Agung pov
Hasan menghampiriku dengan muka kusutnya,
mungkin dia sedikit kesal karna aku tidak menoleh
waktu dia memanggilku tadi, aku sudah terhipnotis
dengan kehadiran nino walaupun awalnya dia
menganggapku dukun sempat jengkel juga
“Woooi gue panggil ga noleh lo.”ucapnya sedikit kesal.
“Sorry lagi terbawa suasana alam.” jelasku ngaco.
“Suasana alam dari Hongkong, gue lihatnya loe komat kamit ga jelas tadi, loe mau melet Sumiyati
ya, awas aja loe gue santet nanti’ ucapnya yang mulai ngebanyol kumat
“Njiiir Sumiati,,, ga level pake pellet pake aji senyuman mautku juga dia udah klepek kelpek.”
“muke lo jauh.” ucapnya sambil tertawa.
“Eeh masuk yuk ntar di tunggu Nadine ga enak ma dia.” Ajakku.
Aku menoleh kebelakang memberi isyarat pada Nino untuk mengikutiku, dia tersenyum mungkin
mendengar pembicaraanku dengan Hasan yang bisa di katakana lucu kalo lagi debat, aku tidak
percaya bisa melihat senyumnya dengan nyata, bukan dari layar tv,majalah,tabloid, atau gambar
gambar di internet dia sangat nyata ada di depanku seperti mimpi.
Jam pulang hampir tiba Nino masih menungguku di luar, ternyata dia orang yang penyabar juga.
Aku berjalan kearah belakang café mengambil barang barangku di loker.
“Mau pulang bareng ga Gung.?” ucap Hasan sambil melepas celemeknya dan mengambil tas di
loker
“Duluan aja gue ada urusan” jawabku tanpa menoleh kearahnya masih mengemasi barangk
“Ok duluan ya.” Pamitnya dan berlalu pergi.
Setelah semua pintu café di kunci dan lampu di padamkan aku dan teman teman meninggalkan
café. memastikan semua orang sudah jauh dariku dan aku menghampiri Nino yang sedang berdiri di
tepi pantai yang sudah mulai di selimuti malam.
“Maaf lama, aku baru kelar kerja.” Sapaku menghampirinya sedari tadi hanya menatap pantai
“Ga pa pa kok, aku udah seneng kamu mau ngomong ma aku.”jawabnya menoleh kearahku.
“Bukankah kamu bisa berbicara dengan hantu, tadi aku sempat melihatmu terus memandang
penghuni café ?.”tanyaku heran.
“memang tapi aku tidak biasa berbicara dengan hantu walaupun sama sama hantu.” Jawabnya
dengan senyum tipis.
“lalu apa yang ingin kamu bicarakan.?”
“Jujur aku memerlukan bantuanmu, aku memang kelewatan meminta tolong ama kamu padahal kita
baru bertemu.” ucapnya dengan tatapan mata penuh harap
“Kenapa aku.?” pertanyaan bodoh yang sudah aku ketahui jawabanya
“Karna kamu bisa melihatku” tepat sekali seperti pikiranku,
“hmmm” jawabku dengan bergumam dan tersenyum. Kupalingkan wajahku ke laut, aku tidak mau
terhipnotis oleh karisma Nino, keberadaanya di sampingku seperti sebuah mimpi.
Jika ini mimpipun apakah aku bisa berbicara bersamanya seperti sekarang, aku hanya ingin
menikmati momen ini, mungkin dengan cara ini aku bisa bersamanya walaupun dunia kita berbeda,
karna dengan membantunya aku dapat bertemu dengannya dapat berbicara seolah kita saling
mengenal.
Kami berdua larut dalam fikiran kami masing-masing, aku memikirkan Nino sekarang ada di
sampingku dan mungkin dia memikirkan tentang kehidupannya nanti.
“Aku merasa kita sudah mengenal lama, apa kita pernah bertemu atau kita saling mengenal
sebelumnya” suara Nino membuyarkan keheningan diantara kita dan pertanyaan itu yang
membuatku terkejut.
“Tentu aku mengenalmu.” jawabku menatap wajahnya samar-samar karna di selimuti gelapnya
malam.
“Dimana dan kapan.?” ekspresi wajahnya sedikit terkejut
“Kamu artis terkenal jadi banyak orang yang mengenalmu.” aku kira ini alasan wajar seandainya aku
memberi tahu kalau aku benar benar mengenalmu, aku takut dia menanggap modus.
“Apa kamu udah bekerja lama di sini.”
“Dua tahun lebih” jawabku singkat.
“Dulu waktu ayahku masih hidup aku sering ke sini aku suka pantai ini ombaknya tidak terlalu besar
dan tidak terlalu ramai, tapi setelah ayahku meninggal aku menjadi tulang punggung keluarga
impianku menjadi artis tercapai, kadang aku ingin ke sini ketika merindukan ayahku tapi karna
kesibukanku aku tidak pernah lagi datang kesini, setelah sekian lama aku datang lagi aku merasa
sangat nyaman ada di sini.” Jelasnya dengan tersenyum simpul.
Ternyata Nino sangat menyukai pantai ini dia sangat menikmati suasana pantai wajahnya terus
memandang kearah laut yang gelap hanya beberapa lampu nelayan dari kejauhan laut sana.
Sekarang aku merasa kemampuanku bukanlah musibah tapi anugrah…
Nino Pov
Aku tidak menyangka Agung mau menolongku, dia menolongku tanpa syarat dia juga terlihat orang
yang baik, aku harap ada cara agar aku bisa kembali ke tubuhku, tapi aku masih terpikir kalimat
pelajar sekolah itu, ‘setiap peristiwa pasti ada alasanya’, sekarang aku koma tapi apakah aku punya
alasan untuk koma.
Aku mencari pemuda itu mungkin ada di sekitar rumah sakit , berharap mendapat informasi lain agar
aku bisa kembali ke tubuhku puas aku mencari di seluruh rumah sakit tapi tidak juga menemukanya
Saat melangkahkan kakiku menuju kamar aku melihat Lia sedang berdiri di depan pintu. Dia tidak
masuk hanya berdiri sudah 15 menit berlalu seperti ini , wajahnya sangat muram menatap daun
pintu dari arah luar tubuhku yang terbaring di dalam ruangan bisa terlihat karna ada sebuah kaca
berbentuk persegi berukuran kecil. Aku mendekatinya ingin menyentuh wajahnya berharap dia tahu
kalau aku ada di dekatnya sekarang.
Handphonenya berdering dan dia pergi menjauh tanpa masuk untuk menjengukku. Aku hanya bisa
melihat Lia berjalan menjauh setelah itu hilang di persimpangan lorong rumah sakit, sebenarnya
malam setelah kecelakaan aku berniat memberikan surprise untuknya dan memberikan cincin tapi
sayangnya semua rencana itu hancur dalam sekejap.
Pagi itu aku menunggu Agung di depan café tempatnya bekerja. Hanya ada dua orang di sana
membarsihkan café ada yang mengepel lantai ada juga yang menyusun meja dan kursi .
Tidak lama kemudian ku lihat Agung datang dia menatapku dan tersenyum simpul dari kejauhan, dia
langsung menghampiriku .
“Ikut aku sebentar.!” perintahnya dan aku mengikutinya tanpa menjawab, aku faham kenapa dia
menyuruhku untuk mengikutinya wajar saja jika orang lain melihatnya berbicara sendiri pasti orang
menganggapnya gila. Kita berjalan menuju tempat yang sepi dan tentunya jauh dari orang orang.
“Okey, apa yang bisa aku bantu.”ucapnya antusias, ternyata dia benar benar mau menolongku.
“Aku ingin kamu pergi ke apartemenku mengambil sesuatu dan memberikannya pada seseorang.”
jelasku
“oh jadi aku harus ambil cuti hari ini”
“Apa tidak mengganggu pekerjaanmu” cepat sekali dia mengambil keputusan, apa tidak
mengganggu pekerjaanya nanti.
“Tidak apa aku kira urusanmu lebih penting"
Dia merogoh celananya mencari suatu benda ternyata sebuah ponsel, dia tampak mencari nama di
ponselnya dan menelfon seseorang, aku hanya diam melihatnya.
“Asallamualaikum Nindi, aku ga bisa masuk kerja hari ini ada urusan”
“Satu hari saja besok aku masuk kerja lagi”
“Makasih nin, walaikum salam”
Dia menutup telfonya dan menoleh ke arahku
“Ok kita pergi sekarang.” ajaknya dan qu balas dengan anggukan semangat.
Kita pergi menggunakan taksi dan aku memberi tahu alamat apartemenku. Sesampainya aku di
sana aku memberi tahu password rumahku dan kita masuk kedalam.
Agung melihat sekeliling rumahku, dia sedikit takjub melihat apartemenku, aku tidak tahu apa yang
membuatnya seperti itu.
“eehheem” aku berdehem menghancurkan lamunannya. Dia tampak gugup dan tersenyum
canggung
“barang apa yang akan kamu ambil” akhirnya dia bersuara setelah terdiam dari tadi.
“Sebuah cincin ada di kamarku, aku menaruh kunci cadangan di dalam lemari sebelah
sana.”tunjukku pada salah satu lemari di ruang tamu .
Agung berjalan kearah lemari yang aku tunjuk tadi ,dia sangat paham kalau aku tidak bisa
menyentuh apapun, setelah menemukan kunci kita masuk kedalam kamar menganbil cincin di laci
dekat ranjangku
“Memang cincin ini mau dibarikan kepada siapa.”Agung bertanya dengan wajah penasaran.
“Lia dia calon istriku.” Jawabku, wajahnya langsung berubah muram.
“Gung kenapa?.” Tanyaku heran
“Gak kenapa kok, mank sekarang dia ada di mana.”
“Dia syuting, aku tahu jam istirahatnya bagaimana kalau kita kesana sekarang”
“Baiklah”.
Aku dan Agung langsung menuju tempat syuting Lia,aku harap dia terkejut melihat surprise
ini,walaupun nantinya aku harus mencari berbagai alasan kenapa aku memberikan lewat Agung.
Suasana di tempat syuting sangat ramai. Aku melihat lia duduk di sebuah kursi di bawah pohon dia
sedang membaca maskah skrip untuk adegan nantinya, jujur aku ingin memberikan cincin ini dari
diriku sendiri, bukan lewat perantara tapi dalam waktu ini sangat tidak mungkin . Aku harus bersabar
sampai waktu yang di tentukan agar bisa bersamanya lagi.
Ada seorang lelaki yang mendekatinya Lia, sepertnya aku mengenalnya, Hendri untuk apa dia
bertemu dengan Lia. Hendri adalah seorang actor yang terkenal dan hubungan kita tidak cukup
baik. Mereka nampak berbinang hal serius, hendri melihat di sekeliling mereka dan mengajak Lia
pergi ke tempat lain sepertinya menuju kearah parker mobil yang jaraknya tidak jauh dari sana.
“Gung bisa ikut aku sebentar.”perintahku tanpa di suruh dua kali Agung mengikutiku.
Aku dan Agung berdiri tidak jauh dari mereka, mereka tidak terlalu memperdulikan Agung karna
mereka tidak mengenalnya dan aku tentunya tidak terlihat oleh mereka. Aku bisa mendengar apa
yang mereka bicarakan, wajah keduanya terlihat serius.
“Hendri aku sudah ga sanggup lagi”
“Aku mohon sabar Lia”
“Tapi Hen apa kamu ga kasihan, sama Nino kamu tahu sendiri khan keadaannya gimana.!”
“Lia rencanaku belum selesai dan kalian belum menikah.”
“Tapi aku mencintai kamu bukan Nino dan aku hanya mau menikah denganmu.”
“Kalo kamu cinta ma aku, kamu harusnya menuruti aku bukan kasihan sama nino.”
“Aku hanya tidak paham dengan semua ini.”
“Aku ingin menghancurkan hidup Nino, aku ingin kamu menikah denganya setelah itu bercerai
denganya, dan buatlah seolah olah dia orang yang jahat.”
“tapi Hen.”
“setelah kamu bercerai dengan Nino aku berjanji kita akan bersama selamanya”
Percakapan mereka seperti sebuah tombak yang menusukku dari belakang. Wanita yang paling aku
cintai mengkhianatiku, sekarang dia ada di pelukan lelaki yang aku benci. Ini benar benar mimpi
buruk bukan!!!! Ini bukan nyata. Aku menutup mataku dan pergi meninggalkan tempat ini, aku tidak
sanggup melihat pemandangan yang telah menghancurkan hatiku.
Autor pov
Tubuh Nino mengejang di atas ranjang, Denis dan ibunya panik mereka berlari keluar memanggil
suster dan dokter.sedangkan roh Nino berdiri tak bergeming di sebelah tubuhnya yang masih kejang
kejang.
Seorang dokter masuk kedalam di ikuti seorang suster suara dari monitor seolah menunjukan
keadaan nino yang tidak stabil, dokter memberika suntikan di lengan nino dalam waktu berapa detik
tubuh nino kembali tenang, namun ada raut cemas dari wajah dokter.
Denis memeluk ibunya mencoba menenangkan ibunya yang masih terkejut karna peristiwa tadi
“Apa yang terjadi padanya dokter.?”Tanya Denis cemas.
“Kami tidak tahu sampai kapan pasien bertahan.” Jelas dokter menghela nafas berat.
“Apa maksud dokter.”Tanya Denis yang semakin cemas mendengar kata kata dokter tadi.
“Pasien bisa bertahan karna alat bantu medis, dan peluang untuk hidup sangat kecil mungkin pasien
bisa meninggal kapanpun.”jelas dokter.
Denis dan ibunya hanya diam tak mampu berkata apa apa setelah mendengar penjelasann dari
dokter
“Kami akan menunggu keputusan dari dari anda besok untuk melakukan tindakan selanjutnya, kami
telah melakukan segala upaya, tapi hidup dan mati Tuhan yang menentukan’ jelas dokter dan pergi
meninggalkan ruangan
“Mamah apa yang harus kita lakukan.”Tanya Denis dengan isak yang tertahan dari tadi
“Mungkin sudah saatnya Nino bertemu kedua orang tuanya.”ucap ibunya wajahnya sangat datar
tanpa ekspresi, tatapan matanya sangat kosong.
Denis sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan ibunya begitu juga roh Nino yang sedari tadi
berdiri mematung sekarang menoleh kearah ibunya setelah mendengar apa yang di ucapkan
ibunya..
“A- apa maksud mamah.? Tanya Denis terbata bata
“Nino bukan anak mamah ibunya telah meninggal waktu dia masih bayi, ibunya adalah sahabat
baikku, mama tidak tega melihat papa menjaga Nino yang masih bayi dan mama menolong papa
mengasuh Nino tapi nenek dan kakek mendesak kita untuk menikah dan kamipun menyutujuinya,
mama sangat menyayangi nino walaupun dia bukan anak mamah , kamu dan nino adalah
segalanya bagi mama. Mama juga tidak mau kehilanganya , tapi melihatnya dengan keadaan
seperti ini sama saja menyiksanya. Pasti dia sangat menderita sekarang” jelasnya dan akhirnya
tangisnya pecah
“Aku ga mau kehilangan kak Nino mah”ucap Denis yang masih enggan merelakan Nino begitu saja,
dia berlutut di depan ibunya.
“Tapi Denis kita ga boleh egois seperti ini, Nino pasti menderita kita harus ikhlas, bukankah dokter
tadi bilang peluangnya kecil.”
“Dokter juga bilang Tuhan yang menentukan hidup matinya manusia, Denis mohon mah satu
minggu saja, Denis percaya pasti ada keajaiban, Denis mohon mah.”pinta Denis sambil memohon
memeluk kaki ibunya.
Roh Nino berdiri diam. Air matanya terus mengalir awalnya dia kecewa mendengar bahwa dirinya
bukan anak kandung tapi dia juga sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya,
dia berharap bisa kembali pada tubuhnya dan memeluk keluarga kecil yang sangat dia cintai lebih
berharga dari apapun. Dia memejamkan matanya tidak bisa menahan mendengar isak tangis dari
mereka karna dirinya. Dia ingin pergi ke tempat yang tenang.
Agung berlari kearah Nino , dia berdiri di tepi pantai menghadap laut, tatapan mata Nino kosong
menhadap laut.Agung berfikir pasti Nino sangat terkejut karna kejadian di tempat syuting tadi.
“Nino kamu ngapain di sini, aku dari tadi mencarimu.” Tanya Agung, dan Nino menoleh kesamping,
mata yang sembab dan pipi yang basah raut wajah yang sangat menyedihkan.Nino tidak menjawab
panggilan agung hanya senyuman getir di bibirnya. Agung mendekati Nino dan memeluknya
pastinya Nino memerlukan tempat bersandar sekarang.
Mereka berdua duduk di tepi pantai, nino masih terdiam. Tidak ada sepatah katapun keluar dari
mulutnya,
“Maaf pasti kamu merasa aneh.”ucap Nino memecahkan keheningan diantara mereka yang dari tadi
hanya di temani suara deburan ombak.
“Tidak apa, wajar saja kalau di khianati kekasihnya.”
“Maksud kamu Lia.., ada hal yang lebih berharga dari pada dia. Memang ada rasa sakit hati tapi
seperti terobati dalam seketika.” Jelas nino dengan senyuman terindah yg pernah ia ciptakan. Tapi
Agung masih bingung dengan apa yang di ucapkan Nino
“Maksudnya?”
“Dua rahasia yang aku ketahui dalam waktu sehari tentang Lia dan ibuku, ibuku ternyata bukan
ibuku tapi aku bangga memiliki ibu sepertinya, dia wanita terhebat dan terindah di dunia.”jelas Nino
“Pasti kamu sangat bahagia.”
“Aku sangat bahagia hari ini, karna terlalu bahagia aku menangis. Aku mempunyai ayah yang hebat,
dua ibu yang menyayangiku,adik yang selalu menjagaku dan sahabat baik selalu menolongku
sepertimu Agung.”
senyum berkembang di bibir Agung, dia tidak percaya dengan apa yg di dengarnya tadi, dia telah
menjadi bagian hidup Nino walaupun hanya bertahta sebagai sahabat.
"Apa kamu tidak takut Gung."
"takut apa.?"
"Tadi waktu kamu memeluk kumunkin ada orang lain di sini, mungkin dia menganggapmu aneh"
"Aku tidak perduli.. apa yang aku pedulikan hanya seorang sahabat yang aku kira bersedih karna
kekasihnya tapi di1 sangat bahagia karna orang orang yang hebat di sekitarnya" jelas Agung
memalingkan wajahnya ke arah Nino, mereka saling menatap dan tersenyum.
to be continued.....