Stalker part 03

2270 Words
Agung pov “Agung bangun kenapa tidur di sini.?” suara seorang wanita membangunkanku. Ternyata aku tertidur di tepi pantai, aku mengangkat wajahku melihat sosok wanita yang membangunkanku rupanya Nadine. “Apa kamu baik baik saja gung wajahmu sangat pucat.?” Tanya Nadine dengan nada cemas. Aku memang merasakan sakit di seluruh badanku apa lagi tidur di tepi pantai, angina yang berhembus kuat semalaman terasa menusuk tulangku. “Aku baik baik saja.”jawabku tidak mau membuatnya mengkhawatirkan keadaanku.Aku melihat sekeliling mencari sosok Nino tapi dia tidak ada di sekitar sini. “Yuk kita ke kafe.”ajak Nadine mengulurkan tangannya padaku dan aku meraihnya.aAku menepuk celana belakangku dan sweater yang menutup tubuhku karna di penuhi pasir lalu mengikuti Nadine menuju kafe namun saat kulangkahkan kaki yang ke dua kalinya aku limbung dan terjatuh, kakiku sangat lemas tenagaku tidak cukup kuat untuk berdiri lagi, Nadine mendekatiku dan memegang lenganku membantuku berdiri “Gung kamu sakit, tubuhmu panas sekali.” dia terkejut saat menyantuh tanganku yang panas dan di meraih pipi dan keningku. “Kamu demam Gung..!”sambungnya  “Aku ga pa pa kok, sudahlah kita ke café dulu.”kilahku mencoba menenangkan Nadine yang sangat mengkhawatirkanku,mataku masih mencari sosok Nino menjelajahi penjuru pantai, akhirnya dia muncul tidak jauh dariku , dia memandang ke arahku dan aku hanya tersenyum membalasnya. Aku duduk di salah satu kerusi café kepalaku terasa berat, aku menaruh tanganku di atas meja dan menyandarkan kepalaku di atasnya. Suara langkah kaki terdengar mendekatiku, aku ingin melihatnya tapi terasa berat sekali kepalaku untuk mengangkat wajahku. “Pagi amat Gung nyampenya.” suara yang aku kenal itu Hasan “Lagi pengin pagi aja.” jawabku asal . dia duduk di sebalahku dan terkejut melihat raut wajahku. “Kenapa Gung kusut amat.?” “Sakit San, ga tau nih Agung tadi aku datang aja dia tiduran di tepi pantai, jadi sakit sekarang.” jelas Nadine tanpa aku jelaskan pada Hasan “Ya ampun bisa sakit juga lo.” ledeknya, aku mengerutkan dahiku mendengar ledekanya memang aku bukan manusia “Apaan sih lo.” “Lagian lo ngapain tidur di tepi pantai, mau semedi buat melet cewek ya.”orang ini benar benar ya ilmu hitam aja yang dia tahu pantes aja orangnya hitam walaupun belum hitam legam. Aku mendengus kesal  “Sorry ya muka gue juga lumayan buat gaet cewe sini walaupun masih tahap SNI.” “Apa tuh SNI.?” Tanya hasan padahal anak SD juga tahu kepanjanganya. “Standar Nasional Indonesia.” jawabku nyolot. “Oh itu, lo baru standar aja bangga Gung, adik gue bilang gue ganteng aja , gue diam Gung ga gembor gembor.” sepertinya Hasan mengalami sindrom percaya diri tahap akut “Kok bisa dia ngomong gitu.”tanyaku serius. “Ya bisa lah dia bilang kakaknya ganteng kalo lagi ngaca, tapi kacanya di ganti gambar artis Ferdi Nuril.” jelasnya tanpa dosa “Kampret lo.” umpat ku. Nadine tertawa mendengar pembicaraan kita. Memang satu orang ini selalu menyebal kan tapi juga selalu membuat orang di sekitarnya senang. “San nanti kita yang beresin café ya, biarin Agung istirahat dulu.” “Ok, tenang aja.” Kali ini aku hanya diam karna aku memang tidak punya tenaga untuk berdiri badanku sangat sakit semua Mereka pergi ke belakang mengambil sapu dan alat alat lain untuk membersihkan café. Pekerja yang lain belum datang, memang masih awal karna hari ini giliranku dan Hasan. “Agung aku minta maaf, karna aku kamu sakit.” suara Nino dengan nada menyesal. aku mengangkat wajahku, agar bisa memandangnya . aku tidak ingin membuatnya cemas,aku ingin sekali memberitahunya bahwa aku baik-baik saja tapi ku urungkan niatku.Kalau saja berbicara padanya nanti Nadine dan Hasan menganggapku kesambet penghuni pantai. Aku meraih hp di saku sweaterku dan menulis sesuatu “Aku tidak apa, hanya demam.”tulisku di hp dan menaruhnya di meja agar Nino bisa membacanya. “Kalo aja kamu tidak menemaniku semalaman kamu tidak akan sakit.” “Nanti minum obat juga sembuh”tulisku lagi “Maaf di saat kamu susah, aku tidak bisa membantumu.”ada raut sedih di wajahnya. Ternyara Nino sangat menghawatirkanku, aku tidak percaya dengan apa yang aku alami sekarang . seorang nino yang sangat aku kagumi. Dan aku hanya pemuja rahasia yang tidak dia ketahui. Dia berada di depanku sedang mencemaskanku.  “Kamu bisa membantuku kalo kamu pergi ke rumah sakit melihat keadaanmu. Itu yg paling penting sekarang.” “Apa kamu tidak apa apa.?” “Ada Nadine dan Hasan.” tulisku lagi “Aku pergi dan akan segera kemabli” Aku hanya membalas dengan senyuman. Setelah dia lenyap dari pandanganku aku memasukan hku ke sweaterku lagi. Aku melihat Nadin masih mengelap meja kasir dan Hasan mengepel lantai. Andai saja hari ini aku tidak sakit pasti aku membantu mereka , kasihan Nadine padahal dia bos tapi harus bekerja juga karna menggantikanku. “Gung aku antar kamu balik yuk, kamu bisa istirahat di rumah.”ajak nadin ternyata dia sudah duduk di sebelahku, aku tidak tahu sejak kapan dia di sebelahku karna aku menundukan kepalaku. “Ga apa din aku pulang sendiri aja.” “Tapi kamu sakit gung,” aku memang ingin pulang dan istirahat tanpa di paksa dua kali aku menyetujuinya.  Nadine mengantarku ke rumah dengan mobilnya, sampainya di rumah dia membantuku memapah tubuhku masuk ke kamar. Kadang aku berfikir apa dia tidak risih memapah tubuh seorang lelaki yang bukan siapa siapa untuknya. Aku hanyalah pelayan café miliknya. “Gung aku beli obat bentar ya.”ucap Nadine  “Ga usah Din istirahat aja udah sembuh kok.” Jujur aku tidak mau merepotkan Nadine karna dari pagi aku sudah menyusahkanya. Tapi sepertinya dia tidak mendengarkanku dan meninggalkanku di kamar Suara pintu depan terbuka mungkin itu Nadine dan benar saja dia masuk ke kamarku membawa bungkusan bubur ayam dan satu kantong plastic yang isinya obat “Gung makan bubur dulu ya terus minum obat istirahat. Aku ga bisa disini lama lama takut nanti tetangga berfikir macam macam” ucapnya memberikan bubur ayam yang dia bawa tadi aku rasa alasanya benar, apalagi aku dan Nadine hanya sebatas hubungan bos dan karyawan. “Iya ga papa kok Din, aku juga udah ngrepotin kamu maaf udah nyusahin kamu” “Kamu kok ngomong gitu, karna kamu special aku nglekauin ini.’ “Apa maksudnya aku special.” tanyaku bingung “Ya kamu special karna kamu karyawanku jadi wajar aja kalo bosnya nolong karyawanya, ya udah aku balik dulu ya” ucap Nadine dengan senyum aneh dan berlalu pergi. Nino pov Aku tidur menyamping di depan Agung sepertinya di tertidur lelap, hembus nafasnya yang teratur dan bulir keringat di keningnya, ingin aku menyentuh dahinya agar bisa mengetahui apakah dia baik baik saja sekarang. Sayangnya aku tidak bisa merasakan panas atau dingin Suara lagu dari hp nya yang di buat mode replay membuat lagu itu berputar berkali kali menemani tidurnya selama 5 jam, sepertinya dia menikmati lagu ini sehingga dia tertidur lelap hingga sekarang dan akupun juga menikmatinya. Aku memandang wajah agung ketika dia tidur wajahnya sangat alami seperti anak kecil. Alis yang tebal,mata yang tidak terlalu besar, hidung yang mancung dan bibir yang sedang tapi berisi. Aku suka saat dia tersenyum dia sangat manis dan entah kenapa dari tadi aku memandang bibirnya, seolah mata ini tak mau beranjak kearah lain. Agung mengeliat dan pelan- pelan membuka matanya, dia terkejut dan mencoba bangkit karna melihatku berada di depannya “Jangan bergerak tiduran saja.”suruhku menahan lengannya dan dia menurutinya. Sekarang kita tidur menyamping dan saling berhadapan, ada rasa canggung tersirat dari wajahnya “apa kamu menemaniku dari tadi” “Iya, hanya ini yang bisa aku lakukan” “Berapa lama aku tertidur” “5 jam, apa kamu udah baikkan.”jawabku santai “Aku tidur selama itu, dan kamu jagain aku.” ucapnya terkejut “Kamu semalaman nemenin aku, dan sekarang giliranku jagain kamu.” “Bagaimana keadaan di rumah sakit.” “Mamah dan Denis tidak menyerah menungguku, mereka masih berharap ada keajaiban padaku.” Jelasku, memang aku tadi kerumah sakit sebentar setelah mengetahui bahwa Denis dan mamah tidak menyerah aku lega, aku pasti kembali nantinya. “Oh syukurlah, semoga keajaiban itu datang” “Agung lagu apa yang kamu dengar dari tadi, sepertinya kamu terlelap mendengar lagu western tadi’ “Lagunya Mandy Moore judulnya Only Hope, aku memang selalu mendengar lagu ini dan ku buat playlist khusus lagu ini sebelum tidur, tadi aku kira tidur sebentar makanya aku buat mode replay ga tahunnya udah 5 jam.”jelas Agung sambil tersenyum. “Boleh aku tahu kenapa kamu suka lagu ini” “Sebenernya lagu ini ost film A Walk To Remember endingnya sedih gitu.” “Memang kenapa sedih.” tanyaku antusias “Ceweknya meninggal karna suatu penyakit mereka ga bersama akhirnya tapi aku juga suka makna lagunya.” “Aku tahu artinya,,, Gung aku mau tanya lagi boleh.?” “Boleh apa” “Sejak kapan kamu bisa melihat hantu” “Sejak dua tahun lalu, waktu itu aku ayah dan ibu pergi ke rumah saudara di kampung tapi waktu perjalanan bus yang kami tumpangi mengalami kecelakaan hanya 3 orang yang selamat termasuk aku, kedua orang tuaku meninggal. Saat mereka membawaku ke rumah sakit aku melihat mahluk mahluk itu dengan wajah yang mengerikan banyak darah di sekujur tubuhnya awalnya aku kira mereka Korban kecelakaan sepertiku tapi saat aku melihat dokter dan suster berlari kesana kemari menembusi tubuh mereka aku sadar mereka lain.” jelasnya dengan wajah sedih. “Maaf aku telah membuatmu sedih, aku turut berduka atas kematian orang tuamu.” “Tidak apa ini sudah takdirku.” “Bagaimana kamu menghadainya.?” “Awalnya aku seperti orang gila, mereka selalu muncul tiba tiba dan membuatku terkejut, tapi mereka tidak mengganggu jadi aku selalu mencoba mengabaikanya, pernah waktu aku kerja di café ada sosok wanita dengan wajah mengerikan tiba tiba muncul di depanku , aku sangat terkejut waktu itu makanan dan minuman yang aku bawa mengenai seorang pelanggan dia memakiku habis habisan, saat itu aku hampir menyerah untuk bersikap normal karna kehadiran mereka ternyata sangat mengangguku,waktu itu aku duduk di depan cafe ada seseorang datang menghampiriku. Dia memberiku secangkir coklat panas dia bilang rasa coklat bisa menenangkan pikiran aku seperti terhipnotis mendengar kata katanya dan melihat senyumnya. Dan saat itu aku berusaha untuk bersikap normal.”jelas agung panjang lebar wajahnya yang tadinya sedih sekarang tersenyum, pasti orang itu sangat berarti “Boleh aku tahu siapa orang itu.?” “pasti nanti kamu akan mengetahuinya.”jawabnya sambil tersenyum. dia belum ingin memberitahuku mungkin saat nanti “Seandainya nanti aku bangun dari komaku dan aku tidak mengingatmu apa kamu akan terus mengingatku.”tanyaku menanti jawabanya penuh harap. untuk sejenak Agung tidak menjawab hanya memandangku. “Agung” panggilku “Aku akan mengingatmu, bukan karna kamu seorang artis yang menemuiku dan minta tolong tapi kamu adalah pengalamn berharga dan terindah dalam hidup ku.” Aku tersenyum mendengar jawaban agung, aku sangat suka keadaan ini dimana aku bisa mngetahui sosok agung sediki demi sedikit tentang kehidupanya. Aku bertanya tentangnya dan dia akan menjawabnya, walaupun kadang ada raut sedih tersirat di wajahnya seperti sebuah memori buruk. kita adalah seorang yatim piatu hanya saja aku masih mempunya mamah dan Denis.Aku sangat senang Agung mau berbagi cerita hidupnya padaku, Agung menatap mataku dalam dalam tanganya membelai pipiku, entah kenapa tubuhku yang mati rasa menjadi hangat , sentuhan tangan Agung seperti aliran panas yang mengalir di tubuhku, wajahnnya medekatiku semakin lama semakin dekat bibirnya mendarat di bibirku, aku tidak menolak dan mendorong agung, aku menikmati ciuman lembutnya tubuhku yang telah lama merasa kosong seolah olah terisi. Autor pov Suasana café di malam minggu sangat menyenangkan semua pegawai café duduk berkumpul di salah satu kotej di depan café. Mereka berkumpul melepas penat setelah seharian bekerja, mereka harus lembur karna malam ini malam minggu, “Inilah kumpulan cowok cakep tapi kualitas jomblo.”celetuk Hasan membuat semua orang tertawa “Aku bukan cowo kali.” sergah Nadine sepertinya dia tidak terima pernyataan Hasan mengatakan dia lelaki. Karna memang dia wanita satu satunya di sana “Oh ya... Lagian kamu Din masih betah aja jomblo, padahal kamu cantik dan bisa dapat cowo mana aja.” “Ada cowo yang aku suka, tapi aku ga tahu dia suka sama aku atau ga…?” “Ya bilang atuh Din.”ucap Hasan antusias namun Nadine hanya membalas denga senyuman “Gung lo khan bisa main gitar nyanyi lah buat rame rame dari tadi pagi ngelamun terus’  “Okey ambil gitarnya gih,,,!!” perintah Agung walaupun dia malas meladeni Hasan akhirnya dia menuruti juga, pikirannya masih kalut karna kejadian semalam, dia takut Nino tidak mau menemuinya lagi karna peristiwa semalam. Hasan masuk kedalam kafe mengambil gitar setelah beberapa saat dia keluar sembari membawa gitar dan memberikanya pada Agung . Agung berfikir sejenak mencari lagu yang akan dia nyanyikan, melihat sosok nino yang tiba tiba muncul di belakang Nadine ada satu lagu muncul dari hatinya dan jari jarinya menyusun membuat suatu kunci di dawai gitar. Ungu  laguku Mungkinkah kau tahu rasa cinta yang kini membara Yang masih tersimpan dalam lubuk jiwa Ingin ku nyatakan lewat kata yang mesra untukmu’ Namun qu tak kuasa untuk melakukanya, Mungkin hanya lewat lagu ini Akan ku nyatakan rasa  Cintaku padamu rinduku padamu tak bertepi Mungkin hanya sebuah lagu ini  Yang selalu akan kunyanyikan  Sebagai tanda betapa aku inginkan kamu Lagu yang dia nyanyikan dengan segenap perasaan di tujukan untuk Nino. Matanya tak beralih kearah manapun hanya memandang Nino. Nino tersenyum melihat persembahan Agung,  Nadin mendekati agung dan memeluknya, semua orang terkejut melihat pemandangan itu begitu juga nino . “Aku juga sangat mencintaimu Agung”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD