Seorang lelaki berpenampilan rapi sedang berjalan melewati lobby hotel. Dia memakai kemeja putih yang dipadukan dengan jas dan celana kain warna hitam. Dasi berwarna biru tua menambah kesan tampan. Alis tebal, bibir tebal, bentuk rahang tegas serta sedikit jambang menambah kesan angkuh dan dingin.
Arshaka Kusuma Wijaya, lelaki berusia tiga puluh satu tahun. Lulusan S2 Magister Ekonomi. Putra tiri Bapak Ari Widodo, salah satu pebisnis terkenal yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata. Meski bukan putra kandung, tetapi Ari sangat menyayangi Shaka. Kasih sayangnya sama besarnya seperti pada kedua anak kandungnya Tania Kusumawardhani dan Tristan Adi Widodo yang kini berusia dua puluh empat dan dua puluh dua tahun.
Tania sudah menikah dan sudah dikarunia putri berusia setahun. Sedangkan Tristan sedang menempuh S2 di Inggris dengan mengambil jurusan hubungan internasional. Tristan memang bercita-cita bekerja di kedutaan, makanya dia memilih jurusan itu. Meski lain ayah, hubungan Shaka, Tania dan Tristan sangat kompak.
"Pagi, Pak."
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi, Pak."
"Selamat Pagi, Pak."
Para petugas hotel dari mulai satpam, resepsionis, porter bahkan roomboy yang tidak sengaja bertemu dengannya menyapa Shaka. Shaka hanya membalas sapaan para pegawainya dengan anggukan tanpa senyum.
Shaka terus berjalan hingga menuju ke ruangan manajer. Di sana dia disambut dengan senyum lebar oleh bawahan sekaligus sahabatnya, Erik.
"Woi, Bro. Jadi datang rupanya?" Erik dan Shaka saling mempertemukan kedua kepalan tangan alias tos.
"Iya, aku lagi keliling ini. Memastikan semuanya baik-baik saja."
Shaka dan Erik duduk di sofa. Erik menghubungi bagian dapur dan meminta mereka menyajikan minum untuk sang Bos Muda.
"Kamu kelihatan capek banget."
"Iys, kemarin habis dari acara di puncak. Sebelumnya aku habis muter-muter mengunjungi beberapa hotel yang lain."
"Hahaha. Semangat ya, makanya nikah sono! Biar kalau capek ada yang mijitin. Ini loh anakku udah dua, Gilang juga udah punya anak. Kamu kapan?"
"Kapan-kapan."
"Ck. Selalu ngeles kalau ditanya soal wanita, nikah sama anak."
Shaka hanya bersikap acuh dan lebih memilih langsung meminum kopi yang dibawakan salah satu pramusaji.
"Cewek itu cantik, yang anaknya Pak Bayu. Dia juga sepertinya ada rasa loh sama kamu. Diana kalau tidak salah kan namanya."
Shaka memilih menikmati cemilan yang disajikan daripada menanggapi ucapan Erik tentang wanita bernama Diana.
Erik menatap sang sahabat dengan intens, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Erik, Shaka dan Gilang adalah rekan kuliah S1 di UI. Mereka bersahabat. Dari mereka bertiga hanya Shaka yang begitu cuek terhadap wanita, tidak pernah mau menyapa dan bersikap ketus. Gilang sendiri sikapnya ramah pada wanita tapi hanya sekedar ramah, soal hati sahabatnya yang asli Purwokerto itu susah dimasuki kecuali oleh cinta pertamanya, Amanda. Yang entah bagaimana sekarang bisa digantikan oleh Tiara, sosok wanita dingin yang kini menjadi ratu di hati Gilang.
Sementara dia sendiri, adalah sosok playboy cap Kakap yang hobby pacaran tapi masih tetap tahu aturan. Dia tidak pernah merusak anak gadis orang. Makanya begitu menemukan sang pawang, Erik bisa hidup nyaman tanpa merasa terbebani oleh para mantan. Toh, Erik selalu putus secara baik-baik dengan para mantannya.
Untuk Shaka sendiri, Shaka sudah tahu pasti apa yang membuat sang sahabat seperti enggan untuk berhubungan dengan wanita. Alasannya adalah Shaka takut menjadi seperti sang ayah, menyakiti ibunya dan Shaka sendiri dengan berselingkuh. Itulah kenapa, Shaka selalu mencari sekretaris laki-laki bukannya perempuan. Karena dia. sekretaris perempuan hanya mengingatkan Shaka pada luka lama. Luka dimana sang ayah berselingkuh dengan sang sekretaris dan menghasilkan anak yang umurnya tidak berbeda jauh dengan Shaka.
"Kamu sudah dididik dengan baik sama ibumu, Kha. Percaya deh, kamu itu bakalan jadi suami paling bucin dsn ayah terbaik untuk keluarga kecilmu nanti. Kamu emang punya papah b******k tapi kamu punya ayah sambung terbaik. Kamu bisa contoh dia, 'kan?"
Shaka menatap sang sahabat, tatapannya tertuju pada pemandangan di luar melalui dinding kaca.
"Aku belum berniat nikah, entah sampai kapan."
"Kamu gak kasihan sama bunda kamu? Dia pasti mengharapkan kamu ada yang merawat, menemani kamu, mijitin kamu dan kasih beliau cucu."
"Bunda udah dapat dari Tania, dia kan lulus nikah langsung dilamar sama pacarnya. Bentar lagi dia juga dapat dari Tristan, kok. Jadi gak masalah aku gak kasih Bunda cucu."
"Ya elah, ini orang. Susah bener emang kalau di suruh nikah. Kamu normal gak sih?"
"Tahu." Shaka menjawab cuek.
"Lah, selama ini ada cewek yang bikin kamu deg-degan gak?"
"Entah. Biasa aja tuh."
"Astaga! Sahabat gue, Ya Allah."
Shaka hanya tertawa saja melihat wajah kesal dan frustasi milik Erik. Hal sama yang pasti terjadi pula pada Gilang, jika Shaka sedang bermain ke tempat Gilang dan Gilang membahas Shaka yang belum juga mau menikah.
Hampir satu jam Shaka berada di tempat Erik. Selain karena rindu pada sang sahabat. Hotel yang dimanajeri Erik memang hotel terakhir yang dia kunjungi sebelum kembali ke kantor.
Puas ngobrol dengan Erik, Shaka pamit. Dia segera melajukan mobilnya menuju ke kantor. Di lobby kantor, Shaka berpapasan dengan Diana. Diana memasang senyum manis ketika bertemu Diana. Shaka sendiri hanya melirik sinis ke arah Diana kemudian menatapnya tajam. Diana sedikit gelagapan tetapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.
"Nak Shaka." Bayu salah satu rekan Ari menyapa Shaka dengan ramah. Shaka mengangguk dan mencium tangan Bayu sopan.
"Kamu habis berkeliling?"
"Iya, Om."
"Oooo, nanti malam kan malam minggu. Kamu gak pengen ngaja Diana keluar? Kayak kemarin waktu kalian ke Puncak dan liburan di sana. Jangan biarkan tubuhmu kecapean, Kha. Kamu juga butuh refreshing."
Shaka tersenyum tipis mendengar saran Bayu, dia pun melirik Diana dengan senyum sinis. Diana memilih pura-pura menatap ke bawah tak berani menatap Shaka secara langsung.
"Maaf, Om. Shaka pengen me time. Lagi gak pengen keluar."
"Apa Diana yang main aja ke rumah kamu?"
"Silakan, Om. Di rumah ada Bunda kok. Malah biasanya Tania sama keluarga kecilnya main."
Kalimat Shaka sudah jelas mengisyaratkan penolakan kepada Diana. Bayu mendesah, ternyata membuat Shaka melirik ke arah Diana sangat sulit.
Seminggu yang lalu, Bayu begitu bahagia karena Shaka mau menemani Diana mengunjungi pesta sahabat Diana sekaligus Shaka di puncak. Tetapi saat pulang, Bayu kaget mendapati Diana pulang diantar orang lain dan bukan Shaka. Saat Bayu menanyakan alasan kenapa Shaka tidak mengantarnya, Diana hanya bungkam. Membuat Bayu bingung. Dan kini, Bayu melihat dengan mata kepalanya sendiri tingkah Diana yang tampak takut sedangkan Shaka sejak tadi menatap Diana dengan sorot mata kebencian dan kemarahan.
"Shaka duluan, Om. Ada yang harus Shaka selesaikan."
"Oh, iya."
Shaka segera berlalu menuju ke ruangannya meninggalkan pasangan anak dan ayah. Bayu menatap sang putri.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua? Shaka memang sejak dulu sikapnya dingin sama wanita tapi tidak pernah menatap wanita dengan sorot kebencian ataupun senyum sinis. Tetapi sejak tadi papah lihat dia menatap kamu kok kayak benci banget. Kamu tidak melakukan hal aneh-aneh kan di puncak kemarin?" cecar Bayu.
"Enggak, Pah. Kita cuma ada sedikit kesalahpahaman aja, nanti Diana akan coba meluruskan sama Shaka, tapi nunggu emosi Shaka stabil dulu."
"Baiklah. Papah gak masalah kamu gak sama Shaka malah mending kamu sama Radit aja yang kelihatan cinta banget itu sama kamu. Kalau Shaka dia ...."
"Diana sukanya sama Shaka, Pah. Bukan Radit!"
Bayu menghembuskan napasnya kasar. Sudahlah, Bayu memutuskan akan melihat saja perkembangan hubungan antara putrinya dan Shaka. Sementara di hati kecil Diana, dia sedang mengutuki dirinya karena bertindak gegabah. Selama perjalanan pulang, Diana lebih banyak diam. Bayu yang melihat sang putri asik merenung pun memilih memejamkan mata.
Diana menatap ke arah jalanan. Dalam hati dia bermonolog.
"Andai, aku gak berbuat ceroboh. Setidaknya kamu masih menerima ku menjadi temanmu kan Mas Shaka? Agh, kenapa penyesalan selalu datang terlambat?"