17

1071 Words
Mendengar jawaban Zidan, membuat hatinya berpesta pora, degupannya kencang sekali dan Azerlia rasa dia mengalami kelainan pada jantungnya sendiri, berdekatan dengan Zidan saja mampu mengubah dirinya yang pendiam menjadi sosok yang terbuka, walaupun sedikit dan berjalan secara pelan-pelan. "Kok diem?" Azerlia menggeleng, dia menunduk untuk menutupi wajahnya yang memerah, sedikit ... dirinya melirik Zidan yang menggendong anak kecil menggemaskan tadi, dan di pandangan Lia, memang benar kata cowok tersebut, dia cocok menjadi papa muda dan auranya pun berkharisma sekali! "Gimana perasaan, lo?" "Syukurlah, baik, Dan. Makasih yah, entah kenapa pikiranku semakin positif sekarang, tadi pagi aja, aku ketawa lihat kamu ngomel-ngomelin motor, lucu tau. Aku aja, sampai lupa sama kejadian kemarin, he he he," jawab Lia. "Gue seneng, akhirnya tugas gue dah berakhir." "Hah? Maksudnya?" tanya Lia tidak mengerti, dan firasatnya pun kurang enak sekarang. "Lo udah bahagia, luka lo dikit-dikit udah gue tutupin, tinggal Devan aja yang nyempurnain, itu udah cukup buat lo lupain gue. Makasih udah buat gue sayang sama lo, Lia. Makasih, udah buat gue selalu ngelindungin, lo. Jujur, ini pertama kali, gue suka sama lo yang notabennya udah punya pacar. Sebelum gue dicap b******k sama Devan, gue mau senang-senang sama lo, bukan negatif yah, ha ha ha. Karena besok, gue udah jarang lagi tuh nemuin lo karena bisa-bisa Devan marah, ngeri jadinya." Zidan dapat lega, semua perasaannya telah dia ungkap pada Lia, kali ini, dia tak perlu memikirkan perasaannya lagi karena sudah jelas bahwa Lia bukan miliknya, tetapi milik Devan. "Zidan, jangan pergi yah. Walau aku udah pacaran sama Devan, bukan berarti kamu harus menghindar, please, kalau kamu pergi ... ada yang hilang, dan itu gak cukup buat aku bahagia sama Devan," balas Lia. "Kalau begitu lo egois, Lia. Lo gak mikirin perasaan gue sama Devan, gue cinta sama, lo. Jangan sampai ngebuat gue ngerebut lo dan jadi orang yang b******k! Gue gak suka," ujar Zidan, bahkan anak yang digendongnya tak sengaja ia lepas dan akhirnya terjatuh kemudian menangis kencang. "Buset, maap, Dek. Babang lagi baper ini, sampai lupa kalau lo gue gendong." Azerlia menahan tawanya, padahal dia ikut terbawa suasana tadi, namun Zidan seringkali membuat suasana tersebut hancur seketika dan menjadi sebuah hiburan. "Aduh, jangan nangis, Dek. Nih, gue kasih duit dah, pergi sana beli es krim." Anak yang menangis tadi langsung tersenyum, ia mengusap air matanya dengan baju kemudian meraih uang 20.000 rupiah dari Zidan. "Makasih, om." "Om? Gue bukan om-om, gue masih muda!" Anak kecil itu langsung kabur. Azerlia tertawa lepas dan Zidan salah fokus pada bahagianya cewek tersebut, dalam hatinya dia pun ikut senang kemudian menyalurkan tawanya juga. Mereka pun kembali, saat sampai di rumah Azerlia, di teras sudah ada Devan dan Ibu Kia yang sedang berbincang, mereka menengok ketika Lia dan Zidan akhirnya keluar dari mobil. Devan pun bertanya, "Dari mana?" "Dari jalan-jalan, Van." "Kenapa gak izin? Gue nunggu loh dari tadi," tanya Devan lagi, dengan wajah yang tidak senang, apalagi mengetahui pacarnya yang keluar bersama Zidan. "Lia, Lia, kamu udah punya pacar malah jalan sama cowok lain, gak baik, Nak. Hargai perasaan cowok kamu, kalau Devan gitu juga, kamu mau?" tanya Kia. "Nggak, Bu," jawab Lia, kemudian menatap Devan dan mengucapkan, "maaf, Devan jangan marah, yah." Devan tak membalas, dia lebih ke Zidan yang juga menatapnya datar. "b******k juga lo, ngebawa pacar gue seenaknya, udah tau polos, hahaha. Lo pengen cari masalah, hm?!" "Tenang, Van. Gua gak seberengsek yang lo kira, gue cuman ngajakin dia jalan. Lagian, dia juga bosen di rumah mulu, biasa lah, refreshing otak, seka-" "Alah, b*****t, lo!" Devan langsung pergi, namun langkah pria tersebut dihalang oleh Zidan yang menahannya kemudian menonjok wajah Devan. "Ngomong b*****t di depan orang tua? Walau gue yang lo katain jangan sampai tata krama lo gak berlaku di hadapan calon mertua gue!" Azerlia berada pada dua pilihan, ingin cemas namun tertawa juga, Zidan benar-benar berbeda, pria tersebut cenderung menutup emosinya dengan lawakan. "s**t!" Devan membalas pukulan Zidan dan terjadilah aksi baku hantam di tempat tersebut, mereka dilerai oleh Azerlia dan Ibunya, Kia. "Aduh, jangan berantem, Nak. Nanti Ibu digibahin sama tetangga!" larang Kia, sembari mengawasi para rumah tetangga yang masih aman. "Ck, dia pantes saya pukul, Tante. Masa gak ada sopan santunnya di depan orang tua," ujar Zidan yang masih kesal. "Udah-udah, gak papa, Nak. Ibu mengerti kalau Devan lagi emosi." Tanpa berbicara apa pun, Devan masuk dalam mobilnya dan melesat cepat. "Ish, Zidan. Kamu juga, ngapain main tonjok-tonjokan, sih? Malah luka kan jadinya, sebaiknya tuh ditegur baik-baik." "Haish, orang kek dia gak bisa ditegur, dia sengaja nutupin telinga. Emang pantes gue kasih bogeman, belum panci." Azerlia berdecak kesal dan menarik tangan pria tersebut masuk dalam rumahnya untuk mengobati lukanya. (★^O^★) Hari-hari selanjutnya, mental Lia semakin membaik dan cewek tersebut memulai kegiatan sekolahnya. Masuknya di kelas, Azerlia disambut oleh teman-temannya, dirinya tersenyum bahagia dan membalas mereka dengan pelukan (hanya cewek), para cowoknya ingin memeluk juga, tetapi, langsung di hadang oleh Naila dan menatap mereka tajam. "Buaya modus lagi ngumpul, tuh muka pengen dikasih bedak penghapus papan tulis?" "Canda, Nail. Lo mah kek gak tau aja." "Makanya, jangan canda-canda." "Iyah, iyah. Gorilla." Hadirnya Azerlia tak menutup kerinduan mereka pada Meli (maklum, belum tahu kejadian yang sebenarnya), Azerlia yang mendengar itu, tersenyum tipis, jika ditanya persoalan trauma? Tidak, dia tidak terjebak dalam lingkaran itu lagi, karena sekarang dia harus fokus pada bahagianya. Di sisi lain, Devan menuju kelas Azerlia. Pria tersebut tersenyum ketika melihat kekasihnya duduk dengan wajah yang cerah. Devan bersandar pada pintu kemudian berdehem, sontak, para cewek di kelas tersebut memekik kegirangan kemudian tersenyum iri kepada Azerlia yang notabennya pacar Devan. "Hai, sayang. Ketemu pacar, kamu?" tanya Naila tiba-tiba. Semuanya fokus ke Naila, detik kemudian, Naila tertawa bahak-bahak. "Aduh, ngakak banget gue. Kenapa serius amat, sih? Gue cuman bercanda kali, Devan itu temen gue, santai yah, Lia. Gue gak ngerebut kok, he he he." Lia tersenyum simpul, memaklumi candaan Naila. Devan, cowok itu menghampirinya dan memberikan roti dan sekotak s**u. "Nih, makan sama minum, yah. Jangan sampai perut lo keroncongan, terus gak mau ke kantin karena malu," ujar Devan, sebagai bentuk perhatian. "Uwuw banget, deh. Kapan gue diuwuwin? Tiap hari cuman liatin keuwuwan orang doang, please, ada yang senasib sama gue?" sahut salah satu teman Lia, kompak, satu kelas mengangkat tangan, kecuali Naila dan Lia. "Aduh, cari pacar gih, biar bisa diuwuwin, ha ha ha," ucap Naila. "Ups, gue salah ngomong keknya." Yah, semuanya menatap tak suka kepada cewek tersebut, dan detik kemudian kelas menjadi ramai oleh tawa mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD