[ A Message For You ]
Pesanku adalah, JANGAN pernah mengganggu, menghina, mengejek atau hal-hal semacam pada teman INDIGO atau rumah kosong atau suatu tempat yang berhantu.
Kenapa? Kalian bisa mendapat BALASAN yang setimpal atas perbuatan kalian.
* * * * * * * * * *
Aku terbangun pagi - pagi sekali, sekitar pukul lima pagi, karena suara ketukan dari dalam lemari tua-ku. Suaranya sangat mengganggu hingga aku tak dapat melanjutkan tidurku.
“Siapa, sih, itu?” ujarku geram.
Aku turun dari kasur dan membuka lemariku. Tidak ada siapapun. Aku menutupnya lagi dan hendak pergi ke kamar mandi. Tapi, aku mendengar suara itu lagi.
Tok ! Tok ! Tok !
Suaranya begitu jelas terdengar hingga membuatku kesal. Aku tidak memperdulikannya. Mungkin itu hanyalah rayap yang bersarang pada kayu lemari tua itu. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhku.
Setelah selesai mandi, aku membuka lemariku dan benar saja tak ada apapun di sana. Terkadang aku sering mendapat gangguan dari mereka tapi aku juga sebal karena mereka mengganguku tak mengenal waktu.
"Jangan ganggu aku, aku sedang malas bercanda!" ujarku entah kepada siapa. Aku kembali melanjutkan persiapanku dan berangkat ke sekolah.
Aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Hari ini sudah tidak ada ujian try out lagi. Jadi, sekolah sudah ramai dengan adik kelasku yang berlarian di lapangan kesana dan kemari.
Aku melihat Si Besar sedang berdiri menatap anak-anak kelas satu yang bermain kejar-kejaran di lapangan. Aku menghampirinya dari lantai dua kemudian menyapanya.
“Hai,” sapaku.
“Selamat pagi Bella,” ujarnya.
Dia sangat ramah bagiku. Ia tidak pernah mengganggu siapapun. Pekerjaannya hanyalah berdiam diri di samping pohon jambu yang tingginya semampai sepertinya. Seperti biasa, ia bercerita padaku mengenai kejadian kemarin-kemarin. Bahkan ia kembali menceritakan pada angkatan ke tiga sekolah ini yang masih tampak sepi. Dulu, sekolah ini tak seramai sekarang. Bahkan satu kelas hanya dihuni oleh sekitar dua belas orang.
“Bella!” panggil seseorang dari belakangku.
Aku menolehkan kepala dan mendapati Sari seorang diri di depan kelas. Aku dan Si Besar juga ikut melihat ke arahnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kenapa kau hanya berdiam diri di sana? Jangan melamun, nanti kau kerasukan!” pekiknya.
“Aku tidak melamun, aku sedang mengobrol,” jawabku.
“Mengobrol? Dengan siapa? Pohon? Bahkan kau hanya berdiam seorang diri di ujung sana.”
“Aku tidak sendirian.”
“Kau gila, Bella! Kau sendirian di sana!” ejeknya.
Ia menjulurkan lidahnya tanda mengejekku kemudian ia berlari masuk ke dalam kelas. Aku kembali membalikan badan, bermaksud menghadap Si Besar. Namun, makhluk itu sudah tak ada.
“Dia kemana?” gumamku.
Bel istirahat berbunyi. Para murid keluar dari kelas berhamburan menuju kantin. Kantin sekolah terletak persis di lantai satu, tepatnya di depan kelas IV. Dulu, saat aku kelas IV, aku adalah orang yang sangat gemar jajan. Bahkan, ketika pelajaran kosong atau guru terlambat masuk, aku akan pergi ke kantin untuk sekedar membeli minuman ataupun makanan ringan.
“Bella, ke kantin denganku, yuk!” ajak Silvia.
Silvia duduk tepat di belakangku, di kursi ke dua dari depan. Sedangkan aku, duduk di barisan paling depan bersama dengan Nina. Nina sudah pergi ke kantin bersama dengan Sari, katanya, ia ingin membeli mie gaul─mie goreng bermerk gaul. Siapapun yang ingin membeli mie gaul, harus cepat-cepat ke kantin. Karena pembelinya sangat banyak dan bahkan bisa mengantri hingga lima belas menit!
Aku dan Silvia turun ke bawah. Kami membeli cilok dan juga minuman teh. Setelah membeli itu, kemudian kami duduk di kursi dekat lapangan, melihat para murid laki-laki yang sedang bermain futsal.
Tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan dari arah kelasku. Itu adalah suara Sari. Ia berteriak begitu kencang hingga para pemain futsal pun menghentikan aktivitasnya.
“Siapa itu?” tanya Silvia menghentikan kegiatannya yang sedang memakan cilok.
“Aku rasa itu teriakan Sari,” jawabku santai.
“Dia kenapa?”
Aku menggidikan kedua bahuku tanda tidak mengetahui apa yang terjadi. Aku mendengar suara berisik dari dalam kelasku. Dan, sesaat kemudian, gamelan yang terletak di kelas VI C berbunyi. Kelas itu adalah kelas kosong yang sama sekali tak terpakai. Letaknya di ujung lorong, tepat di sebelah kelasku, VI B.
Gamelan itu terdengar begitu keras, bahkan lantunannya begitu enak. Seperti ada yang memainkannya. Namun, setahuku kelas itu sedang dikunci dan gamelan pun tidak sedang dimainkan oleh manusia. Bahkan salah satu pemainnya sedang duduk di sebelahku, Silvia.
Sari terdengar memukul-mukul pintu kelas yang tertutup berulang kali. Teriakannya semakin keras. Aku dan Silvia memutuskan untuk ke lantai atas dan memeriksa Sari. Setibanya di lantai dua, lantai ini sudah penuh dengan murid dan juga guru yang berusaha membuka pintu namun, terkunci. Aku mendekati pintu itu.
“Coba, Bu, biar Bella yang buka pintunya,” ujarku.
Entah dorongan dari mana, aku meminta untuk membiarkan aku yang membuka pintu itu. Aku memegang tanganku pada pegangan pintu kemudian membukanya.
Cklek!
Tidak dikunci. Para guru melihat ke arahku. Sedari tadi, mereka bersusah payah membuka pintu ini dan aku hanya dengan membukanya santai, pintu ini terbuka. Aku melihat ke dalam dan mendapati Sari yang terduduk di pojokan kelas, tepatnya di samping lemari. Wali kelasku pun masuk, ia mengecek keadaan Sari. Ternyata, Sari seorang diri di ruang kelas.
Aku masuk ke kelas dan melihat kelas yang nampak berantakan. Seluruh buku, tempat minum tampak berserakan ke lantai seolah ada yang mengacak-ngacaknya. Bu Lita pun turut masuk ke dalam kelas dan segera mendekap tubuh Sari yang sudah gemetaran.
“Ruang sebelah, dikunci kan?” tanya Bu Lita─wali kelasku.
“Iya, Bu. Dikunci,” jawab salah seorang penjaga sekolah, Pak Jaya.
“Kok gamelan bisa bunyi?”
“Kayaknya ada yang ganggu penghuni pohon jambu. Makanya di bunyiin lagi,” jelas penjaga sekolah itu.
Bu Lita melirik ke arah Sari yang berada di dekapannya, aku rasa, ia menduga bahwa Sari yang telah menganggu penghuni itu.
Tunggu. Penghuni? Apakah yang mereka maksud adalah Si Besar?
Bu Lita dan Pak Jaya langsung membopoh tubuh Sari ke UKS. Sedangkan murid lainnya, melirik ke dalam kelas yang tampak berantakan. Beberapa saat kemudian, para murid kelas VI B masuk ke dalam kelas dan membereskan buku mereka yang berserakan di lantai.