8

1038 Words
Devan menutup mulut Lia menggunakan satu jarinya. "Hush, jangan ribut, nanti ketahuan Pak Satpam." Azerlia mengangguk, agak lama kemudian posisi mereka tetap seperti itu, dan jujur ... Devan sedikit pegal, tetapi melihat wajah Lia yang lucu dengan pipinya yang sedikit mengembang, membuatnya tidak masalah. Lia sendiri, sadar akan posisinya kemudian menurunkan diri, tak lupa mengucapkan terima kasih pada Devan. Ponsel Devan bergetar, Zidan meneleponnya, dia pun mengangkat dan berbicara dengan cowok tersebut yang menanyakan keberadaan mereka. "Di belakang gudang, hati-hati ke sini. Awas kalau ketahuan, gue sikat pala lo!" "Pala mana, njir? Gue punya dua kepala!" "k*****t lu, cepet sini!" "Oke, Bos Mesum." "Ck." Lia, dia menatap Devan malas, dalam benaknya kenapa seorang pria selalu berkata kasar? Dan menganggap perkataan itu biasa saja, padahal, tidak boleh dan tidak ada sopan santunnya sama sekali. "Lain kali, kalau ngomong gak usah yang kasar, bisa gak?" "Gak bisa." "Kenapa?" "Cuman lo yang gak bisa gue kasarin," jawab Devan. "Iddih, gak baper aku tuh." "Emangnya siapa yang ngebarin? Ngarep juga lo, ha ha ha." Lia sedikit tersentil, tetapi sesaat saja, dia pun ikut tertawa sampai kedatangan Zidan mengejutkan mereka. "Haish, dunia serasa berdua, njir!" "Dan sekarang bertiga," ucap Lia. Devan dan Zidan kompak tersenyum misterius, entah kenapa otak mereka mudah terhubung membuat Azerlia tidak mengerti karena otaknya tak sependapat dengan mereka. "Karena kita bertiga doang, bagus nih main di sini. Apalagi sepi, ha ha ha." Devan menatap malas Zidan yang otaknya jauh dari normal, walau dirinya pun sama. Tanpa basa-basi, Devan bertanya pada Azerlia, "Pilih salah satu dari kami, siapa yang lo suka?" Azerlia tersenyum, menatap mereka secara bergantian kemudian perlahan mundur lalu memerhatikan dari atas sampai bawah. "Dua-duanya ganteng, tinggi, berat badan sepertinya ideal. Cuman sifat saja yang berbeda, satunya m***m, satunya lagi tengil. Di antaranya, yang aku pilih siapa, yah?" Azerlia berpikir-pikir, sementara dua orang di hadapannya tengah menanti jawaban, "hm ... gak ada deh, dua-duanya m***m sih kalau aku simpulin, jadi bahaya," putus Lia, dirinya mengambil pilihan netral. Mereka berdua lantas mendesah kecewa, tak ada yang Azerlia pilih sebagai pendamping sementara (pacar). Suasana menjadi hening, dua orang tengah memerhatikan Azerlia yang menggigit kuku jarinya, membuat mereka gemas ingin menyubit pipi gadis tersebut, tak disangka keduanya memiliki niat yang sama, yaitu ... menggendong Azerlia dan membawanya ke kelas. "Eh, kok aku ditarik sih? Tanganku sakit!" Mereka melepas tangan Azerlia dan meminta maaf, saat Lia berbalik, Devan tersenyum miring dan melesat membawa gadis tersebut menuju kelasnya, tentu menggendong layaknya karung beras sembari berteriak penuh kemenangan. "Ha ha ha, kalah lo!" Zidan melongo, dia menendang tembok dan kakinya pun sakit, "Argh, gue bakal balas dendam, Van. Tunggu!" "Gue bakalan tunggu, yuhu! Tenang yah, Lia sayang, gue bakal main lembut." Zidan cemberut dibuatnya, dia pun berjalan menunduk dengan wajah yang meratap sedih. Dia selalu kalah dengan Devan, dalam hal kecepatan, entahlah ... itu membuatnya sedikit tak semangat, namun. "Semangat, Dan! Lo harus bisa ngalahin si k*****t itu." Prinsip yang digunakan oleh Zidan dan Devan termasuk sehat, bersaing tanpa melukai dan bermain dengan objektif. Karena bermain curang adalah seorang pencundang. "Devan, lepasin. Banyak orang yang lihat!" "Makanya diam, kalau lo semakin berontak yah ... jangan heran bakalan ramai yang liat." Lia menurut, gendongan karung beras berubah menjadi gendongan layaknya sepasang kekasih, Devan begitu romantis membawanya ke kelas, tak peduli banyaknya tatapan cemburu dari kaum hawa dan juga adam. Sampainya di tujuan, Devan lebih gila lagi karena membawanya masuk sampai di tempat duduknya, Lia semakin malu jadinya. "Ish, Devan. Gak usah berlebihan gini," bisik Lia. "Gak papa, biar mereka tau kalau lo punya gue." "Bukan!" sanggahnya. "Bukan punya orang lain, tapi punyanya Devan." Keras kepala, dan Lia mengalah saja. Dia pun turun dan duduk di kursinya. Bukannya pergi, Devan malah berada di samping gadis tersebut dan menatapnya begitu dalam. Di lain sisi, banyak yang memojok dan menggosip Lia, tetapi, bukan cerita miring namun bersifat dukungan kepada mereka. "Lo, di tim mana? Gue sih Lia-Devan." "Gue mah, Zidan-Lia. Lucu soalnya, kalau Devan-Lia, agak gimana yah? Dua-duanya sama-sama pendiem, gak seru ah." "Apanya yang gak seru? Devan tuh orangnya to the point terus romantis, peka juga, gak kayak Zidan yang notabennya play boy dan tengil." "Heh, jangan ngerendahin Baby Zidan gue dong." "Siapa yang ngerendahin? Fakta tau!" Gosip mereka berujung ke perdebatan yang panjang, para lelaki hanya menikmati pemandangan, tak sedikit pula yang memanas-manasi. Tak lama kemudian, kegaduhan tersebut berhenti ketika Zidan masuk dalam kelas. "Astaga, Baby Zidan!" pekik salah satu dari mereka. Zidan mengabaikan teriakan itu, dia fokus ke Devan yang mengambil kesempatan berada di dekat Lia. "Devan, jangan curang. Mari bertarung sehat, serahin Lia ke gue sekarang!" Devan yang mendengarnya, lantas berdiri dan menatap Zidan penuh tantangan. "Gak, enak aja. Dia milik gue!" "Milik gue lah!" Keadaan semakin memanas, kedua pria yang saling memandang tajam kini mendekat dan berancang-ancang untuk baku hantam, akan tetapi, banyak yang salah mengira, ternyata Zidan hanya menunjuk wajah Devan dan memberitahunya, "Tunggu, gue bakal rebut Lia di lain waktu. Hari ini lo bisa bebas dan gue biarin, karena pulang nanti .... ," tahan Zidan, membuat alis Devan naik sebelah, "pulang nanti, gue mau belajar bareng lagi kek kemarin, dan bisa romantis-romantisan, ha ha ha. Bagaimana? Uwuw lah gua," lanjut Zidan, berhasil memancing kekesalan dalam diri Devan. "Lia, bener kemarin lo belajar bareng sama dia?" Lia mengangguk, membuat Zidan semakin puas. Setelah itu, Devan pergi begitu saja, akan tetapi, dia menyuruh Lia untuk melihat isi pesannya. Shareloc, ntar gue ke rumah lo buat belajar bareng. Jangan nolak, nanti gue cium! Mau?! Lia cemberut, menatap Devan yang mengedipkan sebelah matanya. Sementara Zidan, pria tersebut menatap mereka curiga. Karena penasaran, direbutnya ponsel Lia dan membaca isi pesan tersebut. "Anjir, main ngancem-ngancem. Gak seru, lo!" "Hm, sampai jumpa," balas Devan dengan seringainya. Zidan heran sama cowok itu, Devan punya segala cara untuk mendekati Lia dan rata-rata berhasil, apa sih yang digunakan Devan? Apakah dia mempelajari semacam ilmu mantraguna? Yang dapat membuat Azerlia luluh dan patuh dengan cepat? Untuk mengupas hal ini, Zidan harus mengulik kehidupan Devan. "Lia sayangku, ingat! Pulang nanti bareng gue, kalau gak ... gue nangis di pintu gerbang sekolah. Bye, gue pergi dulu, jaga diri baik-baik." Banyak yang ketawa, sifat humoris Zidan yang membuat para kaum hawa luluh kepada dirinya, tapi, hanya Lia yang berhasil menarik perhatian cowok tersebut dengan mudah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD