Suasana rumah sakit pagi itu dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung. Aktivitas para perawat dan derap langkah dokter terdengar silih berganti di lorong-lorong. Namun di depan ruang administrasi, suasananya jauh lebih sunyi, seolah waktu menahan napas.
Alvaro berdiri tegak di depan loket pembayaran, ponselnya masih tergenggam di tangan. Pikirannya fokus. Tatapannya tajam. Di belakangnya, Dinda berdiri dengan tubuh sedikit gemetar, kedua tangannya meremas ujung tas sekolah yang ia bawa sejak subuh. Mata gadis itu bengkak seperti habis menangis berkali-kali.
“Total biaya operasi dan perawatan intensif selama tujuh hari… Rp 1.028.500.000,” jelas petugas administrasi dengan nada hati-hati, seolah tak yakin anak muda seperti Alvaro mampu membayar angka sebesar itu.
Dinda langsung menunduk, wajahnya memucat. “Al… nggak usah. Ini nggak masuk akal. Kaamu … kamu nggak mungkin.”
“Tidak apa-apa,” ucap Alvaro pelan. “Biarkan aku selesaikan.”
Petugas menatapnya ragu. “Pembayarannya… tunai atau…”
“Transfer.”
Alvaro mengeluarkan ATM hitamnya, kartu metal dengan desain elegan yang baru pertama kali ia gunakan, pemberian dari system.
Saat ia menyerahkan kartu itu, mata Dinda membesar.
“Alvaro… kamu benar-benar… punya uang segini?” suaranya bergetar.
Alvaro hanya tersenyum tipis. “Aku bilang, aku akan bantu. Aku bukan orang yang suka main-main dengan kata-kataku.”
Beberapa sentuhan di mesin EDC, pin dimasukkan, proses berjalan.
Beep.
Transaksi Berhasil.
Petugas tampak terpaku sejenak. Dinda menutup mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Terima kasih… kak,” ucap petugas itu tak percaya sambil menyerahkan bukti pembayaran setebal buku catatan.
Alvaro menerima kertas itu lalu menoleh pada Dinda. “Ayahmu aman sekarang. Operasinya bisa segera dilakukan.”
Dinda tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi Alvaro lama, sangat lama, seolah baru melihat sosok yang benar-benar berbeda dari Alvaro yang pernah ia kenal di masa SMA dulu. Bukan lagi siswa yang sering menahan lapar saat istirahat. Bukan pemuda yang diledek karena sepatu sobek atau tas yang bolong. Bukan anak miskin yang ditinggalkan pacarnya hanya karena tidak punya uang.
Kini di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan aura ketenangan yang dewasa dan kekayaan yang tak masuk akal.
“Alvaro…” suara Dinda pecah. “Kenapa kamu ngelakuin ini? Kita bahkan dulu nggak terlalu dekat. Kamu… nggak harus sebegini jauh…”
Alvaro menghela napas. “Karena aku punya kemampuan buat bantu. Dan aku nggak tahan lihat orang tua kamu menderita hanya karena uang.” Ia menatap lurus mata Dinda. “Tidak ada yang pantas kehilangan nyawa gara-gara nggak punya biaya.”
Dinda menggigit bibir bawahnya, menahan emosi. “Tapi… satu miliar, Al. Itu bukan uang kecil. Kamu yakin kamu nggak menyesal?”
“Kalau untuk menyelamatkan nyawa,” Alvaro tersenyum kecil, “nggak ada yang perlu disesali.”
Detik itu, ada sesuatu yang bergetar halus di d**a Dinda. Sebuah sensasi hangat, samar, dan asing—yang ia coba abaikan namun tidak bisa. Ia memalingkan wajah, pura-pura mengatur napas padahal wajahnya memerah.
Sebelum situasi berubah canggung, langkah tergesa-gesa terdengar dari ujung lorong.
“Alvarooooooo!”
Mahesa muncul dengan badan penuh perban, menyeret langkah sambil memegangi pinggang. Separuh wajahnya diplester, lengan kanannya digantung dengan kain penyangga. Penampilannya tragis… sekaligus menyedihkan.
Melihat itu, Alvaro langsung menepuk dahinya. “Bro… lo kayak mumi.”
Dinda menoleh dan otomatis menahan tawa. “Mahesa? Kamu Mahesa? Astaga… kamu—kamu kenapa bisa kayak gini?”
Mahesa mengangkat alis atau mencoba mengangkat alis, karena perbannya cukup menghambat. “Dinda? Dinda Maheswara? Ya Tuhan, gue kira tadi itu orang mirip lo… kok nasib gue begini ya.”
Alvaro menyeringai. “Nasib lo? Itu karena mulut lo terlalu usil!”
“Eh! Gue dipukulin geng Kobra bukan gara-gara mulut. Gara-gara lo!” sergah Mahesa dengan suara serak. “Lo tau nggak betapa perihnya kena bogem 20 orang sekaligus? Gue kayak martabak dipukulin spatula!”
Dinda akhirnya tidak bisa menahan diri dan tertawa. “Ya ampun, Mahesa. Mulutmu tetap sama kayak dulu waktu di SMA.”
“Lah, gue korban di sini!” protes Mahesa sambil menunjuk perbannya. “Badan gue remuk. Jangankan lari. Kedip aja sakit.”
Alvaro menepuk bahu sahabatnya, bahu yang tidak diperban. “Tapi masih hidup kan?”
“Kalau bukan karena lo datang dan ngehajar mereka satu-satu, mungkin gue udah jadi bintang tabrakan di IGD tadi!” keluh Mahesa.
“Alvaro bisa ngalahin mereka semua?” tanya Dinda tak percaya.
“SEMUA,” jawab Mahesa dramatis. “Kayak film action. Satu pukul, jatuh. Satu tendang, mental. Gue sampai nanya dalam hati, ASTAGA INI SIAPA? Ini bukan Alvaro yang gue kenal!”
Alvaro menghela napas. “Jangan dilebih-lebihkan.”
“Gue nggak lebihin! Malah kurang! Lo harusnya liat bagaimana pemimpin geng itu ketakutan! Gila, Alvaro sekarang kayak—kayak—”
“Sudah, Mahesa,” potong Alvaro sebelum Mahesa membongkar lebih jauh.
Mahesa menatap sahabatnya dengan penuh kekesalan. “Oke, oke. Tapi berikutnya kalau mau berantem lawan geng, Jangan Libatin Gue ya!”
“Tapi lo kan nggak sengaja dilibatin,” ucap Alvaro santai.
“Apalah !”
Dinda tertawa lagi, kali ini lebih keras. Suasana tegang berubah menjadi hangat. Lorong rumah sakit yang biasanya muram kini dipenuhi suara tawa mereka bertiga.
Beberapa detik kemudian, Alvaro menepuk bahu Mahesa lagi. “Udah. Yuk pulang. Lo butuh istirahat.”
Mahesa mengangguk. “Iya. Gue udah kayak pepes.”
Alvaro menatap Dinda. “Dinda, aku pamit dulu. Kalau ada apa-apa, kabari aku.”
Dinda menatapnya lama, sebelum mengangguk pelan. “Alvaro…”
“Ya?”
“…terima kasih. Untuk semuanya.”
Alvaro hanya tersenyum tipis sebelum berbalik. Mahesa berjalan pincang di sampingnya, masih meracau kesakitan.
Dinda berdiri di tempatnya, menatap punggung Alvaro hingga sosok pemuda itu menghilang di tikungan.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, jantungnya berdetak tak karuan—bukan karena cemas, bukan karena takut, tapi karena rasa hangat yang tiba-tiba tumbuh tanpa ia sadari.
Rasa yang tidak ingin ia akui. Namun semakin ia mencoba mengingkarinya…
Semakin kuat getaran itu muncul.