Kelas pun mulai ramai, dan pembahasan hanya itu-itu terus membuat Lia risih sendiri, terlebih kepada Meli yang selalu memerhatikannya.
"Ekhem, udah populer yah, Lia. Gimana rasanya?"
"Eum, gak bagus, Mel. Aku gak mau populer," jawab Lia.
"Kok, gak mau?"
"Ya gitu, gak suka diperhatiin aku, apalagi banyak orang dan ini tuh gak penting banget, cuman karena aku lagi deket sama Zidan dan Devan, mereka selebay itu? Konyol banget," jawab Lia lagi, mencurahkan isi hatinya kali ini.
Meli mengangguk-angguk, setelah mendapatkan jawabannya dia tersenyum puas dan memutuskan pembicaraan.
Istirahat telah tiba, Lia merasa ada yang kurang hari ini, tumben sekali Devan dan Zidan tak datang ke kelasnya, saat mencari tahu ke teman-temannya, mereka memberitahu bahwa dua orang itu kompak tidak hadir hari ini.
"Owh, pantes. Gak ngabarin juga," ucap Lia.
"Cie, yang lagi galau karena pangerannya gak dateng," goda Naila.
"Eh, nggak, kok. Malah beruntung hehehe, gak ada yang ngegangguin," balas Lia salah tingkah, dan Naila tersenyum tipis saja.
Perut Azerlia kosong dan dia merasa keroncongan. Lia memberanikan diri menuju kantin tanpa ditemani oleh siapa pun, ia hanya mengandalkan kepercayaan diri seperti yang dikatakan Zidan bahwa jangan malu karena rasa itulah yang membuatnya selalu tertekan.
Di perjalanan, dia menjadi tatapan para siswa, namun kali ini sangat mengintimidasi. Lia tidak tahu apa penyebabnya, biasanya memang ada, tetapi ... tidak sebanyak hari ini. Sampainya ia di kantin, suasana hening seketika, kemudian ramai kembali dengan bisikan miring tentangnya.
"Oh, jadi dia yang ngatain kita-kita lebay? Kecewa gue, padahal udah dukung penuh loh sama Baby Zidan, ish, jijik gue!"
"Ho'oh, gue juga sama. Jijik sekarang, ternyata sifatnya belagu banget! Mentang tenar karena pansos sama Devan dan Zidan."
Saat dia duduk, detik itu lah para siswa menyorakinya, "Huu, gak tau malu!"
Lia menunduk, tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya, kenapa ini? Kenapa semua membencinya tiba-tiba? Padahal, dia tidak pernah mengganggu siapa pun.
Dan kini tiba lah Meli memanfaatkan situasi dengan menghampiri Lia dan menggebrak mejanya. "Sok polos, lo inget kan waktu gue ngajak lo bicara di kelas tadi?" tanya Meli dan Lia mengangguk.
"Semuanya udah gue rekam terus sebarin ke sosial media, puas kan? Lo harus berterima kasih, karena gue udah buat lo gak terkenal lagi!"
Lia tak menyangka, Meli menyerangnya dari belakang, kenapa dia tega? Padahal dia telah menganggap Meli sebagai teman dekatnya, apalagi mereka sebangku hampir tiga tahun.
"Mel, kok kamu gitu, sih? Padahal aku curhat loh tadi. Terus, aku orangnya gak mudah kasih tau orang lain, apalagi akrab," tanya Lia, menuntut penjelasan.
"Lo nya aja yang bego, udah tau gue cewek famous di sini, dan siapa pun yang ngelampauin ke populeran gue .... ," Meli menahan ucapannya, "gue sikat, hahaha," lanjutnya, secara puas.
Lia tersenyum, oke, ini ujian pertama untuknya. Dia mengabaikan Meli yang tertawa, dirinya ke kantin bukan untuk sakit hati, tetapi untuk mengisi perutnya yang lapar.
Ia pun mengambil dua bungkus roti dan satu s**u kotak lalu membayarnya ke kasir, setelah itu, dia kembali ke kelas tanpa memedulikan hinaan orang-orang di sekelilingnya.
Dalam batin, Lia merasa miris. Permainan terkenal dan melabrak seseorang itu ternyata masih berlaku, yah, apalagi mengenai pembulian, ternyata masih merajalela rupanya.
Kasus seperti itu, jika hanya berlandaskan skorsing sebagai tingkat jera, sepertinya belum cukup untuk membuat mereka sadar, karena tingkat kepedulian dan ketakutan terhadap kasus seperti ini sangatlah rendah di zaman milenial sekarang.
Perasaan Lia tak sepenuhnya benar jika semua orang membencinya, bahkan masih banyak yang mendukungnya dan tahu bahwa Meli merupakan kambing hitam di antara permasalahan ini, cewek tersebut lupa bahwa pemikiran orang tak selamanya berlaku pada mereka juga, sayang sekali ... Meli lupa akan hal ini.
Sementara itu, Zidan dan Devan telah janjian bahwa mereka akan bolos beberapa jam pelajaran, mereka memilih untuk berkumpul di sebuah warung sembari menghisap beberapa puntung rokok dan bercanda bersama.
Suatu postingan menarik perhatian Devan, yang di mana Meli mempermalukan Lia di kantin, hal itu sontak membuatnya geram, sedangkan Zidan, bertanya kepada Devan bahwa apa yang terjadi?
"Gue emosi sekarang. Meli yang sok cantik itu, lagi berurusan sama Lia."
Tanpa basa-basi, Devan mengambil tasnya kemudian pergi, begitupun Zidan yang menyusul kemudian, namun sebelum itu, dia membayar semua jajanannya terlebih dahulu, sekalian jajan Devan juga.
Sampai di sekolah, dua laki-laki famous mencari keberadaan Meli untuk menanyakan video yang tersebar di sekolah.
Mereka menemukan Meli di taman, bersama teman-temannya sedang berfoto ria.
"Woi cabe, gak usah foto-foto, lo semua jelek!" hina Devan tiba-tiba berada di samping mereka.
Bisa kalian bayangkan? Betapa terkejutnya mereka yang dihampiri dengan kalimat yang tak enak? Auto emosi, ha ha ha.
"Pangerannya Lia, udah dateng nih. Cepet rekam, mumpung bisa dijadiin ajang pansos, hi hi hi."
"Haish, gila nih cewek. Hati-hati, ntar kena narsistik, lo," ucap Zidan, tetap pada ciri khasnya yang ceplas-ceplos.
"Males gue debat sama cewek yang selalu merasa benar, gi-"
"Memang lah, cewek selalu benar!" sambar Meli.
"Hm, makhluk yang selalu merasa benar walau salah, adalah iblis atau setan, jadi ... jika ada yang serupa maka mereka adalah makhluk yang sama," sahut Zidan dengan wajah polosnya.
"Tumben kita sependapat," tambah Devan.
"Buaya, pergi gak, lo? Gak usah ganggu!"
"Buaya? Jangan lupa kalau buaya itu ada yang betina juga. Langsung intinya saja, kalau gue liat lo ngeganggu Lia lagi, gini aja dah. Bosen hidup?" tanya Zidan.
Meli bercih, mengabaikan omongan mereka yang nyaring bunyinya saja.
"Awas, gue gak main-main kalau nyabut mata orang pakai pinset," peringat Zidan.
Devan menggelengkan kepalanya, kenapa temannya menjadi bodoh? Dia mau mengancam atau melawak? Devan mengambil alih dan menatap Meli dengan tatapan tajamnya.
"Ganggu Lia, atau popularitas lo anjlok karena sering main om-om buat dapetin duit yang banyak."
Skakmat, Meli membulatkan matanya, dari mana Devan tahu jika dia sering bersama om-om kaya?
"Lo!" tunjuk Meli pada Devan dengan geram.
"Haish, terkejut, kan? Gue kasih tau aja dah sama temen lo," ujar Devan, kemudian melanjutkan ucapannya kembali, "jangan liat orang dari luarnya, belum tentu pendapatan yang banyak, itu hasil yang memang betul-betul halal, siapa tahu dia cantik karena perawatan, tetapi duitnya hasil dari ngelonte, gimana? Malu kan? Makanya, cari temen jangan yang tinggi kastanya, barabe kalau punya aib besar bisa-bisa dikaitkan juga, lo. Bahaya, kan? Ha ha ha, gue gak punya waktu buat ngebacot lebih banyak lagi, soalnya gue mau nyamperin calon bini dulu, sampai jumpa!"
Zidan bertepuk tangan, baru kali ini dia melihat mulut Devan yang bagaikan emak-emak kost penagih uang kontrakan, yang ngomongnya pedas gak pakai mikir.
"Informasi yang menarik, ternyata lo simpenan om-om yah?" tanya Zidan bergidik ngeri, dan meninggalkan Meli yang malu setengah mati di hadapan teman-temannya.
Mereka tak tahu, bahwa Devan melakukan hal yang sama, namun, ini lebih parah lagi bahwa dirinya dan Zidan merekam kejadian, menggunakan kamera ponsel yang disembunyikan di balik jaket milik Zidan.
Sungguh, kekompakan yang luar biasa untuk membalaskan dendam.