3. Henzie Amanda Kathelijn

1018 Words
[ Quotes For You ] Terkadang, berteman dengan HANTU lebih baik, dibandingkan dengan mereka yang NORMAL dan menganggapku dengan istilah si “anak aneh”. * * * * * * * * * * Sinar mentari pagi masuk melalui celah jendela kamarku. Meski tak terasa begitu panas, namun perbedaan suhu di pagi hari yang semakin siang terasa berbeda dikulitku. Aku menggeliatkan tubuhku saat mendengar suara berisik dari arah luar kamar. Otakku langsung terhubung dan mengetahui jika itu adalah Ibu. Aku terbangun pagi-pagi sekali karena mendengan suara piring yang mulai dibersihkan dan diletakkan pada tempatnya. Itu Ibuku. Ibu memang terbiasa bangun pagi hari dan membersihkan rumah. Menurutnya, pagi adalah waktu yang tepat untuk membersihkan rumah. Aku turun dari kasurku dengan sedikit melompat dan membuka pintu kamar kemudian berjalan ke arah dapur dan melihat Ibuku yang sedang mencuci piring di sana. Aku berlari kecil menghampirinya dan memeluk kakinya. Sebenarnya meski aku masih kecil, aku sudah terbaisa bangun pagi. Tanpa sebuah alarm pun, aku akan bangun tepat pukul 5 pagi. Terutama jika mendengar suara berisik dari arah dapur atau luar kamar, aku sudah tahu, Ibuku pasti sudah bangun. Aku sendiri tak begitu terbiasa untuk tidur malam. Biasanya sebelum pukul 20:00 WIB, aku sudah merasakan rasa kantuk yang melanda, dan akhirnya aku hanya mengalah dan tidur di atas tempat tidurku yang nyaman. “Bella, sudah bangun, Nak,” sapa Ibu sambil melirik ke arah bawah dan melihatku yang sedang memeluk kakinya. Aku mendongakan kepalaku dan menatapnya. Kemudian menganggukan kepalaku sebagai pertanda jawaban iya atas pertanyaannya, "Sudah," jawabku. Aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum. “Ibu sudah buatkan kamu s**u. Ada di meja makan. Kamu minum dulu, ya,” titah Ibu. Aku menurutinya dan kemudian berjalan ke meja makan untuk meminum s**u yang sudah disiapkan oleh Ibu. Sebenarnya aku tak terbiasa meminum s**u, tapi Ibu selalu membuatkanku s**u di gelas ukuran 100 ml. Sangat kecil kan? Tapi sayangnya kadang aku sering kali tidak menghabiskan s**u yang dibuatkan oleh Ibuku. Aku kurang menyukainya. Aku pun meminum s**u itu perlahan sambil duduk di atas kursi. Susah payah aku menghabiskan s**u yang tidak aku sukai. "Bu, sudah ya," ujarku sambil menunjukan gelasku yang tersisa setengah s**u lagi ke hadapan Ibu yang baru saja selesai menyuci piring. "Kenapa?" tanya Ibu. Aku hanya menggelengkan kepalaku. "Ya sudah," jawab Ibu mengalah. * * * * * * * * * * Hari menjelang sore. Aku sudah menunggu Amanda sedari pagi, namun ia tak menampakan batang hidungnya. Aku menjadi sangat bad mood hari ini. Ibu berjalan ke arahku dan mengusap kepalaku yang sedari tadi aku sandarkan pada sofa di ruang tengah. “Bella, kenapa?” tanya Ibu. “Teman Bella gak dateng, Bu.” “Kenapa gak kamu datangi saja rumahnya? Kan kemarin dia yang datangi kamu ke rumah.” Aku tersenyum bahagia mendengar saran dari Ibu. Aku melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul lima sore dan hari sudah mulai sore. “Kalau main di rumah dia, gak apa-apa kok. Asal jangan keluar, ya,” ujar Ibu. “Makasih, ya, Bu,” ujarku. Aku berlari menuju pintu, kemudian