[ Quotes For You ]
Bertemanlah dengan siapapun, sekalipun dia berbeda dengan yang lain dan sekalipun dia memiliki kelebihan atau kekurangan dari siapapun. Bertemanlah!
* * * * * * * * * *
Aku turun dari angkutan kota, dan langsung berjalan menuju sekolahku. Aku membayar angkot yang baru saja aku naiki dengan uang sebesar 1000 rupiah.
"Makasihbang," ucapku dan pergi menjauh dari angkot itu.
Dengan berbekal rok merah, aku bisa melihat beberapa teman sekelasku atau bahkan kelas lain yang baru saja tiba. Mereka berjalan mendahuluiku dan tak jarang juga yang tetap berjalan seperti biasa di belakangku. Aku melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangkan tangan kiriku.
"Masih jam setengah 7, kenapa buru - buru sekali?" gumamku saat melihat beberapa siswa yang berlarian.
Sambil berjalan aku terus menghafal ulang materi yang aku pelajari tadi malam di dalam kepalaku.
Hari ini, aku akan melakukan try out. Sebuah uji coba yang dilakukan pada murid kelas tingkat akhir di sekolah, sebelum akhirnya menghadapi Ujian Nasional. Seperti biasa, aku akan berangkat pagi dengan menggunakan angkot. Jarak dari rumahku menuju sekolah hanya satu kilometer.
Dengan menggunakan angkot, sebenarnya hanya sekitar dua puluh lima menit. Tapi, terkadang angkot itu akan mengetem sehingga kisaran waktu tiba di sekolah menjadi lebih lama.
Aku turun di depan g**g untuk berjalan ke dalam, menuju sekolahku. Aku bertemu dengan beberapa temanku yang baru saja tiba sepertiku dan mereka berjalan bersamaku beriringan. Kami membicarakan mengenai pelajaran yang sudah kami pelajari tadi malam dan ketakutan kami akan menghadapi try out.
Ketika aku SD, hanya segelintir orang yang membawa ponsel ke sekolah. Itu pun jika mereka dipaksa oleh orang tua mereka untuk mengabari pukul berapa mereka dijemput ke sekolah. Berbeda dengan kids jaman now, yang sudah sering membawa ponsel ke sekolah bahkan mereka sudah sangat fasih dalam menggunakannya.
Kebanyakan dari mereka akan menggunakan ponsel itu untuk bergosip dan browsing mengenai materi yang akan dipelajari. Sedangkan kami? Ponsel tanpa kamera pun sudah lebih dari cukup.
Aku dan Nina─temanku, tiba di sekolah. Kami mendapat kelas yang sama, yakni di kelas atas, kelas VI B. Kelas itu berada di lantai dua dan terletak hampir di ujung dari lorong gedung ini.
“Bel, kamu mau langsung nunggu di atas, atau disini?” tanyanya.
“Mungkin aku langsung ke atas,” jawabku.
“Aku nunggu Sari dulu disini, ya, Bel.”
Aku menganggukan kepala. Kemudian aku berjalan lebih dulu ke lantai atas. Setibanya di depan kelas, aku kembali bosan karena belum ada orang yang datang.
Aku memutuskan untuk berjalan ke ujung lorong. Posisi lantai dua tidak tertutup seperti sekolah pada umumnya, justru tetap terbuka dan hanya menggunakan tembok dengan tinggi sekitar 50cm sebagai pembatas.
Aku memangku tanganku diatas tembok kemudian meletakkan daguku di atasnya. Aku melihat lurus ke depan. Tepat pada sebuah pohon jambu yang tampak mulai berbunga. Angin berhembus cukup kencang. Hingga mataku terasa kelilipan. Aku sedikit menguceknya. Setelah merasa lebih baik aku membuka mataku.
“Astaga!” pekikku.
Betapa terkejutnya aku melihat sosok besar berwarna hijau dengan matanya yang turun berwarna hijau. Ini bukan hijau seperti orang bule pada umumnya. Hijaunya terasa....berbeda mungkin.
Tubuhnya benar-benar berwarna hijau. Seperti tokoh Avengers bernama Hulk. Namun ia berbeda, ia begitu besar, sangat besar, bahkan ia memiliki satu tanduk tepat di dahinya. Ia melihat ke arahku dan terus menatapku.
“Kau tidak takut?” tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
“Halo, Bella,” sapanya.
“Dari mana kau tahu namaku?”
“Aku sudah mengetahui namamu sejak kau mulai bersekolah disini.”
Aku menganggukan kepalaku.
“Kenapa kau disini?” tanyaku.
“Sepanjang waktu aku disini. Tapi hanya beberapa orang yang bisa melihatku.”
“Kenapa aku baru melihatmu sekarang? Kan, aku bisa melihatmu.”
Dia sedikit tersenyum─menurutku.
“Entahlah. Mungkin indera-mu baru berfungsi lagi.”
Aku sebenarnya tidak mengerti dengan apa maksudnya tapi aku hanya menganggukan kepala.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Aku tidak memiliki nama.”
“Baiklah aku akan memanggilmu Si Besar, karena badanmu cukup besar.”
Aku melihatnya dari ujung kaki hingga kepalanya. Ternyata dia berdiri. Ia tidka menggunakan alas kaki, dan bertelanjang d**a. Benar-benar hijau!
“Bella!” panggil seseorang membuyarkanku.
Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan melihat siapa yang memanggilku.
“Kamu sedang apa disini? Ayo berbaris, sebentar lagi masuk!” ajaknya.
Dia temanku. Namanya Silvia. Kini, ia sedang menarik tanganku menjauhi dari Si Besar. Aku sempat menolehkan kepalaku ke belakang, dia masih disana menatapku sembari melambaikan tangannya yang cukup besar.
“Apa tadi Silvia melihatnya juga? Atau tidak ya?” gumamku.
Selesai ujian, aku kembali menuju ujung lorong dan menemuinya. Ia sepertinya senang bertemu denganku.
“Hai, Bella,” sapanya.
“Halo, Besar,” sapaku.
Ia memulai ceritanya. Ia bercerita mengenai awal mula sekolah ini berdiri. Ternyata sekolahku sudah berdiri sekitar lima puluh tahun yang lalu. Dahulu, ini hanyalah lahan kosong. Sebuah hutan kecil yang digunakan untuk berkebun. Ternyata temanku berbohong!
Ya, mereka mengatakan bahwa sekolah ini dulunya adalah sebuah rumah sakit lebih tepatnya kamar mayat. Sehingga banyak arwah mayat yang berkeliaran di sekolahku. Lalu, pernah beredar juga kisah hantu muka gepeng di kamar mandi. Membuatku terkadang takut dan tak mau ke kamar mandi hingga aku akhirnya harus menahan rasa buang air kecilku hingga pulang sekolah.
Sekarang, aku sudah tau mengenai sekolahku dan penghuni di dalamnya. Ia selesai bercerita sekitar pukul tiga sore. Aku melihat ke sekitarku dan sekolah sudah tampak sepi. Hanya beberapa orang yang masih di sekolah untuk bermain bola dan beberapa guru yang sepertinya sedang mempersiapkan untuk ujian besok.
“Hei, aku pulang dulu, ya!” ujarku.
Ia mengangguk.
“Terima kasih atas ceritanya. Besok kita ngobrol lagi, oke?”
“Dadah, Bella.”
Ia kembali melambaikan tangannya padaku. Aku berjalan menjauhinya dengan raut wajah bahagia. Aku turun ke lantai satu dan mendapati Chandra─temanku, disana. Ia tak sendiri, ia di lapangan sedang bersama dengan murid laki-laki lainnya.
“Kau baru pulang?” tanyanya.
“Iya. Memang kenapa?”
“Kamu tidak takut sendirian di atas?” tanyanya lagi.
Aku menggelengkan kepala.
“Tidak, tuh.”
“Aneh,” ujarnya. Ia kemudian kembali melanjutkan permainan futsalnya dan mengabaikanku.