Part 1
Sometimes you just have to stay silent because now words can describe what's goin on in your mind and heart. ~ Draco
Draco’s POV
Rambut cokelat, kedua mata hijau, satu anting di telinga kiri, itulah aku. Namaku Lucious Draco Kingstone. Aku adalah seorang anak 14 tahun yang hanya ingin hidup normal seperti halnya anak lain. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan dikeluarga terkutuk ini. Aku benci setiap kali disiksa oleh mereka, dipaksa untuk menjadi yang terbaik, dan selalu dibanding-bandingkan setiap kali aku tidak melakukan segala sesuatu yang tidak sesuai ekspetasi. Aku muak dengan semua itu. Aku bahkan tidak bisa menjadi diri sendiri.
Aku memang memiliki segalanya, tapi aku tidak memiliki apa yang aku benar benar inginkan. Aku selalu berharap punya keluarga yang selalu menyayangi, mempedulikanku, dan tidak pernah memukulku, sayang sekali aku terdampar disini. Aku tak pernah diinginkan, bahkan ibuku sendiri pernah berharap bahwa aku tidak dilahirkan. Memangnya apa salahku sampai dia berharap seperti itu?! Aku tahu, aku mungkin bukan anak pintar yang mendapat nilai bagus. Aku bukan anak yang selalu mendapat penghargaan, tetapi setidaknya hargailah aku sebagai anggota keluarga ini. Keluargaku tidak pernah bangga atas apa yang aku perbuat, mendapatkan nilai A saja aku tidak pernah dipuji sekali pun.
Aku lelah dipukuli tiap hari hanya karena kesalahan kecil, terkadang tanpa alasan pun aku dipukul. Rasanya aku ingin selalu keluar dari mansion sialan itu tapi aku tidak bisa, mereka pasti menemukanku, dan pasti aku akan lebih dihajar jika aku melakukan itu, jadi yang bisa kulakukan hanya selalu diam dan berbicara pada diriku sendiri dalam hati.
Orangtuaku saat ini sedang perang dingin, mereka tidak terlalu akur seperti dulu lagi. Yah... mereka saling manyalahkan mulai dari hal kecil sampai besar. Ibuku selalu menyalahkannya. Dan dia sangat dramatis. Tentunya, ayahku yang temperamen itu akan selalu meledak dan menghancurkan apapun. Sedangkan ibuku, dia melampiaskan semua kekesalan dan kemarahannya padaku. Menyedihkan memang. Bahkan, dia menyebut dirinya orangtua? Ingin sekali kutertawai dirinya.
Author’s POV
Dulu, Draco adalah anak yang normal, seperti anak lainnya, dia suka bermain dan berteman. Dia punya sahabat yaitu Felix dan Michael. Michael juga sama seperti Draco selalu dipukul oleh ibunya jika Ia berbuat kesalahan. Tapi Felix tidak, dia mendapatkan keluarga yang sangat menyayanginya. Terkadang dia iri dengan teman temannya yang memiliki keluarga yang sangat menyayangi mereka, dia selalu ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi.
Dia adalah anak yang senang membantu, bercanda tetapi sebenarnya terkadang hal hal baik yang Ia lakukan hanya sebagai topeng. Sebenarnya dia adalah anak yang tersakiti, senyum yang ia buat terkadang tidak setulus kelihatannya. Dia hanya tidak mau ada seorang pun yang tau bahwa setiap hari keluarganya itu menyiksanya.
Draco menyadari semakin hari sikapnya berubah dia tidak sebaik dulu tapi ia tidak mempedulikan hal tersebut semakin hari ia semakin cuek, perasaan membunuhnya pun semakin hari semakin muncul, hati nuraninya semakin hari semakin tumpul, hatinya semakin hari semakin rusak dan gelap, semakin hari ia ingin punya sesuatu untuk dilampiaskan.
Semenjak Draco bersekolah di Middle School, Ia tidak pernah dibully karena setiap kali ada orang yang membuatnya marah maka Ia langsung menghajar orang itu sampai remuk. Dia terikat beberapa kasus disekolah tentang perkelahian tentunya tetapi dengan mudahnya ia bebas tentu karena dengan uang yang berlimpah yang dimilikinya, tetapi meski Ia bebas dari kasus tersebut ia pasti mendapatkan pelajaran di rumah. Padahal yang Ia lakukan hanya untuk membela diri, tapi memang karena dia punya sedikit malah kejiwaan, membuatnya terkadang suka menyiksa binatang ataupun beberapa orang. Dan, dia terkadang melampaui batas saat dia butuh pelampiasan atas kekerasan yang dia terima. Semakin hari semakin ingin ia untuk menghajar teman-temannya yang tidak bersalah tetapi semua itu tertahan berkat Michael dan Felix yang selalu saja membantu Draco agar tidak masuk dalam masalah. Lama-kelamaan Draco tertarik untuk terjun ke dunia gelap, lewat dimulai dengan anak-anak nakal di gang-gang sempit, sampai dengan beberapa gangster di jalanan. Dia pun sedikit demi sedikit masuk ke dunia itu sampai tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kini Draco sudah mulai mengedar narkoba sejak berumur 13 tahun. Yup, semua perlakuan buruk yang diberikan orang-orang kepadanya memberinya sedikit masalah kejiwaan.
Ia menggunakan uangnya untuk berlatih senjata dan mempelajari cara menjadi pembunuh handal. Dia juga mempelajari pola pikir detektif. Bukannya Ia ingin menjadi detektif, tapi Ia sendiri yang ingin, agar bisa menghapus jejaknya. Kemampuan bisnisnya sudah makin menonjol, mungkin itu karena dia keturunan Kingstone yang sangat pandai berbisnis dan pendiri-pendiri perusahaan perhiasan besar. Sampai keberadaannya terdengar di kalangan dunia gelap. Sampai terdengar di sebuah kelompok mafia Nostra Santino. (Kelompok mafia yang paling ditakuti di kalangan dunia gelap). Kelompok mafia terkuat di New York yang dipimpin oleh seorang pria bernama James Fallsdeath yang kerap dipanggil The Black King. Di bawah kekuasaannya, grup Nostra Santino menjadi "raja" di balik bayang-bayang kota New York. Hampir semua keluarga mafia lain dan polisi langsung gentar begitu mendengar namanya, bahkan dunia. Saat ini, Mafia Amerika bekerja sama dalam berbagai kegiatan kriminal dengan kelompok kejahatan terorganisir Italia, Rusia, Kurdi, Meksiko, dan lain-lainnya.
Kelompok mafia itu menguasai banyak wilayah di dunia, mereka punya kekuatan. Pasalnya, pengaruh dan keberadaan mafia di dunia sudah seperti kanker; menggerogoti dan mematikan. Mereka bergerak di mana pun, khususnya di Amerika. Kekuasaan mereka terlalu besar. Salah satu kelompok mafia yang paling kuat itu dikenal dengan aturan ketat anggotanya untuk setia dan tidak membocorkan apa pun kepada para penegak hukum, walau mereka sendiri bekerja sama dengan berbagai penegak hukum dan beberapa agen di dunia meski mereka bukan anggota. Aturan tersebut memaksa para anggota tunduk pada kelompok tanpa terkecuali. Asal-usul Nostra Santino sulit dilacak mengingat gerak-gerik mafia sangat rahasia dan mereka tidak menyimpan catatan sejarah kelompoknya sendiri. Malah, tak jarang, para mafia sengaja menyamar, berbaur di kalangan orang-orang, dan membuat narasi-narasi penuh omong kosong soal masa lalu mereka yang diharapkan membuat orang-orang mempercayainya sebagai mitos. Mereka menguasai bisnis pemurnian dan distribusi heroin. Bisnis ini bahkan membuat Nostra Santino menancapkan dominasinya hingga ke dunia.
Mereka digambarkan oportunistik dan mudah beradaptasi. Terutama karena para anggota utamanya menyembunyikan identitasnya dan berlaku seperti orang-orang normal lainnya. Beberapa diantara mereka sebenarnya memiliki bisnis legal sendiri seperti industri otomotif. Siapa sangka mereka ternyata mafia? Mereka menemukan cara untuk mengeksploitasi kerentanan pasar, sementara di saat bersamaan mampu mempertahankan stabilitas dan prediktabilitas yang diperlukan untuk membikin bisnis jadi menguntungkan. Bisnis organisasi itu, tentu saja sebagian besar ilegal. Mulai dari perjudian, monopoli pengangkutan limbah, pembajakan, pencurian kargo udara, hingga distribusi obat-obatan seperti heroin atau morfin. Mereka bahkan menguasai sekitar 90 persen perdagangan heroin di New York dan sekitarnya. Untuk mewujudkan kekuasaannya,mereka seringkali menggunakan kekerasan. Mereka tak ragu memeras, mengintimidasi, dan membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu jalan bisnisnya. Salah satu anggota utama mereka yang merupakan keturunan Italia, dia punya ambisi yang besar: mendominasi beberapa gangster dan bisnis narkotiknya. Cara yang mereka pakai juga berandil dalam tewasnya ribuan mafioso dari klan lain.
Mereka dikenal karena berbagai aksi pembunuhan dan terlibat dalam penyelundupan m*******a dengan operasi di seluruh Amerika.
Yang menjadi bisnis utama Nostra Santino adalah terlibat dalam perdagangan manusia, perjudian ilegal, balapan liar, perdagangan narkoba, pemalsuan, perdagangan senjata, prostitusi, penculikan, pencucian uang, lintah darat, pemerasan, perampokan, hingga pembunuhan.
Mereka ini beranggotakan sekitar ratusan ribu hingga jutaan di seluruh dunia ini, yang dikendalikan oleh berbagai atasan. Mereka seperti binatang buas yang tanpa ampun dan siap membunuh siapa pun, tak terkecuali wanita dan anak-anak.
Mereka adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian mutlak dan dikenal karena suka membunuh targetnya dengan cara yang paling menyakitkan jika mereka mau melakukannya.
Mereka cukup misterius karena pemerintah setempat tidak memiliki catatan yang benar dari operasi kejahatan mereka.
Anggota utama mereka saling bekerja sama dan terdiri dari seorang pejudi professional, seorang pembunuh bayaran, seorang petinju kuat, seorang teroris berbahaya, seorang penembak jitu, seorang penipu, seorang pebisnis narkoba, sorang peretas handal yang melindungi mereka kapanpun, seorang raja balap liar, dan seorang penanggung jawab pembersih seluruh barang bukti. Mereka ini juga seperti kelompok mafia biasa, meski bekerja dalam bayang-bayang. Mereka juga muncul ke permukaan untuk mengambil dan melakukan apa yang mereka mau. Hal-hal gila, mustahil, dan tak masuk akal. Tentunya, dengan menutupi identitas mereka. Luka dan penyiksaan. Sudah menjadi makanan sehari-hari untuk para Mafia. Jadi tak heran separah apapun kondisinya, mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Sebelum mereka terbaring koma bahkan mati maka itu hanyalah Iuka kecil bagi mereka.
***
Sementara itu, seorang pria jangkung paruh bayah yang masih terlihat lebih muda dan mapan di usianya. Melipat tangannya diantara tuxedo yang dia kenakan dengan sedikit bercak darah. Dia berambut cokelat gelap, terlihat seperti berwarna hitam, yang sedikit panjang yang dibelah tengah, dia juga memiliki janggut hitam tipis di sekitar pipi hingga bagian dagunya. Namanya adalah Johnathan Ripper.
Mata cokelat gelapnya menyorot tajam saat dia melihat ada seorang mayat pria yang dimutilasi, tak jauh darinya dan sahabatnya ini masih belum membersihkannya. Sorot matanya seakan-akan ingin membunuh seseorang ketika matanya menyiratkan kekesalan kepada pria paruh bayah yang masih terlihat mapan, dengan rambut cokelat ke abu-abuan yang menutupi matanya, yang memakai tuxedo dengan darah yang masih membasahi tuxedo itu. Pria yang sedang terbaring di sofa markas itu, sepantaran dengannya.
Tentunya, mereka tumbuh bersama, berkembang bersama, dan bersahabat sejak kecil meski pria yang dia yang menghabiskan berbagai botol minuman alcohol dan meletakkannya di sembarang tempat itu sedikit lebih tua darinya. Tapi, dia sendiri yang sering menjaganya dan lebih dewasa dan lebih bijaksana daripada pria di depannya ini, James Fallsdeath.
John mulai menampar kepala James hingga membuatnya terbangun dari tidurnya dan berdecak kesal, sungguh hanya John yang berani melakukan itu kepadanya, "Lihat sikapmu ini, apa yang kau tanam adalah yang engkau tuai. Marvin mulai meniru tingkah lakumu. Salah satu dari anak kembarmu terus membuat masalah."
"Dia bermain dengan wanita, minuman keras, lalu dia itu menjadi pecandu. Dan itu semua salahmu."
"Terserah. Apa yang kamu harapkan, John? Kamu mengharapkanku untuk menjadi seorang dokter terapi bagi Marvin?" ucap James sinis sambil memindahkan rambut cokelat yang menutupi matanya ke belakang untuk merapikan rambutnya.
“Kau ini niat punya anak atau tidak?” balas John
"Dia membenciku. Dan kalau aku semakin mendekat dengannya, dia akan semakin membenciku. Kevin juga sepertinya tidak menyukaiku," balas James
"Ini semua salahmu. Kesalahan pertama adalah kau tidak jujur kepada mereka, mengenai Jasper, saudara kembar kanibal psikopatmu."
"Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan tentang dia dan tak sekalipun menyebut namanya."
"Owhhh! Karena kau ketua mafia utama sekarang, kau jadi angkuh sekali, ya?" John menyindirnya karena sedikit kesal dengan perlakuan James.
"Tidak ada yang perku dikhawatirkan," jawab James
"Tidak ada yang tidak perlu dikhawatirkan?! Jasper yang memukuli anak-anakmu dulu dan mereka mengira dia adalah dirimu. Aku tahu, kau ingin menghapus keberadaan Jasper, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk balas dendam setelah dia mati."
"Tapi, apa kamu tidak ingin hal yang sama terjadi pada ayahmu? Dia dibunuh anaknya sendiri karena dendam. Bagaimana jika itu terjadi denganmu?"
Sebelum James sempat mengucapkan sepatah kata, John sudah berlanjut untuk menceramahi dan mengomelinya.
"Lihat dirimu sendiri! Apa yang dia katakan benar, kamu semakin mirip dan tumbuh perlahan persis seperti dirinya dibandingkan dirimu yang sangat muda-"
Perkataan John langsung terhenti ketika James menutup mulutnya dengan tangannya.
"Aku tak ingin mendengar Jasper lagi. Dia sudah mati."
"Lebih baik kita membicarakan tentang anak muda yang membuat dunia gelap gentar."
"Dia mengingatkanku pada era kita."
James mulai melepaskan tangannya dari mulut John dan menunjukkan beberapa video curian dari rekaman satelit. Tentunya, semua itu berkat Robert dan teknologinya.
John mulai terkekeh, "Pffft... Anak muda yang berumur 13 tahun mengedar narkoba? Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda, dia selalu memakai topeng serigala hitamnya saat mengedar, dia sendiri mengalahkan 5 orang bersenjata saat dia diserang, tapi kekurangannya adalah dia tidak membersihkan mayatnya tetapi ia pintar membersihkan jejaknya sehingga polisi tidak tau siapa yang ada dibalik pembunuhan itu."
"Kau serius? Baiklah, maka temukan dia dan cari informasi tentangnya."
"Aku sudah menemukannya, berkat Robert dan beberapa rekan lamamu-"
"Bisa kau menjelaskan padaku mengenai anak itu?" pinta John memotongnya, ia ragu dengan apa yang akan ia dengar. la tak sanggup mengetahui segala informasi luar dalam mengenai anak itu hingga sampai ditahap ini. la tak tega, jiwa seorang ayah tiba-tiba membelenggu pada dirinya. la benci perasaan ini, tapi hati tak bisa berbohong. Dan hati tak semunafik pikiran piciknya. John memang selalu lebih berperasaan daripada James.
"Tentu. Dari informasi yang aku dapat, ia bernama Lucious Draco Kingstone yang biasa dipanggil Draco, anak Charles Kingstone. Dia adalah adik kembar Dominic Charlie Kingstone atau Charles, namun meskipun mereka bersaudara, Draco sama sekali tidak di anggap di keluarga besar Krystall ataupun Kingstone. Hanya beberapa anggota Kingstone yang menerima keberadaan Draco. Alasan mengapa Draco mendapat perlakuan berbeda daru keluarga Krystall, meskipun ia adalah adiknya dan sang berlian keluarga Kingstone tidak diketahui secara jelas, hanya saja ia dianggap sebagai pembawa sial, entah apa alasannya. Dan-”
”Jadi, lebih tepatnya anak yang tak di inginkan?” potong John menerka.
"Tunggu sebentar. Selama ini kamu tahu semua ini dan tidak bilang kepadaku? Sungguh perlakuan Jimmy yang sangat biasa dan menjengkelkan. Kau selalu saja bermain rahasia."
"Ya, Johnny. Bisa dikatakan demikian.” jawab James
Johnny, adalah sebutan nama panggilan dengan maksud meledek kepada Johnathan. Tentunya, hanya James yang berani memanggilnya seperti itu. Begitu juga dengan John yang berani memanggil nama kebencian James dengan sebutan, Jimmy.
"Charlie pasti menyembunyikannya, mencoba meretas, dan menghapus semua tentang Draco."
"Kupikir Charlie akan mengkianati kita, tapi sepertinya dia mencoba melindungi adiknya dari kita."
"Keluarga itu, mereka benar-benar bodoh! Jelas jelas Draco satu-satunya berlian yang tersisa semenjak Charlie menghilangkan dirinya dari keluarga itu. Sebenarnya di mana otak mereka?” timpal John heran.
“Kau benar, jika Draco berada di tangan kita. Kita akan makin mudah mendapatkan akses dan kekuasaan ke perusahaan Kingstone, perusahaan permata terbesar di dunia.
Tentu saja, ia juga pernah menjadi seorang anak-anak dan remaja, jadi ia tahu bagaimana rasanya menjadi Draco, ia membayangkan bagaimana jika puteranya berada pada posisi Draco saat ini. Sungguh, ia sangat menyayangkan tindakan bodoh Keluarga Krystall, khususnya Rossie Krystall yang tak lain adalah ibu kandung Draco.
"Bisa kau jelaskan mengapa ia bisa sampai seperti ini?" timpal John penasaran.
"Draco memiliki masalah kejiwaan. Mungkin itu kepribadian ganda atau semacamnya, aku tidak tahu. Tapi, itu semua karena ibunya selalu melakukan kekerasan kepadanya," jelas James
"Mengingatkanku pada dirimu, saudaramu, dan keluarga lamamu," jawab John
"Ini point pentingnya, dia berhasil membunuh 5 orang penjahat kelas kakap dengan tembakan sempurna, padahal sebelumnya ia tak pernah memegang senjata apapun. la melakukan hal tersebut untuk menyelamatkan mencuri narkoba dan beberapa emas dari ketua penjahat tersebut," jelas James yang membuat semua terdiam kaku mendengar penuturannya.
John sedikit terkejut, benarkan apa yang James katakan? Mereka ragu namun mereka tak bisa menyangkal. Mustahil dia tidak dilatih, karena mereka sendiri saat seusianya sudah dilatih sejak mereka lahir ke dunia. Karena mereka sendiri bahkan sudah melihat aksi seorang Draco. Namun tetap saja, hati dan pikiran mereka saling bertolakan.
"Tunggu, aku sepertinya penah mendengar berita ini?" ujar John mengingat-ngingat sesuatu, karena ia sendiri merasa tak asing dengan apa yang James katakan.
"Ya tentu, bocah itu. Draco adalah orang yang sedang hangat diperbincangkan dunia khususnya dunia gelap karena kasus penculikan berujung petaka tempo hari," Lagi-lagi penuturan James yang mampu membuat John antusias dengan kisah Draco.
"Sungguh? Kita benar-benar menemukan berlian dalam batu? Dia benar-benar seperti kita. Maksudku, sulit sekali menemukan seorang anak yang merupakan pembunuh handal." ucap John menaikkan alisnya.
"Kamu tidak memikirkan apa yang aku pikirkan, kan?" John bertanya kepada pria bermata cokelat itu.
"Benar, aku akan memasukkan dia ke organisasi kita. Kita sudah masuk dunia semenjak kecil. Bagi anak sepertinya, tidak mungkin dia akan semudah itu meninggalkan dunia gelap dan jadi normal. Maksudku, kenapa tidak?" James menaikkan alisnya sambil terkekeh.
"Bagaimana jika dia jadi senjata makan tuan?" tanya John
"Tidak jika kita melakukannya dengan baik. Sejauh ini, semua anggota Nostra Santino utama sudah saling seperti saudara. Anggota utama saling menawarkan perlindungan dan kasih bagi siapapun yang membutuhkannya."
"Lagipula, jika kita tidak segera merekrutnya. Dia bisa jadi berakhir seperti Jasper yang mendirikan kerajaannya sendiri dan membuat kehancuran dimana pun. Lalu, dia juga bisa jatuh di tangan yang salah," kata James yang membuat John memijat keningnya.
"Apa kamu akan memberinya misi ujian yang merupakan bunu diri itu? Dia bisa saja mati, kita tidak tahu siapa yang melatihnya dan sekuat apa dirinya untuk bertahan," balas John
"I don't care," balas James tak peduli yang membuat John menggerutu dibuatnya.
“Lucu sekali, sepertinya anggota utama Nostra Santino terdiri dari orang-orang sakit jiwa. Apakah tidak ada satupun di anggota Nostra Santino yang tidak memiliki masalah kejiwaan?” John bertanya sambil menghela nafas beratnya.
“Mungkin hanya Charlie. Tapi kita semua sinting dan tidak waras, John.” James menjawab sambil tertawa dan meneguk botol vodkanya.
***
Flashback On
Draco yang masih berusia 9 tahun itu ketakutan saat mendapatkan nilai C karena dia tau apa yang akan terjadi saat dia mendapat nilai tersebut. Draco pulang ke rumah dengan lesu. Sesampai dirumah Draco mengeluarkan kertas ulangannya yang mendapat nilai tersebut sambil bergetar berjalan ke arah ibunya untuk memberikannya.
Deg... Deg... Deg... Deg... Deg...
Jantungnya bergetar semakin cepat ia mulai berkeringat, tubuhnya yang kecil itu merinding dengan ketakutan luar biasa. Ia pun menyerahkan hasil ulangannya, wajah ibunya pun berubah menjadi marah besar, kemudian meremas lalu menyobek hasil ulangannya. Air mata Draco pun mulai terjatuh karena ketakutannya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Ibu sudah memberikan padamu segalanya dan ini balasanmu?! Dasar anak kurang ajar."
"Dasar bodoh! Uangan sepele ini pun kamu hanya mendapatkan C?!" bentak ibunya sambil melempar kertas remasan itu ke wajah Draco
Draco hanya tertunduk dan terdiam, "Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari katanya.
"Maaf, maaf, kata maaf saja tidak akan cukup! Kalau nilaimu seperti ini terus, lebih baik kamu tidak usah sekolah, sudah berapa kali kamu mendapatkan nilai C, hah?!" kata Ibunya sambil memukuli anaknya itu.
“Aku juga mendapat telepon dari sekolah bahwa kamu menghajar kepala teman-temanmu dengan batu!”
“Mau jadi apa kamu? Psikopat?! Kau mau jadi jagoan?!” teriak ibunya sambil memukul sebuah botol anggur hingga pecah ke kepala anaknya hingga darah mengalir dari luka barunya.
“Kamu memalukan keluarga ini!”
Dia terus berteriak dan tidak peduli kalau anaknya dalam kondisi separah itu dan mengalirkan air mata hangat dari pipinya.
“Dasar anak pembawa sial!” bentaknya sambil menyayat tangan anaknya dengan pecahan botol kaca itu.
"Kamu tau kan akibatnya apa?!"
"Jangan! Ampun! Tolong Jangan!"
Draco kecil memohon mohon pada ibunya, air matanya pun membasahi pipinya. Segera diseretlah Draco dan dibawalah Ia ke gudang. Di situlah ibunya memulinya dengan gagang sapu. Draco pun bertambah berteriak dan menangis kesakitan.
"Kan aku sudah bilang kan hukumannya kepadamu jika kau mendapat nilai C, yaitu dipukul 30 kali."
Semakin menangislah ia karena semakin keras dan semakin cepat ibunya memukul.
"Diam! Atau ibu akan menambah pukulanmu menjadi 50 kali."
Saat itu Draco langsung terdiam menahan rasa sakit yang ia dapat dari ibunya. Setelah selesai dipukul, Ia pun dikunci didalam gudang yang gelap dia sangat takut dan mulai menggedor pintunya.
"Buka pintunya! Draco takut."
Sambil menangis dan menahan lukanya yang memar. Ibunya pun membuka pintu dan mulai memukulnya
"Diam!"
Bug! Bug! Bug!
Setelah itu, ibunya langsung menyeretnya ke gudang, mengikatnya dengan rantai hingga dia terlihat seperti binatang liar, lalu membuka atasannya dan mencambuki bagian punggunngnya hingga 50 kali. Dia bahkan tidak peduli saat ada darah segar mulai terlihat jelas di punggung puteranya. Dia tidak peduli jika cambuk itu mulai merobek kulit putera kecilnya.
Flashback Off
Bug! Bug! bug!
Draco yang berumur 14 tahun langsung terbangun dari tidurnya tubuhnya berkeringat dan ketakutan. Tangannya pun memegang keningnya.
"Hhhh.... kenapa aku harus bermimpi buruk tentang masa lalu itu? Setidaknya aku sudah kebal sekarang dengan semua itu."
"Hhhh.... Hari sialku dimulai. Aku berharap hidupku berakhir. Lebih baik aku mati saja daripada hidup."
"Setidaknya keluarga ayahku, keluarga Kingstone selalu ada untukku untuk membelaku dari keluarga ibu, keluarga Krystall. Dasar para Krystall sialan."
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," jawabnya dingin.
"Sarapan anda sudah siap tuan muda," kata salah satu pelayan itu lalu pergi meninggalkan Draco.
Ia pun memakan sarapannya lalu mandi setelah itu memakai pakaiannya bersiap untuk ke sekolah. Ia pun menuruni tangga dan melihat bahwa keluarganya sedang makan di meja makan. Hanya para saudara ayahnya yang tidak ada di sana, kemungkinan besar sibuk mengurus pekerjaan mereka.
Sial! Padahal kukira aku sudah bangun pagi untuk berangkat ke sekolah lebih awal agar tidak bertemu mereka tetapi malah jadwal makan mereka lebih awal daripada sebelumnya Ugh... Keluh Draco dalam hati.
Draco pun berjalan memasang ekpresi dingin dan datar seperti biasanya dan hanya berkata,
"Aku berangkat."
"Dasar anak tidak tahu diri," kata ibunya
"Dasar anak tidak sopan yang tidak punya etika,” kata keluarga ibunya
Dasar b******n-b******n berengsek.
Draco yang tidak bisa membendung amarah langsung berkata, "Lalu aku harus bilang apa hah?!"
"Jaga ucapanmu Draco!" kata Charles, ayahnya
"Lihat anakmu tidak punya etika! Apakah keluarga Kingstone tidak mengajarkan sopan santun?" sindir Rossie Krystall, sang Ibu.
"Cukup! Biarkan Draco pergi, aku tidak ingin ada perdebatan karena masalah kecil yang membuang waktu." ucap Kakek Draco yang tak lain adalah Maximus Kingstone.
Semuanya pun terdiam dan Draco pun pergi menuju ferrari SF90 Stradale hitamnya dan pergi ke sekolah. Semua kenyamanan yang ia dapat berasal dari kakek dan nenek Kingstone yang menyayanginya bahkan kakeknya yang membelikan dan memperbolehkannya mengendarai ferrari tersebut sebagai hadiah ulang tahunnya. Sejak salah satu pamannya tahu bagaimana Draco selalu disiksa. Steven Kingstone, ayahnya tidak bisa diam dia pun memberi tahu keluarganya agar mereka tinggal satu mansion dengan keluarga Krystall supaya ada yang selalu ada untuk melindungi Draco.
Setidaknya keluarga Kingstone lebih baik daripada keluarga Krystall. Tapi, mereka sering diam saja, dan bertingkah seolah tidak peduli, lebih tepatnya mereka tidak terlalu mengetahuinya karena terlalu sibuk. Dan terkadang mereka mengethuinya, tapi tidak melakukan apapun, karena mengira dia baik-baik saja dan akan ada seseorang yang mengurus masalahnya, tapi nyatanya tidak. Dan Draco menyadari hal tersebut. Tetapi, seperti keluarga normal lainnya. Keluarga Kingstone tidak ingin setiap anggotanya terikat dalam masalah. Kingstone memiliki status sosial yang tinggi, uang, dan bisa berbuat apa yang mereka mau. Keluarga Kingstone menyuap sekolahnya dengan biaya mahal agar dia bisa berbuat bebas daripada anak-anak lain. Mereka juga menyuap berbagai kantor polisi dan para polisi yang bertugas di jalanan. Karena itu, Draco bisa bebas dari hukuman jangka panjang atas kasus kekerasan dan obat-obatan terlarang. Dia juga bisa bebas membawa mobil sportnya kemana pun yang dia inginkan. Namun dia mengira keluarga Kingstone hanya berbuat baik padanya karena kasihan padahal dia itu sedikit disayang. Keluarga Kingstone mamang sangat sibuk dan berhati dingin, meski Draco tidak tahu apa saja yang mereka benar-benar kerjakan selain perusahaan. Yah, hanya saja cara Kingstone memang caranya berbeda, yaitu dengan memberinya hal-hal berupa materi dan sering meninggalkannya sendirian sepanjang waktu, terutama ayahnya yang Draco menganggap kalau Charles tidak pernah menganggapnya ada dan lahir ke dunia. Charles adalah keluarga Kingstone yang terlihat paling tidak peduli, Draco tak terlalu tahua mengapa. Mereka hampir tak pernah bicara. Bahkan saudara-saudara ayahnya lebih peduli kepadanya daripada ayahnya sendiri.
Saat ferrarinya melaju pergi, ia tidak sadar bahwa ada pria kulit putih, berambut cokelat, berhidung mancung, dan bermata biru laut, yang berpakaian serba hitam mengawasinya dari kejauhan mansion Kingstone.
"Selama beberapa bulan akhirnya aku menemukanmu Lucious Draco Kingstone. Pintar juga kau dapat menutupi jejakmu untuk seorang anak berumur 14 tahun, tapi kau tak akan bisa lari dari Nostra Santino. Aku akan mengawasimu Draco."
***
Pemuda berambut pirang yang sedikit panjang, dengan kedua mata biru itu sedang mengeluh di pikirannya. Dia duduk di sofa di ruang tamu mansion. Tiba-tiba seorang pemuda yang berdiri tidak jauh darinya dengan setelan kemeja biru tua langsung mengambil pisau di dekat meja, dan melempar pisau tersebut ke arah pria yang sedang melamun itu, tetapi beruntungnya dia langsung menangkap pisau tersebut sebelum pisau itu mengenai matanya. Alhasil, telepak tangan kanannya langsung berdarah akibat goresan pisau saat menangkap pisau itu.
"Jangan melamun atau kau akan mati Charlie!" seru pemuda yang melempar pisau.
"Luke... berhentilah menggangguku!" kata Charlie dengan nada kesal sambil mengelap telapak tangan kanannya yang berdarah dengan sapu tangannya.
"Aku hanya membuatmu fokus," balas Luke sambil menunjukkan ekspresi tak bersalah.
"Aku sedang berfikir," kata Charlie
"Sepertinya kau mengkhawatirkan sesuatu? Kau menyembunyikan sesuatu? Kau tidak sedang memikirkan keluargamu, kan?" tanya Luke sambil tertawa merendahkan, tapi Charlie sama sekali tidak menjawab, dan hanya memutar bola matanya.
Sial! Meski dia seperti orang bodoh tanpa otak, dia ini benar-benar peka.
"Aku sedang merasa tidak sehat setelah aku menghadiri pesta makan malam para kanibal. Mungkin aku terlalu banyak memakan daging manusia, dan perutku mebolaknya. Atau mungkin mereka memasukkan sesuatu di dalam dagingnya. Aku tidak tahu," jawab Charlie
"Beruntungnya bukan aku yang dipilih untuk mengikuti perjamuan bisnis gila itu," kata pria bermata biru dengan rambut pirang yang dipotong pendek, yang tak lain adalah Luke.
"Tolong... cari saja anggota yang lain untuk kau ganggu. Silahkan ganggu Vincent atau Lucas," balas Charlie
"Baiklah," Luke menjawab sambil mengangkat kedua bahunya, dan mengambil topeng Jason Voorhees dari sebuah koper dan langsung memakainya.
"Ya tuhan... dia mulai lagi," Charlie menggumam sambil memijat keningnya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia pun langsung mengambil gergaji mesin yang tergeletak di taman, dan langsung berjalan ke arah pria berjas dengan rambut cokelat gelap panjang sedang menghisap narkoba di mejanya.
Luke langsung menyalakan gergaji mesinnya di sebelah pria itu, dan memotong mejanya.
"Bocah gila!" Vincent berteriak karena terkejut, terutama saat gergaji mesin itu hampir mengenai lehernya.
"Menjauh dariku!" katanya sambil berlari pergi sementara Luke mengejarnya dan menerornya dengan gergaji mesin.
Sementara pria ginger itu marah-marah dan berteriak kepada Luke yang masih mengenakan topeng Jason Voorhees sambil mengejar Vincent di seluruh mansion.
"LUKE!!! APA KAU TIDAK TAHU BETAPA MAHALNYA MEJA INI?!?!"
"Anak sialan! Bisa-bisanya dia membuat meja ini terbelah menjadi dua? Dan Vincent... lagi-lagi dia menggunakan narkoba untuk mengotori mejaku lagi... Aku benar-benar tidak akan membantunya," kata pria dengan rambut berwarna merah, agak oranye dan memiliki kulit putih yang pucat, nama pria itu adalah Robert.
"Hei! Siapa yang memberi anak itu gergaji mesin di saat dia mabuk?" Tanya pria bermata biru dengan rambut hitam disisir kebelakang, sambil menatap kedua sahabatnya yang masih berlarian di tangga atas.
"Seseorang... apakah ada sukarelawan yang ingin menghentikan Luke sebelum Vincent terpotong-potong?" tanya Ray
"Tidak terimakasih," kata Lucas sambil membuka sebuah tangki berisi piranha dan melemparkan potongan kaki kesana.
"Jeezz... siapa lagi dia? Kau membunuh siapa kali ini?" tanya Charlie
"Bukan orang penting. Hanya saingan bisnis," Lucas menjawab.
"Ekspedisi pengirimannya berlaku 3 hari. Dan aku ingin semua agen FBI itu mendapatkan paketnya," kata Robert, pria yang kini sudah sibuk dengan ponsel miliknya, beserta layar hologramnya.
"Bagaimana dengan perkembangan bom milikmu, teroris?" tanya Charlie
"Tidak banyak. Tapi penjualannya meningkat 80 persen," jawab Ray
"Bagaimana dengan balapan liarmu, pembalap?" Ray balas bertanya.
"Seperti biasa... aku menang kemarin malam. Tapi setidaknya kemarin adalah balapan yang menantang. Aku mengambir jalur pintas, hampir menabrak helikopter, dan hampir ditabrak bola penghancur," jawab Charlie
"Kurasa lintasannya bertambah mautnya," Ray menggumam.
"Hei... siapa yang bertugas dengan perkelahian ilegal nanti malam?" tanya Vincent sambil menggengam secangkir teh.
"Thomas bertugas atas semua taruhan perkelahian. Tapi dia sepertinya dalam misi lain," jawab Charlie
"Vince... dimana Luke?" tanya Charlie
"Sniper kita sedang tidak berada di dalam jaringan. Dia tidak akan mati kehabisan darah," jawab Vincent
"Kukira si berengsek sudah mati," gumam Robert
"Aku tidak akan mati semudah itu," jawab Vincent
"Benar. Masih ingat apa yang kita lakukan kemarin? Misi kita adalah menuntaskan apa yang kita lakukan kemarin. Dan kita akan melakukannya malam ini. Karena hal bodoh yang kamu lakukan semua titik penyerangan kita terblokir dan semuanya tak sesuai rencana!" kata Robert
"Ya. Terserah kau saja, Robert," gumam Vincent
"Dan siapa yang dapat masalah? Selalu aku! Karena itu, mari kita berfikir bijaksana dan jangan jadi orang bodoh!"
"Jangan sampai kehilangan sampel narkoba baru itu. Aku mempertaruhkan nyawaku."
"Kita mempertaruhkan hidup kita. Dan aku selalu yang lebih banyak terkena sial dibanding kamu!" balas Robert
"Aku tidak akan diam saja dan membiarkanmu menghinaku," kata Vincent
"Baiklah. Menyingkir. Dan menjauh dariku. Aku akan menghinamu dari jauh," balas Robert
"Kau mau aku meledakkan sesuatu untuk kalian? Aku sedang bosan dan ingin meledakkan sesuatu malam ini," tawar Ray, memotong pembicaraan mereka.
"Baiklah. Mungkin kami butuh," kata Vincent
"Setidaknya kalian sudah sukses merampok bank di misi pertama kalian," kata Charlie
"Dia benar. Dia merampok hampir seluruh isi bank tanpa diketahui siapapun. Vincent memang si dewa perampok, sedangkan Robert si otak komputer."
"Lucas... aku butuh kau untuk menyerang garda depan nanti," kata Robert
"Ini akan jadi berbahaya dan akan banyak darah," kata Robert.
"Aku ikut. Ayo lakukan ini."
"Aku belum memberitahukanmu rencananya terlebih dahulu," kata Robert
"Kedengarannya menyenangkan. Jadi aku ikut. Jadi apa rencananya?" tanya Lucas
"Jangan mati. Itu rencananya," kata Vincent
"Itu adalah rencana yang bodoh," tambah Ray
"Bagaimana kita harus menculik Arthur dari wilayah musuh?" tanya Lucas
"Kukira kita hanya akan masuk saja, menyeretnya keluar, dan bahagia selamanya," kata Vincent
"Kacau. Kita jelas-jelas akan mati," gumam Ray
“Kenapa kau begitu percaya diri kalau kita akan berhasil, Vince?” Lucas bertanya.
“Kita ini tidak terkalahkan. Maksudku, kita selalu saja melakukan misi berbahaya berkali-kali dan berkeliling dunia dengan misi mustahil dan kita selalu selamat. Tidak mungkin itu hanya keberuntungan kalau itu terjadi berkali-kali.” Vincent menjelaskan.
“Kita tak terkalahkan? Itu adalah teori yang bodoh, mungkin itu hanya kemampuan kita yang sangat beruntung untuk bertahan hidup.” Lucas menjawab.
“Justru yang tidak normal itu kamu, Vincent. Kau yang selalu bisa lebih beruntung dibandingkan aku. Padahal, kamu sendiri yag membuat hal ceroboh itu.” Robert membalas.
“Baiklah! Waktunya fokus pada misi kita.”
“Target kita memiliki kekasih. Jadi, kita butuh seseorang untuk merayu wanita… Kita butuh dia sebagai pembocor informasi dan umpan,” kata Robert
“Jangan lihat ke arahku,” jawab Lucas saat Robert meliriknya.
“Aku masih bertugas dengan balapan liar nanti malam, jadi aku tidak bisa membantu. Ray terlalu pendiam dan dia terlalu serius, dia tidak cocok jadi perayu wanita. Sedangkan Robert… dia terlalu pemarah, dan selalu meledak kapanpun. Dia tidak mungkin kita tempatkan di posisi seperti itu. Jadi tidak mungkin kita memilihnya. Kalau Luke… dia terlalu kekana-kanakan dan sedikit sinting. Lagipula, Luke adalah penembak jitu. Tempatnya diatas gedung, bukannya di dalam seperti kita,” jelas Charlie
“Gentlemen! Sambutlah Vincent! Si juara pertama perayu wanita di organisasi ini!” kata Vincent dengan penuh kebanggaan.
“Kau tidak akan tidur dengannya, kan?” tanya Ray kepada Vincent dengan tatapan serius.
Robert menggumam, “Menjijikkan.”
“Aku tidak akan kaget kalau Vincent melakukannya karena dia sudah sering begitu,” kata Lucas
“Lebih baik jangan. Karena itu akan membuang waktu."