*
*
“Ini yakin kita udah nikah, Om?”
Gendhis melongo karena karena kejadiannya begitu cepat.
Pulang dari kampus tadi, Bhumi langsung mengajaknya ke kantor catatan sipil, dan mereka menikah disana secara kilat, namun khidmat.
“Menurut kamu?” Bhumi membalik pertanyaan. Menunjuk sebuah buku nikah di tangan Gendhis.
“Tapi, Om, kok nikahnya nggak persiapan apa-apa dulu?”
“Katamu, kamu nggak punya keluarga selain orang-orang yang nggak kamu sukai itu. Jadi, buat apa pesta meriah?”
“Maksud saya, kok langsung aja? Nggak harus nunggu besok atau kapan gitu.”
“Kelamaan! Keburu kamu hamil, dan anak saya dicap sebagai anak haram.”
Gendhis sontak membelalakkan matanya. “Saya lupa beli pil itu lagi, Om. Kalau saya hamil gimana?”
Bhumi memutar bola matanya malas. Rupanya, Gendhis baru sadar soal itu.
“Justru, tujuan kita biar kamu hamil kan?”
“Eh, iya, lupa. Ngapain repot? Orang hamil ada suaminya.”
“Pintar.” Ucap Bhumi sekenanya, tak sungguh-sungguh memuji Gendhis. “Ya sudah, ayo pulang!”
“Eh, tunggu, Om!” Gendhis menahan tangan Bhumi yang hendak menariknya ke parkiran kantor catatan sipil.
“Apa lagi, Gendhis?” Bhumi terdengar kesal.
“Saya ikut Om pulang?”
“Ya iyalah…” sedetik kemudian, Bhumi teringat sesuatu. “Pulang ke rumah Pakdemu dulu, ambil semua barang-barangmu.”
“Kalau mereka tanya gimana, Om?”
“Ya jawab apa adanya lah.”
“Jawab apa adanya kalau kita nikah kontrak? Atau jawab kalau kita nikah setelah bercinta?”
Bhumi menghela nafas panjang. “Biar saya yang ngomong sama mereka. Kamu nggak perlu khawatir. Kamu juga pengen pergi dari rumah itu kan?”
Gendhis mengangguk meskipun ragu.
“Ya sudah, ayo! Saya masih banyak pekerjaan.”
Meskipun ragu, Gendhis menurut. Dia dan Bhumi berpacu dengan kecepatan menuju rumah Pakde Bagus.
Beruntung, tak ada siapa-siapa disana, karena hari memang masih sore, dan kemungkinan mereka semua masih beraktivitas di luar. Pada akhirnya, Gendhis memutuskan untuk menelpon Pakdenya nanti saja.
Tak butuh waktu lama, Gendhis membereskan beberapa barang yang dia anggap penting. Tidak semua. Hanya yang menurutnya berguna saja.
“Di rumah Om ada siapa?” Tanya Gendhis tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
Bhumi yang sejak tadi berkonsentrasi menyetir, menoleh singkat. “Banyak.”
“Anak Om banyak?”
Bhumi berdecak karena anggapan Gendhis. “Anak saya cuma satu. Laura aja. Tapi, di rumah saya ada beberapa asisten rumah tangga dan pekerja laki-laki.”
Gendhis mengangguk saja. Tapi rupanya, masih ada yang dipikirkan wanita itu.
“Kalau Laura marah gimana, Om?”
“Harusnya dia bersyukur kalau pacarnya tidak akan kamu ganggu lagi.”
“Ish, bukan saya yang suka ganggu Leon, Om. Tapi, Leon yang maunya deket-deket sama saya.”
“Dia suka sama kamu?” Bhumi mencoba menebak.
“Kami udah temenan dari lama, Om. Nggak cuma sama Leon, tapi sama Meli juga.”
Bhumi mengangguk mengerti. “Jadi menurutmu, Laura hanya salah paham?”
“Nggak cuma salah paham. Tapi, dia juga cemburuan.”
“Semoga, setelah ini kalian bisa akur. Biar bagaimanapun juga, kamu akan menjadi ibu tiri Laura. Saya harap, meskipun kamu belum bisa menggantikan Mama Laura, setidaknya kamu bisa menjadi temannya. Tolong mengerti Laura sedikit ya, Gendhis. Udah lima tahun dia kehilangan Mamanya.”
Gendhis tersenyum tipis. Entah kenapa, ada rasa menyengat di hatinya.
“Saya juga udah lima tahun ditinggal Mama Papa, Om.”
Seketika itu, suasana di dalam mobil Bhumi mendadak canggung. Bhumi berdehem singkat karena dia lupa jika hidup Gendhis lebih buruk dari hidup Laura.
Merasa bersalah, Bhumi melirik Gendhis yang tengah menatap pemandangan di samping kirinya, sedangkan seharusnya dia lebih mudah untuk menikmati pemandangan di depannya.
Tangannya memegang sebuah kalung kecil di lehenya, mengelus-elus lembut dengan ibu jarinya. Rasa bersalah Bhumi semakin menjadi saat dia tahu jika Gendhis menatap ke samping, hanya untuk menyembunyikan luka yang dia simpan sendiri.
Sampai di rumah Bhumi, tak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Tapi hebatnya seorang Gendhis, dia sudah berhasil mengembalikan mood baiknya dengan begitu cepat.
“Ayo turun! Kayaknya, Laura udah pulang.”
Gendhis mengangguk. Meskipun dia sudah was-was akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di dalam sana, tapi dia terus meyakinkan dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja.
“Pap—”
Sambutan Laura langsung terhenti saat gadis itu menyadari keberadaan Gendhis. Benar tebakan Gendhis, Laura pasti terkejut karena kehadirannya.
“Kok dia disini, Pa?” Laura tak perlu basa-basi. Belum apa-apa, sudah terlihat tidak suka.
Bhumi gugup untuk beberapa saat, tapi kemampuannya mengendalikan diri, mampu bekerja dengan cepat.
“Ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu, Laura.”
“Apa itu? Jangan bilang, Papa ngadopsi ani-ani ini.”
Dikatai seperti itu, Gendhis hanya mencebik. Dia sudah terlalu biasa diolok-olok oleh Laura. Sedangkan Bhumi, menghela nafas berat, mencoba untuk menyeimbangkan situasi yang mulai tidak baik.
“Jangan panggil Gendhis seperti itu.” Bhumi tidak membentak. Cenderung menasehati anaknya dengan lembut.
“Tapi dia emang—”
“Sekarang Gendhis istri Papa.”
Hening.
Laura nampak terkejut, suara tingginya mendadak hilang ditelan angin. Gendhis sendiri, pura-pura memalingkan wajahnya dengan ekspresi tengil karena melihat rivalnya kesal.
“Dia istri Papa?” Ulang Laura, seolah tidak percaya.
“Ya. Papa baru saja menikahi Gendhis.”
“Tapi kenapa, Pa?” Suara Laura melengking sampai menggema di rumah besar Bhumi. “Emangnya, nggak ada cewek lain selain dia? Kenapa harus dia sih, Pa? Papa nggak tahu ya kalau dia itu—”
“Papa harus bertanggung jawab sama Gendhis, La.” Potong Bhumi menghentikan ocehan anaknya.
“Bertanggung jawab apa?” Laura masih tak terima.
“Papa sudah meniduri Gendhis karena obat perangsang yang kamu berikan waktu itu.”
Mata Laura melotot sampai hampir keluar bola matanya. Tapi, Bhumi tak punya alasan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
“Jadi, yang tidur sama dia waktu itu Papa?”
“Ya. Papa sengaja kesana ngawasin kamu sambil menenangkan diri. Kamu tahu, pekerjaan Papa sangat banyak, dan Papa butuh tenang sebentar.”
Tiba-tiba, Laura menjambak rambutnya sendiri sambil berteriak. “Arght!”
“Dasar, ani-ani! Lo sengaja kan ngincer bokap gue karena lo tahu bokap gue kaya?” Tuding wanita itu.
“Enak aja. Gue nggak tahu kalau Om Bhumi bokap lo.”
“Alasan! Lo sengaja ya mau rebut orang-orang yang gue sayang? Dasar cewek nggak tahu diri!”
“Akh!” Gendhis terkejut karena tiba-tiba Laura menjambak rambutnya.
“Rasain lo, ani-ani!”
Gendhis berusaha melepaskan tangan Laura dari rambutnya. Tapi, sayangnya dia tidak berhasil dan hanya bisa menahan agar tarikan Laura tidak mencabut semua rambutnya.
“Laura! Udah, Nak. Kamu ini kenapa? Jangan pakai kekerasan seperti ini.”
Bhumi yang semula terkejut, ikut kebingungan memisahkan mereka. Karena dia dilema harus membela siapa, alhasil lelaki itu menempatkan diri di antara Gendhis dan juga Laura. Bhumi juga membantu melepaskan tangan Laura sampai akhirnya mereka berhasil dipisahkan.
“Papa belain dia?” Laura masih tak terima.
“Bukan begitu, La. Papa nggak belain salah satu dari kalian. Papa cuma nggak mau kalian berantem terus.”
“Kalau dia belum jauhin Leon, aku belum maafin dia.” Laura menunjuk Gendhis dengan telunjuknya, angkuh.
“Iya, Papa ngerti perasaanmu. Sekarang, Gendhis udah jadi istri Papa. Papa jamin, dia nggak akan deket-deket lagi sama pacarmu.”
Laura mendengus. Tapi, nampak mulai menerima keadaan.
“Jagain istri Papa! Tapi, kalau aku masih lihat dia ganjen sama Leon, jangan salahin aku kalau aku jambak lagi sampai rambutnya abis.”
Setelah berkata seperti itu, Laura naik ke lantai dua sambil menghentakkan kakinya kesal.
Setelah anaknya menjauh, Bhumi menghela nafas seraya memperhatikan Gendhis yang sedang merapikan rambutnya.
“Maafkan Laura, Gendhis. Apa kepalamu sakit?”
Bhumi hampir menyentuh kepala Gendhis, tapi wanita itu mengelak secara refleks.
“Nggak apa-apa, Om. Udah biasa kok kayak gini.” Sahut Gendhis enteng, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Udah biasa gimana? Laura sering main tangan sama kamu?” Bhumi sudah ketar-ketir.
“Ya begitulah, Om, kalau dia lagi cemburu.”
“Kalau dia sering melakukan itu, kenapa kamu diam saja?”
“Siapa yang diam saja? Kalau udah keterlaluan juga saya bales. Tadi aja, saya belum sempat bales, tapi Om udah misahin kami.”
“Astaga, Gendhis…” saking tidak percayanya, Bhumi meraup wajahnya kasar. “Ya sudah, kita ke kamar. Kamu istirahatlah, karena saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”
“Kita tidur sekamar, Om?” Tanya Gendhis dengan bodohnya.
“Iya, dong. Kami pikir, kalau kita tidak tidur sekamar, bagaimana kita mau buat anak? Kan itu tujuan kita menikah.”
“Loh, maksudnya kita harus…” Gendhis sengaja tak melanjutkan ucapannya karena malu. Tapi, dia menggerakkan tangannya seperti ayam saling mematuk.
“Iya, Gendhis. Kan memang itu caranya bikin anak.”
“Tapi kan kemarin udah, Om.”
“Ya kalau kamu langsung hamil, kalau belum? Makanya, kita harus rajin-rajin membuatnya supaya kamu cepat hamil.”
“A—apa?” lirih Gendhis dengan wajah pias.