* * Sepanjang perjalanan pulang, Gendhis hanya menatap ke luar jendela. Lampu-lampu jalanan berkelebat cepat, tapi pikirannya terasa lebih lambat dari apapun. Di sebelahnya, Bhumi masih menyetir tenang, wajahnya tampak fokus, tapi sesekali ia menoleh lembut—seolah memastikan istrinya baik-baik saja. Gendhis ingin berkata sesuatu. Tentang Bara, tentang rumahnya, tentang niatnya yang sempat goyah. Tapi setiap kali bibirnya terbuka, suaranya lenyap oleh suara mesin mobil. “Senang habis jalan sama teman-teman kamu?” Pikiran Gendhis yang sedang sibuk, terpaksa buyar karena pertanyaan Bhumi. Gadis itu menoleh, menatap sang suami yang masih sibuk menyetir. “Iya, Om.” Jawabnya dengan senyum terpaksa. Jujur saja, seluruh pikiran Gendhis masih didominasi oleh banyak keraguan. Meskipun dia te

