bc

Cinderella Tanpa Sepatu Kaca

book_age18+
261
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
family
HE
brave
boss
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
lighthearted
city
like
intro-logo
Blurb

Ditinggalkan tunangan tepat sebelum hari pernikahan, lalu melihatnya menikah dengan wanita lain—apa yang akan kamu lakukan? Menangis semalaman, atau tampil cantik untuk membalas dendam?

Itulah yang dialami Elaina. Ia bukan Cinderella, tapi ia kehilangan sebelah sepatunya saat nekat mengacau di pesta pernikahan sang mantan. Rencana balas dendamnya gagal, namun takdir justru mempertemukannya dengan Alister—pria tampan, karismatik, sekaligus berbahaya… dan ironisnya, orang terdekat mantan tunangannya.

Di tengah patah hati dan dendam, Alister hadir memberi warna baru, menjadikan Elaina bak Cinderella versi modern. Namun, apakah kisah ini akan berakhir dengan kebahagiaan, atau justru membawa Elaina ke permainan yang lebih berbahaya?

chap-preview
Free preview
BAB 1
Jakarta sudah gelap ketika jam menunjukkan pukul 19.00. Lampu jalan dan lampu hotel menyala terang. Di salah satu hotel berbintang lima, suasana semakin ramai. Ballroom mewah dipenuhi tamu undangan dari kalangan atas. Musik mengalun, percakapan terdengar di berbagai sudut, dan para tamu datang dengan pakaian terbaik mereka. Elaina berdiri di depan hotel, menatap orang-orang yang masuk dengan pasangan masing-masing. Ada yang bergandengan tangan dengan suami atau istri, ada yang membawa anak. Senyum mereka terlihat jelas. Pemandangan itu membuat Elaina merasa iri. Dadanya penuh dengan rasa marah dan cemburu. Sebelum turun dari taxi, Elaina sempat mengurut pelipisnya. Ia sudah meneguk Vodka Martini yang dibawanya sejak perjalanan. Botol itu menjadi pegangan untuk menenangkan sekaligus memberi keberanian. Ia tidak peduli bagaimana orang lain menilai. Minuman itu adalah cara baginya untuk menghadapi malam ini. Ia sudah menenggak beberapa sloki, cukup untuk membuat langkahnya sedikit goyah, tetapi pikirannya masih fokus. Elaina sadar bahwa tindakannya malam ini berbeda dari dirinya yang biasanya. Ia bukan tipe orang yang suka menyakiti orang lain. Sejak kecil, orang tuanya mendidik untuk menghargai sesama. Namun, semua itu runtuh setelah ia disakiti. Fidell, pria yang pernah berjanji setia, kini berdiri di pelaminan dengan wanita lain. Dua hari lalu ia diputuskan sepihak, dan sekarang ia harus melihat pernikahan itu berlangsung. Keinginannya hanya satu, membalas dendam. Ia datang bukan untuk memberi selamat, melainkan untuk menghancurkan kebahagiaan yang menurutnya palsu. Alkohol memberinya keberanian, dan rasa sakit hatinya menjadi bahan bakar. Malam itu, Elaina melangkah masuk ke hotel dengan tekad yang sudah bulat. “Nona, sudah hampir setengah jam kita di sini.” Sopir taxi menoleh, bertanya dengan tatapan bingung. Sejak awal perjalanan, suasana di dalam taxi terasa hening. Sopir hanya sesekali melirik ke arah penumpangnya melalui kaca spion. Elaina duduk dengan wajah muram, rambut sedikit berantakan, dan botol minuman yang terus ia genggam. Penampilannya membuat sopir memahami bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada percakapan, hanya suara mesin dan deru kendaraan lain di jalan. Ketika taxi berhenti di depan hotel, Elaina tidak segera turun. Ia menatap lobi hotel dengan pandangan kosong. Sopir akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, mencoba memecah keheningan. Elaina hanya menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Ia menunduk, menatap angka di argo taxi, dan menarik napas panjang. Jumlah yang harus dibayar cukup besar, membuatnya sedikit menghela napas. Ia membuka tas kecil hitam yang dibawanya, merogoh uang, lalu menyerahkan kepada sopir. Tidak ada banyak kata, hanya transaksi singkat. Sopir memberikan kembalian, Elaina menerimanya tanpa menatap. Sebelum keluar, ia kembali meneguk minuman dari botol yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya. Langkahnya keluar dari taxi terlihat goyah. Alkohol membuat tubuhnya tidak stabil, meski pikirannya masih cukup sadar untuk mengingat tujuan. Ia berjalan menuju lobi hotel dengan gaun kuning panjang yang terseret di lantai. Ujung gaun sudah kotor, tetapi ia tidak peduli. Satu tangan sibuk mengangkat bagian gaun agar tidak semakin terseret, sementara tangan lain tetap menggenggam botol minuman. Tas kecil hitam di bahunya bergoyang mengikuti langkahnya. Pandangannya kabur, namun arah langkahnya jelas. Ia tahu apa yang akan dilakukan malam itu. Tidak ada senyum, tidak ada ragu. Hanya tubuh yang terhuyung dan tekad yang terus menuntunnya masuk ke dalam hotel. Saat menyeberangi jalan depan Iobi, ia hampir tertabrak mobil. Untung saja refleks pengendara sangat bagus. Elaina terhuyung sebentar, sebelum menegakkan diri dan melangkah cepat ke arah lobi. Toleransinya terhadap alkohol memang tidak tinggi tetapi tidak juga bisa dikatakan rendah. Pengendara mobil yang hampir menabrak Elaina, menatap gadis itu tak berkedip. Rasa kaget masih menguasainya karena gadis itu menyeberang tanpa melihat jalan. Kalau saja refleks-nya tidak bagus, entah apa yang akan terjadi “Kenapa dia terburu-buru sekali?” Pria dengan kaca mata frameless, bergumam dan menatap arah Iobi. Ia kembali menghidupkan kendaraannya dan berhenti di parkiran valet. Elaina menyeberangi Iobi, mengantri di depan lift dengan banyak orang Iainnya sambil memandangi marmer lobi. Ia menyerbu masuk saat lift terbuka, membiarkan dirinya terdesak di dalam. Celoteh orang-orang hanya didengar sepintas. Otaknya kini terlalu sibuk dengan pikiran dan rasa sakit hatinya, serta mencoba mempertahankan kesadarannya agar tidak hilang sampai saat pembalasan dendam. Lift membuka, ia memiringkan tubuh untuk mencari celah jalan keluar di antara banyaknya orang dalam lift itu. Tiba di depan ballroom, ada banyak orang di lorong. Menggunakan undangan yang dipinjam dari seorang teman, ia memasuki ballroom dengan mudah. Berdiri di dekat pintu masuk dan terbelalak. Di pelaminan yang megah, sepasang pengantin sedang menerima ucapan selamat dari para undangan. Musik mengalun dari orchestra di ujung ruangan. Ia mengenali orang-orang yang ada di pelaminan, pengantin pria, dan orang tuanya. Ia mengusap dadanya yang sesak, menahan air mata yang hendak jatuh. Membuang botol ke tempat sampah, ia mengusap mata dan mengangkat ujung gaunnya. Melangkah dengan cepat menuju pelaminan. la menyambar kertas Iebar dan mengkilat dari meja prasmanan. Itu adalah brosur catering, meletakkannya di atas kepala untuk menutupi wajah lalu mengantri bersama tamu undangan yang lain. Satu langkah ke depan, dadanya seperti digedor. Seribu umpatan terekam di dalam d**a dan harus ia sembur keluar. Hingga lima antrian lagi di depan MC pernikahan mengajak bicara pasangan pengantin. Para tamu yang ingin bersalaman harus menunggu. “Wah, bisakah pengantin pria yang berbahagia ini bercerita, sudah lama kalian menjalin hubungan dan bagaimana akhirnya memutuskan untuk menikah?” Pengantin pria mengambil mikrofon, tersenyum pada istrinya yang bergaun putih dan mulai bicara. “Kami menjalin hubungan kurang lebih enam bulan lalu. Merasa cocok satu sama lain, dan aku melamamya bulan lalu.” Elaina mengepal saat mendengarnya. “Kisah cinta yang hebat. Apakah kalian langsung klik satu sama Iain dari pertama bertemu?” Lagi-Iagi si pengantin pria yang menjawab. “Iya, Ivanka adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Tidak pernah ada wanita yang aku cintai, seperti Ivanka.” “BOHOOONG!!!” Elaina yang sudah tidak sabar menahan geram, keluar dari barisan. Membuang kertas undangan ke samping dan menunjuk pengantin pria dengan marah. “Fidell, sialan kamu! Berani-beraninya bohong!” Pengantin pria terperangah, sementara istrinya menatap bingung. “Siapa dia, Sayang?” “Bukan siapa-siapa,” jawab Fidell dengan panik. Berusaha menenangkan istrinya. Elaina melangkah maju, beberapa orang berusaha menghalangi dan ia tidak peduli. Vodka membuatnya kuat untuk menahan malu, meskipun sakit hatinya menggelegak. “Terus aja bilang menyangkal. Kita pacaran tiga tahun. Orang tuamu juga kenal akuu!” Elaina menunjuk kedua orang tua disamping Fidell. “Baru dua hari kamu putusin aku secara sepihak, kamu udah nikah! Nama kamu saja yang bagus artinya, ‘kesetian’. Tapi cih… tingkahmu sama sekali nggak setia! b******n!” “Fidell!” Sang papa berteriak. Fidell menggeleng lalu berteriak memanggil para penjaga. Tangannya melambai untuk mengusir Elaina, dan dua pria berusaha memegang tangan Elaina, tapi ditepiskan. “Wanita gila! Kita udah putus dari lama. Kenapa kamu masih nggak terima?” “Udah lama? Baru dua hari lalu. ‘Buaya Darat’ sialan!” Elaina mengambil sepatu dan melemparkannya ke arah Fidell. Meleset, lemparannya mengenai pelaminan dan jatuh di karpet tepat di samping pengantin wanita. “Kalau kamu mau kawin! Bilang terus terang. Jangan pakai alasan nggak masuk akal!” Jeritan Elaina menarik perhatian banyak orang. Para tamu undangan mendekat, untuk melihat apa yang terjadi. Tapi, Elaina tidak peduli. la ingin seluruh dunia tahu, apa yang sudah dilakukan Fidell padanya. la tidak masalah kalau memang harus putus hubungan, tapi tidak begini caranya. Fidell meninggalkan istrinya, menghampiri Elaina dengan wajah memerah. la memberi tanda dan dua pria penjaga kini menyergap Elaina, memegang tangannya dengan erat. Tidak peduli kalau wanita itu meronta dan berteriak. la berdiri di depan Elaina dan menatap tajam. “Berani-beraninya kamu mempermalukanku!” Elaina mengangkat dagu dan tertawa lirih. “Aku hanya ingin istrimu tahu, pria macam apa yang dinikahinya. Kamu ingat gaun yang aku pakai ini? Gaun yang sama waktu kamu melamarku tahun lalu dan kita resmi bertunangan. Sialan!” “Oh, kamu sakit hati karena aku memutuskanmu?” Elaina berdecak, meronta tapi kedua penjaga mencengkeram pergelangan tangannya. “Sakit hati? Bukan putus yang bikin aku sakit tapi karena kamu menduakanku. Bisa-bisanya kamu memacariku dan dia bersamaan. Sialan kamu, Fidell!” Fidell tersenyum sinis, mengusap jas pengantin dan rambutnya, menatap Elaina dengan pandangan bosan. “Harusnya kamu intropeksi diri, kenapa aku memilih Ivanka. Pria mana yang akan menikah dengan wanita macam kamu?” Kalimat barusan bagaikan air garam yang Fidell siramkan ke atas luka di hatinya, dan ini semakin membuat kilat amarah di mata Eliana bersinar. Satu hal yang Fidell abai, Eliana tidak akan melepaskannya dengan mudah sebelum sakit hatinya terbalaskan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.1K
bc

Too Late for Regret

read
331.2K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.0K
bc

The Lost Pack

read
447.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook