11

1014 Words
Devan-Zidan, sekarang berada di kelas Lia, menemani gadis tersebut makan dengan dua bungkus roti, kemudian s**u kotak sebagai minumannya. "Maaf, yah. Gak bisa nemenin tadi, bolos bentar, he he he." Azerlia, mengabaikan dua pria di depannya, mulai saat ini dirinya tak ingin berurusan lagi dengan mereka, diamnya menandakan hal itu. "Kok diem sih?" tanya Zidan. "Gak papa." Di balik 'gak papa' pasti ada sesuatu, menurut Zidan, yah ... dan mereka sudah tahu apa penyebabnya, yaitu: masalah popularitas yang tidak disukai oleh Lia, tetapi, mau bagaimana lagi? Mereka terkenal dan Lia pun ikut serta akan hal ini karena telah bergabung dalam dunia mereka. "Ngambek?" Kali ini, Devan yang bertanya. "Nggak." Lia selesai dengan makannya, dia pun beranjak dan membuang sampah tersebut di luar. Zidan-Devan mengekori hingga Azerlia duduk di tempatnya, kembali. "Zidan, Devan. Aku mah udah capek, setiap hari di lihatin mulu sama seorang, kali ini gak mau lagi, apalagi di kantin tadi sakit banget rasanya, dibuli sama orang-orang," Lia menghela napas, "gak usah deket lagi, yah. Bukan gak mau temenan, tapi jaga jarak saja, aku gak nyaman soalnya," ungkapnya kemudian. Devan-Zidan tidak tahu bagaimana rasanya dibayangi oleh kebencian orang terhadap dirinya, apalagi secara terang-terangngan, bukan hanya itu, rasa takut pun menghantuinya sekarang, bahkan Lia berniat untuk tidak bersekolah sementara waktu, guna menenangkan diri di rumah. Devan, tersenyum tipis mendengar pungkasan Lia terhadap dirinya, jadi ... selama ini dia hanya pengganggu dan selalu membuat dia takut? Benar juga, Lia sangat tertutup, tidak cocok dengannya yang dikenal banyak orang, otomatis yang dekat maka akan disorot, baik melalui pandangan, media, dan berbagai lainnya, itu pun belum tentu baik sorotannya. "Maaf, lain kali gak ganggu lagi," putus Devan, kemudian pergi dari tempat tersebut. Zidan, dia berbeda dengan Devan, pria itu tidak akan pergi setelah membuat Lia sedih. Yang dibutuhkan gadisnya adalah hiburan, jangan menyerah hanya karena dia menyuruhmu pergi, sebenarnya tidak sepenuhnya itu yang diharapkan Lia, karena dengan perginya dirimu, semakin membuatnya sepi dan terluka. Itu terlihat dari sorot mata Lia yang memandang kepergian Devan. "Gak usah dipikirin Devan, tenang, dia suka sama lo, dia gak bakalan pergi dengan lama. Nanti, bakal balik, kok." "Eum." "Ingat, pulang sekolah gue jemput. Jangan lari lagi, oke?" Lia bimbang dengan dirinya, tadi dia menyuruh Devan dan Zidan pergi, memang Devan telah pergi, tetapi serasa ada yang menghilang, dan sekarang Zidan? Azerlia menggeleng, dia tidak mau. "Iyah." "Gue pergi dulu, yah. Sampai jumpa di gerbang nanti." Beberapa menit setelah kepergian Zidan, Meli baru tiba di kelas dengan mata yang sembab. Kesembapan matanya pertanda bahwa dia dilanda stress saat ini, semua teman-temannya perlahan menjauh karena mengetahui kedok aslinya bersama om-om bermobil dan berdompet tebal. "Semuanya tuh gara-gara, lo!" "Eh, kok aku?" "Semua temen gue, ngejauhin gue! Ini yang lo mau, kan?" Lia menggeleng, dia tidak tahu apa yang terjadi. "Sok polos lagi, lo. Tunggu, gue bakal balas ini semua." Meli mengambil tasnya kemudian pergi dari kelas, meninggalkan Lia yang semakin dibayangi oleh rasa bersalah. Dalam hati, ada niatan untuk meminta maaf, tapi bukan kepada Lia, tetapi pada Devan. "Devan, tunggu Lia, yah. Jangan pulang." Untuk pertama kalinya, Lia nekat untuk bolos dan menerobos rasa takutnya di keramaian, apalagi dirinya menjadi buah bibir di sekolah akhir-akhir ini. Keringat dingin membasahi dahinya, tatapan tidak suka menyorot padanya ketika menuju kelas Devan. Berulang kali Lia menelepon pria tersebut, tetapi tidak diangkat. Apakah Devan benar-benar menjauhinya sekarang? Jika iya, dia tak bisa menahan air matanya. "Kenapa sih? Aku sendiri yang nyuruh dia pergi, terus ... aku sendiri yang merasa hilang," gumam Lia. Sampai di kelas cowok itu, Lia mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam. "Eum, Devannya ada?" "Devan? Dia gak masuk hari ini," jawab cewek yang berkacamata. "Makasih, yah." "Iyah, sama-sama." Ke mana lagi Lia mencari Devan? Apakah dia harus keluar sekolah juga? Dan, itulah yang diniatkan Azerlia sekarang lalu menelepon Zidan untuk membantunya. Di tempat lain, Zidan mengangkat telepon Lia. Mereka berbincang dan Zidan menggoda cewek tersebut di tengah khawatirnya dia kepada Devan. "Zidan, jangan main-main." ( Lia ) "Siapa yang main-main, sih? Bilang dulu, aku sayang Zidan." ( Zidan ) "Gak mau!" ( Lia ) "Oke, gua juga gak mau kalau gitu, ha ha ha." ( Zidan ) "Iya, iyah. Aku ... sayang ... Zidan." ( Lia ) "Sayang kamu juga. Sekarang, pergi ke belakang gudang, gue di sini." Setelah itu, Lia memutuskan telepon di sana dan menuju tempat di mana Zidan berada. Sampainya di tempat tersebut, Lia melihat Zidan tengah merokok, dan di belakangnya ada Devan yang juga merokok. "Cie, jauhmu rinduku. Hihihi," goda Zidan kepada Lia. Lia yang baru tiba, menghela napas lega dan senyumnya kembali terukir menghampiri Devan yang sibuk menghisap rokoknya. "Devan." Devan tak menjawab. "Devan, jawab ih." "Devan, Lia minta maaf." Detik kemudian, sesugukan terdengar, Devan yang merokok berhenti sesaat kemudian berbalik menatap Lia yang menunduk. "Gitu doang langsung nangis?" tanya Devan. "He'eum." "Haish, gua diam karena ngerokok, emangnya ngisap rokok sambil bicara bisa? Lo mau gue keselek asap?" Lia menggeleng. "Gue gak bisa marah sama lo, cuman sedih aja ngebuat lo dibuli sama orang-orang karena gue," ungkap Devan santai. "Ish, ternyata gak peka. Jadi kamu ngebiarin gitu aja?" Devan mengangguk. Membuat Lia kesal jadinya dan berbalik menatap Zidan yang cengir sekarang. "Gak lucu, aku rela-relain loh bolos buat cari dia!" tunjuk Lia kepada Devan. "Rela-rela dicaci sama anak kelas lain, buat cari dia!" tunjuknya lagi. "Hm, kalau itu aku rela, tapi kalau dia pergi, gak rela, hua!" Lia menangis keras seketika, Devan-Zidan sontak menghampirinya dan menenangkan gadis tersebut, terutama Devan yang berkeringat sekarang karena cemas jika Lia benar-benar marah kepadanya. "Eh, jangan nangis. Gua cuman test lo doang." "Gak mau!" Melihat Lia yang semakin memberontak, membuat Devan langsung menariknya ke dalam dekapan dan berbisik, "Gue gak  pergi. Tenang, yah." Zidan, dia tertawa palsu. Melihat itu dia merasa selalu di bawah Devan dalam menenangkan Lia, kenapa dirinya tak bisa seperti Devan? Jika seperti ini, hati Lia memang untuk Devan, dan dia hanya penyajuk rasa dalam susah senangnya. "Ekhem, berasa dunia milik berdua yah? Btw, gue mau masuk kelas dulu, ada ulangan mendadak, njir. Bisa-bisa gak lulus, hahaha. Sampai jumpa." Zidan pergi begitu saja, meninggalkan dua orang yang sibuk dengan dunia mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD