Setelah menikmati sarapan pagi buatan Dina, Alvaro menyandarkan tubuhnya pada kursi makan sambil menarik napas panjang. Hangatnya aroma masakan yang masih tersisa di udara membuat hatinya terasa tenang, setidaknya untuk sesaat.
“Aku mandi dulu ya, Din,” ucapnya singkat.
Dina hanya mengangguk sambil merapikan sisa-sisa piring di meja. Ia tidak menyadari bahwa Alvaro sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu di kamarnya—sesuatu yang sejak semalam berulang kali ia lirik dengan perasaan campur aduk.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki Alvaro terdengar kembali menuruni tangga. Dina menoleh. Alvaro membawa sebuah kantong belanja besar, kertasnya tebal, warnanya mewah, dengan logo Hermes yang mencolok di bagian depan.
Dina terpaku.
“K-ka… itu apa?”
Alvaro tersenyum lembut. Ia mendekat, lalu meletakkan kantong itu di depan Dina. “Dina… ini untukmu,” ucapnya pelan. Tangannya mengusap puncak kepala adiknya, mengacak rambut Dina seperti ketika mereka masih kecil. “Maaf ya… kakak baru bisa kasih hadiah beneran sekarang.”
Dina terdiam beberapa detik sebelum membuka kantong itu dengan perlahan. Ketika melihat kotak oranye khas Hermes, napasnya tersendat.
“Ka-kak… ini beneran… Hermes?!” suaranya meninggi.
“Buka saja.”
Dengan tangan gemetar, Dina membuka kotaknya. Dan ketika ia melihat tas Hermes Kelly warna Rose Sakura yang elegan dan manis itu, mulutnya langsung terbuka lebar.
“Ka-Ka-KaK!!! Ini mahal banget!! Ini… ini harganya ratusan juta kan?!”
Alvaro mengangguk santai seolah yang ia beli hanyalah tas seharga lima puluh ribu di pinggir jalan. “satu miliar,” ucapnya datar.
Dina memekik pelan sambil menutup mulutnya.
“Ka….Apa?! KaK Varo!! Satu… Miliar…?!”
Alvaro hanya terkekeh melihat adiknya panik seperti ayam kehilangan induk.
“Kamu suka?”
“Suka?? Aku… aku… kak… ini bahkan jauh lebih mahal dari rumah kontrakan lama kita setahun penuh!” Dina memelototi kakaknya seakan Alvaro baru saja jatuh dari bulan.
“Sudahlah, ambil saja. Anggap hadiah karena kamu sudah sabar sama hidup susah kita selama ini.”
“Tapi… kak… kakak dapat uang dari mana?!” akhirnya Dina bertanya dengan nada yang sejak tadi ia tahan. “Kita baru pindah ke rumah mewah. Terus kakak beli mobil-mobil mahal kemarin… sekarang tas Hermes pula… Kakak jangan bilang kakak—”
“Aku gak jual ginjal, Din,” potong Alvaro sambil tertawa kecil.
“Lalu?! Dari mana?!” Dina menatapnya dengan curiga.
Alvaro menghela napas, duduk di sofa, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. Dina mendekat.
“Kakak main saham dan crypto,” jelas Alvaro, tenang. “Beberapa tahun ini kakak belajar otodidak. Investasi kecil-kecilan… terus untung. Kemarin itu, salah satu coin yang kakak beli meledak. Profitnya gede.”
Dina mengangguk perlahan, meski jelas ia tidak benar-benar paham.
“Sampai bisa beli rumah dan mobil begitu?”
“Rezeki orang siapa tahu, Din.”
Dina masih tampak setengah percaya. Namun sebelum ia sempat bertanya lagi,
Breeeemmmm… Breeeeeeemmm…!!
Suara mesin mobil terdengar keras dari halaman. Dina spontan terlonjak dari sofa.
“Kak! Ada mobil masuk halaman rumah kita!” ujarnya panik sambil berlari ke arah jendela.
Alvaro berdiri sambil meregangkan badan. “Oh, itu mobil yang kakak beli kemarin.”
Dina langsung menoleh ke arah kakaknya seolah tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
“KAKAK YANG BELI?!”
“Ya.”
“Berapa mobil…?”
“Dua.”
Dina membeku.
“Dua?! Kak… itu bukan boros, itu GILA namanya!”
Alvaro hanya tersenyum tipis sambil berjalan ke pintu. “Ayo lihat. Kamu pasti suka.”
Dina, meski wajahnya penuh protes, tetap mengikuti kakaknya keluar rumah.
Begitu pintu terbuka, Dina langsung terpaku.
Di depan rumah mereka, dua mobil mewah terparkir rapi.
Satu BMW XM berwarna hitam metalik yang gagah dan futuristik.
Satu lagi BMW M4 berwarna putih mutiara dengan desain sporty dan menggoda.
Keduanya berkilau terkena cahaya matahari pagi, tampak seperti dua hewan buas yang siap meloncat dari sarangnya.
“Ka-kak… ini… ini mobil beneran?” Dina berbisik.
“Kalau bukan beneran, masa hologram?” jawab Alvaro santai.
Dari samping, dua petugas showroom berdiri sambil memberikan hormat kecil.
“Selamat pagi, Tuan Alvaro. Unit sudah kami antar sesuai permintaan.”
Alvaro mengangguk.
“Baik, terima kasih.”
Sementara itu Dina berjalan mendekati BMW M4 dan mengusap bodinya dengan ragu-ragu, seolah takut merusaknya.
“Ka… ini mobil artis. Mobil pejabat. Mobil crazy rich. Kakak yakin buat kita?”
“Buat kita? Tidak.”
Alvaro mendekat, lalu mengarahkan jempol ke d**a Dina.
“Ini buat kamu.”
“A-apa?! Buat aku?! Kak, ini gila! Aku mau ke sekolah dipelototin satu sekolah nanti!”
Alvaro menepuk lembut bahu adiknya. “Mulai sekarang kamu harus terbiasa, Din. Kamu keluarga kakak. Kamu harus aman. Kamu akan berangkat dan pulang dengan mobil ini—dengan sopir.”
Dina menggigit bibirnya. Ada rasa takut, canggung, tapi juga kebahagiaan yang sulit ia sembunyikan.
“…baik, kak. Tapi aku beneran takut dikira sombong.”
“Tidak perlu peduli omongan orang. Yang penting kamu aman.”
Dina akhirnya tersenyum kecil. “Terima kasih, kak…”
Udara pagi terasa segar, menari pelan bersama semilir angin. Rumah baru mereka masih penuh kardus pindahan, tapi suasana hangat dan damainya jelas terasa. Semua ini, rumah, mobil, hadiah, adalah simbol perubahan hidup mereka. Perubahan yang begitu cepat, namun terasa seperti mimpi yang enggan berakhir.
Di halaman itu, Alvaro menatap Dina dengan senyum tenang. Ia tahu hidupnya bakal jauh lebih rumit setelah ini.Tapi melihat wajah bahagia adiknya…
semua terasa sepadan.