4. Hujan Petir di Malam Hari

1008 Words
[ Quotes For You ] Malam gelap, suara hujan mengguyur atap dan petir bergema adalah ketakutan yang hingga kini aku takuti. Kau akan mengetahui apa sebabnya setelah membaca bagian cerita yang satu ini. * * * * * * * * * * Aku terbangun di siang hari setelah melaksanakan tidur siang harianku. Aku memang memiliki jadwal harian untuk tidur siang dan entah mengapa aku sendiri juga sering merasa mengantuk jika jam tidur siangku telah tiba. "Uunnggghh!" lenguhku panjang sambil merentangkan tanganku menjauhi tubuhku. Aku mengerjapkan mataku berulang kali sebelum akhirnya aku turun dari atas tempat tidurku. Aku melangkangkahkan kakiku keluar dari kamar dan melihat rumahku yang tampak kosong tak berpenghuni. Aku baru ingat, sekarang adalah hari Selasa dan kedua orang tuaku bekerja. Aku berjalan ke arah kamar mandi dan buang air kecil seperti biasa. Setelahnya aku kembali keluar dan mencari pengasuhku yang biasanya tidur di kamar belakang. Pintu kamarnya terbuka, aku pun melihat ke bagian dalam namun nihil, pengasuhku tak ada di sana. "Teh Imas?" panggilku. Tak ada jawaban. Aku pun melangkahkan kakiku keluar rumah dan menemukan dia yang sedang menjemur pakaian di halaman depan rumah. Aku datang menghampirinya dan Teh Imas pun langsung menoleh sambil tersenyum kepadaku. "Bella sudah bangun?" tanyanya. Aku menganggukan kepalaku. "Nanti teteh suapin ya. Kamu masuk aja dulu, Bel. Tunggu di dalam. Di sini panas," titahnya. Aku pun hanya mengangguk karena memang cuaca siang ini sangat terik. Menurut mama, jika cuaca terasa sangat panas pasti malam harinya akan hujan. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Sambil menunggu Teh Imas selesai menjemur pakaian, aku duduk di depan TV, menyalakannya lalu beralih pada kotak DVD. Seperti biasa, aku menonton film dinosaurus kesukaanku yang entah sudah berapa kali aku tonton. "Trex!" pekiku saat aku menemukan kaset bergambar trex disana. Tanpa menunggu lama, aku memasukan CD yang aku pegang ke dalam DVD. Duduk menjauhi TV dnegan mata yang terfokus ke arah TV. Film dokumenter tentang dinosaurus jenis Trex itu pun diputar. Mataku terpaku menatap layar TV. Aku bersandar pada kursi yang aku tempati. Melihat ke sekitarku beberapa saat, karena menyadari rumahku yang kosong dan hanya ada aku serta Teh Imas. Trek ! Tiba - tiba aku mendengar suara aneh dari kamar kedua orang tuaku yang secara kebetulan memang berada di samping ruang tengah. Aku mengabaikannya dan hanya kembali menonton TV kesukaanku. Malam telah tiba. Suara gemercik air terdengar begitu deras di luar rumah. Sesekali petir terdengar menggelegar di telingaku. Aku meringkuk di balik selimut dengan ketakutan. Takut bahwa petir itu terdengar semakin keras dan menghantam tubuh mungilku. Tok ! Tok ! Tok ! Terdengar suara ketukan pintu. Aku duduk dari tidurku dan menatap pintu kamarku yang tak kunjung terbuka setelah suara ketukan itu. Cukup lama aku menunggunya, hingga aku penasaran dan turun dari atas kasur untuk melihat seseorang di balik pintu melalui lubang kunci. Kosong. Di ruang tengah sudah tampak gelap. Aku mengalihkan tatapanku pada jam dinding. Pukul 11 malam Orang tuaku pasti sudah tertidur lelap. Lantas, siapa yang mengetuk pintu kamarku tadi? Tiba-tiba saja rasa penasaranku kembali memuncak. Aku membuka pintu kamarku dan terpampang dengan jelas suasana gelap. Aku berjalan ke ruang tengah tanpa rasa ketakutan sedikitpun. “Bella,” panggil seseorang di belakangku dengan suara yang sangat aku kenal. Itu Amanda. Aku membalikan badan dan melihatnya. Aku tidak dapat melihat dirinya dengan jelas karena suasana gelap. “Mau bermain denganku?” ajaknya. “Tapi, sekarang sudah malam. Kenapa kau mengajakku kemari di malam hari?” tanyaku. “Aku ingin bermain sekarang.” “Kenapa tidak tadi sore? Dan, kenapa kamu pergi saat Ibu datang?” “Aku malu bertemu dengan Ibumu. Jadi aku bersembunyi dan memutuskan mengajakmu bermain malam ini.” Aku mendengar suara petir yang semakin keras. “Aku takut. Di luar sana, petirnya sangat besar.” “Tidak perlu takut, Bella. Ada aku.” Aku mengangguk patuh. Aku berjalan menuju vas bunga yang terletak di samping televisi dan merogohnya untuk mengambil kunci. Entah kenapa. Aku hanya berpikir untuk membuka pintu tanpa bertanya dari mana Amanda masuk ke rumahku. Aku menemukan kunci itu dan berjalan menghampiri pintu untuk membukanya. Setelah berhasil membuka kunci, kemudian aku membuka pintu. Gemercik air mulai membasahi kakiku yang masih berdiri di ambang pintu. Aku melihat ke luar. Sesekali kilat cahaya tampak melintas dan membuat malam gelap tampak terang seketika. Amanda berjalan mendahuluiku dan menarik tanganku ke tengah hujan secara perlahan. “Bella!” panggil Ibu dari belakangku. Aku menolehkan kepala dan melihat Ayah serta Ibuku dengan wajah paniknya saat melihatku sudah basah diguyur oleh hujan. Ibuku segera berlari ke arahku dan menarikku ke dalam rumah dengan kondisi tubuhku yang sudah basah kuyup. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Ibu. “Aku ingin bermain, Bu,” ujarku. “Dengan siapa?” Aku menunjuk Amanda yang berdiri di ambang pintu dengan kondisi keringㅡtak basah sepertiku. “Mana?” tanya Ibu. Aku menunjuknya lagi. Ibu semakin ketakutan dan memeluk tubuhku dengan erat. Ayahku yang sedari tadi berdiri di sampingku, berjalan menghampiri Amanda. “Tolong jangan ganggu anakku lagi,” pinta Ayahku. Amanda tertawa cukup keras. Bahkan rasanya gendang telingaku akan pecah karena nyaringnya suara itu. Ayahku kemudian menutup pintu dan menguncinya kembali. Ia membawaku ke kamar dan meminta Ibuku untuk menggantikan pakaianku yang basah akibat air hujan tadi. Ibu bertugas menidurkanku di kamarku. Setelah merasa aku tertidur pulas, Ibu meninggalkanku sendiri dan tak lupa ia mengunci pintu kamarku. Ibu masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Ayahku yang sedang duduk di atas kasur. “Apa yang terjadi dengan Bella?” tanya Ibu. “Bella bisa melihat mereka,” jawab Ayah. “Maksudmu?” “Ya. Dia bisa melihat hantu, bahkan bermain dengan mereka. Aku bahkan tidak tau bahwa Bella sudah berteman dengan hantu itu.” Raut wajah Ibu berubah menjadi khawatir. “Apa selama ini ada yang aneh dengannya?” tanya Ayah. Ibu menganggukan kepalanya. “Tadi sore, ia bermain ke arah timur. Menghampiri pohon besar dan mengatakan bahwa itu adalah rumah temannya.” “Mulai besok, jangan izinkan Bella bermain keluar rumah. Aku akan menebang pohon itu,” ujar Ayah. Ibu hanya mengangguk patuh mendengar titah dari Ayahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD