9

1032 Words
Pengawasan terhadap Devan tidak jadi dilakukan oleh Zidan, karena dia malas melakukannya. Waktu pulang sekolah tiba, dia menunggu di parkiran dan sebelumnya telah memberitahu Lia. Menunggu beberapa menit hingga sekolah benar-benar sepi, barulah gadis tersebut muncul dengan wajah yang menengok ke arah kiri dan kanan. "Saking takutnya keramaian, yah. Kenapa sih dia gitu amat?" tanya Zidan geleng-geleng kepala. Lia pun sampai di hadapannya dengan tersenyum, tanpa disuruh dia naik ke jok motor dan berpegangan erat pada bahu Zidan. "Berangkat?" "Yaps, berangkat!" Sang lambe turah sekolah lagi-lagi menangkap pemandangan tersebut dan mengabadikannya di i********: khusus TIRTANIA dengan caption khiasan yang dibuat sealay mungkin. Waw, boncengan lagi nih? 749 like dan 157 komentar. Para siswa beramai-ramai membincangkan hal tersebut, bahkan yang famous-pun ikut serta dan mengatakan bahwa mereka memang serasi, serta yang lebih menarik lagi adalah: pertarungan antara tim Zidan-Lia dan Devan-Lia. Banyak yang menandai akun lambe_tirtania dengan postingan Devan menggendong Lia, dan itu kembali menjadi perbincangan yang hangat karena sang lambe menyikapi foto tersebut dan me-repost-nya juga. Di rumah, Lia telah berganti pakaian, dirinya pun makan siang bersama sang ibu, setelah itu sang ibu ingin pergi ke suatu tempat dan membuat Lia mengembuskan napas karena sendirian lagi di rumah, tetapi, itu tidak bertahan lama, mengingat Devan dan Zidan akan datang. Lia Van, aku udah shareloc, yah. Ke sini, mumpung sendiri di rumah, he he he. Devan Hm, ok. Tggu. Setelah itu, Lia beralih ke Zidan. Lia Dan, ke sini. Sendiri aku di rumah, sepi he he he. Zidan Oke, syg❤ Lia tak membalas, malas melihat Zidan yang begitu kunyuknya mengirim emot cinta itu. Tak lama, Zidan mengetuk pintu dan dibukakan oleh Lia kemudian merebahkan diri di sofa. "Wuhh, langsung dingin. Di luar panas banget, njir." "Tunggu, aku buatin minuman dulu." "Okke." Sambil menunggu Lia, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu di luar sana, dengan malas Zidan membuka pintu tersebut dan melihat manusia kampret yang tidak disukainya. "Selamat siang musuh, dan selamat datang di rumah calon istri saya," salam Zidan dengan tatapan sinis. "Jangan berharap, rumah ini adalah rumah mertua saya!" Zidan menuntut dan mempertanyakan kenapa Devan bisa ke sini dengan cepat? Dengan senyum khasnya, Devan menjawab bahwa Lia yang menyuruhnya langsung. Devan pun bertanya balik, dengan pertanyaan yang sama. "Gue juga dipanggil, kirain dipanggil mau buat keturunan gitu soalnya sepi dia bilang." "Semesum-mesumnya gue, gue gak pernah to the point, bego!" Devan memukul kepala Zidan. "Sakit anjir, kek gak tau aja lo seorang laki-laki jantan itu seperti apa." "Ck, jantan kok lembek." "Lembek? Lo mau adu keperkasaan?" "Asw, adu keperkasaan? Main pedang-pedangan? Ogah, mending gua sama Lia yang jelas masa depan kek gimana, gak kayak elu yang suram." "Sekate-katenya, lu. Jangan ngadi-ngadi!" "Halah." Lia pun kembali dengan cemilan dan minuman dinginnya, dia tahu bahwa Devan sebentar lagi datang, jadi dirinya memersiapkan tiga gelas langsung. "Panasnya mentari, mampu disurutkan dengan segarnya sirup, silakan dinikmati." "Cukup liat lo doang, emosi gua langsung surut, Lia." "Gombal mulu, dia minta kepastian kunyuk!" ucap Zidan. "Tenang, kepastian gue ada di atas ranjang." Devan membuka i********:-nya, banyak notifikasi tentang dirinya bersama Lia karena ditandai dari postingan lambe_tirtania. "Lia, lo punya ig?" "Ig? Punya." "Minta." Lia memberikan ponselnya, ketika benda tersebut berada di tangan Devan, Devan memotret dirinya kemudian memasangnya di instastory milik Lia dan menandai username-nya. "Terima kasih." Setelah itu, kalian sudah tahu apa yang dilakukan Devan, jika belum, pria tersebut tengah menambahkan cerita dari postingan Lia yang menandainya. Dengan ini, lambe_tirtania semakin heboh dengan postingan tersebut. Dengan emot menangis, sang lambe memosting story tersebut ke ig-nya, membuat i********: Lia diserbu oleh para murid, baik dari kalangan biasa, mau pun populer. "Devan, kok banyak yang nge-dm, sih?" Lia melihat satu per satu dari pesan seseorang kepanya, dan dia tidak tahu siapa mereka, yang jelasnya, isi pesan tersebut membuatnya sakit hati lantaran penggemar Devan tidak terima (sebagian besar) namun, sebagian besar pula banyak yang mendukung, sampai-sampai menyemangati Lia jika ada orang yang benci padanya. "Wajar, lo kan deket sama gue yang terkenal. Santai, sayang. Gak ada yang berani nyentuh, percaya." Zidan bercih, dia tak ingin kalah. Pria itu bersandar pada bahu Lia tiba-tiba dan memotret dirinya tengah tersenyum manja. "Kita lihat, siapa yang lebih heboh. Ha ha ha." lambe_tirtania menambahkan cerita. Waw, double kill, nih. Siapa yang tidak sakit hati? Instagram Lia kembali ramai, sampai-sampai gadis tersebut mengambil tindakan privasi akun. Azerlia menatap mereka dengan kesal. "Pokoknya, aku gak mau terkenal!" "Haish, sudah resikonya, beb," ucap Zidan. "Kalau begitu aku menjauh aja, kalian pulang sekarang!" usir Lia, dan keduanya terkejut serta menggeleng kepala kuat. "Gak!" "Kalau gak mau, aku nangis!" ancam Lia, keduanya saling memandang dan tidak peduli, malah, dua orang itu berbaring di lantai sembari mengangkat kaki dan menatap layar ponsel. "Ish, kenapa sih harus kenal sama mereka? Gak mau aku," kesal Lia. (★^O^★) Esoknya, Lia berangkat lebih pagi dari biasanya dan jelas diantar oleh ibunya karena dia tidak mau bersama Zidan. Ibunya sempat bertanya, apa mereka punya masalah? Lia menjawab iya, dan ibunya menghela napas dan mengantar Lia kemudian. Sampainya di sekolah, sesuai keinginan Lia yang sangat sepi, bahkan masih banyak kelas yang tertutup, atau hanya kelasnya saja yang baru dia buka. Dinyalakannya lampu kemudian meletakkan tas di atas meja lalu menyapu. Matahari semakin benderang, para siswa pun kian meramai di sekolah membuat Lia semakin khawatir jika dia diserbu oleh penggemar Devan dan Zidan. Satu per satu temannya pun datang dan menatap Lia, Lia yang ditatap menatap balik mereka dan bertanya, "Kenapa? Ada yang salah sama aku?" "Nggak, Lia. Cuman gak nyangka aja, kalau kamu lebih populer dari Meli sekarang." Deg. Ini yang paling dibenci oleh Lia, berurusan dengan kepopuleran Meli. Pernah kejadian ada yang lebih populer dari cewek tersebut, alhasil, dia dilabrak oleh Meli dan disuruh untuk klarifikasi bahwa dia di bawah kepopulerannya. Sampai-sampai, videonya tersebar luas karena diposting oleh lambe_tirtania yang notabennya telah memiliki pengikut yang lumayan banyak. "Populer dari Meli? Nggak juga kok, malah aku nggak mau populer, hanya karena berurusan sama Devan dan Zidan, aku sepopuler itu?" tanya Lia, dan Naila mengangguk. "Nggak mungkin, palingan aku populer sesaat, kok. Lagipula, kamu kan tau kalau aku gak suka keramaian sama di lihatin orang mulu, kan, kan?" "Benar juga, sih." Jawab Naila sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Huft, ribetnya dunia persosialmediaan." "Hahaha, yang sabar, yah." "He'em."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD