Tak lama kemudian, satpam tersebut telah datang dan Meli mengodenya melalui lirikan mata untuk melihat Li yang sedang gelisah sekarang.
"Lia, lo kenapa?"
"Gak tau, badanku kok panas yah?"
"Eh, iya, kah? Perasaannya dingin, kok. Apalagi ini malam, loh."
"He,eum. Gak tau aku, kenapa yah?"
"Oke, tenang, yah. Aku anterin ke kamar dulu biar dingin, di sana ada pendingin ruangannya."
"Makasih, yah."
"Sama-sama, (karena gue bakalan buat lo hancur, sekarang)." batin Meli pada akhir kalimat.
Ketika Lia telah masuk, Satpam pun menyusul dan di luar pintu, Meli langsung mengunci mereka di kamar tersebut.
Meli tersenyum puas, dirinya kembali ke ruang tamu dan mulai melanjutkan tugas sekolahnya.
Dalam kamar sendiri, Lia heran dengan Meli yang lama, padahal dia bilang akan kembali sebentar lagi, sementara di sampingnya ada seorang satpam yang terus mendekat, membuatnya curiga pada laki-laki itu dan merasakan hawa yang bahaya.
"Jangan deket-deket!"
"Tidak, saya hanya mau bantu kamu, kok. Badan kamu panas, kan?"
Lia mengangguk.
"Nah, maka dari itu, biar saya hangatkan dulu, terus dinginkan lagi nantinya. Kamu diam saja, jangan berontak oke? Karena prosesnya lama."
Entah kenapa, Lia tidak percaya dengan satpam tersebut. Lia semakin bergeser ketika sang satpam mendekatkan diri, bahkan dirinya terkejut ketika tangan pria itu menyentuh lengannya, dan ia menepisnya dengan kasar.
"Jangan!"
"Kamu mau dingin, gak?" tanya satpam tersebut, masih menahan diri.
"Mau, tapi nggak begini caranya! Jangan-jangan, kamu bohong, yah?!"
Benar-benar polos, itulah yang disimpulkan oleh sang satpam, sedikit ketidakrelaan untuk melakukannya, namun, dia membutuhkan uang untuk persalinan istrinya yang sudah dekat, jika tidak ... istrinya akan melahirkan sendiri, dan dia tidak mau.
"Maaf, tetapi saya terpaksa melakukan ini!"
Lia menangis sejadi-jadinya, apa yang dia jaga, telah terenggut semuanya. Dan ia pasti mengecewakan ibu, dan teman-temannya juga, terutama kepada Devan-Zidan.
Bagaimana jika mereka tahu ini? Apakah dia punya rupa untuk bertatap?
Dan ... Lia merasa bodoh karena percaya dengan ajakan Meli yang menyesatkannya. Setelah melakukan hal b***t tersebut, sang satpam mengakui kesalahannya dan mengatakan alasan mengapa ia melakukan hal tersebut.
Lia berteriak kencang, dan sang satpam semakin bersalah.
"Ish, tapi kenapa aku yang jadi korbannya?!"
"Ma-maaf, saya harus melakukannya untuk mendapatkan rupiah."
Gila, pemikiran macam apa itu? Dia hanya memikirkan nasibnya saja, dan lupa dengan perasaan orang lain, memangnya uang bisa mengembalikan apa yang dia jaga?!
Lia sudah tidak malu, dia memungut pakaiannya yang sudah robek pada bagian lengan dan mengetuk pintu berulang kali, serta berteriak memanggil Meli.
"Buka pintunya! Kenapa bukan kamu yang main sama dia?! Kenapa aku?!"
Di luar sana, Meli tersenyum puas. Ditutupnya buku tugas kemudian menuju kamar dan membuka pintu lalu melihat wajah Lia yang menunjukkan tatapan hancur.
"Dendam gue udah terbalas!"
Semuanya karena dendam, dan Lia tidak menyangka, padahal dia tidak tahu pasti apa dendam sebenarnya dari Meli.
Dan yang menjadi pertanyaan, ke mana orang tua Meli? Kenapa mereka tidak ada? Jawabannya adalah: orang tua Meli tengah berlibur di luar negara.
"Gimana mainnya? Puas kan? Gue yakin, goyangan satpam gue buat lo keenakan."
Tanpa membalas perkataan Meli, Lia pergi dari rumah tersebut dengan keadaan sehancur-hancurnya.
Azerlia pulang dalam keadaan buruk, di perjalanan tadi dirinya terus meringis kesakitan dengan jalan yang tertatih-tatih.
Kini dirinya berada di depan pintu rumah, untunglah ponselnya tidak ketinggalan di sana.
Azerlia menelepon ibunya dan mengatakan dia telah pulang, saat pintu terbuka sang ibu melihat Lia dengan kondisi yang kacau.
"Lia, kamu kenapa, Nak?"
Lia jatuh dalam pelukan ibunya, dan menangis sejadi-jadinya.
Sang ibu memilih masuk terlebih dahulu, takut jika tetangga terusik karena sekarang sudah pukul setengah 10.
"Nak, jelasin! Kenapa baju kamu robek? Terus, pipi kamu juga lebam," khawatir sang ibu.
Azerlia, dirinya mengatakan semuanya, bahwa dia diperkosa di rumah temannya. Sang ibu tidak percaya kenapa anaknya di perkosa? Dan siapa yang melakukannya? Lia menjelaskan dari awal hingga akhir bahwa dia ditipu oleh Meli.
"Kita harus lapor ke polisi sekarang!"
Azerlia mengangguk.
Sang ibu langsung keluar dari rumah dan mengetuk pintu Pak Tarno untuk meminta tolong.
"Eh, Ibu Rifa. Kenapa, Bu?"
"Untung Pak Tarno belum tidur, saya ingin minta tolong Pak, tolong ... saya ingin melapor ke polisi!"
"Tenang, Bu. Kita bicarakan di dalam dulu."
"Pak, tidak ada waktu, Pak. Anak saya diperkosa!" tangis Ibu Rifa pecah seketika, dirinya tak mampu menopang tubuhnya lagi, Pak Tarno tak kalah terkejut, siapa yang memperksoa Lia?
"Baik, Bu. Tunggu saya sebentar."
Pak Tarno langsung masuk dalam kamarnya dan mengambil kunci mobil, sementara Zidan yang ada di kamar terpaksa keluar karena mendengar kepanikan ayahnya yang mencari kunci mobil.
"Zidan, kunci mobil di mana?!"
"Gak tau, Pak."
"Bantu cari!"
Zidan berdecak, dirinya kemudian mencari kunci mobil tersebut, saat menuju ruang tamu dia melihat ibunya Lia sedang menangis.
"Tante, kenapa nangis?"
"Lia, Nak. Dia diperkosa di rumah temannya."
Zidan membulatkan mata, Lia diperkosa? Dia tidak percaya, namun ... melihat betapa histerisnya Tante Rifa membuatnya percaya, tanpa bertanya, dirinya langsung ke rumah Lia dan mengabaikan teriakan sang ayah yang memerintah.
Lia, gadis tersebut memukul dadanya yang sesak, apa lagi yang bisa ia jaga? Kesuciannya direnggut oleh orang lain, bahkan yang tidak dia kenal orangnya.
"Lia!"
Lia menengok, Zidan berada di sampingnya sekarang, refleks dirinya menjauh dan menutup wajahnya karena malu, Zidan pasti sudah tahu akan hal ini.
"Zidan, pergi! Kamu pasti malu punya temen kek aku, kan? Kamu pasti gak mau temenan sama aku, hiks."
"Sekarang jujur, siapa yang ngelakuin ini sama, lo?!"
"Satpam rumahnya Meli."
Zidan menggertakkan giginya, Meli benar-benar keterlaluan sekarang, dia sudah gila! Sebenarnya, apa yang ada di pikiran cewek itu? Cukup dia saja yang jadi wanita penghibur, jangan sangkut pautkan Lia dalam pekerjaannya setiap hari.
"Tenang, gue gak bakal ngejauhin lo."
Lia tak percaya, bahkan ia tertawa karena mengira Zidan berbohong. Lia merasa bahwa dirinya bukan gadis kecil lagi, tetapi seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.
"He he he, Zidan bohong. Zidan cuman mau buat aku seneng, kan? Sekarang pergi! Pergi, Zidan. Aku udah ngelakuin itu, ha ha ha!"
"Bukan lo yang ngelakuin itu, Lia! Tapi lo yang diperkosa!"
Tanpa lama-lama lagi, Zidan menggendong Lia tak peduli jika dia meringis kesakitan atau pun memberontak dalam dekapannya, sekarang tujuannya hanya satu untuk saat ini, yaitu: melaporkan Meli pada pihak yang berwajib.