12

1123 Words
"Udah tenang, hm?" Lia mengangguk, tak lupa ia meminta maaf kepada cowok tersebut karena menyuruhnya pergi. Devan hanya tertawa, dia tahu kepergiannya hanya menimbulkan rindu untuk Lia. "Balik kelas, gih." "Gak mau, aku takut soalnya sudah bolos," balas Lia. "Hm, dah mulai nakal," ucap Devan, menarik hidung Lia sampai membuatnya memerah. Lia melepaskan tangan Devan dan memukulnya pelan, hidungnya benar-benar sakit sekarang. "Ish." "Kok gemesin?" "Gak tau, hehehe." Devan mengedikkan bahu pula, kemudian mengantar Lia menuju kelasnya tak peduli jika guru akan memarahinya nanti. Sesuai perkiraan bahwa Lia dimarahi oleh guru, Devan dengan santai menjadikan dirinya tumbal karena mengajak Lia untuk bolos, dengan cara memaksa. Terjadi perdebatan, tetapi Devan mampu mengatasi hal itu karena Lia menolak tegas atas penumbalan dirinya. Devan pandai berbicara dan memanipulasi suatu kejadian sehingga orang bisa percaya dengan perkataannya. "Devan, saya tidak tahu lagi mau bilang apa, kamu seperti Zidan yang selalu buat onar! Untung kamu pintar. Sebagai bentuk hukuman, hari ini kamu full absen, begitupula dengan Lia yang menerima resiko yang sama." Lia mengangguk dan berterima kasih, membuat teman kelasnya heran, baru pertama kali dirinya seperti ini, ada apa dengan gadis tersebut? Devan pun sama, tetapi tidak berlangsung lama karena dia mulai sadar bahwa perubahan Lia mulai nampak dari hari ke hari. Lia mengambil tasnya kemudian menyalim tangan guru lalu mengucapkan salam, begitupun dengan Devan yang hanya menyalim saja. "Sekarang mau ke mana?" "Pulang aja, tapi aku mau nunggu Zidan dulu." Devan berdecak, menunggu Zidan yang masih ulangan, itu akan sangat lama karena 30 menit lagi jam pelajaran baru selesai. "Gini aja, gue yang antar sekarang. Gak usah pikirin Zidan yang lagi ulangan," ujar Devan, tapi Lia tetap menolak karena janji tetap janji, dan harus ditepati! Dia tidak ingin membuat Zidan kecewa. "Serius, mau nunggu?" Lia mengangguk. "Oke, kalau gitu, gue duluan aja, yah. Ada yang mesti gue urus. Sampai jumpa." "Eum." Azerlia menuju kelas Zidan sembari menunggu pria tersebut di bawah payung sekolah. Memang agak lama, dan akhirnya Zidan muncul juga. Waktu pulang masih lama, tetapi untuk Lia, Zidan rela untuk membolos, soalnya kapan lagi bisa berduaan dengan gadis tersebut tanpa adanya pengganggu? (Devan) Zidan memanfaatkan moment ini. "Langsung pulang?" "Yaps." "Okke, sayang." Mereka pun bolos dan keluar melalui pintu sekolah bagian belakang, tempatnya di samping taman yang merupakan tempat persembunyian khusus menuju area parkiran sekolah. "Kamu sering parkir di sini?" Zidan mengangguk. "Aku baru tau loh kalau ada parkiran di sini," beritahu Lia. "Orang-orang tertentu saja yang tau," balas Zidan. Saat Zidan mengantar Lia ke sekolah untuk pertama kalinya, detik itu pula dia selalu membawa dua helm, karena sekarang, dia ojeknya Lia. "Kuy, naik." Lia naik di jok motor Zidan kemudian berpegang erat pada kedua bahu cowok tersebut dan motor pun mulai melaju. Zidan dengan jahilnya menaik turunkan gas motonya agar Lia semakin merapat padanya dan membuat gadis tersebut memeluknya erat. "Jangan jahil, Zidan!" "Iyah, iyah, hahaha." Zidan tak langsung pulang, di jam sekolah seperti ini dia memanfaatkan suasana untuk semakin dekat dengan Lia, yaitu berkeliling. Bukan hanya itu, mereka menyinggahi tempat makanan, seperti cafe, warung, bahkan jajanan di jalan pun mereka singgahi. "Puas gak makannya?" "Puas banget, kenyang aku. Bisa-bisa gendut," jawab Lia. "Bagus kalau gendut, makin berisi." "Eum, tapi jangan terlalu berisi, gak enak dipandang," balasnya. "Enak kok, saking berisinya, pipi lo makin tembem, pengen gue gigit dah." "Jangan digigit." "Owalah, jangan gigit pipi, toh? Maunya gigit yang mana? Atau lo mau gue gigitin di ranjang?" Mode setan Zidan mulai berkelana dan Lia menyentil mulut pria tersebut agar jera. "Nakal lagi, deh." Azerlia telah sampai di rumahnya, sang ibu merasa ada yang berbeda dari Lia akhir-akhir ini, yaitu selalu tersenyum, beda dengan biasanya yang nampak murung dan gelisah. "Lia, senang yah, Nak, hari ini." "Iyah, Bu. Lia senang banget hari ini, tadi diajak jalan-jalan sama Zidan," balas Lia. Ibunya Lia nampak diam saja dan tersenyum, dirinya merasa bersyukur jika anaknya kembali ceria. Sebenarnya, ia tahu jika Lia seorang introver, hanya saja, sang ibu pura-pura tidak peduli agar anaknya tidak terlalu memikirkan tentang dirinya yang khawatir, karena itu bisa saja membuat beban Lia kian menumpuk. Sifat tertutup dari Lia bermula ketika sang ibu bercerai dengan sang ayah yang telah berselingkuh, Lia sangat membenci ayahnya dan tidak ingin bertemu dengannya, jika Lia melihat ayahnya beberada detik, saat itulah dia menjauh sambil menangis sesugukan. "Semoga, dia mampu berinteraksi dengan orang lain, dan sifat tertutupnya hilang di telan waktu." Untuk Lia sendiri, dirinya berada di kamar sedang bermain dengan ponselnya, dia melihat notifikasi di wa yang mana Meli mengirimnya sebuah pesan. Lia, maafin gue yang udah salah sama lo. Lia membalas: iya. Tak lama kemudian, Meli kembali mengirim pesan. Nanti malam ke rumah gue yah, tadi ada pr kelompok dari Bapak, dan gue baru tau sekarang, itu pun dikasih tau sama Naila. Ingat, datang atau nama lo gue hapus dari daftar kelompok! ( Meli ) Eh, jangan! Iya, iyah. Nanti aku datang, jamber? ( Lia ) Jam 8 aja, deh. ( Meli ) Lia mengembuskan napas, dia harus bisa ke sana atau nilai kelompoknya kosong sama sekali, yah harus! Lia meyakinkan diri. Malam tiba, Lia telah bersiap-siap untuk ke rumah Meli dan di antar oleh ibunya. Sampainya di sana, Lia takjub dengan rumah Meli yang begitu besar. Taman, kolam renang, garasi, bahkan ada lapangan bulu tangkisnya, yang menunjukan luasnya rumah Meli sekarang ini. "Hai, Dek. Cari siapa?" Lia terkejut, Satpam rumah Meli bertanya, dengan gugup dia menjawab, "Aku cari Meli, Pak." "Non Meli ada di dalam, mari saya antar." "Terima kasih, Pak." "Sama-sama." Lia pun masuk dalam rumah megah tersebut, di sana sudah ada Meli yang sedang menulis di atas meja, dan sepertinya baru dia yang datang. Lia pun menyapa Meli dan orang yang disapa menengok dan membalas sapa Lia. "Yang lain belum datang, tunggu bentah yah, gue mau ambilin minum dulu, sekalian sama cemilan, he he he." "Eum." Tak lama kemudian, Meli pun datang sesuai apa yang dibawanya. "Kuy, minum." Lia mengangguk dan menerima minuman tersebut dari Meli. Sirup  rasa jeruk, kesukaan Lia dan sirup tersebut selalu ia sediakan di rumah apalagi Lia seringkali membuatnya saat siang, entah karena panas atau alasan lain, dia tetap minum karena memang menyukainya. "Makasih, yah." 30 menit, teman kelompok yang dimaksud Meli belum datang dan tubuh Lia sekarang pun berkeringat, bukan berkeringat dingin yang disebabkan oleh ketakutannya, tetapi, ini lebih ke gerah, dan Lia merasa aneh pada dirinya. Meli yang menulis, tersenyum di balik kertas yang diangkatnya untuk menutupi wajahnya. Siang tadi, dia tidak tulus meminta maaf kepada gadis tersebut, karena dendamnya masih menyulut kepada Lia. Dan ia tidak terima, karena Lia, semua temannya perlahan menjauh. Gue bakalan buat, seperti apa yang gue lakuin setiap hari bersama om-om kaya, hahaha. Rasain lo, Lia! Lia merasakan panas searea tubuhnya, dia berkeringat. Meli yang melihat hal tersebut langsung mengirimkan pesan kepada satpam rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD