5. Aku-lah Si Anak Indigo

1005 Words
[ Answer For You ] Aku akan menjawab pertanyaan kalian, mengenai apa rasanya menjadi Indigo? Apakah menyenangkan atau tidak. Jawabannya adalah, TIDAK. * * * * * * * * * * Sudah hampir empat bulan sejak kejadian malam itu, aku tak pernah bertemu dengan Amanda. Bahkan, ketika aku berusaha keluar dari rumah untuk mengunjungi tempat Amanda berada, Ibuku akan melarangku sekuat tenaga bahkan tak peduli jika aku menangis tersedu-sedu. Aku memeluk kakiku seraya menatap layar televisi di hadapanku yang sama sekali tak menarik. “Bella,” panggil Ibu. Aku menolehkan kepalaku dengan malas. “Ibu akan pergi ke warung sebentar. Kamu jangan pergi kemana-mana ya.” Aku tidak menjawab ucapan Ibu dan memilih diam. Ibu berjalan mendekati pintu dan keluar dari rumah tanpa mengunci pintu seperti biasanya. Aku tersenyum sumringah menyadari bahwa aku tidak terkunci lagi sendirian di rumah. Saat ini rumah sangat sepi. Ayah sedang bekerja sedangkan Ibu pergi ke warung. Hanya aku sendiri yang tersisa disini. Aku berdiri dan berjalan menghampiri pintu kemudian membuka pintu itu. Aku meloloskan kepalak ke luar dan melihat keadaan sekitar. Aman. Aku keluar dari rumah dan berlari kecil. Aku berlari menuju tempat Amanda berada. Ya. Aku sangat ingin bermain dengannya. Selama ini aku sangat kesepian karena Amanda tak ada. Langkah kakiku perlahan melambat dan nafasku tersengal. Aku berhenti sejenak dan menatap ke depan. “Bella? Kamu disini!” pekik seseorang di belakangku─Amanda. Aku menolehkan kepalaku dan melihat wajahnya. Wajahnya nampak sangat pucat, tidak seperti biasanya. “Amanda, kamu sakit?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya. Aku pun mendekati badannya dan bermkasud menyentuh dahinya menggunakan punggung tanganku untuk mengecek suhu badannya. Badannya sangat dingin. Bahkan jika dibandingkan dengan piring anti karat, Amanda menjadi yang paling dingin. “Amanda, kamu dingin sekali.” Bibir pucat Amanda terukir ke atas dan memperlihatkan senyumannya. “Mau bermain ke rumahku?” tawar Amanda. Tanpa berpikir panjang, aku menganggukan kepalaku sebagai tanda aku menyetujui ajakannya. Amanda menggandeng tanganku dan berjalan ke depan. Aku melihat beberapa rumah dengan cat abu-abu di depan mataku. “Apa itu rumahmu?” tanyaku. Amanda menganggukan kepalanya, “Sebentar lagi kita sampai.” Aku dan Amanda berhenti pada sebuah rumah dengan warna serba putih. Rumah itu tampak tua dengan desain yang terlihat klasik. Aku mencium bau asa. Bau yang muncul ketika tanah terkena air hujan. “Mau masuk?” tanya Amanda. Belum sempat aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah Amanda. Tubuhku terasa terangkat oleh sebuah tangan kemudian mendekapku ke lehernya. “Ya ampun, Bella,” ujarnya. Ibu. Ini adalah Ibuku yang sedang menggendong tubuh kecilku. Aku menjauhkan kepalaku dari lehernya dan beralih menatap wajahnya. “Ibu disini? Ibu mau main ke rumah Amanda?” tanyaku bersemangat. Ibu tak menjawab pertanyaanku. Dia beralih mengusap rambutku dan berjalan mundur dari tempat Amanda. Sesaat, aku tersadar bahwa aku berada hampir di tengah hutan. Pohon-pohon besar menjulang tinggi di sekitarku. Aku ketakutan, kemudian aku memeluk leher Ibuku. “Bu, mana Amanda?” tanyaku lirih. Ibu tidak menjawab, Ia terus menggendongku dan berjalan keluar dari hutan ini. Kami tiba di rumah. Ibu langsung mendudukanku pada sebuah sofa yang terdapat di ruang tamu. Ibu menelfon Ayah dan memberitahukan kabarku yang pergi ke hutan dan berkata bahwa aku menceritakan Amanda lagi. Sesaat kemudian, aku mendengar suara mesin mobil yang terparkir di depan rumah. Aku melihat Ayahku datang melalui jendela. Ia tidak sendirian, ia bersama seseorang dengan pakaian serba putih. Aku tidak mengenalnya. Ayah masuk ke dalam rumah dan berbincang dengan orang itu, “Ini anak saya, Pak,” ujarnya. Pria dengan baju serba putih itu mendekatiku dan mengusap rambutku. “Hai, Bella,” sapanya. “Hai, Om,” jawabku. “Kamu kenal sama Amanda, dari kapan?” “Dari sejak pindah ke rumah ini, Om. Dia masuk ke kamarku dan mengajaku bermain ayunan,” jawabku. Aku seneng ketika ada seseorang yang menanyakan tentang Amanda. Artinya, ada yang percaya bahwa Amanda memang benar-benar temanku. Tidak seperti Ayah dan Ibu yang sangat membenci Amanda dan selalu menyanggah ceritaku seolah mereka tak percaya. Ibu dan Ayah duduk berdampingan di hadapanku. Menatapku dengan tatapan sangat aneh. “Bisa tunjukkan Amanda ada dimana, sekarang?” tanya Om itu. Aku mengedarkan pandangan dan tak mendapati Amanda. “Amanda pemalu, Om. Mereka tidak mau bertemu dengan orang lain selain aku,” jawabku. Om itu menganggukan kepala. Kemudian ia membacakan sesuatu yang sama sekali tak aku mengerti dan meniupkan pada telingaku. Ia menutup mataku dengan telapak tangannya dan berbisik, “Amanda itu tidak ada, Bella. Jangan terpedaya olehnya,” ujarnya. Sesaat ia membuka mataku. Aku melihat kedua orang tuaku yang sedih melihatku seperti ini. Om itu kemudian beranjak dari sebelahku dan mengajak Ayahku untuk menuju dapur dan membicarakan tentangku. “Sepertinya, anak Bapak adalah anak spesial,” ujarnya. “Apa? Bagaimana bisa?” “Dia berteman dengan seseorang dari alam lain yang belum tentu dapat dilihat oleh semua orang. Kemampuannya sangat luar biasa, hingga ia memasuki dunia mereka.” Ayah berpikir sejenak. “Bagaimana jika saya menebang pohon besar yang sempat ditunjuk oleh anak saya?” Pria berbaju putih itu mengangguk, “Mungkin bisa, Pak.” “Baiklah, minggu ini saya akan membicarakan pada warga untuk menebang pohon itu.” Sejujurnya aku masih tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, namun aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Mengapa mereka mengatakan Amanda tidak ada? Padahal jelas - jelas Amanda sekarang berdiri di samping mereka. Aku bisa melihat Amanda yang menatap sendu ke arahku. Amanda juga mengatakan kepadaku untuk mencegah penebangan pohon yang merupakan tempat tinggal Amanda. "Jangan di tebang, Ayah. Kasihan Amanda," ucapku sambil memegangi sudut bajunya. Ayah menoleh ke arahku dan menggendong tubuh kecilku, "Jangan dengarkan dia lagi ya, Nak. Kita fokus untuk menyembuhkanmu dulu," ujarnya. "Menyembuhkan? Tapi Bella tidak sakit," ujar Ayah. Aku menatap ke arah Amanda dan tatapan kami pun bertemu. Om ku yang sedari tadi memperhatikanku juga ikut mengikuti arah tatapanku. "Ada Amanda ya?" tanyanya. Aku mengangguk. "Jangan didengarkan Bella, sebaiknya kita makan saja ya," ajak Ibu lalu mengambilku dari Ayah. Ibu langsung membawaku ke ruang makan, mendudukanku di atas kursi. Aku bisa melihat wajah sedih Amanda, tapi sekarang aku harus gimana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD