Tak memedulikan mereka yang mulai berdebat, aku mengisi kekosongan perutku dengan nasi bungkus dan air minum. Perdebatan mereka belum usai setelah aku makan, entahlah, yang kudengar hanya lo-gue, ngaku-nggak, dan iya-tidak.
Karena jengah, aku memilih pergi dan mengasingkan diri di tempat mana pun asalkan sepi.
Lorong sekolah kujelajahi, hanya beberapa murid saja yang berlalu lalang dan rata-rata cowok, kalau cewek sih beberapa saja, menurut penglihatanku, sekitar empat orang saja.
"Hai, kamu!"
Guru memanggilku dan aku menghampirinya kemudian bersalim tangan. "Ada apa, Pak?"
"Kamu lihat Zidan? Dia lagi dihukum malah kabur."
"Ada di kelas saya, Pak. Saya harus pergi karena kehadirannya bersama koloni pengganggunya, sangat menyebalkan," jawabku dan mengeluarkan unek-unek yang berlebihan.
"Terima kasih, Nak. Kelasmu di mana?"
"12 Mipa 1, Pak."
Oke, Zidan akan dituntaskan hari ini, dalam wc tentunya.
Aku melanjutkan langkahku kembali, dan harus terhenti ketika mendengar sesuatu di balik dinding gudang sekolah.
Aku tidak tahu apa itu, tapi semacam desahan. Karena kepo yang akut, dengan pelan aku melangkah ke arah sumber suara lalu mengintip.
Astaga! Laki-laki dan perempuan sedang berciuman? Masalahnya, mereka gak nutup pintu, loh, mungkin mereka mau ngerasain yang namanya sensasi outdoor.
"Boleh?"
"He'em."
Tidak, tidak, tidak, aku menggigit jariku, sang pria membuka satu per satu kancing baju si cewek dan tereskporlah pakaian dalamnya.
Ini gak boleh terjadi, untuk mencegah perkembang biakan di belakang gudang, aku mengambil batu dan melemparnya ke dinding. Alhasil, mereka berhenti dan si cewek dengan cepat memasang kancing bajunya kembali, sedangkan yang laki-laki tadi, menggeram kesal. Aku ingin pergi, namun sayang, kayu dari meja yang patah menghalangi kakiku dan aku pun terjatuh.
"Aduh, sakitnya," gumamku, dan melihat tanganku yang berdarah karena tergores paku, cukup parah karena lukanya menganga.
"Jadi lo yang ngelempar?"
Aku membulatkan mata karena ketahuan, dengan pelan aku berbalik dan menatapnya.
Ganteng banget! Entah kenapa, setelah melihat rupanya tatapanku langsung mengarah ke name-tag-nya yang bernama Devan Erlangga.
"Melempar? Ngelempar apa, aku baru lewat di sini. Lihat, tanganku menganga karena tergores paku," ujarku menunjukkan luka.
"Hm?"
"Serius." Aku menatapnya, tak peduli dengan wajahku yang terlihat meringis, karena lukanya semakin sakit, dan aku baru sadar, hanya kami berdua yang ada di sini.
Tak disangka, dia menggendongku menuju UKS. Kalian tahu bukan apa selanjutnya yang akan terjadi? Kepalaku mendadak sakit dan keringat bercucuran di dahiku, pertanda gelap gulit sebentar lagi akan menyerang.
Author Point Of View.
Devan semakin panik ketika gadis yang digendongnya pingsan, yang dipikirkannya adalah, apakah dia kekurangan darah? Karena darah dari tangan Lia merembes ke bajunya, dan itu tidaklah sedikit.
Sampai di UKS, dia mengobati lengan Lia dan Devan sedikit meringis melihat luka yang menganga itu.
"Ck, gue gak tau urusan gini!" Devan menelepon temannya dan meminta tolong untuk dipanggilkan guru ke UKS, sekarang.
Tak lama, guru pun datang, bukannya mengobati malah mereka lebih panik dari Devan sebelumnya.
"Bu, jangan panik. Ini darahnya mengalir terus, bisa-bisa dia kekurangan darah."
"Gak papa darahnya yang kurang, Nak, asalkan cinta kamu ke dia yang gak kurang."
"Haish, gak jelas lah, Bu. Bisa mati dianya," pusing Devan, tanpa tahu apa-apa dia menutup luka Lia dengan kapas lalu dibaluti perban, tak lupa dengan obat merah yang diteteskan ke kapas sebelumnya.
"Tidak, lengannya harus dijahit kalau begini."
Azerlia menatap tangannya yang diperban, dirinya belum tahu jika lengannya telah dijahit oleh dokter, karena ... dia tersadar 45 menit setelah dokter tersebut pergi.
"Tangan lo habis dijahit, jangan gerak-gerak."
Devan, pria itu masih menemani Lia karena ingin bolos mapel matematika yang membosankan, tak hanya itu, tugasnya pun belum selesai dari seminggu yang lalu.
"Ngapain lo ke gudang?"
"Cari tempat yang sepi, soalnya gak suka keramaian, sering pingsan aku," jawabnya.
"Aneh."
Lia tak membalas, hingga mereka tenggelam dalam keheningan sampai seseorang masuk ke UKS dan dia adalah Zidan, pria itu habis membersihkan seluruh toilet sekolah.
"Widih, masuk UKS lagi, lo?"
"Hm."
Zidan melirik Devan, dia tidak mengenal siapa pria yang berada di samping Lia, dan Zidan waspada, siapa tahu pria itu akan menjadi pesaing untuk mendekati Lia.
"Geser, gue mau deket sama Lia!" ketus Zidan.
Devan tak bergeser, siapa dia sehingga berani menyuruhnya? Kenal pun tidak.
Kedua-duanya sama populer, tetapi tidak saling kenal karena keduanya sama-sama cuek pula terhadap kepopuleran tersebut.
Di luar UKS, banyak yang mengikuti Zidan, saat salah satu dari mereka mengintip di jendela, detik itu pula teriakan histeris terdengar.
"Kak Devan sama Kak Zidan ada di UKS! Demi apa?!"
Dalam sana, Lia meneguk ludah, ternyata kedua-duanya terkenal di sekolah, lantas dirinya mengusir mereka berdua agar pergi secepat mungkin.
"Pergi, aku gak mau pingsan lagi, kepalaku sudah sakit."
"Gak!" tolak mereka bersama.
Baiklah, kalau begini, dirinya yang pergi. Lia bangkit dari brankar dan melangkah keluar, meninggalkan dua orang yang hanya memerhatikan saja kemudian menyusul.
"Stop, lah. Jangan kek bocah, yang main kabur aja," ujar Devan berhasil menyajarkan diri dengan Lia.
"Jangan ikutin, nanti penggemar kamu pada marah, aku gak suka keramaian!"
"Lia, tunggu!"
Lia berhenti, kenapa dia tahu namanya? Seketika dia mengingat jika pria yang baru menyusulnya, memanggil namanya tadi.
"Ish, Zidan," gumam Lia.
Azerlia berada di antara dua pria famous, tak bisa dibayangkan betapa banyak yang patah hati dan iri kepadanya. Devan dan Zidan saling memandang dengan pandangan cuek namun menyiratkan peperangan tidak langsung.
"Dua-duanya kepincut sama aku, aduh ... betapa beruntungnya diriku yang polos ini. Satunya tengil, satunya lagi m***m," batin Azerlia.
Para wanita semakin mengerang batin kala Zidan dan Devan bertatap-tatapan, mereka terlihat cool memperebutkan gadis yang berada di antara keduanya.
Yang menonton, tidak semuanya membenci, ada pula yang mendukung bahwa Azerlia bisa menjadikan keduanya pacar.
"Azerlia, tahan. Kamu gak boleh pingsan sekarang, walau kepalamu sudah pening."
Sebelum terjatuh, Devan sigap menahan badan Azerlia dan mendekapnya pelan. "Hm, jangan banyak gerak, lo masih sakit. Biar gue anter ke UKS lagi."
Azerlia mengangguk, di UKS lebih baik karena sepi dan tenang, sementara Zidan, dia bercih lalu menyusul mereka.
"Gak boleh kalah gue!"
Zidan berjalan pelan dan meraih bahu Azerlia dan bertanya kepadanya, "Masih pusing, lo?"
"He'em, dikit."
Perlu kalian ketahui, Azerlia tidak sakit kepala, dia hanya berakting agar para siswi di sini berteriak lebih kencang lagi, sekaligus latihan untuk beradaptasi di khalayak sekolah.
"Eh, kepalaku gak sakit lagi. Mending ke kelas langsung, aku mau belajar soalnya, takut ada double tugas."
"Oke," balas Devan.
"Oke, oke. Gue lagi yang anterin, lo kan udah. Jangan egois bro, kali ini gua yang kuasain, ha ha ha."
Devan menatap sinis Zidan, kemudian memberikan Lia dan jatuh ke dekapan pria tersebut.
"Jaga!"
"Garangnya, kek anakonda lagi laper."