memakai sendal dan menuju ke arah yang pernah ditunjuk oleh Amanda. Untunglah, matahari sudah tidak terlalu menampakkan cahayanya sehingga aku tidak merasa kepanasan akibat terik matahari. Aku berlari hingga ke ujung jalan. Namun, aku tidak menemukan satu rumah pun disini. Yang aku lihat hanyalah pohon tua besar yang sangat menyeramkan. Aku menghampiri pohon itu dan mengusap dahannya. Berair. Padahal hari ini tidak turun hujan. Aku mundur beberapa langkah dari pohon itu dan hendak kembali ke rumah. Mungkin saja, aku melewatkan rumah Amanda karena terlalu asik berlari. Di sisi lain, Ibu mulai mengkhawatirkan ucapannya. Ia menungguku di luar rumah dan melihat ke arah jalan yang aku tuju. Tangannya ia lipat di depan d**a dan raut wajahnya sangat cemas. “Ada apa, Bu?” tanya salah seorang tetangga yang membuat Ibuku terkejut. Ibu membalikkan badannya menghadap seseorang yang berbicara dengannya. “Saya lagi nunggu anak saya pulang, Bu,” jawab Ibuku. “Oh gitu. Anaknya main kemana, Bu?” “Bilangnya sih mau coba ke rumah temannya sebentar, tapi kok udah mau magrib belum balik juga,” jelas Ibuku. Ibu-ibu itu menganggukan kepalanya. “Anaknya main ke rumah siapa, Bu?” “Ke arah sana, Bu. Masih kecil, dia masih umur lima tahun. Di sana gak ada jalan raya, kan?” tanya Ibuku santai. Tiba-tiba saja raut wajah Ibu itu berubah menjadi sangat aneh. “Anak Ibu main ke sana?” ulangnya dan menunjuk arah tadi yang ditunjuk oleh Ibu. “Iya, Bu. Emang kenapa?” tanya Ibuku. “Disana kan hanya jalan buntu, Bu, dan rumah Ibu adalah jajaran akhir dari rumah yang ada disini. Gak mungkin ada jalan lagi. Ujungnya juga hutan dan juga jurang, Bu,” jelas Ibu itu. Ibuku semakin dibuat khawatir. “Ya sudah, Bu, saya pergi dulu ya. Mau susul anak saya.” Ibu kemudian berjalan menghampiriku. Cara berjalannya begitu cepat. Sangat berbeda dari biasanya. Ibu semakin khawatir saat melihat sekitar menjadi berubah seperti hutan. Benar apa yang Ibu tadi bilang, tidak ada rumah lagi selain rumahnya. “Bella,” teriak Ibu memanggilku. Aku yang sedang asik menatap pohon tinggi ini, kemudian menolehkan kepala saat mendengar suara Ibu. Aku berniat untuk menghampiri Ibu. Belum sempat aku berjalan, tanganku ditahan oleh seseorang. Aku melihat ke belakang dan mendapati Amanda di sana dengan baju yang sama saat kemarin. “Manda?” ujarku. Aku melihat Ibu yang sudah mendekat ke arahku dan tersenyum saat mengetahui bahwa keberadaanku baik-baik saja di bawah pohon besar yang basah ini. “Ayo pulang, Nak.” Aku menggelengkan kepala, “Bella masih mau main sama Amanda.” Ibuku mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Amanda seperti yang aku katakan. “Mana?” tanya Ibu. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, bermaksud untuk memperkenalkannya pada Ibuku. Namun, Amanda menghilang. “Tadi dia ada disini, Bu,” ujarku. Ibu segera menarik tanganku. “Ayo pulang, sudah mau magrib. Jangan main ke sini lagi, ya,” pintanya. Aku menganggukan kepala dan mengikuti tarikan tangan Ibu menuju rumah. Sesekali, aku menolehkan kepalaku ke belakang, bermaksud mencari keberadaan Amanda. “Mungkin, Amanda tinggal di dalam sana,” ujarku dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD