"Tunggu, bukannya kamu udah dapetin nomorku, yah? Waktu masukin aku ke grup sekolah."
"Iyah, waktu itu dapet, nah karena ponsel gue kembali ke pengaturan awal semuanya dah kehapus, jadi gitu lah ... pas gue liat wa, lah, lo ternyata dah keluar padahal mau gue save lagi," jawab Zidan panjang lebar.
Lia mengangguk-angguk, kemudian menyimpan balik nomor Zidan, namun sebelum itu, dia mengirim test.
"Test apa tuh? Test cinta?"
"Ish, bukan, cuman test saja."
"Oh."
Kembali dengan jawaban yang masih setengah, Zidan melanjutkan dengan lancar tanpa halangan, dan tugasnya siap untuk dikumpul besok.
"Gue mau balik dulu."
"Eh, jangan, tehnya belum kamu minum."
Saking fokusnya ke tugas, dia sampai lupa jika ada teh dan cemilan di sampingnya, hal itu membuatnya cengengesan.
"Terima kasih, gue balik dulu. Kapan-kapan, gue mintol lagi lah tentang tugas, sampai jumpa sayang."
"Jangan panggil sayang, panggil nama saja!"
"Iyah, iyah."
Pulangnya Zidan, Ibu Lia pun masuk di kamar dan mengambil cemilan dan gelas di kamar anaknya, tetapi, langkahnya tertahan ketika melihat tangan Lia yang diperban.
"Tanganmu kenapa?"
"Kegores paku, Mah. Tadi sudah dijahit, kok."
"Astaga, Lia. Lukanya parah?"
Lia menganggu dan membuat sang ibu semakin panik, akan tetapi, Lia mengatakan bahwa lukanya tidak apa-apa.
"Percaya, Bu. Nanti sembuh kok."
"Jangan gerak-gerak, yah."
"Iyah, Bu."
Ke esokan harinya, mereka telah sampai di sekolah, Devan telah menunggu kedatangan mereka di parkiran, pria yang menunggu sedikit kesal melihat sama siapa Lia berangkat, ternyata dia bersama Zidan.
Devan menghampiri Lia langsung.
"Minta nomor wa."
"Eh, bukannya udah dikasih sama Zidan kemarin?"
Zidan mengumpat dalam hati, kenapa Devan harus ada? Ketahuan lah bohongnya kalau dia telah memberikan nomor ponselnya ke Devan.
"Lupa aku."
"Bilang aja kalau lo gak suka," sinis Devan.
"Emang gak suka!" balas Zidan nyolot.
Mereka hampir baku hantam di area parkiran jika Lia tidak melerai, keduanya saling melempar tatapan tidak suka dan cemburu.
"Begini saja."
Lia mengapit kedua tangan mereka dan menuju kelasnya, kalian tahu apa selanjutnya? Semua pandangan mata fokus ke Azerlia yang berada di tengah-tengah cowok tampan.
"Anjir, rezeki nomplok tuh. Langsung dua sekaligus diborong. Siapa sih dia?! Bikin iri!"
"Masa lo gak tahu sih, dia sudah viral di kalangan TIRTANIA, dasar kudet!"
"Hua, Zidanku!"
"Devan, aku mau DEVAN!"
Devan dan Zidan saling menatap, kali ini perasaan mereka terhubung dan curiga terhadap Lia yang akan jatuh pingsan. Lia berhenti, kedua cowok yang diapit semakin bersiap siaga untuk mendekapnya.
"Kenapa sih, kalian ngawasin banget?"
Zidan dan Devan lega, mereka kira Lia berhenti karena kepalanya pusing, ternyata tidak dan masih aman-aman saja.
"Kirain mau jatuh."
"Iyah, dia mau jatuh. Jatuh ke pelukan gue," balas Zidan.
"Jancuk!"
Lia melepaskan apitannya, kelasnya sudah berada di depan mata. Langkahnya saja menimbulkan keirian pada kaum hawa karena mampu menyita perhatian kedua idola sekolah.
Masuknya Lia di kelas, dirinya langsung di bawa di pojok kelas dan diintrogasi oleh teman-teman ceweknya.
"Astaga, Lia. Cara ngedeketin dua ganteng itu gimana, sih?"
"Apa teknik yang lo pakai biar memikat hati para jiwa-jiwa yang tampan?"
"Elemen santet terdiri atas empat: api, air, tanah, dan udara. Elemen mana yang kau sampaikan kepada mereka? Sehingga terpincut di sela-sela kedakianmu?"
Lia menutup telinganya dan keluar dari lingkaran interogasi tersebut dan berkata, "Aku gak pakai apa-apa, mereka aja yang ngedeketin."
Berbagai pasang mata berkerut, mereka belum percaya, namun, mata Lia menyuratkan kejujuran yang tulus.
"Oke, lo lulus hari ini. Selamat yah, semoga langgeng di antara keduanya."
"Di antara? Kalau bisa dua-duanya, kenapa gak kuembat semuanya? Ha ha ha."
Karena kejahilan Lia, membuat temannya refleks menyenggol dirinya dan mengenai tangannya yang sakit.
"Astaga, berdarah! Maaf, Lia. Gue gak sengaja!"
Lia menatap tangannya cemas, dan teman-temannya tertawa seketika, mereka menjahilinya.
"Ish."
"Siapa suruh jahil juga?"
"Iyah, impas, deh."
Lia kembali ke tempatnya dan menyandarkan kepala di atas meja, memikirkan bahwa hari-harinya sedikit berubah dengan kehadiran Devan dan Zidan.
Seperti hari-hari biasanya, bahwa Meli sering diantar para lelaki tampan sampai di kelas, bahkan mereka rela masuk untuk memastikan Meli benar-benar duduk di tempatnya.
"Selamat pagi, Lia."
Lia menengok dan membalas sapaan Meli. "Pagi juga."
"Pagi-pagi kok, gak semangat. Senyum gih."
"He'em." Lia pun tersenyum kecil.
Laki-laki yang mengantar Meli sempat tertegun ke wajah Lia yang tersenyum tipis. Sedikit cuman itu meracuni pikiran mereka sehingga tertarik untuk mendekati Lia.
"Eh, Meli. Itu siapa?" sahut salah satu dari pria yang mengantarnya ke kelas.
"Oh, dia temanku, namanya Azerlia."
"Hai, Lia."
Lia gugup seketika, dia menahan diri untuk tidak berkeringat dan berusaha untuk tenang, dia meraih tangan yang terulur itu dan membalas sapaannya. "Hai."
Lia sangat kaku, untuk bersapa dengan orang lain, selain Devan dan Zidan.
Meli yang peka langsung menyuruh mereka pergi karena sebentar lagi guru akan masuk, terdengar helaan kecewa dari mereka, namun, harus karena benar, sebentar lagi sound sistem akan memperingatkan.
Perginya mereka, berterima kasihlah Azerlia pada Meli.
"Oke, aku mengerti, kok."
Mapel pertama adalah Bahasa Indonesia, dan mereka harus presentasi pagi ini, sayangnya tak ada LCD, dan Pak Guru memerintahkan salah satu dari mereka untuk mengambil LCD di kelas 12 Mipa 3.
"Karena tidak ada yang merelakan diri, maka saya akan menunjuk salah satu dari kalian."
Guru pun meneliti wajah muridnya satu per satu, dan dia tersenyum fokus pada seseorang yang begitu pendiam, dan jarang berkomunikasi di kelas.
"Azerlia, silakan ambil LCD di kelas 12 Mipa 3, dengan amat saya meminta tolong kepada kamu," pinta Pak Jaya, memasang senyum tipisnya.
"Ba-baik, Pak."
Lia pun keluar dan menuju kelas yang dimaksud, dia meneliti papan-papan kelas dan akhirnya ketemu.
Lia mengetuk pintu lalu mengucapkan salam, ketika guru telah memersilakan, dia pun masuk dan meminta LCD.
"Silakan ambil, Nak."
"Terima kasih, Bu."
Lia menyalim tangan guru kemudian pergi, tetapi, baru selangkah sebuah suara menghentikannya.
"Hai, Lia. Kamu temen duduknya Meli, kan?"
Lia berbalik, dan yah ... pria yang tadi menyapanya saat masuk di kelas.
"He'em."
Tanpa basa-basi, Lia pergi begitu saja karena merasa gugup ditatap oleh banyak murid.
Akhirnya dia kembali ke kelas dengan keringat yang memeluh di dahinya. "Syukurlah, aku selamat," leganya.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama, Pak," balas Lia kemudian kembali ke tempatnya.
Saat duduk, Meli berbisik, "Kamu gak papa, kan?"
"Lumayan buruk, Mel. Aku hampir pingsan tadi, untung nggak, he he he."
"Untung banget, tetapi udah bagus loh karena udah ada kemajuan, latih lagi biar terbiasa," balas Meli.
"Eum," balasnya, dengan ragu.
Mapel Bahasa Indonesia telah selesai, LCD disimpan dalam lemari untuk mengamankan, biar kelas lain yang mengambilnya nanti untuk bahan presentasi, hanya saja ... setiap kelas wajib menginformasikan hal tersebut agar tidak disangka hilang oleh pihak sekolah.
"PPKN, aduh harus hafal pasal-pasal, nih. Lia, kamu dah hafal belum?" tanya Meli yang menghampirinya.
"Belum," jawab Lia.
"Kok santai gitu? Gak takut?"
"Takut sih, tapi, mau kuapain lagi? Kalau memang gak hafal aku kasih tahu saja sama Bapak: Pak, otakku gak bisa ngerangkum banyaknya pasal, hanya sekian saja yang bisa. Dan pertemuan selanjutnya, akan saya cicil," jelas Lia.
Meli berpikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan Lia. Otak jangan dipaksakan, karena segala hal yang dipaksakan, itu tidak baik. Sekian dan terima kasih.