Bab 14 Amarah yang Dibangkitkan

1051 Words
Pagi itu Bandung tidak benar-benar tenang. Awan kelabu menggantung rendah, seolah tahu ada sesuatu yang buruk sedang bergerak di balik hiruk-pikuk kota. Di kamar mewahnya, Alvaro sedang duduk santai di sofa ruang tengah ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu panggilan masuk. Nama yang tertera: Mahesa. Alvaro mengernyit. Mahesa jarang menelepon sepagi ini. Ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. Namun yang terdengar bukan suara Mahesa, melainkan erangan kesakitan. “Al… A… Alvaro… t-tolong…” suara Mahesa bergetar, seperti orang yang sedang menahan nyeri. “Mereka… menangkapku…” “Mereka siapa?” tanya Alvaro dengan nada dingin. Terdengar bentakan kasar dari latar belakang. “Cepat bilang, di mana dia tinggal sekarang! Atau gue patahin tangan lo satu-satu!” Alvaro berdiri, rahangnya mengeras. Hening beberapa detik. Lalu suara Mahesa terdengar lagi, lemah, putus-putus, seperti sedang ditendang. “A..Alvaro… kabur sajjj …AARGHH!” Telepon terputus. Alvaro terdiam sejenak. Lalu perlahan ia mengepalkan tangan. Urat-urat muncul di lengan, dan mata hitamnya menyipit penuh kemarahan. Dari dapur, Dina yang sedang merapikan gelas menoleh. “Kak? Kenapa? Ada masalah?” Alvaro menarik napas panjang. “Tidak usah khawatir. Kakak hanya perlu keluar sebentar.” “K-keluar? Tapi kakak kedengaran mar….” “Dina.” Suaranya tajam, tapi lembut. “Tetap di rumah. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Kakak akan baik-baik saja.” Dina mengangguk pelan, namun jelas ada kegelisahan yang tertahan di matanya. Begitu Alvaro keluar rumah, wajahnya berubah menjadi dingin seperti bilah pisau. Ia melangkah cepat ke halaman, udara pagi menusuk wajahnya—tapi kemarahannya membuat tubuhnya terasa panas. “Sistem, tingkatkan kekuatan fisikku menjadi 55.” [… Menghitung… Peningkatan membutuhkan 30 poin. Konfirmasi?] “Lakukan.” [… Peningkatan berhasil.] Gelombang energi halus merambat dari d**a ke seluruh tubuhnya. Otot-ototnya terasa lebih padat, lebih responsif. Ia mengepalkan tangan—kekuatan yang meningkat terasa jelas, seperti lapisan kekuatan baru menempel pada sendi-sendinya. “Sistem, tingkatkan juga kecepatanku menjadi 55.” [… Peningkatan membutuhkan 20 poin. Konfirmasi?] “Ya.” [… Berhasil.] Tubuh Alvaro terasa lebih ringan. Nafasnya semakin stabil. Gerakannya seolah berpacu setengah detik lebih cepat dari sebelumnya. Dan terakhir— “Sistem, berikan aku kemampuan khusus baru. Kick Boxing Level 1.” [… Kemampuan membutuhkan 100 poin. Konfirmasi?] “Ambil.” [… Peningkatan berhasil. Kemampuan ‘Kick Boxing – Level 1’ telah ditambahkan.] Dalam sekejap, puluhan pola gerakan, teknik tendangan, momentum tubuh, rotasi pinggul, dan gaya bertarung baru mengalir ke kepalanya seperti memori yang tiba-tiba muncul. Kakinya terasa lebih elastis, gerakannya lebih tajam. “Bagus,” gumamnya. “Sekarang… saatnya mengambil kembali sahabatku.” Lapangan kosong dekat lokasi tempat ia dulu mengalahkan anggota Geng Kobra tampak berbeda hari ini. Bukan kosong. Bukan sepi. Setidaknya tiga puluh anggota Geng Kobra berkumpul di sana, motor-motor mereka berjejer seperti pasukan perang. Di tengah kerumunan, Mahesa terduduk di tanah, wajahnya babak belur, bibir pecah, dan salah satu lengannya tampak memar hitam. Seorang pria berjaket kulit hitam berdiri di depannya—sosok tinggi, bertubuh kekar, dengan tatapan predator. Pemimpin cabang Geng Kobra. “Kita tahu kau dekat dengan dia!” bentaknya sambil menendang perut Mahesa. “Di mana Alvaro sekarang?!” Mahesa hanya menggeleng, napas terengah. Pemimpin itu mendengus. “Baiklah. Kalau begitu, kita cari cara lain—” Suara langkah kaki memotong kalimatnya. Pelan. Tapi tegas. Semua kepala menoleh. Sosok berjaket hitam dengan aura dingin berjalan perlahan ke tengah lapangan. Alvaro. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi. Namun matanya—gelap, tenang, dan penuh amarah. Pemimpin Geng Kobra menyeringai. “Akhirnya muncul juga kau, bocah ajaib.” Alvaro berhenti lima meter di depan mereka. “Lepaskan dia.” “Kalau tidak?” “Kalau tidak… kalian semua akan tidur di tanah.” Anggota-anggota geng itu tertawa keras, seolah mendengar lelucon paling lucu tahun ini. Pemimpin mengangkat tangan. “Sepuluh orang maju. Tangkap dia.” Sepuluh anggota langsung menyerbu. Alvaro tidak bergerak sampai satu langkah terakhir mereka. Dan kemudian… Banggg! Satu tendangan rendah menghantam pergelangan kaki lawan, membuatnya terpelanting. Dugggg! Pukulan siku menghantam rahang salah satu anggota, menjatuhkannya dalam sekali gebrakan. Crakccc! Satu tendangan memutar ala kick boxing mengenai d**a lawan seperti hantaman palu. Orang itu terpental dua meter. Gerakan Alvaro cepat. Presisi. Kejam. Dalam dua puluh detik, sepuluh orang terkapar. Mahesa yang menontonnya dari tanah ternganga. “A-Alvaro… sejak kapan kau…?” Alvaro tidak menoleh. “Nanti aku jelaskan.” Pemimpin Geng Kobra mendesis marah. “Kalian semua! Hancurkan Dia! Sekarang!” Dua puluh anggota lain menyerang serempak. Namun Alvaro tidak mundur. Ia menyerang balik. Satu pukulan karate menghantam pelipis lawan. Satu tendangan hook memutar membuat dua orang tumbang bersamaan. Satu sapuan kaki cepat menjegal tiga anggota sekaligus. Tubuhnya bergerak seperti bayangan yang sulit ditangkap mata. Setiap pukulan dari lawan seperti datang dalam gerakan lamban, sementara Alvaro membalas dengan kecepatan dua kali lipat. Jeritan, dentuman, dan debu memenuhi area. Pemimpin geng menatap tak percaya. “Bagaimana bisa…? Dua puluh orang… semudah itu…?” Dalam hitungan menit, dua puluh anggota lain menyusul rekan-rekannya—tersungkur di tanah, meringis kesakitan. Hanya pemimpin geng yang tersisa. Ia mundur satu langkah, wajahnya pucat. “B-b******n… apa kau manusia?!” Alvaro melangkah maju, aura dinginnya membuat pemimpin itu berkeringat dingin. Namun sebelum mereka saling menerjang— Weeeooo— Weeeoooo — Weeeooo!! Suara sirine mobil polisi terdengar keras dari kejauhan. Anggota Geng Kobra panik. “Polisi!? Kabur!!” Pemimpin itu memaki, lalu menyeret dua orang rekannya yang masih tersadar. “Sialan! Kita pergi dulu! Ini belum selesai, Alvaro!” Mereka melompat ke motor dan tancap gas secepat mungkin. Motor-motor lain mengikuti, meninggalkan jejak debu. Hanya Alvaro dan Mahesa yang tersisa. Sirine itu makin dekat…. Namun yang tiba adalah mobil tua milik warga sekitar. Seorang bapak-bapak keluar dari jendela dan melambai. “Hehehe! Maaf, Nak! Bapak cuma nyalain speaker sirine mainan. Biar mereka bubar duluan!” Alvaro tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Mahesa perlahan berdiri dengan bantuan Alvaro. “Bro… sejak kapan kau jadi… begini? Apa kau latihan diam-diam?” Alvaro hanya menepuk bahu sahabatnya. “Aku akan jelaskan nanti. Sekarang kita pergi dari sini dulu.” Namun mereka tidak menyadari, Di balik tembok bangunan tua, seorang pemuda berjaket hijau gelap memperhatikan mereka dengan senyum tajam. Mata pemuda itu memancarkan rasa tertarik. “Menarik… sangat menarik,” gumamnya. “Anak itu… potensinya besar. Orang sepertinya layak bergabung dengan Geng Naga.” Ia menghilang begitu saja. Membawa rencana baru bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD