[ Answer For You ]
Mungkin kalian akan bertanya, apa yang akan aku lakukan ketika aku pertama kali bertemu hantu BARU.
Jawabanku adalah, MENYAPA mereka.
*
*
*
*
*
Tujuh tahun kemudian....
Semenjak terakhir kali aku bertemu dengan Amanda dan Bapak tua itu, kami memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak rumah dan memilih pindah, ke rumah Nenek yang ada di Bogor.
Rumah dengan gaya klasik dan cat serba putih, peninggalan dari Belanda ini memiliki sekitar lima kamar. Keluargaku menempati dua kamar yang ada di belakang─dekat dengan dapur. Kamarku berada di paling belakang, letaknya diapit oleh dua kamar mandi.
Kamar mandi depan dan kamar mandi bagian belakang. Sehingga suasana di kamarku akan terasa sangat dingin. Ditambah, ukuran kamarku yang tidak terlalu besar. Ya, hanya cukup kasur, lemari serta meja belajarku saja.
Pada bagian luar rumah, terdapat halaman yang cukup luas. Di sana tumbuh beberapa tanaman buah seperti rambutan, mangga dan juga durian. Terkadang, saat musim berbuah, kami sekeluarga akan memangsa buah itu dan menyantapnya bersama.
Nenek tidak tinggal sendiri disini. Ia tinggal bersama dengan Tanteku, Tante Ranny. Usianya tiga belas tahun dibawah usia Ibu. Ia belum menikah, katanya, ia masih sibuk bekerja untuk membahagiakan anaknya nanti.
Sudah tujuh tahun, aku tidak bertemu dengan makhluk yang pernah diceritakan oleh Ibu. Amanda dan Bapak itu, benar-benar makhluk terakhir yang aku lihat saat aku tinggal di Jakarta.
Aku senang, karena aku tidak perlu repot-repot merengek untuk diajak ke rumah Nenek. Oh ya, saat ini, usiaku menginjak dua belas tahun. Tepat hari ini, aku merayakan ulang tahunku di rumah dengan mengundang beberapa temanku.
Aku tidak menemukan Amanda. Padahal aku berharap jika Amanda datang.
“Bella, ayo tiup lilinnya,” ujar Ibu.
Aku memejamkan mataku sebelum berdoa untuk meniup lilin, "Aku ingin Amanda disini," pintaku. Aku meniup lilinnya. Asap dari lilin itu terasa banyak bagiku bahkan membuatku sesak nafas. Aku berusaha terlihat baik-baik saja agar Ibu tidak merasa khawatir padaku.
Selesai pesta ulang tahun, aku masuk ke kamar dan hendak tidur siang.
“Bella, jangan lupa siapkan peralatan sekolah untuk besok, besok kamu ada try out, kan,” teriak Ibu dari luar kamar.
Aku turun dari kasur. Jika biasanya aku akan melompat kecil dari kasur dan kesusahan saat menaikinya, kali ini berbeda. Tinggi badanku sudah bertambah, dan aku tidak perlu susah payah turun dari kasur ini.
“Iya, Bu,” balasku.
Aku menyiapkan buku-buku pelajaran dan memasukannya ke dalam tas. Tak lupa, aku memeriksa seragam sekolah merah putihku dan meletakannya di depan lemari agar aku lebih mudah mengambilnya.
Setelah selesai, aku hendak pergi keluar kamar untuk menonton acar kartun kesukaanku, Tom & Jerry. Apakah kalian juga menyukainya? Belum sempat aku keluar kamar, tiba-tiba pintu lemariku terbuka. Membuatku berdecak kesal karena aku harus menutupnya. Jika tidak, kemungkinan besar, hewan seperti kecoa akan masuk ke dalam lemariku dan bertelur disana. Menyebalkan bukan?
Aku berjalan menghampiri lemariku dan menutup pintunya. Aku kembali melangkahkan kakiku ke pintu dan pintu lemariku kembali terbuka.
“Hahahaha.”
Aku mendengar suara anak kecil tertawa dari sana. Aku merasa penasaran dan kemudian membuka lemari itu.
Kosong.
“Mungkin aku salah dengar,” gumamku.
“Tidak, Bella. Kamu tidak salah dengar,” ujar seorang anak kecil dari belakangku.
Aku mengenal suara ini. Ini adalah suara Amanda. Dengan cepat, aku membalikan badan untuk melihatnya. Namun, nihil. Ia tak ada disana.
“Apa karena aku terlalu merindukannya, sehingga aku mendengar suaranya, ya? Mungkin saja itu Aurel yang di dalam lemari,” gumamku lagi.
"Ah sudahlah. Aku tak peduli. Ini sudah waktunya kartun kesukaanku dimulai."
Aku keluar dari kamar dan hendak ke ruang keluarga untuk menonton acara kesukaanku. Saat berjalan menuju ruang keluarga, aku kembali mendengar suara anak kecil tertawa, tentunya itu bukan adikku.
Oh ya, aku lupa menceritakannya pada kalian. Saat usiaku enam tahun, adik pertamaku lahir. Ia berjenis kelamin laki-laki dan memiliki nama yang sangat bagus, Alvino. Lalu, saat usiaku bertambah dua tahun, adik keduaku lahir, ia berjenis kelamin perempuan dan bernama Aurel.
Aku senang memiliki dua adik, yang selama lima tahun aku dambakan. Kini, aku bukan lagi seorang anak tunggal. Melainkan seorang anak sulung dengan dua adik. Saat ini, usia mereka enam dan empat tahun. Alvino lahir di bulan Oktober, sedangkan Aurel lahir di bulan Maret. Pada Oktober nanti, Alvino baru saja akan menginjak usia enam tahun.
Alvino masih duduk di Taman Kanak-Kanak, sedangkan Aurel yang manja, masih sering berkeliaran di rumah, tanpa minat masuk ke Playgroup atau yang biasa dikenal dengan istilah PAUD.
Setelah mendengar suara tertawa itu. Aku hanya berjalan tanpa memperdulikannya. Kamar-kamar yang ada di rumah ini, berjajar pada bagian kanan dan kiri sehingga membentuk lorong. Pada siang hari, lampu akan dimatikan sehingga akan terasa sangat gelap.
Setibanya di ruang tengah, aku melihat seorang anak kecil duduk di atas sofa dengan tatapan ke TV. Ia menonton acara yang sama dengan yang ingin aku tonton. Mungkin saja itu, Aurel.
Aku duduk di sebelahnya kemudian mengambil cemilan yang ada di atas meja tanpa menoleh ke arah Aurel.
Aku tertawa tak terhenti akibat film yang sangat lucu, dimataku.
“Kak Bella!” panggil Aurel.
Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati Aurel yang sedang susah payah membuka freezer untuk mengambil es krimnya.
“Tolong ambilkan, es krim-ku, Kak,” pintanya manja.
Aku berjalan menghampirinya dan mengambil es krim coklat itu untuknya. Setelah mendapatkan es krim itu, ia hendak berlari ke belakang dan meninggalkanku, namun dengan cepat aku menarik bajunya hingga ia tertahan.
“Kenapa, Kak?” tanyanya.
“Jangan main di lemari Kakak lagi! Nanti berantakan,” ujarku.
Ia membalikan badan dan menatapku.
“Aurel tidak bermain di lemari Kakak, kok,” jawabnya.
Lalu, tadi yang tertawa dari dalam lemariku siapa? Jelas-jelas aku mendengar suara anak kecil tertawa dari dalam sana.
“Oh yaudah,” ujarku.
Ia kembali hendak berlari namun dengan cepat aku tahan.
“Kamu gak mau menemani Kakak menonton, lagi?” tanyaku.
Ia menautkan kedua alisnya, “Lagi?”
“Iya. Tadi kan kamu menonton TV bareng Kakak. Ayo, nonton lagi,” ajakku.
“Dari tadi, Aurel bermain dengan Nenek.”
Aku terdiam mendengar jawabannya. Lalu siapa yang tadi di sebelahku? Aku bahkan dapat mendengar deru nafasnya. Ia manusia, dan aku yakin akan hal itu!
“Kakak aneh,” ejek Aurel.
“Ish! Sana pergi!” usirku.
Ia langsung berlari meninggalkanku.
Aku tak memperdulikan tentang siapa yang sedari tadi menemaniku. Aku hanya kembali menonton TV dan tak mempedulikan suasana sekitarku.