7

1066 Words
"Diinformasikan bahwa Bapak Yandi tidak dapat masuk hari ini karena ada halangan, kerjakan tugas di buku paket pada halaman 376, dikumpul minggu depan," umum ketua kelas. Yang sibuk menghafal pasal secara mati-matian kesal dengan informasi tersebut, padahal mereka telah siap. Sedangkan Lia dan Meli kompak tersenyum. "Sudah kubilang, jangan dipusingkan, ha ha ha." "Hooh." Karena free class Meli memutuskan untuk ke kantin, mengajak Lia yang sudah pasti menolak. "Gak mau, kamu pergi aja. Di kantin ramai soalnya." "Ish, ayo dong. Tenang, ada aku." Walau ada Meli, Lia tetap tidak mau karena itu bukan jaminan. Dirinya sudah tahu adanya Meli di kantin akan mengundang para laki-laki untuk bergabung dan dia? Akan menjadi obat nyamuk di sana. Tiba-tiba .... . "Azerlia, sayangku!" Zidan, pria tersebut baru selesai menjalani hukumannya, mumpung dia izin di absen jadi dirinya memanfaatkan hal itu untuk bolos. Bukan hanya Zidan, Devan juga ada di belakang pria tersebut baru saja. "Hai, Lia. Ingin makan bersama di kantin?" ajak Devan dengan senyum khasnya. Lia tersenyum pula lalu membalas, "Nggak, aku gak bisa pergi kantin." Devan menghela napas, dia masuk dalam kelas membuat suasana menjadi ramai, terutama kepada penggemarnya di sini. Bagaimana dengan Zidan? Dia tidak ingin kalah, pria itu juga menyusul dan kini berada di samping Devan. "Sama gue aja, jamin gak ada yang ganggu, gak kayak dia yang m***m!" Devan melirik tak suka, disenggolnya Zidan dengan sengaja agar menjauh dan mendekati Lia kemudian berbisik, "Sama gue, kalau gak mau nanti kucium." "Eum, i-iya." "Bagus." Lia beranjak dari duduknya tepat itu pula tangannya digandeng oleh Devan lalu keluar dari kelas. Zidan berdecak, dia kalah selangkah oleh Devan kampret. "Tunggu!" Lia lupa bahwa ada Meli yang sakit hati karena telah menolak ajakannya sebelum mereka berdua datang. "Sekali cowok ganteng yang ajak, pasti mau. Ck, nyebelin lo!" Menuju kantin di antara dua pria yang amat terkenal membuat semua pandangan tertuju ke arahnya (yang lalu lalang saja). Lia menyuruh Zidan dan Devan agar cepat-cepat karena malu, kedua pria itu menurut, dengan cepat mereka pun sampai di sana. "Oh, jadi dia? B aja mukanya." "Sok ngedeketin Devan lagi." "Apalagi ada Zidan juga, pake apa sih dia? Mungkin ngejual tubuhnya secara gratis." Lia tidak lemah, kalimat pedas tak membuatnya tumbang, lagipula dia tidak seperti itu jadi tak perlu khawatir. "Mau makan apa, hm? Gue yang traktir." "Gue yang traktir!" sambar Zidan. Lagi-lagi, mereka berperang. "Gak usah traktiran segala, aku mau bayar sendiri saja." Mereka berdua lantas menahan pergerakan Lia, terutama Devan yang membawa gadis tersebut di atas pangkuannya sembari menatap dalam mata Lia. "Jangan gerak, bahaya. Nanti dia bangun, kamu mau tanggung jawab?" Devan bertanya, tidak peduli para wanita yang terpekik cemburu. Hanya beberapa kalimat yang ambigu sudah membuat mereka klepek-klepek, bagaimana kalau perlakuan? Melayang lah mereka. "Jangan racuni otak, Lia, b*****t!" "Santai aja, gue gak ngerusak!" balas Devan sengit. Lia tidak enak dengan posisi yang agak aneh ini, dia bergerak dan berusaha berdiri tetapi tangan Devan terus menahan dan juga mengancamnya untuk tetap duduk. "Jangan gerak, sayang. Dia hampir bangun, loh." "Lia, sini, duduk di pangkuan gue aja. Jamin gak gue mesumin kok, cuman main-main aja dikit, he he he." Lia tidak tahan, dia berdiri begitu saja dan mencari tempat lain. Bukan apanya, para siswa menatapnya penuh kesinisan dan ketidaksukaannya, dia menjadi gelisah saja membuat kepalanya pusing dengan dahi yang berkeringat pula. Devan dan Zidan saling menatap, dua-duanya pun sama-sama menghela napas lalu menghampiri Lia dan mengucapkan, "Maaf, gak lagi." Azerlia telah kenyang, begitupun dengan Devan dan Zidan, beranjaknya mereka dari kursi maka detik itu pula nasib buruk menghampiri, yang di mana, kepala sekolah tengah mengadakan pengawasan keliling dan sekarang berada di kantin, jadi ... yang dia lihat di tempat tersebut merupakan siswa yang bolos. "Anjir, biasanya ada pemberitahuan, kenapa tiba-tiba?" tanya Zidan. "Gak tau." "Sudah, pasrah saja." Keduanya menatap Lia langsung, dan keduanya saling memandang lagi dan tersenyum misterius. "Sayang, mari bermain!" Mereka kompak menarik Lia dan kabur dari tempat tersebut, satpam yang ditemani oleh kepala sekolah telah siap siaga dan menandai siapa murid yang berani itu. "Ish pelan-pelan, tanganku masih sakit," protes Lia. Tanpa disangka, dirinya digendong langsung oleh Devan dan berlari dengan cepat menuju tempat persembunyian, sementara Zidan, pria tersebut merelakan hal itu untuk sementara waktu karena tugasnya yang sekarang untuk mengalihkan Pak Satpam ke tempat yang lain, dan pikirannya tertuju di taman sekolah. Zidan terus dikejar hingga sampai di taman, dan jarak antara dirinya dan Pak Satpam terbilang jauh, ia pun menghampiri siswa yang tengah berpacaran. "Eh, bantuin gue boleh?" sembari ngos-ngosan. "Bantuin apa?" tanya cewek yang memandang Zidan suka. "Coba lo pergi ke sana, terus halau sebentar. Nanti, gue kasih sesuatu," balas Zidan dan mengeluarkan senyum mematikannya sebagai penakluk para wanita di TIRTANIA. "Eum, baik, Kak." Dalam hati, ingin sekali Zidan muntah di hadapannya, tetapi ia tahan, jika Lia yang melakukan hal tersebut maka lain lagi, dia yang akan klepek-klepek. "Heh, lo lupa kalau dia udah punya pacar?!" Zidan tak menyadari jika wanita yang ia suruh tengah berpacaran. "Eh, jangan marah dulu. Di sana ada sesuatu buat pacar lo. Nah, lo ke sana aja terus kasih tau yang sebenarnya kalau lo yang rencanain ini, romantisnya kek uwuw gitu, lah," balas Zidan yang pandai berakting dan berhasil meyakinkan pria di depannya. "Oke, terima kasih, bro." Pria itu menyusul pacarnya dengan riang gembira, sampainya di tujuan, dia bersama pacar saling memandang dan mengatakan, "Sebenarnya, aku yang suruh dia tadi buat kejutin kamu, hehehe. Tunggu, bentar lagi kejutannya ada." "Ih, serius?" Dia mengangguk tersenyum. Sang pacar pun memeluknya dengan erat, begitupun dia yang membalas, dan ini lah yang mereka tunggu. Duar. Pak Satpam sedang ngos-ngosan karena mengejar Zidan, dirinya langsung mendapat pemandangan yang tidak wajar di depannya. "Taman sekolah bukan tempat pacaran!" Zidan yang bersembunyi, menahan tawanya mati-matian, dia tinggal menunggu momentum yang tepat untuk kabur, dan inilah saatnya ketika orang yang berpacaran tadi merupakan tumbalnya. "Kalau otak gue udah cerdas, gini jadinya. Agak licik dan pandai memanfaatkan situasi, ha ha ha." Di sisi lain, Devan masih mencari tempat yang aman, dan dia mengingat di mana pertama kali bertemu dengan Lia, dirinya pun menuju tempat itu. Sampainya di sana, Lia bertanya-tanya, untuk apa Devan membawanya ke sini? Bukannya ini tempat Devan berbuat m***m? Seketika dia merasa was-was, bagaimana jika Devan melakukan hal yang sama padanya? "Lia, kok melamun? Kita udah sampai," tanya Devan, dan Lia masih sibuk dengan pikirannya. Devan tersenyum jahil, dia semakin mendekapkan diri Lia pada d**a bidangnya kemudian menurunkan kepalanya lalu. Cup. "Akkhh, Devan m***m!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD