"Wow."
Frans menatap kagum lukisan yang terukir di dinding batu. Lukisan itu seperti sebuah kisah, beruntun dan terperinci. Seperti menceritakan sebuah tragedi atau pengalaman seseorang yang pernah singgah di bangunan kuno ini. Tidak hanya satu atau dua lukisan, namun ribuan bentuk lukisan terukir secara jelas di batu.
"Menurut lo, siapa orang yang pernah tinggal disini?" tanya Frans pada Davis yang berdiri di sampingnya.
"Entahlah. Lukisan ini berusia lama sekali, ratusan tahun yang lalu bahkan ratusan ribu tahun lalu. Dimana pada jaman itu manusia masih menggunakan batu dan kulit kayu sebagai media untuk menulis."
"Gila. Ini bener-bener gila! Belum apa-apa, kita udah nemuin nih lukisan. Gimana kalo kita masuk lebih dalam lagi?"
"Ada harta karun gak ya?" sambung Frans.
"Mungkin ada, mungkin tidak."
"Jawaban lo absurd banget sih Dav! Iya apa enggak?! Kaya cewek aja lo, labil!" Davis menggelengkan kepalanya. Mengelus d**a pelan, Davis hanya menyampaikan informasi yang ia ketahui. Itu saja.
"Dav! Frans!"
Seruan dari arah belakang membuat kedua pria itu menoleh. Milly, Eca dan Betris menyusul. Eca menghampiri Frans, yang masih asyik menatap kagum ukiran di dinding.
"Ini..." Eca menatap kagum.
"Lukisan manusia primitif." sela Davis.
Frans menoleh, lalu netra hitamnya memindai. "Reno mana?"
Eca mengangkat bahunya acuh, "Gak tau. Masih di belakang kali."
Frans mengangguk paham. Lalu menyusuri dinding perlahan menggunakan senter yang ia bawa. Sementara Milly masih menyesuaikan dengan keadaan ruangan yang gelap. Senternya menyorot ke depan, melihat lukisan yang tengah Eca dan Davis bicarakan.
"Duhh... Gelap banget sih! Pengap banget lagi, gak tahan!" Betris kembali menggerutu.
"Ihhh! Sarang laba-labanya banyak, kotor! Baunya bikin mual!" Betris kembali mengeluh.
"Bisa gak sih, lo itu diem! Dari tadi ngoceh mulu! Gak capek tuh mulut?!" Eca yang mendengar gerutuan Betris ikut kesal.
"Apaan sih lo! Suka-suka gue dong!"
Tak lama suara berdebum keras dari arah belakang mereka. Dilihatnya Reno terjatuh setelah memaksa masuk ke dalam bangunan.
"Reno!"
Betris menghampiri Reno, membantu bangkit serta menepuk kaos yang kotor.
"Kamu gak papa Sayang?" tanya Betris.
"Gak papa."
Reno mengambil tas ranselnya yang jatuh. Lalu melihat ke arah Eca yang juga menatapnya, "Ca!"
Betris menghentakkan kakinya kesal, dirinya yang menolong Reno. Pria tampan itu malah meninggalkannya, dengan raut cemas menghampiri Eca, musuh Betris.
"Lo baik-baik aja? Ada yang luka?" Eca menggeleng pelan. Risih rasanya ketika Eca mendapat perhatian dari kakak tirinya sendiri.
Reno memberikan senyum tipis, mengusap lembut rambutnya pelan. Betris semakin geram melihatnya. Di sentaknya tangan Reno, lalu di genggam erat.
"Kamu apa-apaan sih Ren! Aku itu pacar kamu! Harusnya kamu perhatian sama aku bukan dia!" tunjuknya pada Eca.
Reno menatap marah Betris, "Jangan ngatur-ngatur, gue bukan siapa-siapa lo!"
"Tapi aku pacar kamu, Sayang!"
"Jangan baper deh! Sebagai pria normal gue gak nolak kalo di kasih cewek cantik. Tapi sayangnya, lo bukan cewek yang gue suka."
Betris menganga mendengarnya, "Tapi kita pernah jalan bareng, ciuman panas kita, kamu anggap apa Reno!"
"Lo cuma hiburan buat gue. Jadi jangan harap lebih!" Reno meninggalkan Betris yang menahan tangis.
Matanya berkaca-kaca, Reno adalah pria yang Betris sukai. Ia bahkan rela melakukan apapun yang Reno sukai. Termasuk hal yang tidak Betris sukai, akan ia lakukan demi Reno. Namun, rentetan kalimat dari Reno membuatnya sakit hati. Berusaha keras menahan air mata agar tak meluncur bebas, Betris menahan diri. Sekuat yang Betris bisa, ia akan membuat Reno berbalik membalas cintanya.
"Ren! Jangan ngomong gitu ke Betris. Dia perempuan, punya perasaan yang sensitif." Eca tidak menyukai kalimat Reno yang seakan menghinanya.
"Betris itu emang perempuan. Tapi dia gak punya perasaan." Imbuh Reno lalu meninggalkan Eca. Memasuki bangunan kuno lebih dalam lagi, menyusul Frans.
Eca melihat Betris yang berusaha menahan air matanya, "Gue harap lo gak masukin omongan Reno ke hati."
Betris menatap Eca nyalang, "Semua ini gara-gara lo! Dasar penggoda!" masih di lingkupi amarah, Betris berjalan mengikuti Reno. Bersusah payah menyeret koper besarnya.
"Lo tuh nge--"
Eca memegang tangan Milly, bermaksud menghentikan ucapannya.
"Jangan kepancing sama Betris. Gue tau dia terluka karena perkataan Reno. Biarin aja."
"Tapi dia ngatain lo penggoda! Apa maksudnya coba?! Gue gak terima!" Milly menahan kesal di dadanya.
"Lebih baik kita nyusul yang lain. Waktu kita terbuang sia-sia karena masalah sepele." Davis membuka suara. Sedari tadi dirinya hanya diam, menyaksikan drama percintaan yang terjadi secara langsung di depan matanya.
Eca dan Milly mengikuti Davis yang berada di depan mereka. Berjalan penuh hati-hati dengan senter yang menyorot terang. Hingga mereka bertiga menemukan Reno, Frans dan Betris yang berada di sebuah ruangan besar. Ruangan ini lebih besar dari ruangan sebelumnya. Bau pengap menyergap indra penciuman, bangkai busuk dan kotoran tercium begitu tajam.
"Ini... Ruangan apa?" Eca terperangah. Di hadapannya sebuah singgasana seorang Raja berdiri kokoh tanpa cacat.
Di tengah ruangan, terdapat patung besar yang berdebu. Mereka harus mendongak karena patung itu begitu tinggi. Patung berbentuk hewan serigala dengan badan besar dan mata yang menyorot tajam. Tak lupa gigi taringnya mencuat runcing membuat patung serigala itu terlihat lebih mengerikan.
"Mirip kaya aula gak sih?" Milly menyuarakan pendapatnya.
"Ini seperti ruangan pertemuan sekaligus ruangan kegiatan sang pemimpin terdahulu. Mungkin," Davis mengamati lebih teliti, "Banyak sekali meja kayu yang telah rusak. Seperti terhantam sesuatu yang besar."
"Sesuatu seperti patung besar di tengah ruangan itu?" tanya Frans. Senternya menunjuk patung hewan karnivora yang berdiri gagah di tengah ruangan.
Patung raksasa yang menyerupai hewan serigala. Berdiri gagah dan menantang dengan tubuh besarnya. Kuku runcing di pahat sesempurna mungkin, sehingga terlihat tajam dan mengkilat, meski tertutup debu.
"Bisa iya, bisa tidak. Tapi kemungkinan hancur bisa saja karena gempa." papar Davis.
Pria berkacamata itu menyusuri bangunan dan menelitinya. Sedari masuk tangannya tak kosong, sebelah kiri ia gunakan untuk memegang pulpen dan sebelah kanan memegang buku. Davis berniat mencatat semua teori yang menarik, sebanyak mungkin akan ia kumpulkan dan merekap data saat penelitian ini selesai.
Di saat mereka berenam asyik melihat secara rinci ruangan gelap dan pengap itu, tak sengaja Eca tersandung dan jatuh. Suara berdebum tubuh yang menghantam tanah begitu keras. Membuat si empu meringis kesakitan. Kakinya menghantam batu lancip, menyerupai kuku tajam si patung.
Reno yang melihat Eca tersungkur di kaki depan patung hewan karnivora itu segera menghampirinya. Ringisan kesakitan keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dapat Eca kontrol.
"Eca! Kau tak apa?" tanya Reno cemas. Dengan sigap Reno membantu Eca untuk duduk dari posisi jatuhnya yang telungkup.
"Awwhhh... Sakit!"
"Astaga Eca! Kaki lo luka!" seruan Milly membuat Reno menoleh ke arah kaki Eca. Luka menganga di daerah betis atas dengan darah segar yang mengucur deras.
Seketika suasana bertambah menegangkan, Reno yang panik meneriaki Davis agar memberikan kotak P3K padanya. Reno menerima kotak P3K dengan tergesa, membukanya kasar dan mencari alkohol di sana. Davis menahan tangan Reno yang tergesa, penanganan harus di lakukan dengan tenang tanpa kepanikan yang melanda.
"Ren! Mending Davis aja yang ngobatin Eca! Lo bikin gue tambah panik tau gak?!" sentak Milly.
"Apa yang Milly bilang bener, kamu tenangin diri dulu. Biar Eca, aku yang obatin." Davis menahan tangan Reno.
Reno menampilkan raut tak suka, tapi sentakan Milly membuatnya harus undur diri. Milly benar, dirinya terlalu panik melihat Eca yang terluka, apalagi luka menganga itu cukup membuat wajah cantik Eca berubah pucat.
Milly menenangkan Eca yang meringis menahan sakit, tubuhnya di sandarkan di kaki patung. Membuatnya tetap terduduk, melihat Davis mengobati lukanya dengan Alkohol yang terasa perih.
"Pe-pelan Dav..." dengan terbata Eca berkata.
"Dav! Pelan-pelan dong! Kasihan Eca!" Milly bahkan sampai menangis, wajahnya basah penuh air mata.
"Lo bisa ngobatin gak sih, Dav?! Yang lembut dong!" melihat Eca yang semakin diam membuat Reno panik.
"Lo juga! Yang bener nyenterin Davis!" sentak Reno pada Frans yang sejak tadi mengarahkan senternya pada luka yang tengah Davis obati.
"Ini juga udah bener! Jangan ngrecokin gue!" balas Frans.
"Lukanya cukup dalam. Ini harus di jahit." ujar Davis di sela tugasnya.
"Apa?!"
"Trus harus gimana?"
"Untuk sementara, aku bebat pakai kain perban. Setidaknya lukanya harus terlindungi agar tidak infeksi. Beruntungnya darahnya sudah berhenti mengalir." Jelas Davis.
Ia menyelesaikan pekerjaannya, tinggal memberi plester pada luka yang terbalut kain perban itu, dan selesai. Di lihatnya Eca yang telah memejamkan matanya, bersandar pada kaki patung itu tertidur dengan wajah pucat.
"Ca..." panggil Milly lirih.
"Biarin dulu, Eca butuh istirahat. Dia kekurangan banyak darah." Papar Davis.
Ia merapikan kotak P3K yang berantakan. Reno mendekati Eca dan merapikan rambutnya pelan. Hatinya hancur melihat orang yang begitu ia sayangi terluka. Meski itu seujung kuku pun, Reno tidak suka.
Betris terdiam tanpa tau apa yang harus ia lakukan. Di lihatnya darah yang menggenang mengenai kaki depan sang patung. Bahkan ketika teman-temannya panik, berusaha menolong Eca yang terluka, Betris hanya bisa terdiam mematung. Menyaksikan betapa tegangnya wajah teman-temannya.
"Re-Reno.." di sentuhnya pundak Reno pelan.
Reno menoleh, Betris menatap Reno dengan wajah takut. "Ki-kita pulang aja yuk!"
"Gue takut di sini..." Kini air mata perlahan turun, melewati pipi manisnya.
"Lo jangan bikin gue pusing lagi! Lo gak liat gimana kondisi Eca sekarang?!"
Betris tersentak, di tengah ketakutannya mengapa malah ia di bentak dengan begitu keras. "Gu-gue takut..." lirihnya.
"Sabar dulu... Kita semua ngerasain apa yang kamu rasain, tapi kita udah terlanjur disini. Kita selesein apa yang harus kita lakuin." Saran Davis.
Reno menatapnya nyalang, "Gila lo! Di saat Eca kayak gini dan lo masih mikirin penelitian ini?! Lo waras gak sih?!" bentak Reno.
"Untuk perempuan, biarkan mereka disini, menunggu Eca. Dan kita, para lelaki, segera selesaikan tugas dan pergi dari tempat ini. Secepat mungkin!" Davis berujar tanpa menghiraukan ucapan Reno.
"Lo tuh gak waras tau gak?! Penelitian ini, bisa kita lakukan lain kali! Tapi nyawa Eca harus kita tolong?! Dia butuh pengobatan?!" Reno menunjukkan wajah marahnya.
Perdebatan Reno dan Davis beradu tegang. Membuat suasana semakin tak terkendali. Aura mencekam, gelap serta pengap menambah suasana semakin suram. Betris yang tadinya merengek hingga menangis kini ikut terdiam, begitu pula Milly. Gadis berambut pendek sebahu itu ikut terdiam. Kedua tangannya memeluk tubuh Eca yang lemas.
"Penelitian ini harus kita lanjutkan! Eca tidak apa-apa, dia hanya butuh istirahat karena lukanya."
"Lo gak liat, wajahnya pucet banget?! Dan lo masih ingin ngelanjutin penelitian ini?! Gila lo!"
"Sekarang kira berpikir rasional. Jangan menggunakan perasaanmu, Eca baik-baik saja! Berapa kali harus ku katakan?!" Davis berkata dengan nada kesal. Napasnya terengah-engah, dengan embusan pendek.
"Tap--"
"STOP!"
"Kalian apa-apaan sih? Berantem terus kayak anak kecil!" Frans menengahi keduanya.
Frans menoleh ke arah Reno, di cengkramnya kedua bahu Reno. "Dengerin gue. Eca baik-baik aja, dia hanya butuh waktu sebentar untuk istirahat! Sementara Eca istirahat, kita bisa lanjutin penelitian ini!" Frans berteriak dengan keras.
Hening menyelimuti, Frans merasa pusing sekarang. Adu argumen Reno dan Davis semakin memanas, tak mau mengalah. Keadaan mulai kacau, tak kondusif seperti beberapa menit yang lalu hingga suara lirih memecah keheningan.
"Lanjutin penelitian kita. Gue baik-baik aja."
Semua pasang mata menoleh pada suara tersebut. Eca, ia membuka matanya dan menoleh pada Reno yang bersitegang dengan Davis.
"Eca! Lo udah sadar?!" Reno menyentuh kedua bahu Eca dengan lembut. Tatapan khawatir tercetak di kornea matanya.
Senyum tipis tersungging di bibirnya yang memucat, "Gue baik. Dan lebih baik lagi, kalo lo selesein penelitian ini dan kita pulang. Gue kangen sama kasur empuk di apartemen," ujarnya.
Reno mengangguk, "Lo istirahat dulu, biar gue yang lanjutin penelitian ini. Gue janji, setelah ini kita langsung pulang." dengan nada lembut Reno mengatakannya, mengelus pelan rambut panjang Eca yang terkuncir berantakan.
Eca mengangguk, "Cepetan, kaki gue sakit soalnya," kata Eca di iringi kekehan pelan.
Tanpa membalas, Reno berdiri tegak. Membalikkan badannya, lalu menepuk bahu Davis.
"Kita lanjutin rencana lo, Tuan Sok Pintar!" Ujarnya melenggang mengambil tas ranselnya yang tergeletak tak jauh dari patung kaki serigala.
Davis dan Frans menatap diam. Lalu senyum kecil terukir di bibir keduanya. Mereka menyusul Reno, menyiapkan segala keperluan hanya dengan tiga orang.
Sementara Milly tersenyum lega sembari memeluk Eca. Betris memandang Reno dengan tatapan terluka, hatinya terasa remuk redam karena sikap lembut Reno pada Eca. Di lihatnya Eca yang masih terduduk menyandar dengan mata terpejam.
Lalu tatapannya berpindah pada betis Eca yang terbebat kain. Bercak kemerahan tercetak begitu kentara di sana, membuat Betris ngilu sekaligus bergidik takut.
Bahkan Betris enggan duduk di samping Milly. Dirinya tetap berdiri dengan senter yang menyorot random segala arah. Di saat Reno, Davis dan Frans tengah sibuk mencari sesuatu objek. Tak sengaja matanya melirik darah yang tadinya sempat menggenang, kini mulai meresap.
Tidak! Tidak meresap di tanah sekitar kaki patung, melainkan meresap ke dalam patung itu sendiri. Betris memfokuskan senternya, betapa terkejutnya ia ketika melihat kaki patung itu berubah.
"Astaga!"
Seruan Betris membuat semua teman-temannya menoleh padanya.
"Ada apa?" tanya Milly tersentak.
"Ka-kaki... Kaki patung itu, lihatlah!"
Milly dan Eca terbelalak melihatnya, darah itu meresap perlahan. Kaki patung yang awalnya mereka pikir terbuat dari batu, kini berubah. Menunjukkan wujud aslinya.
Patung yang awalnya keras bak baja dengan debu di sekelilingnya kini digantikan dengan bulu. Berwarna hitam mengkilap dan mulai merambat ke seluruh tubuh.
Reno, Frans dan Davis tercengang di buatnya. Mereka bahkan tak mampu bergerak seinchi pun. Belum sempurna perubahan si patung hewan karnivora itu, di susul guncangan hebat di sekeliling mereka.
Reruntuhan kecil dari atas bangunan jatuh mengenai mereka berenam. Reno panik, tanpa menghiraukan bebatuan yang menimpanya, ia mendekati Eca yang tengah merintih kesakitan. Berusaha bangkit menghindari runtuhan bangunan. Reno membantunya, menjauhkan Eca dari kaki patung yang kini sudah berubah bentuk.
Betris melihat Reno yang menolong Eca, segera berlari ke arah Reno dengan sempoyongan, sebab guncangan yang tadinya ringan menjadi semakin kencang. Di pegangnya erat lengan Reno yang memeluk Eca, melindungi dari reruntuhan.
Milly berteriak ketakutan, ia bahkan menangis kencang saat sebongkah batu jatuh mengenai kakinya. Davis mendengar jeritan Milly yang berusaha menggapainya.
"Mil! Milly! Kamu tidak apa-apa?"
"Kaki gue! Kaki gue sakit!" Jerit Milly kesakitan.
Davis mengangkat bongkahan itu, dengan napas tersengal dan guncangan yang membuatnya semakin kelelahan. Akhirnya bongkahan itu tersingkir. Milly lega meski kakinya terasa mati rasa.
Tak lama, tanah yang mereka pijaki retak. Menciptakan lubang menganga yang besar. Memenuhi seluruh ruangan itu. Milly terperosok jatuh dengan tangan berusaha menggapai Davis. Naasnya, Davis ikut terperosok jatuh.
"MILLY!"
"DAVIS!"
Eca yang melihat sahabatnya jatuh, menjerit keras. Jeritannya tak berlangsung lama, sebab Eca ikut terperosok jatuh bersama Reno dan Betris. Frans yang berada tak jauh dari Reno, menyaksikan satu persatu teman-temannya jatuh masih bertahan dengan berpegangan pada pinggiran tiang yang menempel pada dinding.
Dirinya sedih namun sekuat tenaga harus bisa selamat, tapi semuanya hanya angan ketika retakan itu semakin melebar hingga merobohkan bangunan. Membuat Frans ikut terperosok jatuh ke dalam lubang besar yang menganga.
Anehnya, patung raksasa berwujud serigala itu tak terjatuh. Meski di bawah kakinya sudah tidak ada penopang. Keempat kaki batunya berubah menjadi kaki hewan yang nyata. Merambat dari kaki bawah ke atas, ekor, punggung dan kepalanya.
Sepasang kelopak mata yang tertutup, kini terbuka. Menampilkan iris emasnya yang berkilau indah nan tajam. Bulu hitam mengkilatnya berkilau memesona. Runtuhan batu sekecil apapun tak dapat melukai punggungnya yang lebar dan besar. Benda mati pun seakan menghindar.
Suara gahar dan geraman yang khas menggelegar. Burung-burung yang berada cukup jauh terkejut dan terbang menjauhi suara memekakkan telinga. Serangga kecil bahkan hewan buas berlari bersembunyi. Suara geraman serigala itu berhasil menyentak bangunan kuno hingga hancur tak bersisa. Kepulan asap reruntuhan berterbangan mengelilingi kawasan sekitar. Bersamaan dengan sang serigala yang menghilang dalam satu kedipan mata.
Yang tersisa hanyalah debu dan robohan batu. Tidak ada satu pun teriakan meminta tolong. Bahkan, puing-puing reruntuhan menyatu dengan tanah. Berusaha menghilangkan jejak kejadian diluar nalar dari jangkauan manusia. Membawa keenam mahasiswa arkeologi menghilang tanpa siapapun yang mengetahui.
***