6. Penebangan Pohon

1001 Words
[ Answer For You ] Apa aku merasa sedih ketika mereka menganggap bahwa teman HANTU-ku adalah sosok yang bahaya? Tentu saja IYA. * * * * * * * * * * Aku terbangun di pagi hari saat mendengarkan suara kicauan burung yang masuk melalui jenddela kamar. Sinar mentari pagi pun mulai menyeruak dan menghangatkan tubuhku. Aku langsung terbangun, duduk dan merasakan kepalaku yang terasa pening. "Akh!" pekikku. Aku memejamkan mata sesaat karena pasokan darah pada kepalaku sepertinya kalah cepat dengan posisi dudukku yang menyebabkan rasa sakit. Setelah merasa lebih baik, aku turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarku. Hari ini aku tidak terbangun di pagi hari seperti biasnya. Sebaliknya, aku justru bangun sedikit siang. Aku menoleh ke arah jam dinding kamarku dan waktu telah menunjukan pukul 7 pagi. "Sudah siang ya," gumamku. Aku keluar dari kamarku dan mencari Ibu yang sudah pasti berada di dapur. Di samping Ibu aku bisa melihat Teh Imas yang sedang membantunya membuatkan sarapan. "Bella sayang," sapa Ibu. Teh Imas pun menoleh saat mendengar Ibu yang memanggilku. Aku langsung mengambil duduk di atas kursi dan menunggu Ibu menyajikan nasi goreng yang telah ia buat. Aku tak menemukan Ayah, membuatku bertanya - tanya kemana perginya Ayah. "Ayah, kemana, Bu?" tanyaku. "Oh Ayah sedang ke rumah Pak RT," ajwab Ibu. "Pak RT itu apa?" tanyaku. "Semacam ketua kelas di rumah," jawabnya. Aku hanya menganggukan kepalaku dan mencernta kembali apa itu Pak RT. Teh Imas membantu Ibu mencuci pakaian dengan mesin cuci, sedangkan Ibu baru saja membuatkan nasi goreng untukku. Kami pun makan bersama. Selagi makan, aku bisa melihat sebuah piring yang masih utuh dan aku yakin itu untuk Ayah. Aku mendengar suara pintu depan yang terbuka, mataku membulat dan benar saja, Ayah muncul/ Namun kali ini ia tak datang dengan tangan kosong. Melainkan dengan sebuah mesin gergaji di tangannya. Ayah meletakkan mesin itu di depan gudang dan menghampiri kami yang sedang sarapan pagi. "Sudah izin?" tanya Ibu kepada Ayah. "Sudah, nanti jam 10an dimulai," ujar Ayah. Aku sudah menegrti arah pembicaraan mereka, pasti akan menebang pohon tempat tinggal Amanda. Seperti yang Ayah katakan kemarin, Ayah akan bertemu dengan para warga lainnya untuk menebang pohon itu. Ia meminta pak RT untuk mengumpulkan warga ke gedung serba guna dan membicarakan mengenai masalah ini. “Sebelumnya, maaf jika saya lancang, saya tau jika saya baru saja pindah kemari beberapa bulan yang lalu. Saya bermaksud ingin menyampaikan keinginan saya,” ujar Ayah membuka forum. “Kami dengar anak Bapak sering main ke pohon di timur. Apa anak Bapak baik-baik saja? Anak saya, main ke sana, pas pulang langsung panas badannya, Pak,” sahut salah satu ibu rumah tangga. “Iya, Bu. Anak saya adalah anak spesial. Dia punya kemampuan untuk berbincang dengan penghuni pohon,” jelas Ayah. “Kemarin, anak saya ditemukan di dalam hutannya. Kondisinya baik-baik saja. Tapi menurut ahli yang yang saya panggil, jika Bella terus menerus bermain dengan temannya, ia akan di bawa.” Para tetangga yang berkumpul tampak berbisik satu sama lain mendengar penjelasan dari Ayah tentangku. “Jadi, Bapak bermaksud untuk menebang pohon besar itu, Pak?” tanya Pak RT. “Benar, Pak,” jawab Ayahku. Di ujung jalan timur, terdapat hutan dan juga jurang yang belum terjamah oleh manusia. Bahkan para warga yang tinggal di sekitar hanya sesekali kesana, untuk mengambil bahan dari tanaman liar yang tumbuh. Suasananya cukup mencekam. Ketika kamu masuk ke dalam, akan terasa sangat gelap. Yang kamu rasakan hanyalah kelembapan udara diantara pohon. Pada gerbang hutan, terdapat dua buah pilar sebagai gerbang masuk ke hutan. Entah sejak kapan pilar itu berdiri disana. Tingginya sekitar 2 meter dengan bentuk tak beraturan dan menjulang tinggi ke atas. Aku dan Ibu termasuk orang yang beruntung, karena kami dapat keluar dari hutan itu dengan selamat. Sudah banyak warga yang terkadang penasaran ke dalam hutan itu dan akhirnya tidak kembali selama beberapa hari. Kebanyakan dari mereka, akan kembali dengan keadaan sakit dan demam yang tinggi. Para warga mendiskusikan mengenai penebangan pohon besar yang sempat aku tunjuk. Pohon itu cukup besar, mungkin itu adalah pohon terbesar di dalam sana. “Bapak yakin, ingin menebang pohon itu?” tanya salah satu warga. “Iya, Pak. Saya sudah yakin. Ini demi kebaikan anak saya.” “Pak, pohon yang bapak maksud adalah pohon sakral dan disana ada penghuni berupa genderuwo yang sangat hitam dan besar. Saya pernah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, Pak. Matanya merah menyala seakan-akan ingin menerkam saya,” jelas seorang pemuda yang hadir di forum itu. Ayah mengangguk mengerti, “Saya serahkan semua pada Tuhan. Jika Tuhan menghendaki, saya pasti bisa menebang pohon itu.” Akhirnya, mendengar keyakinan Ayah yang begitu kuat, para warga setuju untuk menebang pohon itu. Sedari dulu, mereka memang ingin menebang pohon menyeramkan itu. Namun, tak ada yang berani dan mereka terlalu percaya dengan cerita mistis yang beredar disana. Hari yang Ayah tunggu akhirnya tiba. Aku menangis sejadinya saat mengetahui bahwa pohon itu akan ditebang. Entah mengapa, perasaanku saat itu sedih dan juga kesal. Aku tak tau, apakah aku dapat bertemu lagi dengan Amanda atau tidak. Ayah beserta warga yang lain membawa kapak beserta gergaji mesin. Mereka berjalan beriringan memasuki hutan. Setelah tiba di depan pohon itu. Ayah menyematkan do'a agar usahanya berjalan dengan lancar. Tak lupa, Ayah meminta maaf dan izin pada sang penghuni pohon untuk menebangnya. Ayah dan warga yang lain kemudian memulai menebang pohon itu. Awalnya terasa sangat sulit, bahkan gergaji mesin yang berputar, tak kunjung melukai pohon besar itu. Ayah dan yang lainnya kembali berdo'a dan menebang pohon itu. Dan, akhirnya pohon itu berhasil ditembus oleh gergaji mesim dan tumbang beberapa saat kemudian. Aku melihat ke ujung jalan, tempat penebangan pohon itu. Aku merasa sedih karena mereka menghilangkan rumah Amanda. “Bella, ayo masuk,” panggil Ibu. Di dalam rumah, Bapak serba putih yang pernah datang ke rumahku waktu itu kembali berkunjung. Ia berbincang denganku dan meminta agar tidak bermain dengan sembarang orang. Aku mengangguk patuh. “Bella, kalau kamu punya teman baru, kenalkan ke Ibu terlebih dahulu ya,” pinta Ibu. “Iya, Bu,” jawabku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD