Melamar

1230 Words

“Sayang,” panggil Farhan saat aku memeluknya lebih erat dari sebelumnya. “Biarkan begini. Saat kamu pergi nanti, sudah pasti tidak bisa lagi,” lirihku. “Aku tidak pergi, Sayang—” “Pergi, itu namanya pergi, Farhan,” kesalku melepas pelukanku, dan dia kembali menarikku, masih ingin menikmati momen ini. “Aku sudah sejauh ini mengejarmu, Sya. Aku takkan pernah melepaskanmu lagi. Kamu pun tak boleh lagi meninggalkanku. Seberapa jauh pun jarak kita, seberapa lama pun kita terpisah, aku akan memastikan rindu kita terbalas, dan pertemuan kita selanjutnya akan setimpal.” *** Aku membuka tenda, matahari baru saja terbit menyinari puncak gunung yang masih diselimuti salju tipis. Udara sejuk dan segar merayap masuk ke dalam tenda, sementara Maria masih betah dalam tidurnya. Suara burung-burung b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD