Sepulangnya dari sekolah, Zidan berniat menonton rekamannya sewaktu di sekolah tadi.
"Hm, kira-kira siapa yang main asoy-asoy di belakang gudang? Gak ada tempat apa? Ha ha ha."
Zidan memutar rekaman tersebut, yang di lihatnya pertama kali adalah gambar yang tidak jelas, maklum karena Zidan merekamnya secara amatir. Lama kelamaan layarnya telah fokus ke objek indehoian.
"Eh, gue gak salah lihat kan? Bukannya dia? .... ."
Zidan memerhatikan wajah pria tersebut yang ternyata Devan sendiri. Zidan mengetatkan rahangnya, Devan bermain sama cewek lain? Bahkan sampai melakukan hal menjijikkan itu.
"Cih, ternyata Devan gak serius sama Lia! Tunggu lo, bangsat."
Di sisi lain, Devan datang ke rumah Lia membawa sebuket bunga dan beberapa cemilan di atasnya. Devan terkikik sendiri, dirinya seperti membawa bunga untuk wisudawan.
Devan mengetuk pintu terlebih dahulu, beberapa saat kemudian, Kia muncul dan mempersilakannya masuk.
"Lianya ada di atas, tunggu Tante panggilin yah, Nak."
"Iyah, Tante."
Di kamar, sang ibu memberitahu kedatangan Devan. Lia tersenyum dan segera turun untuk menyambut kedatangan pacarnya.
"Devan."
Lia menghampiri Devan, sementara pria itu mengeluarkan bunga dan cemilan tadi untuknya. "Maaf yah, cuman ini, jadinya gak romantis," ucap Devan, menggaruk kepalanya.
"Eh, makasih. Ini bagus banget."
"Huft, baguslah," lega Devan.
Mereka berbincang-bincang mengenai sekolah, terutama pada Devan yang ditanya oleh Lia, apakah dia membolos pelajaran atau tidak? Devan tersenyum tipis dan menjawab bahwa dia bolos lagi.
"Berapa lama?"
"Hm, lama banget malahan."
"Ish, ngapain aja?" tanya Lia, tak suka dengan kebiasaan Devan yang satu ini.
"Biasa, di belakang gudang, sayang."
Devan mengira bahwa Lia berpikir bahwa dirinya sedang merokok di sana, tetapi tidak, Lia sedikit takut jika Devan melakukan hal yang sama ketika dirinya melihat cowok tersebut untuk pertama kalinya.
"Kamu ngapain di belakang gudang?"
"Biasa, ngerokok bareng Zidan."
Lia rasa, Devan berbohong padanya, dia semakin curiga apalagi gaya bicaranya yang sedikit berubah, tidak seperti biasanya yang irit bicara dan tidak suka basa-basi.
"Devan, kamu gak bohong, kan?"
Devan menaikkan alisnya sebelah. "Bohong? Ngapain? Tambahin dosa saja."
Lia mengembuskan napas, menyingkirkan segala pikiran buruknya. Devan yang melihat itu, mengerutkan kening lalu bertanya, "Kenapa gelisah gitu?"
"Eh, nggak, kok."
Devan mengangguk-angguk, beberapa saat mereka terdiam dan Lia ingin membuka suara tapi ponsel Devan berdering. Devan membuat Lia semakin curiga ketika pria tersebut menghindarinya saat menerima telepon, bukan hanya itu, Devan terlihat sibuk dan lama berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Di sisi lain, Zidan berada di rumahnya sembari melihat pemandangan Devan sedang menelepon dengan orang lain, dia mengawasi pria tersebut di balik jendela.
"Kesempatan yang bagus, dia sibuk nelepon dan gue harus ke rumah Lia sekarang," ujarnya.
Zidan keluar dan melesat menuju rumah Lia, tentu sebentar karena mereka tetangga yang sangat dekat. Berhasil masuk di rumah Lia, dirinya melihat Lia sedang memandang sebuah buket dengan bunga yang dihiasi cemilan di atasnya.
"Hei, Lia."
"Zidan?"
"Wah, apa tuh? Siapa yang kasih?"
Lia tersenyum senang, "Devan, he he he. Romantis kan dianya?"
Zidan terpaksa mengangguk, dalam pikirannya Devan hanya berpura-pura untuk romantis Lia, dia hanya menjadikanmu kekasih pajangan saja karena Zidan yakin bahwa Devan seorang playboy.
Zidan pun duduk di samping Lia, lalu bertanya, "Kalau gue nyuruh lo jauhin Devan, mau gak?"
"Ngejauhin Devan, yah? Gak bisa, Zidan. Aku kan sama dia pacaran, kenapa harus jauhin coba?"
Zidan sedikit sabar menghadapi sifat Lia yang masih kekanakan (polos).
"Nggak, misalnya tuh ... gue suruh lo ngejauhin Devan karena ada alasan yang gak bisa gue jelasin, intinya gak baiklah Devan itu," jelas Zidan.
"Nggak mau, kasih tau alasannya dulu!"
Zidan menggelengkan kepalanya juga mengembuskan napas, dia ingin memberitahu Lia, sangat ingin! Tetapi tidak karena mengingat kondisi cewek tersebut yang dalam keadaan trauma.
"Ngapain lo ke sini?!"
Zidan berbalik, kemudian membalas "Salah, kah? Ingat, lo masih pacaran sama dia, haknya belum sepenuhnya lo tanggung, jadi santai aja."
Devan menyeringai, menghampiri pacarnya dan mengusap rambutnya lembut. "Gue mau pergi dulu, ada urusan, penting ... banget," izinnya memohon, "please, nanti gue balik lagi, sa-sayang," lanjut Devan. Panggilan sayangnya, lebih dari cukup untuk meluluhkan hati Lia.
Sementara Zidan, ingin muntah mendengarnya dan geram kepada Devan yang pandai akting, di sudut lain, Zidan curiga padanya yang ingin pergi entah ke mana, mungkinkah Devan janjian lagi sama jalangnya?
"Pergi aja, biar gue yang jagain Lia di sini."
Devan menatap tajam Zidan dan memukul lengan pria tersebut keras. "Jangan grepe-grepe cewe gue, awas lo!"
"Iddih, grepe-grepe? Gue gak kayak lo yang suka main gituan, gue sayang sama orang bukan untuk ngerusakin, tapi ngejaga hingga gue sampai di pelaminan sama si dia," balas Zidan, melirik Lia pada akhir katanya.
Devan menatap malas pria tersebut kemudian keluar tanpa mendengar apakah Lia mengizinkan atau tidak.
"Njir, main pergi aja. Lia, lo biarin?"
"Nggak apa-apa, mungkin dia ada urusan yang penting," jawabnya dan Zidan mengangguk saja, tidak baik terlalu mengurus urusan orang lain, ingin berniat baik nanti disangka berniat buruk.
"Lia, pengen jalan-jalan? Biar lo gak bosen gitu di sini mulu, masalah Devan tenang aja, kalau dia marah tinggal gue cabut giginya pakai pinset," ajak Zidan.
"Hm, beneran?"
"Ohhoh, beneranlah. Kuy!" Zidan pergi begitu saja, mengganti bajunya di rumah kemudian kembali lagi ke rumah Lia.
"Siap?"
Lia tak mengganti pakaiannya, hanya berpenampilan biasa dan lebih natural, cukup membuat aura kecantikannya terpancar.
Mereka keluar bersama, dan masuk dalam mobil yang tentunya milik Zidan, tetapi sebelum itu ... tak lupa Zidan meminta izin kepada Tante Kia untuk mengantar anaknya.
"Mau ke mana, Lia sayang?"
"Ih, jangan panggil sayang ... aku udah ada yang punya, loh."
Zidan meringis, dirinya sampai lupa akan hal itu dan membuatnya tertawa keras, padahal di balik tawanya, yang ada hanyalah kelirihan hati atas mirisnya perjuangan yang sia-sia.
Zidan menancap gas mobilnya kemudian menuju tempat hiburan.
Hiburan anak-anak, bukan ... tetapi taman yang dihiasi oleh anak-anak bersama orang tuanya, Zidan percaya bahwa suasana di taman dapat menjernikah pikiran seseorang, dan itu terbukti adanya pada Azerlia yang mengalaminya langsung.
"Adek itu lucu banget, deh. Pengen cubit pipinya," ucap Azerlia gemas.
Azerlia memanggil anak kecil tersebut, sang anak hanya diam dan terus menatap, kecuali melihat senyum Zidan yang membuatnya tertarik dan malah menghampiri pria tersebut, bukan Azerlia.
"Widih, dia suka sama gue. Tandanya, gue cocok jadi Papa muda, ha ha ha."
"Ish, Papa muda, padahal gak ada Istrinya."
"Siapa bilang? Istri gue ada!"
"Siapa?"
"Yang duduk di samping gue, dialah orangnya. Cantik, agak pendek dikit, polos, lucu, pipinya tembem yang pengen gue gigit, terus .... ," gantung Zidan.
"Eum, terus?"
"Orangnya kuat, sering merasakan sakit namun tak berujung dendam, itu lah alasannya, gue suka sama lo dan pengen lo jadi Istri gue kelak."