Asik-asiknya Zidan mengantar Lia menuju kelasnya, ia dihadang oleh penggemarnya sembari membawa kertas dan pulpen.
"Kak, Zidan. Ganteng banget sih, hari ini. Aku minta tanda tangan, boleh yah?"
"Ga-"
"Kasih aja, jangan sombong!" sambar Azerlia.
"Tapi, gue harus ngan-"
"Ada dia yang nganterin, aku."
Devan tersenyum dan mengambil alih Azerlia dan membanya dalam dekapan. "Nama gue Devan."
"Oke, Devan."
Devan meninggalkan Zidan yang diserbu para penggemarnya, ia yang melihat keadaan itu jelas memanfaatkan situasi dengan berteriak, "Zidan ngasih tanda tangan gratis!"
Penyerbuan semakin banyak dan membuat Zidan mengumpati Devan dalam batin.
"Bangke!"
Sampai di kelas, sebelum Devan pergi dia mengatakan hal ini kepada Lia, "Nanti, tunggu gue di depan gerbang atau kalau lo yang liat gue langsung samperin karena gue nungguin lo, ngerti?"
"Ngerti, emangnya kenapa, sih?"
"Gue yang enterin pulang, kalau lo ada jemputan telepon aja terus bilang 'aku mau diantar sama pacar' gampang, kan?"
Tanpa mendengar jawaban Azerlia, Devan pergi begitu saja, meninggalkan Lia yang mengembuskan napas. Sebelum masuk kelas, dia menyempatkan diri untuk menelepon ibunya agar tidak menjemput.
"Iyah, Bu. Dianter temen, mumpung irit bensin juga kan, Bu?"
"Iyah, Bu."
(★^O^★)
Pulang sekolah, sesuai perjanjian mereka, ternyata Lia yang menemukan Devan terlebih dahulu karena pria tersebut bolos pelajaran hari ini, dan itu full.
Devan memilih tempat yang agak jauh dari keramaian, yaitu ... pintu gerbang sebelah kanan. Sebelumnya ramai, tetapi dia memberi gombalan kepada cewek-cewek, jadinya mereka menurut untuk pergi karena suatu hal yang penting.
Penting untuk Devan, mengantar Lia pulang ke rumahnya.
"Nunggunya daritadi?"
"Nggak juga, pas sound system bunyi langsung ke sini gue."
Azerlia naik ke jok motor pria tersebut, sebelum mereka pergi Zidan menghalangi jalan. "Idih, yang nganterin lo siapa tadi?"
"Kamu," jawab Azerlia.
"Nah, karena gue yang nganterin, pulangnya juga sama gue," balas Zidan, dan Devan menolak tegas hal itu.
"Gak wajib, siapa yang duluan dia yang dapat!"
Devan nekat melajukan motornya, untung Zidan segera menghindar kemudian memaki cowok tersebut dengan sumpah serapah.
Perjalanan, Lia benar-benar menikmati semilir angin yang begitu menyejukkan dan Devan mengerti dia tidak harus membalap, karena gadis yang dia bonceng sangatlah unik.
"Gue mau nanya, kenapa lo sering pingsan?"
"Karena ramai."
"Lo ada phobia gitu?"
"Gak ada, cuman aneh aja kenapa bisa separah ini, Ibu udah bawa ke psikiater, hasilnya tetap sama seperti ini," jawab Azerlia, kemudian menyandarkan kepalanya karena mengantuk.
"Peluk aja, gue pelan-pelan, kok."
"Eum."
(★^O^★)
Selepas Devan mengantarnya pulang, Azerlia baru mengecek notifikasi ponselnya.
Berbagai macam sosial media, banyak yang menandainya dan membagikan sebuah postingan ketika dia diapit oleh Zidan dan Devan.
Lia fokus ke komentar, banyak yang menghujat banyak pula yang mendukung.
"Resiko bersama orang-orang populer memang begini, Lia. Bukan rahasia lagi."
Bip ... Bip ... Bip. Suara klakson motor, Lia membuka jendelanya dan melihat siapa pelakunya, ternyata Zidan.
"Jahat banget lo, gak mau bareng gue. Besok, inget! Harus sama gue, pergi-pulang, titik!" Zidan memaksa, Lia hanya mengangguk, kalau begitu dia beruntung karena ibunya tidak perlu repot lagi untuk mengantarnya ke sekolah.
"Lili, turun, Nak!" panggil ibu, padahal aku ingin mengganti pakaian sebentar, sudahlah, aku turun segera dan menghampiri ibu.
"Kenapa, Bu?"
"Barusan, Zidan anaknya Pak Tarno minta izin ke ibu buat nganterin kamu ke sekolah, sama pulang juga. Aduh, baik banget yah, Nak."
"Owalah, iyah, Bu. Alhamdulilah, ada yang antar-jemput Lili."
Lili, panggilan khusus terhadap Azerlia dari ibunya. Lia menyukai nama itu, dan hanya ibunya lah yang boleh memanggilnya dengan nama itu.
"Eh, tadi Zidan izin juga kalau dia mau belajar bareng sama kamu di rumah."
Zidan belum pulang ke rumahnya, dia ada di depan pintu rumah Lia sambil menguping pembicaraan ibu dengan anaknya.
Zidan terkikik, dalam sana ia yakin Lia pasti kesal karena memang dia sengaja sebagai bentuk pembalasan karena tidak pulang bersamanya tadi.
Puas dengan keberhasilannya, Zidan berteriak 'hore' dengan keras, agar Lia mendengarnya di sana.
Tepat sekali, hati Lia berkobar-kobar karena kesal dengan cowok itu, dia masuk kamarnya dengan mencak-mencak lalu mengganti pakaian.
Sorenya, Zidan mengetuk pintu rumah Lia, dia tertawa kecil dan tidak sabar melihat wajah kesal cewek itu. Saat pintu terbuka, Ibu Lia tersenyum menyapa, dan mempersilakannya masuk.
"Tunggu Lia, yah, Nak. Tante panggilin dulu."
"Iyah, Tan."
Tak lama kemudian, orang yang ditunggu telah datang, Zidan menunjukan kekehannya sembari memerlihatkan buku dan pulpen yang dipegangnya.
"Ajarin yah, pacar yang baik harus menolong pacarnya."
"Ish, aku bukan pacarmu!"
"Iyah, aku pacar yang gak diakui."
Lia mengembuskan napas, terpaksa dirinya mengajari Zidan matematika, untunglah otaknya sedikit encer pada pelajaran itu. Saat proses pengajaran, Lia tersenyum karena Zidan tidak bodoh dan mudah mengerti dengan materi yang ia sampaikan, soal-soal latihan pun benar dikerjakan, sempat membuat Lia curiga jika Zidan hanya pura-pura belajar padanya.
"Kenapa liatin gue?"
"Ish, gue cuman curiga kalau kamu pura-pura gak tau matematika, dan minta tolong ke aku buat modus doang," jawab Lia, dan itu benar sekali.
"He'em, memang itu tujuan gue, hahaha."
"Aish, kok mau modus sih?"
"Lo itu susah dideketin, gue tertarik sama lo karena alasan ini."
"Oh, aku gak susah dideketin, yang membuat orang berpikiran seperti itu karena aku tertutup terus gak suka yang ramai-ramai," balas Lia.
"Owalah, susah dong kalau gak suka ramai-ramai, nanti nikahnya gimana? Lo maunya yang sirih?"
Lia memukul kepala Zidan menggunakan buku, yang diujarkannya barusan sangatlah ngawur.
"Sakit!"
"Mau ditambah?"
"Kalau cium mau, kalau dipukul nggak!"
"Si tengil jadi m***m, sebelas dua belas sama Devan," balas Lia.
Zidan ber-wow, ternyata Devan m***m juga, dan itu membuatnya penasaran, dari mana Lia tahu kalau si pria kunyuk itu m***m? Zidan pun bertanya akan hal itu.
"Gak perlu tau, pas tepat waktu nanti kamu tau sendiri kok."
Zidan menggaruk kepalanya, dia penasaran dengan Lia, tak ingin pusing dia pun melanjut belajarnya, karena beberapa soal dia tidak tahu jawabannya.
Di pertengahan jawaban, sebuah telepon w******p masuk di ponsel Zidan, cowok itu melihatnya dan sebuah nomor asing yang tertera di sana, dia pun mengangkatnya.
Beberapa lama berbincang, Zidan pun tahu siapa suara itu, dia adalah Devan.
Di sisi lain, Devan menelepon Zidan, dia memberitahu cowok itu jika dia masuk di grup sekolah, dan dirinya pun juga bergabung.
Devan meminta nomor Lia, Zidan membalas dia tidak punya nomor cewek tersebut, membuat Devan kesal dan mengembuskan napas lalu mematikan teleponnya.
"Besok gue minta nomor teleponnya, hm."
Kembali ke Zidan, Lia bertanya kepada cowok itu, sama siapa dia berbicara? Zidan menjawab, Devan.
"Untuk apa?"
"Minta nomor lo," jawabnya.
"Oh, kenapa gak bilang?" Lia merogoh ponselnya di saku celana, kemudian melihat nomornya lalu menyatatnya di kertas.
"Nih, nomorku. Kamu simpan juga, siapa tahu ada yang mau kamu tanyain tentang soal-soal yang susah."
"Wuih, baik banget lo. Makasih, sayang."
"Ekhem, nanti Ibuku denger bisa ditarik kupingmu!"
"Iyah, iyah. Maaf."